Bukan Cewek Matre

Bukan Cewek Matre
Hotel


__ADS_3

Danu berjalan semakin dekat hingga jarak keduanya terpaut beberapa inchi saja. Rana melihat ke kanan dan kiri tapi ia terkurung saat Danu melebarkan tangannya menutupi semua jalan yang memungkinkan Rana untuk kabur.


"Gu-gue......"


"Eh eh Farah bangun bangun." Gadis itu pingsan di tempat gelap tanpa ada orang selain Danu hingga lelaki itu bingung di buatnya. Pagar tersebut benar-benar terkunci dan Danu juga tidak yakin benar ini rumahnya Rana.


Ia menggoyangkan bahu wanita itu cukup keras tapi hasilnya nihil hingga terpikir untuk meninggalkannya di sini tapi ini terlalu sepi dan tidak baik meninggalkan wanita sendiri. Jika ingin menelfon Edo juga tidak mungkin yang ada nanti Edo akan menyalahkannya karena membuat pacarnya pingsan.


"Elo tuh nyusahin." Tubuh wanita itu di gendong dengan sangat terpaksa menyusuri beberapa rumah untuk sampai di mobilnya yang di parkiran agak jauh dari sana. Dengan kesulitan ia memasukkan Rana ke dalam mobil dan pergi.


"Bagusnya nih cewek bawa kemana ? Apa gue telpon Mayang tapi ntar tuh cewek keluar singa nya." Dengan bingung Danu melintasi kota dan membelah jalanan yang semakin sepi karena sudah malam. Tidak mungkin juga jika membawa seorang gadis ke rumahnya yang ada ia di usir dari rumah karena dikira mau macam-macam.


Setelah lama berpikir dan memutari kota akhirnya tujuan Danu adalah ke hotel dimana bebas membawa siapa saja tanpa harus membawa buku nikah atau tanda bukti lainnya selain tanda pengenal. Ia tidak apa di anggap akan melakukan sesuatu oleh petugas hotel asal bukan keluarganya yang tau.


"Dih pegel banget." Setelah dengan susah payah dan tangan yang hampir mati rasa akhirnya ia selesai memindahkan tubuh Rana dari mobil ke hotel. "Kalau Edo tau gue bisa di sembelih." Gerutunya.


Danu memandangi Rana dan memperhatikan wajah gadis itu yang tak berubah semenjak mereka putus setelah menjalin hubungan selama 2 bulan lamanya. Tapi jujur dia kui oleh Danu bahkan Rana tambah cantik di banding dengan terakhir mereka saling bertemu.


"Nggak salah dulu gue kepincut nih cewek, kalau gue ***** dikit nggak apa-apa kan ya toh ini hotel, eh Astaghfirullah." Danu dengan cepat menyadarkan otaknya atas bisikan setan yang terasa menggelitik di telinga hingga hampir khilaf.


Rana menggerakkan jemarinya lalu mengerjap mendapati Danu yang yang sedang bertatapan dengannya. "Aaaaaa. " Tangan Danu yang besar segera membekap mulut Rana agar tidak berisik karena kamar ini tidak kedap suara bahkan suara pasangan pengantin sehari di sebelah terdengar dengan jelas.

__ADS_1


"Gue bakal lepas tangan gue tapi elo diam." Dengan hati-hati ia menjauhkan tangannya dan mendapat tatapan tajam.


"Elo ngapain di kamar gue ?." Tanya Rana spontan yang membuat Danu malah tertawa bukannya menjawab.


"Kamar elo ? Nggak lihat sekeliling ini tuh kita di hotel."


Rana melihat ke arah yang di tunjuk oleh Danu dan benar apa katanya, semua yang ada di sini sama sekali tidak seperti kamar Rana dan keduanya di hotel. Saat mengingat bagaimana tadi ia di interogasi oleh Danu dan benar-benar takut membuat Rana kembali tidak tenang.


Dan hal itu di sadari oleh Danu yang merasa sedikit bersalah telah membuat gadis itu ketakutan sampai pingsan karena yang dia tau bahwa wanita yang ada di hadapannya ini tidaklah rapuh tapi pemberani dan sangat tegas juga bawel.


"Kalau soal kita di hotel tenang gue nggak bakal ngapa-ngapain elo, kalau soal rumah elo atau bukan untuk sekarang gue nggak akan tanya."


"Terus kenapa elo bawa gue ke hotel kalau emang gue nggak di apa-apain ? Kenapa nggak bawa gue ke rumah sakit atau biarin gue biar gue bangun sendiri."


"Mereka brutal banget sih." Gumam Rana dalam hati.


"Positif thinking aja mereka lagi kepedesan habis makan nasi goreng gila." Danu melihat sekitar pura-pura tidak dengar.


"Kayaknya elo yang gila ajak gue ke tempat ginian, gue mau pulang."


"Gue juga nggak mau denger back sound gituan."

__ADS_1


Tidak tahan dengan kondisi kamar sebelah yang berisik akhirnya Danu memutuskan untuk check out dan mengantar Rana pulang meski sebelumnya gadis itu enggan untuk mengiyakan. Membelah jalanan kota yang sepi mereka berdua hanya diam di dalam mobil di temani kesunyian.


Danu yang notabennya bukan pendiam mencoba untuk bicara tapi tidak tau topik apa untuk membuka obrolan lagipula ia juga sudah bilang tidak akan bertanya perihal rumah yang bukan milik Rana tersebut.


Melihat dari jendela kaca mobil milik Danu, Rana hanya bisa menikmati keindahan malam dalam kehampaan. Langit tidak berbintang juga tidak mendung seakan menemani Rana dalam kesepian hati yang di balut kebohongan bertubi-tubi.


"Gue antar elo sampai mana ?."


Pertanyaan Danu membuyarkan lamunan Rana hingga ia bertanya ulang untuk kembali mendengar saat tadi tidak fokus, dan memberikan arahan berupa pohon yang tumbuh di sekitar sana sebagai tempat pemberhentian.


"Yakin turun disini, kalau elo di bawa sama hantu gimana ?."


"Ga usah sok peduli, yang pasti hantunya lebih ganteng daripada elo. Btw makasih dan jangan temui gue lagi."


"Udah di antar malah gitu, nggak tau terima kasih banget."


Rana berjalan dengan arah memutar untuk sampai ke rumahnya meski lebih jauh tapi itu upaya waspada siapa tahu Danu mengikuti.


Melihat ke belakng dan mengecek, setelah semua aman ia masuk ke dalam kontrakan dimana ia telah di sambut oleh pertanyaan Bunda yang khawatir akan kondisinya.


"Rana tadi habis dari kosnya Mayang Bun, mau nginep situ tapi takut ganggu soalnya Mayang sama Nacita lagi sibuk ngerjain tugas. Rana jadi nggak enak tidur sana takut mengganggu."

__ADS_1


"Yaudah tapi lain kali jangan lupa kasih kabar bunda, sekarang kamu istirahat."


Dalam rumah kecil yang lampu depannya rembg tersebut Danu berdiri dan bersembunyi di balik pepohonan untuk mengamati. Ya...tadi ia memang mengikuti Rana dan sesuai dengan dugaannya bahwa Rana tidak kaya dan memanfaatkan dirinya juga temannya, Edo untuk mendapatkan apa yang dia mau.


__ADS_2