
Sudah satu bulan semenjak Rana dan Aldi jadian hingga diantara keduanya sudah terbiasa satu sama lain untuk bicara dengan santai. Sebutan sayang kerap kali Rana utarakan agar lebih menjiwai seperti orang pacaran pada umumnya.
Satu yang tidak Aldi sukai dari sifat Rana adalah suka meminta barang mahal dengan nilai fantastis baginya, untuk sekali dua kali tidak apa tapi setiap mereka jalan pasti Rana memilih ke mall dimana terdapat banyak barang yang katanya ia butuhkan.
Aldi memang bisa membelikan Rana semua barang itu tapi jika terlalu sering tentu setiap orang akan mulai bosan. Dan hal itu di rasakan Aldi meski berusaha bertahan untuk hubungan yang baru satu bulan lamanya.
"Sayang sepatunya ini bagus ya ?." Rana mengambil sepasang sepatu yang di pajang dan ia coba di kakinya. Terlihat simpel namun sangat mewah di kakinya, akan sangat bagus jika sepatu itu di bawa ke pesta yang di hadiri oleh orang penting. Namun sayangnya Rana tidak akan pernah bisa menghadiri tempat seperti itu.
"Nggak sepatunya jelek." Spontan Aldi bicara dengan lantang bahkan tidak segan saat ada karyawan mall di dekat situ.
"Jelek apa orang bagus gini pas lagi aku pakai, aku jadi tambah cantik kan ?." Rana berusaha meyakinkan sekali lagi meski dari raut wajah Aldi mengatakan bahwa lelaki itu mulai sebal.
"Kalau aku bilang jelek ya jelek, udah ayo pergi." Aldi menarik tangan Rana tapi gadis itu terlebih dahulu melepas sepatu dan menaruhnya kembali lalu pergi dari sana, ia melepas tangan Aldi dengan menghentakkan.
"Kenapa sih, kayaknya dari tadi sebel gitu ?."
"Gimana ngga sebel tiap kali jalan selalu ke mall, diajak ke pantai nggak mau, dia ajak ke taman juga nggak mau selalu ke mall lagi dan lagi, mana ke mall selalu minta dibeliin barang-barang mahal. Gue bosen kayak gini terus."
Beberapa pengunjung melihat keduanya seraya berbisik hingga ada yang merekam dan Aldi mengambil hp pengunjung tersebut lalu membantingnya. "Gue nggak suka di foto atau di rekam." Sejumlah uang di keluarkan dan di berikan dengan angkuh kepada orang tersebut. "Buat ganti hp elo."
Dia pergi ke parkiran hendak pulang tapi Rana masih mengikuti di belakang, mau bagaimanapun mereka pergi bersama harusnya kembali bersama juga. "Aldi tungguin."
Saat sampai di parkiran yang gelap dan sepi ternyata pertengkaran mereka kembali di lanjutkan dan Aldi mengungkapkan isi hatinya dengan lebih leluasa. "Gue nggak bis gini terus Farah, gue rasa elo cuma manfaatin gue."
"Oh jadi itu yang ada di pikiran elo kalau gitu mending kita putus daripada elo berfikiran kayak gitu ke gue."
"Oke fine kita putus."
__ADS_1
******
"Gue udah putus sama Aldi." Segera setelah Rana putus langsung ke kosan teman-temannya untuk memberitahu bahwa hubungannya dengan Aldi telah berakhir hari ini. Sangat singkat sekali tapi ia sudah banyak mendapatkan barang yang diinginkan.
"Tapi kalian lumayan lama pacarannya."
"Masa satu bulan lama May, aku dulu pernah sampai dua tahun malah." Heran Nacita sampai bingung sendiri mana kategori lama dan cepat.
"Dua bulan lama Cita kan mereka nggak termasuk pacaran beneran lha elo sama pacar elo kan ......"
"Mbak Nacita ada paket nih, bu anak kosnya jajan online lagi." Suara teriakan dari tukang paket memotong percakapan Mayang hingga Nacita bergegas lari karena tukang paketnya sampai mengadu kepada ibu kos.
Nacita kembali dengan sebuah paket yang berukuran cukup besar di tangan, ia tersenyum canggung tadi saat di lihat oleh ibu kos yang menunggu di depan. "Akhirnya paketku datang."
"Gila itu kang paket sampai teriak gitu pas nganter, udah kayak besty aja." Celetuk Rana.
"Kan mood banget buat make up kalau rapi gini."
"Ya Allah Cita Cita."
Diantara mereka bertiga Cita adaah yang paling beruntung dalam kehidupan keluarga maupun status sosialnya, menjadi anak dari seorang kepala desa membuatnya cukup untuk membeli hal yang ia mau.
Tapi juga bukan berarti membeli barang bermerek dengan harga jutaan seperti gadis kaya lainnya, tapi jika ingin dan butuh sesuatu maka Cita masih bisa memiliki atau membelinya. Dan tentu saja wejangan dari orangtua tetap ia pegang saat berada di tempat jauh dari kampung halaman.
"Oh iya bentar ada yang mau aku tunjukkan." Nacita mengambil sesuatu dari beberapa buku yang di jejer rapi, salah satunya ada yang menonjol sendiri karena terkesan unik. "Nih bagus nggak ?."
Sebuah buku diary dengan warna coklat pada cover tapi dalamnya berwarna putih tulang juga ada yang berwarna putih keunguan. Ada coretan dan beberapa hiasan seperti glitter yabg di tempelkan untuk menghiasi bagian depan.
__ADS_1
"Elo beli olshop lagi ?." Mayang dan Rana melihat dengan cermat diary yang masih kosong tersebut, hingga mereka menyimpulkan kalau itu masih baru.
"Nggak itutuh aku beli sendiri, ada tugas buat prakarya dari barang bekas jadi aku buat diary dari bubur kertas koran dan kertas lainnya, memang nggak rapi kayak beli tapi itu hasil kerja keras aku. Btw kertas bekas yang dulu aku minta dari kalian aku jadiin itu."
Rana dan Mayang terkejut hingga membolak-balikkan diary itu dan mengeceknya, memang tidak serapih beli tapi ini terlihat begitu unik dan menampilkan kesan vintage. "Lumayan kalau di jadiin bisnis, kenapa nggak bikin yang banyak terus di jual aja ?." Jiwa bisnis Mayang seketika langsung bangkit.
"Nggak bisa dong May ini buatnya aja seminggu lebih padahal udah ngebut banget, yang lama itu jemurnya nunggu panas dan jangan sampai kehujanan sama merendam kertasnya biar benar-benar bisa hancur, belum lagi nyari kertas bekas yang nggak terpakai terus di rangkai satu-satu sampai tangan aku kasar gara-gara ini, mana semua aku kerjakan sendiri." Kedua telapak Nacita di perlihatkan.
"Salut sih, gue doakan dosennya ngerti kerja keras elo Cit tapi emang ini bagus banget sih."
"He he makasih ya Ran jadi malu."
Ketiganya memang seperti gadis biasa tapi soal perkuliahan jangan di ragukan, keseriusannya begitu mengerikan bahkan Cita yang seperti biasa saja bisa mendapatkan ide cemerlang jika otaknya sedang berfikir.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kalau suka jangan lupa like dan komen.