Bukan Cewek Matre

Bukan Cewek Matre
Prolog


__ADS_3

Ijab kobul telah terjadi dan hari itu juga Haris dan Ratih menjadi suami istri dan di saksikan oleh teman Haris yang sedang melakukan KKN. Pernikahan sederhana dari seorang gadis desa dengan mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan KKN tanpa orangtuanya ketahui.


Bisa dibilang ini suatu kenekatan karena Ratih hanya kenal Haris selama dua bulan lamanya dan langsung ada benih cinta diantara mereka berdua. Rati yang tak pernah mengenal cinta akhirnya luluh oleh kebaikan dan juga perhatian dari Haris.


Satu bulan lamanya mereka menikah tiada kendala apapun dalam menjalani bahtera rumah tangga ini, kegiatan KKN yang dilakukan juga telah usai. Waktunya bagi Haris untuk pulang Bersama teman-temannya ke kota dan Kembali kuliah. 


“Memangnya mas Haris harus Kembali ke kota ? lalu bagaimana dengan aku dan anak dalam kandunganku mas ?.” Ratih menggenggam tangan Haris dan diarahkan ke perutnya yang masih rata. Tatapan mata Ratih terpampang nyata bahwa ia tidak ingn ditinggalkan.


“Aku pasti Kembali dan membawa orangtuaku kesini agar pernikahan kitab isa tercatat negara, dan setelah itu aku akan membawamu untuk tinggal denganku di kota, simpanlah nomor teleponku dan hubungi aku jika ada yang terjadi padamu dan anak kita.”


Meski sangat berat hati Ratih mengantarkan Haris kedalam mobil yang berisikan mahasiswa yang lain, ia melambaikan tangan dan lelehan dari matanya tak mampu di sembunyikan lagi. Kepergian Haris hanya untuk sementara tapi sudah seperti selamanya.


Hari demi hari berlalu, Ratih menjalani kehidupan seperti sebelum menikah dengan Haris tapi bedanya sekarang hidupnya hampa, tiada penyemangat bahkan Bapaknya Ratih sangat mengkhawatirkan Ratih dan juga calon cucunya.


“Bagaimana Ratih ? apakah ada kabar dari Haris ? ini sudah 9 bulan dan kandungan mu sudah besar.”


“Belum Pak mas Haris tidak pernah mengirimkan surat ataupun kabar apapun bahkan saat aku meminjam telfon tetangga dan menelfon mas Haris yang jawab bilangnya salah sambung, apakah aku susul saja mas Haris ya pak ?.”


“Jangan kau itu hamil besar biar bapak saja yang susul Haris dan seret dia agar mau kesini, dia sudah benar-benar keterlaluan dengan menelantarkan mu saat hamil.”


Dengan amarah yang tak bisa di redam, bapaknya Ratih memegang dada sebelah kirinya yang terasa sakit. Tak seperti biasanya bahkan rasa sakit ini tak bis lagi ia tahan.


“Aduh Ratih.”

__ADS_1


“Bapak kenapa ? pak ?.”


Dan tanpa Ratih sangka ternyata usia Bapak hanya sampai haris itu saja, kepergian Bapak menambah luka hati Ratih dan juga kesedihannya memuncak. Tapi nyatanya Tuhan berkata lain bayi yang Rati kandung lahir dan menjadi teman untuk melepas sepi, tapi sekuat-kuatnya Ratih tetap ia ingin memberitahu Haris bahwa anaknya telah lahir agar mereka bisa mengurus Bersama-sama.


“Mas dimana kamu, anak kita lahir dan aku tidak tau harus menamainya dengan sebutan apa. Andai kamu disini kamu juga pasti akan sangat senang kan mas ?.” Ratih tersenyum dalam lamunannya, ia nekad dan pergi ke kota sendirian hanya berbekal alamat yang pernah di tuliskan oleh Haris pada secarik kertas.


Dengan menggendong bayi yang masih kemerahan, bayi cantik itu berjenis kelamin perempuan. Mata dan bibirnya seperti Ratih tapi alis dan hidungnya seperti Haris. Ratih selalu berdoa agar kedatangannya disambut baik oleh Haris dan keluarganya.


