
Perkuliahan Rana untuk hari ini telah usai dan beberapa buku yang di gunakan tadi ia masukkan ke dalam tas saat teman-teman yang lain telah keluar kelas. Dosen di salah satu mata kuliahnya juga masih berada di sana dan belum keluar.
Hanya ada mereka dan Rana akan pergi seperti yang lain, yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana caranya ia menjadi pacaranya Aldi segera dan mereka akan ketemuan nanti. Sebelum benar-benar pergi dosen memanggil namanya dengan lengkap.
"Adinda Putri Fahrana ?."
"Iya ? Panggil Rana aja pak, ada apa ?." Rana mundur satu langkah menghadap pak dosen yang usianya lebih muda dibandingkan dosen dari fakultas lain. Ia mendengarkan apa yang hendak di katakan oleh pengajarnya itu.
"Tadi saya mau memberikan tugas tambahan untuk di kumpulkan minggu depan tapi lupa, kalau kamu punya nomor teman-temanmu atau tergabung dalam grup bisa share tugas ini ke mereka ?."
"Iya bisa pak."
"Bisa kasih nomor kamu nanti saya akan kasih tugasnya dan share ke teman-teman mu yang lain ya."
Rana dan pak Heru saling bertukar nomor telepon, ada file berisi tugas yang di berikan dan harus di kerjakan. Sekarang tambah lagi tugas Rana yang membuatnya kian sibuk saja setiap hari tapi ia tidak boleh banyak mengeluh dan harus berlapang dada menghadapi semuanya agar hidup terasa lebih ringan.
"Sudah masuk kan tugasnya ? Terima kasih ya."
"Iya pak."
Pak Heru keluar dari kelas lebih dulu di susul Rana yang terkejut akan kedatangan dua sahabatnya dari belakang mengagetkan dengan memegang pundak Rana bersamaan dan menyebut namanya.
"Hayo siapa itu ?." Telisik Mayang yang menyipitkan mata, belum juga mendapatkan Aldi ternyata ada yang lain.
"Dosen gue, kenapa ?." Rana merasa tidak ada yang salah dengan dosennya kali ini.
"Eh masa ada dosen muda, ganteng dan rapi gitu di kampus kita ? Wah aku ketinggalan info, btw dia single nggak Ran ?." Nacita antusias akan lelaki muda, tampan dan sudah mapan tersebut, sosok yang sempurna bagi wanita yang mencari pendamping.
"Ya mana tau, tapi dia pasti udah berumur kan nggak mungkin single."
Mayang dan Nacita membenarkan sambil mereka berjalan bersama di lorong kampus yang sepi, ini sudah sore hampir magrib dan tidak banyak siswa yang masih berada di kampus kecuali ada makul, andai selesai juga langsung pulang seperti mereka yang langsung ingin pergi.
__ADS_1
"Kalian kenapa tadi berdua aja di kelas ?." Lanjut Mayang bertanya.
"Pak Heru tadi minta nomor gue buat share ke teman lain kalau ada tugas, dia lupa kasih tadi."
"Dih percaya aja itutuh modus tau, pertama minta nomor hp terus minta alamat rumah akhirnya jejeran di kartu keluarga, uh so sweet. Kira-kira bakal ada kisah cinta ala novel di kampus kita nggak nih ?."
"Seru deh kayaknya nikah sama dosen sendiri terus nanti foto prewedding nya pakai jas almamater kita, uwuuu."
Rana tidak habis fikir dengan cara mereka yang terlalu di buat serius bahkan Rana sendiri kurang setuju jika pak Heru di bilang muda dan tampan meski memang begitu nyatanya. "Udah lah terserah kalian."
*****
"Gimana ? Ini baju terbaik yang gue punya pakainya aja sekali setahun pas lebaran, masih kelihatan baru." Rana memperlihatkan baju yang ia kenakan kepada dua sahabatnya, kini ia seperti kontestan yang di nilai oleh para juri.
"Yakali Ran elo mau ngedate pakai gamis, nggak sekalian pakai label MUI atau pegang sertifikat halal ?." Sembur Mayang.
"Eh tapi bagus tau sekalian Aldi di ajak ke acara pengajian, jadinya pasangan yang soleh dan solehah."
