
Laju mobil Edo membelah jalanan dengan kecepatan sedang sambil melihat jalan dan mengingat alamat yang baru saja Rana katakan untuk alamat rumahnya, sebenarnya alamat itu lumayan jauh dari cafe tempat mereka tadi bertemu.
Sebuah gang kecil diarahkan dan ditunjuk nya dan melewati beberapa rumah untuk sampai. "Beneran elo tinggal di sini?. "
Sebenarnya Rana tidak mau diantar pulang tetapi Edo terus-menerus memaksa dengan alasan bahwa ingin mengantar pacarnya agar selamat sampai di rumah sekaligus mengetahui di mana Rana tinggal.
"Iya benar kok gue tinggal di daerah sini, "Rana memperhatikan sekitar di mana ia memilih satu dari beberapa rumah yang akan diakuinya menjadi tempat tinggalnya karena tidak mungkin baginya untuk memberitahu bahwa ia tinggal di rumah yang lain karena ia telah mengaku menjadi anak orang kaya yang berkecukupan.
"Yang itu rumah gue yang di cat biru. " Tunjuknya pada sebuah rumah yang berada di depan sana berjarak 5 rumah dari tempatnya sekarang dan tentu saja itu bukan rumah aslinya karena rumah itu lebih besar dan terlihat seperti bangunan megah walaupun berada di gang kecil.
"Oh yang itu."Edo memelankan mobilnya dan berhenti di depan rumah yang telah ditunjuk, dan melihat rumah Rana yang tertutup pagarnya juga lampu rumah yang mati.
Mereka berdua turun dari mobil dan Rana berpikir keras bagaimana cara ia mengusir Edo agar tidak mampir dan segera pergi dari sana karena jika tidak ia akan ketahuan telah berbohong.
"Kayaknya rumah elo sepi, bokap sama nyokap udah tidur apa lagi pergi ?. " Tanyanya saat melihat lampu yang telah dimatikan di antara rumah lain yang masih menyala.
__ADS_1
"Orang tua gue lagi ada di rumah kakek sama nenek gue tapi di rumah ada kok pembantu mungkin udah tidur lagi pula ini udah malam juga, lo nggak balik udah malem banget takut nanti dibegal gimana ?."
"Padahal gue pengen masuk kan baru pertama kali ini gue ke rumah elo semenjak kita pacaran gue belum pernah antar jemput kan dari rumah lo?. "
"Duh gimana ini cara mengusir kucing satu ini, susah banget sih ngertinya nggak peka banget, apa mesti pakai ikan asin apa gimana ?. " Batinnya dalam hati. " Ini udah malam banget loh gue kan kasihan kapan-kapan aja lo main kan udah tau juga rumah gue ya." Bujuknya lagi.
"Oke deh tapi lu masuk gih gue bakalan pergi sebelum elo masuk rumah. " Pintanya dengan senyuman khas seorang pacar tetapi Rana tidak menanggapinya sebagai sebuah perhatian justru sebaliknya.
"Oh Tuhan cobaan apalagi ini, ini rumah kan udah setahun nggak ditempatin mana ada gue kunci rumahnya yang ada ketemu hantu iya. " Rana tersenyum meski dalam dirinya bergejolak ingin marah dan ingin menjerit sekencang-kencangnya.
"Ya udah gue pulang dulu ya salam buat nyokap sama bokap kalau udah balik gue juga mau silaturahmi ke mereka." Edo memasuki mobil setelah berpamitan kepada Rana dan melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi dari sana.
Melihat plat nomor mobil itu benar-benar pergi dan telah menjauh dari sana Rana baru merasa lega dan ia melangkah menjauhi rumah yang telah tidak dihuni oleh seseorang selama setahun tersebut sebelum hantu muncul dan keluar dari sana untuk menakutinya.
"Mau ke mana lo nggak mau masuk ke rumah?."
__ADS_1
Rana langsung berbalik arah melihat ke sumber suara dan benar-benar terkejut seperti melihat hantu karena ia melihat Danu yang berada di sana muncul dari kegelapan dan menanyakan hal yang tidak ingin ia tanyakan untuk sekarang.
Nampaknya lelaki itu mengikuti sedari tadi dan sialnya Rana tidak menyadari, harusnya ia lebih berhati-hati.
"Bukannya ini rumah lo?. " Danu melihat rumah yang berlantai 2 tersebut seluruhnya mati dan mendekat memeriksa gerbang yang ternyata dikunci. "Bukannya ini rumah lo tapi dikunci nih lo bawa kuncinya nggak gue mau mampir. "
Rana mematung di sana dengan bola matanya yang bergetar hebat dan tangannya yang terasa lembab. Sekujur tubuhnya bergetar hebat dan ia berusaha tidak menunjukkan sisi lemahnya untuk sekarang juga mencari sumber kekuatan untuk menghadapi salah satu makhluk Tuhan paling menyebalkan ini.
"Gu-gue pasti punya lah kuncinya kan ini rumah gue !."
"Kalau gitu buka sekarang, ini udah malam lo nggak mau masuk? Gue juga mau mampir. "
Rana melangkahkan kakinya yang terasa lemas tanpa tulang dengan cara dipaksa, iya meraba mencari gembok yang berada di balik gerbang tersebut dan pura-pura merogoh kunci di dalam tasnya.
Danu mendekat setelah lama menunggu Rana yang mencari kunci dari dalam tasnya karena Ya sudah tidak sabar. Mereka sangat dekat hingga Rana seperti didatangi melaikat pencabut nyawa. "Kuncinya hilang atau ......... Elu emang nggak punya kuncinya karena ini bukan rumah lo ?!."
__ADS_1