
"stop"
Aku meminta satria menghentikan mobilnya jauh dari pintu gerbang kampus, kira-kira berjarak kurang lebih 100 meter.
aku melihat ke sekeliling sebelum keluar dari dari mobil satria, setelah ku rasa aman aku melepas seat belt lalu membuka pintu mobil.
"tunggu" ucap satria menghentikanku
Aku menatapnya sambil menaikkan daguku. Dia menarik tanganku lalu "CUP" dia mengecup keningku, aku diam membeku.
"keluarlah sebelum ada orang yang melihatmu, karena semua orang mengenali mobil ini".
Mendengar ucapan satria, dengan cepat aku keluar dari mobilnya dan berjalan setengah lari menuju ke kampus.
Aku sedikit tetengah-engah, kemudian aku berhenti sebentar kala berada di dekat pos satpam untuk men-stabilkan nafasku.
"kenapa neng?". Tanya pak satpan
Aku menggelengkan kepalaku "tidak apa-apa pak".
"tumben neng mira jalan kaki, biasanya kan di antar sama ayah neng mira".
"ayah lagi sibuk pak, ya sudah pak aku masuk dulu".
Aku pergi meninggalkan pos satpam dan berjalan menuju gedung kampus yang berdiri kokoh di hadapanku, aku melangkahkan kaki dengan pelan karena masih merasa lelah.
Kulihat mobil satria memasuki halaman kampus, dan sudah ada beberapa gadis yang tengah menunggunya untuk memberinya hadiah. Karena ku lihat setiap gadis membawa sebuah kotak, apa lagi kalau bukan hadiah.
"hay mir, kesini deh"
Aku menyusul naumi yang tengah duduk di ambalan kecil di depan kampus "ada apa?"
"lihat deh"
Aku yang sudah duduk di dekat naumi melihat ke arah yang di lihat naumi.
"siapapun yang menjadi istrinya nanti pasti bahagia banget deh bisa memilikinya, udah ganteng, pinter, tajir pula" ucap naumi
"kalau aku yang menjadi istrinya, maka aku akan melarangnya keluar rumah". Imbuhnya
"kenapa?". tanyaku
"ya aku gak mau lah suamiku di kerubungin cewek kayak gitu". Jawab naumi
aku mah masa bodoh, yang terpenting hatinya hanya untukku seorang. Dan aku percaya pada satria.
"udah ah mi, jangan bermimpi terlalu tinggi kalau jatuh aku tidak mau ya menangkapmu". gurauku
Kamipun berjalan beriringan menuju kelas kami. Setelah sampai di kelas aku duduk lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasku.
__ADS_1
Aku mencari kontak yang semalam aku beri nama "my husband"
"duh senengnya di kerubungin banyak cewek"
Mengetik....
[cemburu?]
Deg
"enggak"
Mengetik...
[oh]
aku memasukkan ponselku kala dosen membimbing telah memasuki ruang kelasku.
*
*
"mir kamu sudah denger belum, kalau besok ada mahasiswa baru pindahan dari singapura?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"dia akan satu fakultas dengan kita, semoga saja sih dia tidak reseh seperti sabrina".
"ya semoga saja, dan semoga dia tidak tertarik pada sat..."
Naumi menyerobot ucapanku.
"satria, kamu juga sudah mulai tertarik ya sama satria? Gak apa-apa kali mir, lagian move on mir sama mas haris. Mungkin sekarang dia sudah bahagia dengan istrinya dan mempunyai seorang putri kecil yang sangat lucu".
Ah gara-gara naumi aku jadi teringat kembali sama mas haris, gimana kabarnya sekarang. Saat penikahanku dengan satria dia tidak menghadirinya karena tengah tugas ke luar negeri.
"aku sudah move on kali mi, akupun sekarang sudah punya penggantinya yang jauh lebih baik darinya".
"siapa siapa mir? Kamu kok gak pernah cerita kalau punya pacar baru". tanya naumi penasaran.
Aku hanya tersenyum, sambil membayangkan bagaimana jika naumi tahu kalau satria pria tertampan di kampus ini telah menjadi milikku, bukan sebagai pacar tapi sebagai suami.
"ada deh, kamu pasti naksir kalau tahu orangnya". Godaku
"ah gak asik kamu mir". Naumi mengerucutkan mulutnya ngambek denganku.
Aku menyenggol tubuhnya dengan lenganku "nanti kalau sudah waktunya aku akan mengenalkannya padamu"
"beneran?".
__ADS_1
Aku menganggukkan kepalaku.
Perbincangan kami terhenti kala seorang pegawai kantin mengantarkan makan siang buat kami.
"terima kasih mbak".
Sang pegawai tadi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu pergi dari tempat duduk kami.
akupun mulai menyuapkan makanan yang tadi aku pesan ke dalam mulutku, hingga ku lihat sosok yang tak asing bagiku beserta tiga temannya mencari tempat duduk yang kosong.
Mereka menghampiri bangku kami, pasalnya hanya bangku yang ada di hadapan kami yang tersisa "neng-neng cantik boleh kami duduk di sini?".
Aku menggelengkan kepalaku karena mulutku penuh dengan makanan, tapi naumi justru mempersilahkan mereka.
"wih kamu gadis dulu telat itu kan?"
Ternyata rio menandai wajahku, rio merupakan kakak tingkatku sekaligus orang yang melarangku masuk saat aku telat bersama satria.
Aku hanya fokus memakan makananku tanpa melihat ke arah mereka.
"makannya pelan-pelan".
Kini ku dengar suara suamiku yang berbicara, namun aku tetap tak memperdulikannya. Aku hanya ingin cepat selesai makan dan segera pergi dari tempat ini.
Uhukkkk
"sudah ku bilang, makannya pelan-pelan saja"
Satria bangkit dari duduknya dan dengan segera menepuk punggungku serta memberiku segelas air, aku meneguknya lalu menepis tangan satria kala ku lihat semua mata para gadis ter tuju padaku.
"aku tidak apa-apa"
Satria kembali ke tempat asalnya, sementara teman-temannya yang lain berbatuk-batuk ria sengaja menggoda kami.
"jangan serakah sat, sebentar lagi pacar kamu kembali lo". Ucap rio
"pacar?" ucapku secara spontan karena terkejut, sambil menatap ke arah satria
"bukan pacar si, lebih tepatnya mantan pacar". Ucap pria berjaket hitam yang bernama juna
"tapi sepertinya mereka bakal balikan lagi, secara kan dia bakan menetap di indo lagi". Sahut rio.
"tidak usah dengar ucapan mere....".
"mi aku ke kelas duluan ya, aku lupa meninggalkan ponselku di sana". Ucapku beralibi sembari bangkit dari temat dudukku.
naumi memilih ikut denganku, karena tak mungkin kan dia cewek sendirian ke kerubungin sama gengs cowok terpopuler, yang ada dia bisa jadi bahan bullyan para gadis-gadis pemuja mereka.
"aku baru tahu lo kalau satria punya pacar". Ucap naumi yang membuatku semakin jengkel.
__ADS_1
Satria memang paling populer, tapi tak pernah terdengar jika satria berpacaran dengan salah satu mahasiswa di kampus ini, jadi banyak gadis yang berbondong-bondong mengejarnya. Beda dengan teman-temannya yang lain yang terkenal playboy.
"udah ah gak usah bahas dia, males".