Bukan Nikah Paksa

Bukan Nikah Paksa
awal


__ADS_3

"kalau kamu memang serius, temui kedua orang tuaku".


\*



\*


Aku tidak menyangka jika ucapanku hari itu, tepatnya tiga hari yang lalu. membuat pria tampan berkemeja hitam yang tengah duduk di seberang mejaku, mengajak kedua orang tuanya untuk datang menemui orang tuaku.


Selama ini aku tidak tahu jika pria yang berstatus mostwanted di hadapanku ini memiliki rasa padaku, bahkan saat kami berpapasanpun di kampus tak sekalipun kita saling tegur sapa. selain karena tidak saling kenal kita juga beda jurusan.


Hingga tiba-tiba hari dimana dia menemuiku saat aku tengah duduk seorang diri di perpustakaan, dia menghampiriku dan mengungkapkan perasaannya padaku.


Aku yang notabennya baru patah hati karena kekasihku menikah dengan wanita pilihan orang tuanya, tanpa pikir panjang aku seolah telah menantangnya.


"jadi, maksud dan tujuan kami datang kemari adalah untuk melamar putri bapak, buat putra kami satria". Ucap pria paruh baya dengan penuh wibawa


Ya satria, Satria wijaya, pemilik wajah tampan dan terkenal akan sikap dinginnya namun tetap mempesona, yang tidak ada satu orangpun yang bisa menolak pesonanya.


selama ini banyak gadis yang mengidolakannya, tak jarang yang terang-terangan mengungkapkan perasaan mereka.


ayahku melihat ke arahku "aku serahkan semua keputusan kepada putriku, mira"


"gimana nak?". tanya seorang wanita paruh baya namun masih kelihatan begitu cantik dan anggun.


Aku diam, mulutku seakan kelu. Aku menatap ayah dan ibuku yang kemudian mereka menganggukkan kepala seolah memasrahkan semua padaku. bagiku ini terlalu mendadak, dan itu membuatku bingung.


Aku menundukkan wajahku sambil memejamkan mataku, aku membaca basmalah dalam hati. lalu memantapkan hatiku kemudian ku anggukkan kepalaku.


Ku dengar semua orang membaca hamdallah dengan serentak "alhamdulillah".


ini semua bagaikan mimpi bagiku, di kecewakan sama seseorang yang kurang lebih 4 tahun aku menjalin hubungan asmara dengannya, Dan kini pria terpopuler di kampusku tengah melamarku.


"kapan pernikahan akan di laksanakan?". Tanya pak wijaya ayah dari satria.


"gimana kalau minggu depan?". Sahut ibu sarah


"saya setuju, berpacaran terlalu lama tidak menjamin seseorang menjadi jodoh kita, jadi yang pasti-pasti saja. Lagi pula pergaulan anak jaman sekarang sudah sangat memprihatinkan, jadi saya setuju sama bu sarah". Ucap ibuku seolah tengah menyindirku


aku mengambil nafas dalam-dalam untuk memberanikan diri bicara sama pak wijaya yang nobennya merupakan pemilik kampus negeri tempatku menimba ilmu.


"kenapa tidak nunggu kami lulus dulu pak?".


"bukankah lebih cepat lebih baik? Untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan? Ini sebagai bukti keseriusanku". sahut satria menjawabku seolah memojokkanku


"betul itu, lagian setelah menikahpun kalian masih bisa kuliah bukan?". ucap bu sarah yang di setujui oleh semua orang termasuk ayah dan ibuku.


satria mengajakku ke teras kala orang tua kami tengah membahas apa-apa saja yang perlu di siapkan untuk pernikahan kami minggu depan.

__ADS_1


"apa kamu masih ragu?"


Aku menggelengkan kepalaku "aku hanya belum siap untuk menikah".


Ku dengar dia menghembuskan nafas kasar "aku akan membatalkan pernikahan ini".


Satria hendak bangkit dari duduknya, namun dengan cepat Aku memegang tangannya "semua sudah di putuskan, a aku akan menikah denganmu".


Satria duduk kembali lalu menatap kearahku dengan intens "aku tulus mencintaimu".


