Bukan Cewek Matre

Bukan Cewek Matre
Kecewa


__ADS_3

20 Tahun Kemudian


Ada seorang gadis yang sedang mengepel lantai, sesekali ia mengelap keringatnya menggunakan lengan. Lelah tak bisa ia pungkiri namun keterbatasan ekonomi membuat dirinya harus tetap bekerja meski tubuh telah benar-benar ingin diistirahatkan. 


Gadis cantik itu tak lain adalah Rana, dia bekerja sambil kuliah demi bisa menyambung hidup. Meskipun ia kesulitan ekonomi tapi itu tak membatasinya untuk tetap kuliah dan mengambil jurusan kedokteran. Beasiswa yang berusaha ia pegang mati-matian agar tak tergeser oleh mahasiswa lain sekuat tenaga ia perjuangkan, namun sebagai gantinya masa untuk pergi dengan teman-teman dan bermain bersama tak bisa ia lakukan.


“Rana catat pesanan pelanggan yang baru datang.”


“Iya.” Rana mengembalikkan alat pel dan mencuci tangan, lantai yang masih basah kini kotor lagi karena sepatu pelanggan yang membawa debu bersamanya, ia menghembuskan nafas lelah tapi tersenyum saat berhadapan dengan pelanggan. “Mau pesan apa ?.”


Dengan cekatan ia mencatat hingga tak terasa waktu yang ditunggu telah tiba, saat kafe tutup dan gajian bulan ini datang. Tak banyak harapan Rana karena tau jika gajinya tidaklah banyak tapi setidaknya uang yang tak seberapa itu sangat besar makna untuk dia.


“Gaji mu bulan ini kepotong karena hutangmu masih banyak, hanya segini.” Sebuah amplop coklat di berikan ke Rana.


“Makasih ya bos.” Rana berjalan ke belakang untuk melepas topi dan celemek yang di kenakan, amplop ia buka dan isinya hanya 700 ribu, lumayan untuk tambah biaya makan ia dan ibunya.


“Kapan ya gue bisa kaya ?? sabar Ran sabar pasti suatu hari nanti.” Ia bergumam sendiri dan tepat saat lampu terakhir kafe di matikan ia pergi tapi tidak pulang melainkan ke tempat kos temannya yang memang tidak jauh dari sana.


Hanya dengan berjalan kaki melewati beberapa gang ia telah sampai, lokasi kos temannya sangat dekat dengan kampus dan berada diantara tempat ia bekerja juga kampus tempat mereka kuliah. Setibanya disana ia langsung membaringkan tubuhnya seolah kos itu memang di huni olehnya sendiri.


“Yah ni anak kebiasaan nggak pakai salam asal nyelonong, itu kasur gue mau elo tempati gitu aja.” Omel seorang wanita dengan rambut ikal sepunggung yang di ikat asal. Namanya adalah Mayang teman SMA yang sedang menempuh kuliah tapi di jurusan yang berbeda dengan Rana, Mayang mengambil jurusan arsitektur untuk menyalurkan hobinya menggambar.

__ADS_1


Mereka berdua teman sejak kelas 1 SMA dan kenal baik dari dalam maupun luar, karena Mayang yang bertempat tinggal cukup jauh membuatnya harus ngekos di kos putri dekat kampus. Sedangkan Mayang memang sedari dulu bergonta-ganti kontrakan.


“Bentar May, gue capek kerja keras bagai kuda padahal gue manusia.” Meski menjawab tapi Rana tak berpindah sama sekali dari sana, bahkan ia menenggelamkan wajahnya pada bantal yang terasa sangat empuk.


“Makanya Ran kalau cari kerja itu yang buat manusia jangan yang buat kuda, kan kamu biar nggak capek.” 


Yang berkomentar barusan adalah Nacita, teman satu kamar kos Mayang dan mereka bertiga menjadi akrab sejak semester awal meski jurusan yang Nacita ambil adalah Pendidikan guru sekolah dasar. Meski berwajah manis dan putih lengkap dengan mata sipit khas orang China tapi Nacita asli orang pribumi. 


