Bukan Cewek Matre

Bukan Cewek Matre
Agak Lain


__ADS_3

Rasa lelah dan kantuk membuat Rana ingin segera berbaring dan istirahat dari penatnya hari yang begitu sibuk hingga membuatnya lupa belum makan. Rana bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia makan di luar rumah karena harus berhemat, jika saja ia punya uang yang lebih dari ini mungkin sehari saja ingin berada di rumah dan menikmati hidup tapi sayang keadaan tak mengizinkannya.


"Cepat pergi dari sini."


"Tolong bu biarkan saya dan anak saya tinggal sehari saja besok kami akan pergi."


Barang-barang yang di keluarkan dengan sembarangan dan diusir secara paksa juga teriakan dari yang punya kontrakan adalah hal biasa, meski begitu Rana tetap tidak sanggup melihat Bundanya meminta dan memohon belas kasihan.


"Bunda bangun Bunda." Rana membantu Bunda yang bersujud memohon untuk kembali berdiri, ini sudah malam dan tentangga lain yang juga mengontrak melihat dari balik jendela.


"Tolong bu saya janji besok kami pergi, satu malam saja." Kini Rana yang meminta setelah ia sadar bahwa ia memang tidak ada uang untuk membayar kontrakan yang sudah menunggak selama 3 bulan lamanya.


"Yaudah tapi besok pagi-pagi sekali kalian harus sudah pergi dari sini." Pemilik kontrakan yang usianya lebih muda dari Bunda tersebut pergi dengan perangainya.


"Ayo bunda kita masuk kedalam."


Rana merasa lelah dan sudah berencana untuk istirahat tapi lagi dan lagi tidak bisa, ia mencaritahu rumah kontrakan yang siap di tempati secepatnya. Semalam saja ia boleh tidur di sini adalah anugrah dan tidak bisa lagi besok.


Ia melihat ke sosial media dan memang tergabung ke dalam grup perumahan dan kontrakan, dalam setahun ini kerap kali berganti tempat tinggal karena tak sanggup bayar.


"Kita harus pergi kemana lagi ya Ran ?."


"Tenang bunda ini aku udah letemu tempatnya, karena kita harus pergi besok ya nggak bisa lihat langsung rumahnya tapi kayaknya bagus dan lebih murah tapi lebih jauh dari kampus."


"Jangan Ran yang dekat kampus kamu saja, bunda kasihan sama kamu."


"Nggak apa-apa bunda yang penting besok bisa siap di pakai, aku udah hubungi yang punya dan katanya besok bisa langsung di tempati."


*****


Tidak banyak barang yang harus di bawa Rana dan bunda pergi karena memang mereka tak memiliki banyak uang untuk membeli sesuatu. Ibu yang punya kontrakan ada di sana dan memperhatikan bukan mengantar melainkan memastikan mereka memang pergi sesuai janji.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar satu jam dari kontrakan lama menuju kontrakan yang baru untuk keduanya sampai menggunakan angkot, tempatnya lebih murah karena memang berada di pinggir kota. Tetapi hal baiknya yang sekarang lebih luas untuk setidaknya bisa lebih leluasa.


"Ini kuncinya, semua udah saya cek dan bersihkan kalian tinggal pakai." Ucap ibu pemilik kontrakan yang baru, beliau nampak lebih ramah tapi tak tau juga kalau nanti Rana terpaksa menunggak lagi mungkin sudah tidak ramah seperti sekarang.


Saat Rana hendak memasukkan barang tiba-tiba ada seorang wanita dengan usia yang tidak terlalu jauh dengan Rana menghampiri bersama lelaki yang mungkin adalah suaminya.


"Mbak penghuni baru ya ?." Tanyanya.


"Iya kami baru pindah hari ini." Jawab Rana.


"Saya juga ngontrak mbak yang itu tempat saya yang catnya warna oranye." Tunjuk bangunan dengan jarak dua rumah kontrakan dari sini.


Wanita itu melihat sekitar nampak seperti memperhatikan Rana juga tempat yang akan di tinggali lalu berbisik meski masih lumayan keras untuk di dengar semuanya. " Saya kasih tau ya mbak kontrakan yang ini nih yang mau mbak tempati dulunya bekas orang bunuh diri gara-gara depresi.


"Iya mbak benar." Timpal sang suami.


Bunda terkejut tapi tidak untuk Rana, ia kira akan ada hal yang lebih mengejutkan tapi jika hanya itu ia masih bisa mengatasi. Lagi pula di sakiti oleh dunia dan keadaan jauh lebih menakutkan juga menyeramkan.


Sontak sja hal itu membuat bingung pasutri tersebut, sekedar informasi yang mereka berikan nampak tak berguna dan baru kali ini mereka merasa aneh dengan pendatang baru yang terlalu berani.


