
Entah sudah ada berapa timah panas menancap di tubuh tak berdaya Mateo. Jeritan putus asa Sovia dan ibunya menyaksikan pembantaian sadis itu.
Setelah memastikan Mateo sudah tidak bernyawa, kini para perompak itu menargetkan wanita paruh baya itu untuk di habisi.
" Tidakkk kalian pergii dari sini. Jangan sentuh ibuku. kalian bunuh saya saja tapi lepaskan ibu saya" Sovia menempatkan tubuhnya seolah menjadi perisai untuk melindungi ibunya.
Namun rupanya perompak itu sedari awal ingin membawa Sovia dan membinasakan keluarganya.
" Jangan menghalangi kami gadis manis" salah satu perompak itu bertindak menarik rambut Sovia dan menyeretnya untuk menjauh dari ibunya.
"Lepaskan! Lepaskan! Jangan sentuh ibukuuuu kalian bunuh saya sajaa. Jeritan Sovia dengan putus asa mencoba bertahan dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Kami tidak akan membunuhmu. jika kami membunuhmu maka tidak ada yang kami dapatkan untuk kami jual di pulau ini hahahahaha" Ucap salah satu perompak itu.
Setelah berkata demikian. perompak itu mulai menembaki Herlina dengan bertubi-tubi, sama halnya dengan Mateo suaminya.
__ADS_1
"Tidakkk ibuuu ibuuuu jangan tinggalkan Sovia sendiri buuu ibuuuu" Jerit Sovia dengan putus asa.
Setelah dirasa wanita paruh baya itu tidak berdaya. perompak itu melonggarkan jambakannya pada Sovia dan membiarkan menghampiri ibunya.
Sovia memapah kepala ibunya sembari memohon untuk tidak ditinggalkan didunia yang kejam ini sendirian.
" Sovia anakku sayang, kamu harus bertahan nak. Ayah dan ibumu akan menjagamu dari atas. Kamu jaga diri baik-baik. Setelah berkata demikian Herlina beberapa kali terbatuk " seketika itu keluar darah segar dari mulut Herlina berbarengan dengan hembusan nafas terakhirnya.
"Tidak tidakk ibuuuu. Sovia tidak punya siapa-siapa lagi bu. Sovia mau ikut sama kalian saja" Jeritan tangis Sovia menggema di rumah itu.
Menyadari jika gadis itu tidak terkendali dan mulai menyerangnya. Salah satu dari perompak itu maju dan menarik paksa gadis itu untuk ikut bersamanya.
Perompak itu menyeret Sovia tanpa ada belas kasih sedikitpun.
" Kalian pergi dari sini bajingan. Aku tidak mau . Aku tidak mauuu" Penolakan Sovia tidak ada artinya dibandingkan tenaga yang dimili perompak itu.
__ADS_1
Dia meletakkan Sovia dibahunya dan mulai meninggalkan rumah yang kini hanya tertinggal jenasah dari orang tua gadis yang dia bawa itu
Mereka tidak ingin membuang waktu berlama-lama berada di Pulau itu. Setelah merampas beberapa gadis yang dirasa bisa memberi keuntungan pada mereka. Para perompak itu pergi menuju kapal yang tengah menunggu di pelabuhan.
" Kalian jangan pernah mencari masalah selama di Kapal ini. Kalo tidak kalian bahkan tidak akan bisa membayangkan apa yang akan kulakukan jika kalian mencari masalah selama perjalanan" Ancam salah satu perompak setibanya para gadis-gadis itu Kapal mereka.
Sovia sejak 2 hari berada di Kapal itu terus saja murung dan engga bergabung dengan gadis hasil rampasan yang lain. Dia terus meratapi nasib yang saat ini dia alami.
" Plakkk . Plakkk" Tamparan keras mendarat di wajah Sovia. Hal ini karena Sovia dengan sengaja membuang jatah makanan yang perompak itu berikan padanya.
" Jangan macam-macam dengan saya. Jangan bertingkah seolah kamu Ratu disini. Kamu ingat baik-baik. Kamu itu sekarang tidak lebih dari seorang budak yang tidak ada harganya. Dan sebentar lagi kamu dan teman-temanmu yang lain akan saya jual" Ancam salah satu perompak itu pada Sovia
Betapa kagetnya Sovia mendengar penuturan dari perompak itu. Dia yang dulunya memiliki keluarga yang hangat, kini dia berakhir menjadi seorang budak yang diperjual belikan. Bahkan kini hidupnya ada di tangan orang asing yang tidak lain adalah orang-orang yang telah membunuh kedua orang tuanya dengan keji.
" Bunuhhh. Bunuhh saya saja. saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini. Bunuh saya bajingan" Teriak Sovia menantang mereka.
__ADS_1
"Plakkkk . Plaakkk . Plaakkk"