
Rana menjalani hobi barunya dengan mengencani banyak pria untuk mendapatkan apa yang dia mau kini telah terwujud. Dari hari Minggu dan menjadi bulan pendapatan Rana setiap harinya semakin meningkat dengan trik-trik baru dan jitu yang dia lakukan saat berpacaran tetapi tetap saja tidak semua lelaki yang ia kencani adalah lelaki baik yang bisa menghormati seorang wanita.
Kerap kali Rana diajak untuk check in di hotel ternama sampai ke hotel biasa pun juga pernah tetapi ia selalu menolak dan meminta untuk berpisah sebelum hal buruk itu terjadi. Semua materi banyak yang ia dapatkan juga banyak sekali resiko yang harus dihadapi dan Rana mengakui hal itu, untung ia sudah belajar bela diri setidaknya untuk dasar-dasar ia telah bisa.
Mayang memberikan segepok uang pecahan 100.000 kepadanya dan ia menerima dengan hati yang setengah bahagia tetapi juga setengah sedih, terlampau bingung untuk dijabarkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Gue selalu merasa bersalah sama mereka, gue pengen berhenti aja May, tapi gimana gue masih butuh uang-uang ini dan rasanya gue setiap hari didesak oleh ekonomi."
Nacita yang mulanya mengerjakan tugas-tugas perkuliahan kini berhenti dan untung saja itu telah selesai hingga ia duduk bersama teman-temannya di bawah mendengar percakapan mereka dan berusaha untuk memahami apa yang sedang menjadi dilema oleh Rana.
"Gue harus gimana ?."
"Kalau elo emang mau berhenti sekarang nggak apa-apa itu terserah elo kita juga nggak memaksa tapi kalau lo mau lanjut juga silakan, pilihan ada di tangan elo."
"Apapun yang kamu pilih kita support kok Ran." Nacita mengelus punggung Rana untuk menyalurkan rasa tenang dan meredakan kegundahan.
Uang pecahan 100.000 itu teramat menggiurkan bagi Rana untuk ditinggalkan, perkuliahannya yang masih lama belum lagi kebutuhan hidup juga untuk membayar kontrakan karena tidak memiliki rumah sendiri membuatnya terpaksa harus melanjutkan rencananya. Meskipun setiap hari Rana menerima uang itu ia selalu dibayang-bayangi rasa bersalah.
"Gue mau tobat tapi kalau udah waktunya, sekarang ini gue masih butuh banget uang. "
Rana menyimpan uang tersebut dan mereka bertiga pergi ke kampus bersama meski jadwal kuliahnya berbeda jam dan juga berbeda kelas. Karena kosan Mayang dan Nacita dekat maka mereka bertiga memilih untuk jalan kaki sembari berolahraga di saat hari masih pagi tetapi sialnya Mayang harus melihat lelaki yang telah menjadi incarannya selama ini didekati oleh orang lain dan lebih sialnya lagi itu adalah musuhnya.
__ADS_1
"Itu cewek ya rasanya pengen gue bejek-bejek terus gue tembok biar mereka pisah nggak ada tatap-tatapan kayak gitu, panas hati gue. "
Rana dan Nacita mulanya tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Mayang tetapi setelah melihat ke sekeliling dan melihat arah Mayang tertuju kini mereka tahu bahwa Damar sedang didekati oleh wanita lain.
"Sabar May kan kamu sama kak Damar belum resmi pacaran jadi dia mau dideketin sama siapapun masih sah-sah aja." Nacita tidak sadar bahwa tadi itu ia telah tambah menyulut emosinya Mayang dan sikutan dari Rana didapat agar berhenti bicara tapi sayang Nacita bukanlah gadis yang peka.
Mereka bertiga melihat sampai gadis itu yang mendekati kak Damar pergi lalu Damar berjalan mendekat melihat Mayang dengan tas ransel di punggung kaitkan sebelah tangan saja. " Nanti jangan lupa ya ada meeting semua anggota bakal kumpul tapi kayaknya rada malam dikit soalnya ada barangku yang ketinggalan, nanti bisa temenin aku ambil berkasnya di rumah ?."
