Bukan Nikah Paksa

Bukan Nikah Paksa
aku belum siap


__ADS_3

setelah selesai membereskan semuanya, aku dan satria memutuskan untuk istirahat "mau kemana kamu?". Tanya satria saat aku hendak membuka pintu kamarku.


Aku menepuk keningku "aku lupa"


Aku mengikuti langkah satria menuju kamarnya, dengan ragu aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan yang nampak elegan dengan warna putih menyala.


satria masuk ke dalam kamar mandi, sedang aku hanya melihat-lihat isi ruang kamar satria. Aku mengikuti arah suara pintu terbuka, dan ternyata itu satria yang barus selesai mandi, itu nampak dari rambutnya yang kelihatan basah.


"kamu tidak mandi?". Tanyanya


Aku menggelengkan kepalaku "aku mana punya baju ganti di sini".


Satria nampak berjalan ke arah ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sana. Dia menepuk kasur sambil menatapku, dengan ragu aku naik ke atas tempat tidur.


"aku belum mandi" kataku kala satria mulai mendekatkan wajahnya padaku.


"aku tidak perduli". Dia terus mendekatiku, hingga aku merasakan deru nafasnya.


aku gemetar, tubuhku terasa panas dingin saat dia mulai menempelkan bibirnya tepat dibibirku.


"sepertinya aku berubah fikiran, aku akan mandi sekarang". aku mendorong tubuh kekar satria.


Satria hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, lagi-lagi aku membuatnya kecewa. Tapi jujur saja aku benar-benar belum siap.


Aku berjalan menuju kamar mandi, setelah itu aku mengguyur tubuhku dengar air yang mengalir dari shower, sungguh aku merasa bersalah pada satria.


Setelah selesai aku keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di tubuhku, aku melihat satria telah tertidur lelap di sebuah sofa besar yang ada di kamar itu.


Aku melihat sebuah celana olah raga beserta kaosnya di atas tempat tidur, aku meraihnya lalu membawanya kembali kekamar mandi.


"sat, maafkan aku. Aku tidak tahu kenapa aku begitu takut saat kamu meminta hakmu, aku tahu aku salah. sejujurnya aku tak pernah mau membuatmu kecewa".


Aku bergumam di samping satria yang tengah tertidur pulas, aku membenarkan selimutnya lalu aku pergi menuju tempat tidur king size itu.


*


*


"pagi ma". Sapaku saat memasuki ruang dapur.


"pagi sayang, baju apa yang kamu pakai itu?". Tanya mama


Aku melihat ke arah baju yang aku pakai "oh ini, aku kalau malam selalu memakai baju mas satria ma, itu menjadi kebiasaanku sekarang".


Ah aku memang pandai mencari alasan "mama lagi masak apa?"

__ADS_1


"mama lagi masak kesukaan satria, dan mama juga sudah memasak makanan kesukaan kamu".


"benarkah? Kok mama bisa tahu makanan kesukaanku?". Tanyaku heran


"aku tadi menelfon ibu kamu".


Aku memanggut-manggutkan kepalaku, lalu aku mencoba masakan mama sarah yang sudah berada di atas meja makan.


"masakan mama memang the best". Aku mengacungkan kedua jempol tanganku ke arah mama sarah, masakan mama saah memang lezat, hingga mulutku enggan untuk berhenti mengunyah.


"ma, weekend nanti aku kerumah mama ya".


"ngapain?". Tanya satria yang tiba-tiba sudah ada di meja makan.


"aku mau belajar masak, mama mau kan ngajarin aku?".


"dengan senang hati sayang".


"sekalian belajar supaya tidak takut kalau di dekati suami". Ucap satria berbisik di telingaku


Aku membelalakkan mataku dan menatap ke arahnya, apa satria mendengar gumamanku semalam? Apa jangan-jangan semalam dia hanya pura-pura tidur saja? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otakku.