Sebuah rumah yang besar bahkan lebih besar dibandingkan rumah juragan di desa, Ratih tau jika Haris adalah anak orang mampu yang di buktikan dnegan mengenyam Pendidikan di kampus tapi ia tak tau jika Haris lebih dari itu.


“Assalamualaikum”. Dengan payung yang ia bawa agar hujan tak membasahi dirinya dan anaknya, ia mengetuk pintu berkali-kali sampai suara sahutan dari dalam terdengar.


“Waalaikum sallam siapa ya ?.”


“Mas itu kamu mas, aku sangat rindu padamu, ini anak kita sudah lahir mas tapi bapak sudah meninggal.”


“Ratih.” 


“Siapa itu Haris ?.” Suara Wanita paruh baya semakin dekat dan saat terlihat Ratih menundukkan kepala hendak mencium tangan yang ia rasa adalah mertuanya.


“Siapa kamu?.” Dengan cepat tangannya di Tarik agar Ratih tak bisa mencium tangannya, dengan rasa arogan melipat tangannya di dada, dengan sebelah mata melihat Ratih yang sedang menggendong bayi.


“Ma ini Ratih, yang dulu pernah ku ceritakan dulu.”

__ADS_1


“Oh jadi dia istri kamu yang tidak jelas asal usulnya itu, baguslah dia ada di sini jadi kamu bisa menceraikannya, tapi karena kalian hanya nikah siri jadi harusnya kata talak saja sudah bisa.”


Ratih terdiam dalam kebisuan, meski ia tak bersuara tapi tatapan matanya yang melihat Haris, memohon agar tidak dilaksanakan apa yang ibunya Haris perintahkan. Ratih menggeleng tapi sedetik kemudian kemunculan seorang Wanita cantik yang sebaya dengannya membuat Ratih kian bertanya-tanya.


“Ada apa ? kenapa pada berdiri di luar ini hujan lho.” 


Wanita itu edang hamil besar dan seperti menolak kemungkinan terburuk, Ratih berusaha menyangkal dan mengatakan pada hatinya bahwa itu mungkin adalah adiknya Haris.


“Kenalkan ini menantu saya dan istrinya Haris yang sedang mengandung cucu saya, kamu yang hanya gadis desa tidak akan bisa menjadi istrinya Haris, Ema ayo kita masuk dan Haris cepat talak dia agar Ema bisa menjadi istri kamu satu-satunya.”


“Iya mas, aku sedang mengandung anak kamu lho ini masa kamu tega duakan aku.”


Mendengar perintah dari mertua dan madunya membuat hati Ratih teriris, ia tak ma dan tak sanggup. Air mata berlinangan membasahi pipi meski hujan tak mempu menjangkau tubuhnya. Ia menggeleng dengan kuat berusaha untuk mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


“Mas tolong jangan lakukan itu, kasihanilah aku dan anakmu, dia masih kecil apa aku tega membuat dia kehilangan sosok ayah ?.”


“Maafkan aku Ratih, ini juga bukan inginku tapi aku di jodohkan dan sekarang Ema sedang hamil. Aku harap kau mengerti, mulai sekarang kau ku talak dan kau bukan lagi istriku.”


"Tidak mas aku mohon jangan lakukan ini, mas kau suamiku dan aku istrimu mas." Tapi Haris masih tetap pada kata-katanya dan lebih memilih keputusan dari ibunya.


Kedua Wanita itu tersenyum dan masuk ke dalam rumah, menarik tangan Haris untuk ikut masuk juga. Dalam dinginnya hujan ia melangkah dengan kaki yang terasa berat, air matanya membasahi pipi yang jatuh dan menetes pada kening putri kecilnya yang bahkan tidak akan memiliki ayah karena mereka sudah tidak diinginkan.


“Jangan khawatir ya sayang meski kamu hanya punya Ibu tapi ibu akan membesarkan mu sendiri dengan kasih saying. Oh iya Ibu belum kasih nama, nama kamu Adinda Putri Fahrana, mulai sekarang kita akan berjuang Bersama-sama ya Rana.

__ADS_1


__ADS_2