Rana ternganga karena secara tidak langsung Damar mendekati Mayang dengan cara mengajak ke rumah dan mungkin saja itu salah satu upaya untuk mengenalkan Mayang kepada keluarga Damar.
Tetapi bukannya langsung menjawab Mayang malah ikut-ikutan terperangah dan kata yang hendak diucapkan seperti tercekat di tenggorokan hingga susah keluar. Sampai Rana yang menjawab pertanyaan tersebut.
Damar menyentuh dahi Mayang untuk mengecek suhu tubuh gadis itu yang tidak bergerak sedikitpun dan hanya melihat telapak tangan yang mengenai dahi.
"Lagi sakit ya? Kalau emang lagi nggak enak badan nggak ikut meeting nggak apa-apa. "
"Eh enggak kok aku baik-baik saja." Mayang berusaha untuk bersikap normal meski hatinya sekarang seperti sebuah petasan yang siap meledak dan memercikan api di mana-mana hingga semuanya terbakar dengan hebat.
"Ya udah nanti aku tunggu di parkiran, mobilku yang parkir di bawah pohon kelapa warna abu-abu." Damar pergi setelah mengatakan hal itu dan tanpa disadari ada gadis yang sedang meleleh hatinya karena ucapannya tersebut.
"Cepetan cubit gue sebelum gue berkhayal terlalu tinggi. "Ungkap Mayang dan ia langsung menjerit kesakitan setelah dicubit Nacita tanpa ada rasa ampun dan saking kerasnya terdapat bercak merah akibat ulah dirinya tersebut di kulit lengan mulus Mayang.
__ADS_1
"Aduh sakit Cita."
"Tadi kan minta dicubit ya aku cubit lah."
*******
Sebenarnya tanpa dikasih tahu apa merek mobil maupun ciri-ciri mobilnya Damar, Mayang sudah tahu lebih dulu karena iya mengagumi lelaki itu hingga menimbulkan rasa suka yang kini membuatnya jalan semakin cepat untuk mencapai hati Damar dan Mayang yakin ini salah satu langkah agar ia segera menjadi pacar Damar yang merupakan ketua senat mahasiswa.
"Mau nunggu di mobil atau ikut masuk ke dalam rumah?. " Sabuk pengaman telah dilepas dan Damar bersiap untuk turun begitu juga Mayang yang menginginkan untuk masuk ke dalam rumah untuk berkenalan dengan orang tuanya Damar jika diperbolehkan.
Rumah yang dikira Mayang besar tetapi masih dalam kategori wajar ternyata di luar dugaan. Rumah berlantai 3 dengan desain klasik nuansa Eropa ditambah cat putih itu seolah menampar keras Mayang bahwa Damar bukan merupakan golongannya yaitu golongan kelas menengah ke bawah.
"Orang tua kamu ke mana kok rumahnya sepi kayak nggak ada orang ?."
"Mama sama papa lagi ke luar kota sementara kakak-kakakku sedang dinas kalaupun mereka ke sini paling beberapa bulan sekali dan itu langsung pergi lagi sama kakak iparku. "
Mayang mengagumi rumah Damar dan duduk sambil melihat-lihat begitu megahnya bangunan tersebut dan menyadari kasta berbeda diantara keduanya. Belum lagi foto keluarga di mana semua anggota keluarga Damar memakai pakaian abdi negara dan semuanya menggandeng tangan pasangan memakai jas putih yang diketahui Mayang adalah dokter.
"Kok gue rasanya pengen cepat-cepat pergi dari sini, gue kayaknya nggak cocok sama Damar yang kaum elit dibandingin gue yang kaum menendang-mending ini." Batinnya dalam hati dan nampak lesu juga patah semangat untuk mengejar Damar yang seperti langit sedangkan ia seperti bumi.
Niatan untuk berkenalan dengan orang tuanya Damar nyatanya pupus tetapi itu malah membuat sedikit bahagia untuk Mayang, karena jika orang tuanya Damar berada di rumah tentu ia akan mendapat berbagai pertanyaan dan mungkin akan dianggap sebagai calon pacarnya Damar yang harus dihindari karena tidak selevel dengan mereka.
__ADS_1