"mama pulang dulu sayang, pagi ini mama ada arisan ke rumah jeng hani tetangga kita". Pamit mama sarah


"mama tidak sarapan dulu". Tawarku


Mama sarah mencium pipi kami secara bergantian, setelah itu mama sarah pergi dari apartemen kami.


Setelah menghabiskan sarapanku, aku beranjak dari tempat dudukku, lalu mencuci piring bekas sarapanku. setelah itu aku berjalan menuju kamarku.


Namun baru beberapa langkah, seseorang memegang tanganku dan menariknya kebelakang hingga aku terjatuh tepat di pangkuannya.


"ada apa? Ini sudah siang, bisa telat kita nanti". Ucapku berusaha bangkit, namun kekuatanku tak seberapa di bandingkan pria itu.


"tidak bisakah kamu berusaha?".


Pertanyaan satria yang setengah-setengah membuatku sulit memahaminya "maksudnya?".


"aku sudah berusaha menahannya, tapi aku laki-laki normal biasa yang juga mempunyai hasrat".


Aku hanya diam sambil menundukkan wajahku.


"aku sangat mencintaimu, istriku". Satria mengangkat wajahku lalu mencium bib*rku.


Aku sama sekali tak menolak maupun memberontak, dia terus ******* bibirku hingga nafasku hampir kehabisan dia baru melepaskan bibirnya.

__ADS_1


"maaf" ucapnya merasa bersalah.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, tiba-tiba saja dia mengangkat tubuhku, aku dengan reflek langsung mengalungkan kedua tanganku ke leherr satria.


Satria membawaku kearah kamarnya yang berada di lantai atas, dia terus menatapku sambil berjalan. satria mendorong pintu kamarnya menggunakan kakinya.


satria meletakkan tubuhku secara perlahan di atas tempat tidur.


"kita bisa ter...." satria meletakkan jari telunjuknya di bibirku, menghentikan perkataanku.


Satria mulai mendekatkan wajahnya, sedang aku hanya bisa memejamkan mataku pasrah. dia ********** bibirku kembali, tangannya mulai bergrilya kemana-mana.


Di remasnya dua punukan yang berada di dadaku, setelah itu satria mulai menciumi leherku dan beberapa kali memberikan tanda kepemilikan di sana.


Satria mendudukanku, lalu satu persatu kain yang menempel ditubuhku di buang ke sembarang arah, tak butuh waktu lama satria sudah membuatku tanpa seh*lai benangpun sekarang.


"tak perlu malu, aku suamimu". Ucap satria saat aku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku.


Di melepaskan tanganku lalu menggenggam tanganku dengan erat.


"rileks sayang, jangan tegang, ini akan sedikit sakit. Aku akan melakukannya dengan pelan".


*******-demi ******* memenuhi ruang kamar satria pagi ini, hingga akhirnya satria menjatuhkan tubuhnya di sampingku.


Dia membelai wajahku sambil tersenyum manis padaku "terima kasih, istriku".


Aku menganggukkan kepalaku, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku.


"sekarang udah jam 8, kita sudah telat pergi ke kampus". Protesku saat aku melihat jam yang bertengger di tembok kamar satria.


"sekali-kali bolos gak apa-apa kan". Ucap satria yang kini malah memelukku dengan erat.


*


*


Lagi lagi satria menjatuhkan tubuhnya di samping tubuhku dengan nafas ter-engah-engah, entah sudah ke berapa kali satria melakukannya.


Aku hanya pasrah karena tak ingin membuatnya kecewa "aku lapar" ucapku dengan sedikit manja.


"aku akan memesan makanan untuk kita".


Satria meraih ponselnya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, sedang aku memeluknya sambil meraba perut sixpack nya.


"jangan terus menggodaku sayang". Satria meletakkan ponselnya di atas nakas lalu kembali menerkam diriku.

__ADS_1


Aku sama sekali tak bermaksud menggodanya, hanya saja aku suka dengan bentuk perutnya yang nampak seperti roti lapis.


__ADS_2