
Heyyy kembalikan uang sayaaaa" sembari mengejar pencuri yang tengah melarikan diri di tengah keramaian pasar.
" Sial gadis itu rupanya tangguh juga tidak menyerah juga mengejarku" Gerutunya melihat gadis yang iya ambil uangnya terus saja mengejar mengikutinya.
" Brakkkkk" Siall
Pencuri itu tersungkur jatuh ke tanah setelah kakinya di tendang oleh seorang pria asing. Rupanya pencuri itu di halangi oleh seorang pria yang tidak sengaja melihat seorang gadis malang mengejarnya.
" Kamu masih saja berbuat onar disini. Cepat kembalikan uangnya. Dan enyah dari sini. Pastikan saya tidak melihatmu lagi di wilayah ini. Jika sekali lagi sampai aku melihatmu berbuat onar maka kamu akan melihat konsekuensinya" Ancam pria itu seolah dia adalah penguasa di wilayah ini.
" Baik baik maafkan saya" Sembari melarikan diri setelah mengembalikan hasil curiannya pada pria itu.
Sovia baru saja tiba menyusul pencuri itu namun dihentikan oleh seorang pria asing yang menghalanginya
" Nona tunggu. Ini uang yang pencuuri itu ambil. Kamu bisa mengambilnya kembali. pencuri itu tidak sengaja menjatuhkannya tadi lalu dia pergi"
" Benarkah. Terimakasih telah menolongku kalo sampai aku kehilangan uang ini bisa-bisa saya mati di siksa oleh majikan saya. Sekali lagi terimakasih tuan. Saya pergi dulu" melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah majikannya.
__ADS_1
Rupanya pria itu jatuh hati pada gadis asing yang baru saja dia tolong saat ini.
Seorang gadis yang memiliki mata abu-abu dengan kulit putih pucat. Berambut emas dan dengan postur tubuh yang indah.
Selama 27 tahun tinggal di Kota ini baru pertama kali dia bertemu dengan secantik ini.
" Tungguuu namamu siapa nona" Pria itu baru menyadari jika gadis yang baru saja dia tolong telah pergi entah kemana.
"nona nona" Berusaha menemukannya
Namun karena ramainya pasar pada hari itu membuatnya semakin kesulitan mencari gadis itu.
Rupanya pertemuan itu cukup membekas di benak pikirannya. Hinggal dia tidak bisa melupakan gadis yang baru saja dia tolong.
Sementara itu Delia tengah kesal menunggu Sovia yang sedari tadi pagi dia suruh untuk berbelanja kebutuhannya di pasar. Bahkan sampai menjelang siang hari Sovia tidak kunjung kembali membuatnya kian kesal.
"Darimana saja kamu. Bukankah aku hanya menyuruhmu di untuk kepasar terdekat dari sini. Kenapa baru kembali? Apakah kamu berencana melarikan diri hah?" Delia memojokkan Sovia.
__ADS_1
" Maafkan saya nyonya. Saya tidak punya rencana seperti itu. Hanya saja tadi uang saya sempat di ambil oleh pencuri dan saya mengejarnya." Menjelaskan.
" hmm jangan banyak alasan. Kalaupun kamu punya rencana melarikan diri dari sini itu akan mustahil. Selama hampir 1 tahun kamu berada di sini tentu akan mustahil kamu melarikan diri dari sini melihat betapa berpengaruhnya suamiku di wilayah ini." Ancamnya.
Sovia hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata sekalipun. Dia seolah sudah pasrah akan takdir yang saat ini dia jalani.
Dia bahkan sudah kehilangan harapan untuk bisa terbebas dari perbudakan. Mengingat meskipun Sovia melarikan diri. Dia bahkan tidak punya tujuan karena keluarga termasuk orang tuanya sudah di bantai oleh perompak- perompak itu. Dan kini hanya tersisa dirinya seorang diri.
" Aku bahkan tidak tau harus kemana jika aku melarikan diri dari sini" Gumamnya dalam hati
Disisi lain beberapa orang berperawakan tinggi dan kekar mendatangi rumah Sandrino pada sore itu.
Segerombolan orang asing itu membawa senjata lengkap beriringan mengikuti tuannya didepan yang nampaknya cukup memiliki kuasa selain Sandrino sendiri.
"Panggil tuanmu keluar. Ada hal yang ingin boss saya bicarakan dengannya" Ucapnya pada penjaga pintu Rumah Sandrino.
Sesegera mungkin penjaga itu memberikan informasi pada tuannya Sandrino.
__ADS_1
" Maaf tuan ada Andrew Melnic beserta anak buahnya sedang berada di Rumah ini tuan. Dan dia ingin anda segera menemuinya" Menjelaskan.
" Apaaa. Apa kamu tidak salah lihat?