Aku yang tadinya menundukkan wajahku kini menatap ke arahnya "sejak kapan?"


Dia nampak melihat ke arah depan sembari menerawang sejak kapan dia mulai mempunyai rasa padaku "sejak pertama kali kita telat bareng masuk kampus".


Astaga itu udah lama banget, itu sekitar 2 tahun lalu ketika aku menjadi mahasiswa baru. Tapi kok.....


"tapi kenapa aku tak pernah melihatmu mendekatiku? Menyapakupun kamu tidak pernah, kamu seolah cuek saat kita bertemu".


aku dan satria bahkan tak pernah bertegur sapa, bahkan saat kita telat bareng pun tidak ada perbincangan diantara kami. Dia hanya membantuku bicara sama temannya yang kala itu menjadi panitia maba untuk membiarkanku masuk dan ikut serta teman-teman sejawatku yang sudah berkumpul di halaman kampus.


Dia nampak diam sambil menundukkan wajahnya, sedetik kemudian dia melihat ke arahku "itu karena aku tahu kamu sudah mempunyai kekasih".


"dari mana kamu tahu kalau aku sudah mempunyai kekasih?"


Dia menghembuskah nafas pelan "bang haris kakak sepupuku".


"gimana? Sudah siap kan kalian minggu depan menikah?". Pertanyaan pas wijaya yang tiba-tiba sudah ada di teras membuat kami terkejut.


Aku hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, kemudian kami bengkit dari tempat duduk kami karena satria beserta kedua orang tuanya pamit pulang sebab malam sudah terlalu larut.


"mama pulang dulu ya sayang". Ucap bu sarah yang membuatku bingung sambil memelukku


"mama?".


"sebentar lagi kan kamu bakal jadi anak mama".


Aku hanya bisa memaksakan senyumku "iya tan eh mama".


Setelah kepergian mereka aku beserta ayah dan ibuku masuk ke dalam rumah. Aku membantu ibuku membereskan gelas kotor yang ada di ruang tamu.


"bu apa ini tidak terlalu cepat?". Tanyaku sambil mencuci gelas


"kalau ini yang terbaik, maka jalani dengan ikhlas nak. Ibu yakin semuanya akan baik-baik saja".


"kamu mau satria di serobot wanita lain sama seperti haris?". Tanya ayah yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami


Aku membalikkan tubuhku, lalu menggelengkan kepalaku. tak pernah terfikir olehku untuk nikah muda, tapi benar juga kata ayah dari pada menjaga jodoh orang terlalu lama, mending terima yang pasti-pasti saja.


setelah selesai, aku pergi ke kamarku lalu ku rebahkan tubuhku sambil memejamkan mataku.

__ADS_1


Ting


Ku dengan notifikasi masuk ke dalam ponselku, aku meraih ponselku yang berada di atas nakas.


[good night calon istriku]


Terbesit senyum terukir dalam bibirku, kalau di fikir-fikir ini lucu sekali, laki-laki yang begitu cuek tiba-tiba se sosweet ini. Bahkan bertegur sapa pun tidak pernah kami lakukan.


Aku sama sekali tak mengenal baik sifat maupun karakter dari seorang satria wijaya, yang ku tahu dia di puja-puja oleh banyak gadis di kampusku.


Banyak gadis yang mengejar-ngejarnya, itupun termasuk para gadis yang satu fakultas denganku.


"😊"


Aku hanya membalasnya dengan emogi senyum.


[cuek]


"enggak salah tuh mas?". Aku meledeknya


mengetik.....


[hem, btw kamu lagi ngapain?]


"lagi mikirin kamu". Godaku


mengetik.....


[ternyata suhu calon istriku]


"maksudnya"


Mengetik....


[tidak apa-apa, besok mama ngajak fitting baju]


"jangan besok dong, besuk kelasku full sampai sore, lusa saja"


mengetik...


[ya, nanti aku akan bilang sama mama]


"👍"


Mengetik....


[❤]


Aku meletakkan ponselku kembali ke nakas tanpa membalas pesan hati yang di kirim oleh satria, aku memejamkan mataku hingga akhirnya aku sudah berada di alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2