“Aduh nggak nyambung Cita, udah sana belajar aja biar lulus terus jadi guru tapi ajarin muridnya biar pinter ya bukannya sesat kayak elo.” 


“Mayang kalau ngomong suka nyakitin deh.”


“May Cit malam ini gue tidur sini ya, besok gue ada kuliah pagi dan kejauhan jika harus pulang malam ini.”


“Santai aja kali Ran kayak nggak biasanya, padahal elo juga udah sering kan tidur disini sampai ibu kos aja hafal elo.” Mayang yang semula berdiri kini terduduk di sebelah Rana, Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi ragu.


“Ada apa ?.” Rana yang peka ternyata menyadari sifat Mayang yang seperti ini. “Ngomong aja May kalau elo emang mau tanya atau ngomong sama gue.”


“2 Hari yang lalu gue ke kontrakan elo dan katanya yang punya kontrakan elo udah pindah ? apa itu bener ?” 


“Iya itu emang bener tapi elo jangan khawatir, gue sama Bunda udah sering pindah karena nggak bisa bayar kontrakan, ini aja kontrakan ke-3 tahun ini. Maklumlah semenjak rumah di desa dijual Bunda untuk biaya aku SMP semenjak itu kita sering pindah, gue kira elo mau tanya apa, taunya cuma itu, udah gue ngantuk.”

__ADS_1


Dalam sekejap saja Rana sudah berada di alam mimpi, terdengar dari suara dengkurannya yang halus. Kasur yang tidak terlalu luas dalam kos itu mampu menampung tubuh Rana dan Mayang. 


Disaat Mayang merasa ikut sedih dengan kemalangan yang di rasakan temannya, nyatanya Nacita malah memikirkan hal yang lain. “Rana kan nggak pernah kelihatan belajar, kok dia bisa pinter ya bisa masuk ke Fakultas kedokteran dan dapat beasiswa juga, padahal aku udah belajar tapi enggak pinter-pinter.


“Elo emang belajar tapi yang ada dalam otak elo cuma diskonan toko online mana bisa pinter, kalau pengin pinter buku elo jangan cuma dibaca tapi di blender terus elo minum.” Setelah itu Mayang ikut merebahkan dirinya di Kasur bersama dengan Rana, sementara gadis yang kerap disapa cita itu masih berfikir.


"Emang iya ya ? kalau gitu besok pinjem blender nya ibu kos terus ini buku aku blender dan minum, kali aja kan otak aku encer kayak otaknya Rana. Mungkin sebutan otak encer karena orang pinter pada minum jus buku kali ya ?.”


Sepulang kuliah telah malam dan hari ini juga tak ada jadwal untuk ke kafe, Rana hanya pekerja freelance yang akan bekerja jika tiada kuliah. Maka dari itu ia kini pulang menemui Bunda yang berada di belakang sedang mencuci pakaian tetangga. Usia yang tidak muda membuat Rana merasa iba dengan Bundanya.


“Bunda jangan capek-capek.” Rana memeluk Bundanya dari belakang, ia sangat sayang karena tak hanya sebagai Bunda tapi sebagai keluarga satu-satunya yang Rana miliki.


“Nggak apa-apa Bunda masih kuat kok.”


Rana mengambil amplop gajinya dan diberikan kepada Bunda semua. "Bulan ini gaji ku cuma dikit Bun soalnya kepotong sama hutang di kafe, maaf ya Bun cuma segini."


“Kenapa kasih ke Bunda, simpan untuk kebutuhan kuliahmu, meski dapat beasiswa tapi buku dan lain-lain tetap bayar kan ? maaf Ran kamu harus menjalani kehidupan yang sulit, andai ayah kamu mau bertanggung jawab….”


“Bunda jangan bicara tentang Ayah lagi, jangan ngomongin orang yang bahkan nggak peduli dengan kita Bun.”


Rana pergi dengan kekecewaan, ia selalu tak suka jika membicarakan ayahnya yang hanya membuat kehidupan mereka seperti ini. Semua cerita telah ia ketahui dari mulut sang Bunda dan keinginan untuk melupakan ayahnya terlalu kuat untuk Rana.

__ADS_1


__ADS_2