
Fakultas kedokteran yang ia ambil menjadikan Rana berkumpul bersama para gadis dari kalangan atas. Ia yang notabenenya di kalangan bawah kerap kali merasa rendah diri dengan hanya melihat jejeran mobil putih yang tertata rapi di parkiran fakultas kedokteran.
Naik angkot atau bus adalah transportasi yang biasa di gunakan dan turun di halte yang lumayan jauh sehingga harus jalan kaki setiap hari di lakukan. Namun ia bukan satu-satunya hal yang membuatnya merasa minder.
Yang paling tidak ia sukai adalah saat mulai perkuliahan semuanya mencatat menggunakan media elektronik seperti laptop atau mayoritas menggunakan tablet. Sedangkan ia masih setia dengan buku dan menulis secara manual, tentu saja dalam fakultasnya strata ekonomi terlihat begitu jelas tanpa harus di perlihatkan.
Dosen menutup kelas hari ini dan Rana akhirnya bisa segera pergi, disaat ia memasukkan buku yang lain mematikan alat elektronik mereka dan segera pergi, ia juga bergegas untuk segera bertemu Aldi, hari ini mereka sudah janjian untuk bertemu.
Lelaki itu sudah menunggu di tempat janjian, sebelumnya ingin menjemput Rana di kampus tapi Rana menolak karena takut ketahuan dan akan menjadi gosip. Sebelumnya ia berganti baju di toilet SPBU terdekat juga mengenakan make up.
"Sorry lama ya nunggunya ?." Rana bertanya di sela nafasnya yang naik turun akibat berjalan cepat diantara halte untuk sampai kemari.
"Nggak kok, elo kenapa ngos-ngosan gitu sampai keringatan pula ?."
Rana meraba keningnya yang terasa basah juga bagian lain. Jika sampai ketahuan Rana berlari dari halte maka hancur sudah usahanya selama ini. "Oh itu tadi aku takut telat dan buat kamu nunggu makannya cepet-cepet kesini."
"Ya ampun, padahal baru nunggu 10 menit masih nggak masalah." Aldi menggandeng tangan Rana dan mengajaknya ke suatu tempat yang sudah di persiapkan. Sebuah kolam renang di tengah restoran yang katanya milik ayahnya menjadi alat untuk menyatakan cinta.
Bunga-bunga bertaburan dengan membentuk simbol cinta juga rangkaian kata mengungkapkan perasaan cinta. Ya...saat ini Rana sedang di tembak.
"Aldi ini ?." Kekaguman Rana melihat banyaknya bunga yang bermekaran indah di atas air kolam renang membuatnya takjub, ia tidak mampu berkata-kata.
__ADS_1
"Elo mau nggak jadi pacar gue, selama ini gue nyaman sama elo dan gue mau kita jadian ." Aldi menunggu jawaban dari Rana.
"Gue....gue mau." Akhirnya mereka resmi jadian dan semua pengunjung restoran yang hadir di bebaskan untuk makan apa saja tanpa harus membayar. Lihat betapa kayaknya Aldi dan Rana cukup memanfaatkan pacarnya yang kaya saja.
"Sorry Aldi tapi gue terdesak, moga elo bakal maafin gue suatu hari." Gumamnya dalam hati sambil memeluk kembali Aldi yang terlihat tulus.
Rana mulai belajar untuk pacaran hari demi hari ia mulai bahagia tapi teringat pesan Mayang agar tidak terlalu nyaman karena takutnya tidak bisa sesuai rencana. Entah Aldi benar-benar tulus atau tidak yang asti Rana merasa bersalah apalagi saat mulai menjalankan aksinya.
Saat ini mereka sedang berjalan-jalan di sebuah mall besar di kotanya, banyak barang impor maupun lokal yang di jual di sana. Rana berhenti pada sebuah toko ternama dengan banyak tas yang di pajang di sana.
"Bagus ya ?." Rana bertanya sekaligus menjalankan rencana juga mengetes seberapa pekanya Aldi pada dirinya.
"Iya pengin punya."
Aldi mengambil tas itu dan menuju kasih, Rana terperangah melihat hal itu padahal sebelumnya ia telah mengecek tas yang harganya jutaan tersebut bahkan gajinya bekerja di kafe tidak akan sanggup membeli tas itu.
*****
"Gimana udah selesai jalannya ? Dapet nggak ?." Mayang bertanya dengan penasaran dan sebuah tas di berikan Rana di depannya, Cita juga melihat dan memperhatikan betapa cantiknya tas itu.
"Wah mayan nih." Ujar Mayang dan langsung mengambil laptopnya untuk mencari sesuatu. "Lumayan Ran kalau di jual cuma kepotong 10-12 %." Ujarnya.
__ADS_1
Rana memegang dan melihat tas itu antara bahagia dan sedih, baru sebentar ia memiliki barang mahal dan bagus tapi harus pergi lagi. "Padahal baru kali ini gue punya tas bagus."
"Ya kalau nggak mau jual dan pengin elo pakai nggak apa-apa sih." Ujar Mayang.
"Tapi tasnya beneran bagus aku juga mau." Nacita kemudian melihat nilai harga tas itu dan ternganga melihat harganya yang mahal bagi anak kuliahan seperti dirinya. "Astaghfirullah ini mah di beliin emas bisa buat investasi, orang kaya yang beli tas begini emang sultan ya."
"Nggak apa-apa May jual aja, gue lebih butuh duitnya buat sehari-hari juga buat bayar kontrakan."
Mayang mengangguk dan mengetik beberapa kata internet, ia pernah melakukan ini tapi hanya sebentar memacari lelaki kaya untuk mendapatkan yang di mau untuk barang mahal atau uang. Namun ia terhenti karena lelaki itu menginginkan hal lebih dari sekedar cium pipi atau pegangan tangan, cara seperti ini tidak di anjurkan dan Mayang memberitahu Rana karena kasihan.
"Meski lumayan tapi nggak bisa langsung ke jual, butuh waktu nggak apa-apa ya ?." Tanya mayang untuk melihat respon Rana.
"Pengin sih secepatnya tapi gitu juga nggak apa-apa lah gimana lagi ?."
Yang ada di pikiran Rana saat ini adalah bagaimana cara ia bekerja sementara ia harus kuliah dan harus pergi jalan dengan Aldi. Bahkan Rana berpura-pura menjadi orang kaya dan tidak mungkin ia bilang kalau melakukan kerja sambilan. Hasil besar tentu akan mendatangkan resiko yang besar pula.
Rana melamun sedangkan Mayang berusaha untuk menjual tas tersebut dengan harga yang aling mahal yang bisa di lakukan karena rasa sayang dan kasihan kepada Rana.
"Tas elo bisa kejual 6 juta Ran."
"Apa ?."
__ADS_1