
Bukan dress dengan model seksi atau mencolok juga bukan baju biasa dengan style anak rumahan tapi dress atas lutut dengan blazer yang terkesan modern dan masih sopan namun nampak cantik.
Rambut panjang Rana yang biasa hanya di kuncir kuda kini di gerai hingga terlihat panjang sampai sepunggung. Ia diajari beberapa gaya untuk menggaet lelaki dari kalangan atas kenalan Mayang.
"Selipin rambut ke kuping jangan lupa, ntar jangan pesen makanan pesen minuman aja terus nyedotnya jangan bar-bar yang anggun dan slay, jangan lupa usap leher dikit." Beberapa wejangan yang Mayang katakan ke Rana dan Nacita ikut menyimak bahkan langsung mempraktekkan.
"Tuh yang kayak Cita lakuin tuh tapi yang anggun ingat."
"Duh ribet banget, gue pesen minuman doang mana kenyang, eh lupa pesen makanan juga nggak sanggup bayar sih."
"Udah pokoknya elo diam nggak usah banyak ngomong ntar biar dia penasaran, cukup beberapa kali lakuin yang gue kasih tau tadi tapi jangan terlalu kaku."
Setelah beberapa kali belajar melakukan hal yang Mayang kasih tau akhirnya Rana mempraktekkan di depan stiker cermin dan melihat dirinya sendiri, ini bukanlah gaya Rana sekali tapi demi bisa mendapatkan uang harus ia lakukan.
Mereka tiba di kafe tempat janjian Mayang dengan teman SMP-nya, tiba 10 menit lebih awal sengaja di lakukan agar Rana dan Mayang bisa bersiap.
"Kita pesen minum dulu."
"Mahal nggak ? Gue nggak mampu bayar."
"Gue tau pesen yang murah, es teh aja kali ya ?."
"Kalau es teh mah di rumah juga bisa bikin May, disini mahal banget 20 ribu es teh doang paling rasanya sama aja."
__ADS_1
"Inget Ran kalau mau hasil ya harus modal dulu ."
Dengan sangat terpaksa Rana memesan es teh begitu juga Mayang hingga minuman datang dan di cicipi rasanya seperti es teh pada umumnya. " Kan rasanya sama kayak es teh terus tehnya pakai teh celup yang bisa di gunakan berulang itu loh."
Mayang hendak menanggapi tapi saat dilihat dari kejauhan ternyata Aldi sudah datang akhirnya ia memilih diam dan menyenggol Rana dari bawah untuk menginterupsi keberadaan Aldi yang kian mendekat.
"Ingat slay."
"Selai ? Oh slay ok."
Lelaki dengan perawakan tinggi dan potongan rambut yang sedang tren saat ini membuat Rana terpesona dan jujur saja semua yang lelaki itu punya adalah tipe idealnya termasuk domet tebalnya tentu saja.
Rana mengalihkan pandangan ke pohon kelapa yang berada di sekitar sana, ia mencoba untuk tidak memperlihatkan ketertarikannya sesuai pesan dari Mayang bahwa lelaki akan penasaran kalau wanita jual mahal.
"Akhirnya elo datang juga, gue sampai lumutan nunggu disini untung gue bawa temen, kenalin namanya Farah dan Farah kenalin ini temen gue Aldi."
Mengubah Fahrana menjadi Farah bukan mengubah semuanya agar lebih aman kedepannya sementara Rana tetaplah Rana dan hari ini akan menjadi Farah yang seksi dan modis.
"Gue Aldi."
"Farah."
Setelah mereka bersalaman Aldi berbincang dengan Mayang perihal status mereka yang menjadi panitia untuk reuni yang akan diadakan dan Rana hanya menjadi obat nyamuk yang di gigiti nyamuk, dengan slay ia menepuk nyamuk meski tidak kena. Sungguh melelahkan untuk tetap bersikap anggun saat dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari sangat bar-bar.
__ADS_1
Aldi sesekali melihat Rana dan di saat itulah rencana beraksi, mulai dari menyelipkan rambut ke belakang telinga hingga memegang leher dengan pelan. Bahkan cara menyedot minuman itu sendiri terlihat begitu menggoda.
"Jadi gimana ? Gue rasa ide gue udah bagus tapi karena kita kerja sama jadi gue tetep mau denger pendapat elo ?."
Mayang melihat Aldi yang tidak memerhatikan dan melihat bahwa Aldi nampak terpesona, sepertinya memang rencana mereka akan segera berhasil.
"Al ? Aldi ?." Suara keras Mayang menyadarkan Aldi bahwa dirinya sedang tidak fokus dan berdehem sambil menyugar rambutnya untuk menghilangkan rasa canggung. "Apa tadi ?"
"Kan elo nggak konsen, gini tadi gue mau dengar pendapat elo buat acara reuni sekolah kita."
"Oh itu....."
******
"Kira-kira kita berhasil nggak yah ?." Rana melepas sepatu hills-nya dan menguncir rambut yang terasa merepotkan saat tergerai dengan bebas tak lupa menghidupkan kipas angin karena terasa gerah.
"Kita baru tau kalau dia hubungi gue lagi dan tanya soal elo, itu tandanya kita berhasil selangkah."
Nacita sedang tidak ada di kosan karena ke kampus tapi apabila saat ini ada dirinya pasti menjadi penceramah dadakan yang tidak akan ada habisnya untuk berkomentar. Meski Nacita kadang terlihat kurang bisa diandalkan tapi diantara mereka bertiga Nacita lah yang paling pandai dalam urusan agama.
"Eh hp gue ada notif, kita buka dan ternyata.......aaaaa beneran Ran dia tanya nomor hp elo ?."
"Eh beneran mana gue lihat, wah beneran gila gue deg-degan banget terus gimana dong ini gue nggak pernah deket sama cowok lagi."
__ADS_1
"Tenang jangan gugup dulu, ntar selanjutnya elo ikuti kata gue tapi elo gue lepas ya harus temui dia sendiri yakali gue temenin terus ntar gue jadi obat nyamuk dong."
Mayang memberikan nomor hp Rana kepada Aldi dan selanjutnya akan lebih seru, ini perbuatan tidak baik tapi Mayang anggap ia sedang menjodohkan temannya agar punya pacar meski nanti harus di putuskan segera.