
hari ini aku dan satria beserta bu sarah tengah mengendarai mobil menuju butik langganan keluarga wijaya, sebuah butik yang sangat terkenal di kota ini.
Satria berada di depan, sementara aku dan bu sarah berada di belakang kemudi.
"kalian fikir aku seorang supir". Keluh satria sambil melihat kaca spion yang ada di depannya.
"sudah gak usah protes, kamu fokus nyetir saja". Ucap bu sarah
Aku melihat bu sarah sangat menyayangiku, aku rasa itu karena bu sarah sangat menginginkan seorang anak perempuan.
"oh ya nak, setelah fitting baju kita akan ke toko perhiasan langganan mama, mama sudah memesankan cincin spesial buat kalian berdua". Ucap bu sarah sambil menggenggam tanganku.
"aku terserah tan eh mama saja". Ucapku hampir kesleo
"udah gak apa-apa, nanti juga terbiasa panggil mama".
"setelah nikah nanti kalian akan tinggal di rumah mama kan?". Tanya bu sarah
"enggak enggak, aku dan mira akan tinggal di apartemen". Sahut satria sambil melihat kearahku dari balik kaca mobilnya.
Aku memalingkan wajahku, beneran deh aku gak kuat dengan tatapannya.
"tapi sat..."
"ma... Biarkan kami mandiri".
Aku menganggukkan kepalaku menyetujui ucapan satria.
"iya ma, bener kata sat maksudku mas satria, biarkan kami belajar mandiri".
Akhirnya bu sarah menyetujui permintaan kami, dan itu membuat laki-laki yang ada di hadapanku tersenyum padaku, itu terlihat pada kaca di hadapannya.
setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh satria berhenti di halaman sebuah butik yang begitu besar. kamipun turun dari mobil, dan berjalan ke dalam butik yang langsung di sambut oleh pegawai butik tersebut.
"selamat siang tuan nyonya, bu anya sudah menunggu di ruangan pribadinya".
Pelayan itu nampak menundukkan kepalanya dan mempersilahkan kami masuk.
__ADS_1
aku ternga-nga kala melihat baju-baju yang begitu indah, bu sarah menggandengku lalu mengajakku dan satria menuju ke ruangan yang di maksud pelayan tadi.
"hay jeng, mari-mari silahkan".
Bu sarah dan pemilik butik itu bercipika cipiki, lalu mengajak kami menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
"tambah ganteng saja kamu sat". Puji bu anya
Orang yang di puji nampak cuek, dan hanya memainkan ponselnya.
"ini pasti calon mantu kamu jeng, duh cantiknya".
Aku tersenyum canggung pada wanita cantik yang usianya tak jauh beda dengan bu sarah.
"iya jeng, memang pinter satria mencari istri. Selain cantik calon mantuku ini juga sopan, tidak kaya si...."
Belum selesai bu sarah bicara, satria sudah menyerobot ucapan bu sarah.
"maaaa". Sahut satria
"ow bukan siapa siapa nak, oh ya jeng mana baju buat mereka".
Sepertinya bu sarah dan satria menyembunyikan sesuatu dariku, itu nampak dari bu sarah yang mengalihkan pembicaraan dan satria yang memalingkan wajahnya saat aku menatapnya dengan intens.
"oh iya sampai lupa, kalian mau minum apa?".
"tidak usah repot-repot jeng, habis ini kami akan pergi ke toko perhiasan untuk mencari cincin pernikahan mereka".
"oh baiklah kalau begitu, aku akan mengambilkan baju spesial buat mereka". Ucap bu anya seraya pergi untuk mengambil baju untukku.
Bu sarah memegang tanganku lalu mengajakku untuk memilih baju yang nantinya aku pakai minggu depan, setelah bu anya membawa baju yang lumayan banyak pada gatungan dorong.
Beberapa kali bu sarah menempelkan kebaya di tubuhku, namun aku selalu menggelengkan kepalaku. Hingga akhirnya pilihanku aku jatuhkan pada kebaya berwarna abu-abu yang nampak simple namun tetap kelihatan elegan.
Satria menyetujui pilihanku, nantinya dia akan memakai baju yang warnanya senada denganku.
"ya sudah kalau begitu jeng, kami pamit dulu". ucap bu sarah seraya mencium pipi kanan dan kiri bu anya secara bergantian.
__ADS_1
Setelah berpamitan kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju toko perhiasan yang kata bu sarah sudah jadi langganannya sejak dulu.
tak lama mobil satria sudah terparkir di halaman toko perhiasan yang nampak ramai pengunjung, tanpa basa basi kami langsung memasuki toko tersebut. Dan lagi-lagi kami di sambut dengan begitu antusias, mungkin karena kedua orang yang ada di sampingku bukan orang sembarangan kali ya, jadi mereka melayani dengan begitu istimewa.
Seorang pelayan toko itu langsung mengajak kami ke sebuah ruang yang letaknya sedikit jauh dari ruang utama toko tersebut.
"cincin ini limited edition, aku membuatnya spesial buat putramu satria". Ucap sang pemilik toko
Bu sarah nampak mengambil cincin yang tertancap di sebuah kotak merah yang ada di meja depan kami duduk.
bu sarah meraih tanganku lalu menancapkan cincin tersebut ke jari manisku sebelah kiri.
"pas". Ucap bu sarah saat cincin berhiaskan berlian diatasnya terlihat begitu pas di jariku.
aku sedikit heran, pasalnya saat memesannya bu sarah tidak tahu ukuran jariku. Ah tapi mungkin hanya kebetulan saja, fikirku.
seperti halnya aku, satriapun mencoba cincin tersebut yang juga nampak pas di jari manisnya.
Setelah selesai dengan percincinan, bu sarah mengajak untuk makan di sebuah restoran sebelum kami pulang.
Bukan restoran biasa tentunya, salah seorang pelayan menghampiri meja kami sambil membawa buku menu di tangannya.
"kamu mau pesan apa sayang?". tanya bu sarah padaku.
"terserah mama saja". Jawabku
"aku mau pesan ini, ini ,dan ini. Untuk minumnya jus alpukat sama soft drink saja". sahut satria mendahului bu sarah.
Setelah itu baru memesan makanan untukku dan untuknya.
Tak perlu menunggu lama, makanan yang bu sarah dan satria pesan sudah berjajar rapi di depan kami. Tapi ini kok hampir semua makanan yang di pesan satria makanan kesukaan aku.
"ini untukmu".
Satria menaruh jus alpukat di hadapanku, sepertinya satria tahu jika aku menyukainya. Tapi yang jadi pertanyaan, dari mana dia tahu jika aku sangat suka jus alpukat.
Kamipun menikmati makan malam kami dengan di selingi obrolan, sesekali bu sarah menceritakan masa kecil satria yang begitu bandel kata bu sarah.
__ADS_1