Budak Cantik Yang Kucintai

Budak Cantik Yang Kucintai
Persaingan


__ADS_3

"Emmmmm nyonya Seren ada apa tengah malam begini ke kamarku" Sovia bingung tengah malam Seren membangunkannya saat dirinya tengah tertidur pulas.


" Sovia jangan beritahu siapapun termasuk suamiku Sandrino" Ucapnya dengan hati-hati khawatir ada yang mendengar.


"Aku akan membantumu melarikan diri dari Rumah ini. Kamu bisa kembali pada orang tuamu dan melanjutkan hidupmu." Seren Menawarkan.


Sebenernya Sovia sedikit bingung dengan Seren ini. Dia seolah-olah berubah menjadi orang yang baik berbeda dari biasanya. Siapa yang tidak ingin terbebas dari perbudakan. Namu hal ini berbeda dengan Sovia mengingat dia sebatang kara.


" Maaf nyoba. Saya bukannya tidak ingin kembali pada tempat asalku dan bertemu dengan orang tuaku. Tapi meski saya kembali ke kampung halaman saya itu percuma"


" Tidak ada yang percuma Sovia. Saya sendiri yang akan bertanggung jawab untuk merencanakan pelarianmu. Tentu saya sudah memikirkannya dengan matang" Seren meyakinkan Sovia.

__ADS_1


" Bukan seperti itu nyonya. Tapi meskipun saya kembali ke tempat asalku percuma karena saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Semua keluarga termasuk kedua orang tua saya telah perompak itu bunuh dengan kejamnya" Ucap Sovia mengenang masa lalu.


Seren merasa muak mendengar kisah pilu Sovia. Dia bahkan tidak perduli dengan Sovia apalagi dengan nasibnya. Yang dia pedulikan hanyalah posisinya saat ini bisa terancam dengan keberadaan Sovia.


" Aku tidak peduli sedikitpun denganmu. Yang jelas kamu harus segera enyah dari Rumah ini apapun yang terjadi dan ya kamu harus ingat pembicaraanku hari ini denganmu tidak boleh ada yang tau satupun" Seren seketika menampakkan wajah aslinya.


Nampaknya saat kedua perempuan itu membicarakan sesuatu ada sepasang mata yang mengawasinya.


Saat Seren mengendap-ngendap ke kamar Sovia. Rupanya tidak sengaja Marta istri ke 4 Sandrino melihatnya dan mengikuti dari belakang. Dan tak sengaja mendengar pembicaraan Seren dengan Sovia.


" Kamu harus siap-siap karena 2 hari lagi kamu harus sudah meninggalkan rumah ini. Semua rencana sudah kupersiapkan dengan baik. Jangan pernah berulah dan menarik perhatian orang-orang." Seren memperingati sembari meninggalkan Kamar Sovia.

__ADS_1


Setelah memastikan Seren keluar dari kamarnya. Sovia termenung.


" Tuhan aku tahu hamba bukan orang yang baik. Tapi bolehkah hamba meminta. Tolong ambil nyawa hamba tuhan. Pertemukan dengan ibu dan ayahku. Saya bingung harus kemana. Sedangkan di Dunia tidak ada yang mau menerimaku. Biarkan saya menyusul orang tuaku dan bersama mereka saja" Tetesan air mata membasahi pipi Sovia. Betapa frustasinya dia disaat kini sebagai pelayan sekalipun tidak ada yang mau menerimanya. Kembali ke Desa asalnya juga percuma karena kini dia hanyalah sebatang kara di Dunia ini.


Menyadari dirinya sebentar lagi akan pergi dari Rumah sandrino. Sovia ingin memberikan kenang-kenangan terakhir pada Alla pelayan di Rumah Sandrino yang selama ini dia anggap sebagai ibunya. Karena selama menjadi pelayan hanya Alla yang terus menguatkan Sovia untuk melanjutkan hidup meskipun tidak ada harapan lagi.


"Hari ini bu Alla jangan melakukan pekerjaan apapun. Semua pekerjaan di Rumah ini biarkan saya yang kerjakan semuanya oke"


" Jangan begitu. Saya kan bukan nyonya disini. Kita sama-sama pelayan di Rumah ini non. Lagipula tumben-tumbenan nona mau mengambil alih semua pekerjaan di Rumah ini?" Tanya Alla penasaran.


" Bukan apa-apa ini hanya sebagai rasa terimakasihku saja . Karena selama ini cuma bu Alla yang menjadi temanku satu-satunya di Rumah ini" Dengan senyumnya yang Cantik.

__ADS_1


Mendengar obrolan dari kedua pelayannya itu membuat Marta kesenangan dan segera pergi menemui Sandrino.


__ADS_2