Kedua sahabatnya itupun tertawa terbahak-bahak bahkan Cita sendiri sudah keluar air mata di sudut matanya. Rana hnya terdiam sambil mengamati gamis berwarna putih yang sudah 3 tahun lamanya mengisi di setiap lebaran.
"Udah gue pinjemin baju." Mayang membuka lemarinya, memilih dan mengamati mana yang sesuai, ukuran tubuh keduanya tidak jauh berbeda tapi lekukan tubuh Rana lebih menonjol di bandingkan dirinya yang lurus saja.
"Ini cocok kali ya ? Orangtua gue beliin ini di Dubai setahun lalu kayaknya kalau di pakai pas." Beberapa kali Mayang mendapat kiriman uang juga barang dari hasil kerja keras orangtuanya yang menjadi TKI dan TKW di Arab demi bisa membiayai kulian Mayang sampai lulus, apapun akan di lakukan untuk anak semata wayang mereka.
"Nggak apa-apa noh gue pakai baju elo ?."
"Udah coba aja." Gamis yang di kenakan di lepas dan menggantinya dengan baju yang di pinjamkan Mayang, hasilnya pas dan nampak cantik Rana memakainya.
Setelah berhasil menentukan outfit yang sekiranya cocok juga penampilan maksimal akhirnya Rana pergi sendiri menemui Aldi, jantung berdegup kencang hingga ingin lompat dan rasa ketakutan hingga kebelet ke kamar mandi tapi terlambat kini Aldi sudah berada di depannya.
"Udah lama nunggu ya ?."
__ADS_1
"Eh nggak gue juga baru sampai kok."
Tidak ada pengalaman pacaran maupun kenal dekat dengan lelaki dan sekarang Rana di hadapkan dengan situasi yang tidak ia sukai. Mempunyai MBTI INFP membuatnya agak kesulitan berbaur dengan orang baru di kenal.
"Kirain bakal sama Mayang, baru kali ini gue ketemu cewek yang mandiri."
"Gue emang orangnya suka bareng temen tapi kadang juga suka sendiri." Rana tersenyum di sudut bibirnya tapi hatinya memberontak." Itu artinya gue nggak nyaman sama orang termasuk elo b*g*, gue mau pulang." Teriaknya dalam hati.
Aldi tidak hanya mengajaknya ke kafe dan melihat sekitar tapi juga mengajaknya ke bioskop. Mobil berwarna biru, Rana tau benar berapa harga mobil ini dan itu termasuk kategori mobil ratusan juta, lumayan meski tergolong mobil kelas menengah yang penting tidak kehujanan dan tidak kepanasan. Toh Rana sendiri belum mampu membelinya.
"Gue beli tiketnya dulu ya."
"Oke gue beli popcorn sama minuman kalau gitu."
"Yakin ?." Aldi terkesan untuk ke sekian kali saat Rana mengangguk menyakinkan dirinya dan pergi mengantri beli popcorn juga minuman.
Padahal Rana menangisi dompetnya yang kian langsing karena tidak ada gambar presiden dan pahlawan lainnya, kata-kata Mayang selalu teringat di benak dan itulah yang membuat Rana masih berpegang untuk mengeluarkan modal.
"Udah dapat, yuk."
"Ini minuman elo."
"Thanks."
Mereka masuk ke dalam bioskop seperti sepasang kekasih dan Rana sedikit terkejut saat tau bahwa film yang akan di tonton adalah film horor. Kali ini Rana harus meratapi kesialannya saat ia tidak suka film horor meski bukan karena takut filmnya tapi takut akan selalu terbayang hantu padahal filmnya telah usai.
"Ampun gue pengin pulang, MAYAAAANG CITAAA." Teriaknya dalam hati.
Di saat yang sama namun tempat yang berbeda Mayang dan Nacita menonton drama Korea tapi keseruan itu terhenti saat Mayang tidak sengaja menggigit bibirnya.
"Aduh."
__ADS_1
"Kenapa May ?."
"Nggak apa-apa paling si Rana lagi mikirin gue, udah faham banget dari dulu, yaudahlah kita lanjut nonton aja."