"Memang takutnya sama apa mbak ?".


"Takut nggak punya duit alias bokek." Ujar Rana dan membawa tasnya juga tas Bunda. "Ayo bunda masuk, kami permisi ya mbak mas"


"Agak lain itu cewek mah."


"Iya pah, yuk kita pergi jangan-jangan mereka juga bakalah depresi."


Rana melihat ke kamar barunya, di kontrakan ini ada dua kamar dan kamar mandi kecil juga dapur yang tidak terlalu lebar, lumayan untuk bertahan hidup dan semoga ini kontrakan terakhir. Rana akan bekerja giat agar tidak di usir kembali tapi satu-satunya yang bisa diandalkan selain gaji dari kafe adalah tip dari tamu yang tidak seberapa, meski begitu sangat besar maknanya.


******

__ADS_1


Tangan Ran mengetik dengan cepat pada laptop yang ia pinjam dari Nacita sebelum yang punya minta di kembalikan. Ia harap suatu hari bisa membeli laptop sendiri agar tidak sering meminjam karena bagaimanapun ia sangat butuh untuk menunjang perkuliahan.


"Makasih ya Cit." Rana mengembalikan laptop itu setelah menyimpan file ke dalam flashdisk yang di miliki untuk di print sebelum di kumpulkan.


"Elo kerja lagi jam berapa ?." Mayang yang juga mengerjakan tugasnya bertanya dan membereskan buku-bukunya setelah selesai. Butuh waktu 2 hari tiga malam hanya untuk sebuah sketsa gambar.


"Ntar satu jam lagi." Rana merebahkan tubuhnya dan merasakan kenyamanan saat bisa berbaring di kasurnya Mayang, jika bisa ia ingin tidur sebentar sebelum berangkat bekerja. "Enak banget ya tidur, andai gue orang kaya pasti gue cuma kuliah aja nggak usah sambil kerja.


"Yaelah Ran kan gue udah pernah kasih saran buat elo, enak tau nggak usah kerja keras lagian mau sampai kapan elo kuliah sambil kerja ? Inget elo mahasiswa kedokteran yang bakalan semakin sibuk tiap semesternya."


Raut wajah Rana berubah dan berpikir bahwa benar apa yang dikatakan Mayang saat ini ia masih his melakukan keduanya meaki tubuhnya seperti habis di pukuli tiap hari. Mungkin saja sebelum jadi dokter ia malah akan mati karena kelelahan dan Rana tidak mau seperti ini setiap hari salam hidupnya.


"Oke deh gue mau coba tapi gue masih takut dan kalau gagal gue nggak mau lagi, takut ntar Bunda tau terus ngamuk karena gue jadi cewek nggak bener lalu gue diusir dari KK kan nggak lucu mana KK gue cuma dua orang kalau gue diusir kan satu KK penghuninya satu orang."


"Nah gitu dong, mana Cit alat make up elo kita bakal makeover si Rana biar di kinclong."


"Glowing dong Mayang kalau kinclong mah kaca." Nacita membenarkan ucapan Mayang meski Mayang tidak peduli, menjadi mahasiswa PGSD membuatnya belajar mengenai bahasa yang baik dan benar dalam penggunaan sehari-hari.


Cukup lama mereka memberikan beragam make up yang di poles di wajah Rana hingga si empunya merasa jengah dan ingin mengakhiri ini karena merasa banyak tangan yang sedang memegang wajahnya. Meski lama tapi riasan tersebut tidak terlalu banyak di aplikasikan karena takutnya akan memberikan efek berlebihan.


"Udah belum sih, gue pegel nih ?."


"Sabar bentar lagi cantik." Ujar Nacita yang terlalu bahagia bisa mendandani orang karena cita-citanya sedari dulu menjadi perias dan membuka salon tapi apa di kata saat orang tua malah tidak menyetujuinya dan menginginkan untuknya menjadi pengajar.


Mayang dan Nacita berhenti lalu melihat hasil keduanya, sebuah kaca kecil di berikan kepada Rana untuk melihat hasil. Namun pantulan di cermin yang terlalu kecil tidak dapat di lihat semuanya alhasil Rana melihat di kaca yang lebih besar yang terbuat dari stiker yang di beli Cita di olshop.


"Eh gila ini gue kok cantik banget ?." Rana tidak percaya dan memegang pipinya yang kini ada rona merah dari blush-on juga, ia tersenyum dan merasa seperti sudah menjadi orang kaya yang bebas berdandan karena sebelumnya belum pernah berdandan atau merawat diri.


"Ganti baju gih sana, nih gue pinjemin ntar elo ijin kerja aja terus ikut gue mau gue kenalin sama teman SMP gue."


"Duh gue deg-degan."

__ADS_1


__ADS_2