Bukan Nikah Paksa

Bukan Nikah Paksa
detektif


__ADS_3

"mir cepetan nak, sudah di tunggu nak satria di depan". teriak ibuku dari balik pintu kamarku.


"satria?". Gumamku


Aku yang sudah siap untuk pergi ke kampus langsung beranjak menuju dimana pria itu berada.


"ini dia anaknya, jadi perempuan kok ya leletnya minta ampun". Ucap ayahku saat aku sudah di teras tempat satria berada


"aku kan copy paste nya ibu yah". Ucapku sambil mencium punggung tangan ayah, namun tiba-tiba ibu yang mencubitku dari arah belakang.


"aw, ibu..." ucapku sambil meringis


"makanya sama orang tua jangan gitu".


"iya-iya bu, maaf".


ku lihat terbesit senyum dari bibir satria, kala melihat dan mendengar perdebatan antara aku dan kedua orang tuaku, dan itu pertama kalinya aku melihatnya tersenyum.


"kalau begitu kami pamit dulu om, tante". Ucap satria


"iya, kalian hati-hati, jangan ngebut-ngebut di jalannya". Ucap ibu menasehati.


setelah berpamitan, aku dan satria pergi meninggalkan halaman rumahku dengan menggunakan mobil ferrari milik satria menuju kampus.


"kenapa tidak bilang kalau mau menjemputku?". Tanyaku saat dalam perjalanan


"apa perlu minta ijin dulu?"


Aku menghembuskan nafas pelan "kalau begitu, nanti turunkan aku sebelum memasuki gerbang".


Citttt.....


mendadak satria menghentikan laju mobilnya, aku yang terkejut hampir saja kepalaku menyentuh dash board yang ada di depanku.


Aku melihat kearahnya yang saat bersamaan dia juga tengah menatapku dengan intens.


"kenapa?".


"aku tidak mau di intimidasi sama gadis-gadis yang tempo hari mengejarmu". Jawabku


dia nampak menghela nafas lalu melajukan mobilnya kembali.


Hingga pada akhirnya aku menepuk-nepuk tangan kiri satria kala ku lihat gerbang kampus sudah mulai terlihat dari jarak yang cukup jauh "berhenti berhenti".


Pria berkemeja flanel itu sama sekali tak menghiraukan ucapanku, dia justru melajukan mobilnya dengan cepat memasuki halaman kampus.


mobilpun berhenti kala sudah berada di area parkiran, aku diam tak bergeming dari tempat dudukku dan enggan untuk keluar dari mobil yang aku tumpangi.


"kenapa?" tanya Satria sambil menatapku saat aku masih duduk diam dengan safety belt masih menempel di tubuhku.

__ADS_1


"apa kamu ingin aku mempunyai banyak hatters?".


"sudah ayo turun".


Aku menggelengkan kepalaku.


"apa kamu mau seharian di sini?".


lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku "kalau begitu sampai aku menghilang dari pandanganmu kamu tidak boleh turun dari mobil ini".


Satria mendengkus kesal "iya"


Setelah satria menyetujui permintaanku, aku melihat ke sekeliling, setelah aku rasa aman karena parkiran terlihat sepi aku buru-buru keluar dari mobil satria.


Aku berjalan mengendap-endap saat masih berada dekat dengan mobil satria, dan berjalan normal kala ku rasa jarakku dengan mobil satria sudah cukup jauh.


"kamu ngapain mir?".


aku terkejut saat seseorang menepuk pundakku dari arah belakang.


"o o i itu, aku aku lagi belajar jadi detektif, iya detektif". Jawabku asal


nilam nampak memanggut-manggutkan kepalanya, sepertinya dia percaya sama ucapanku.


"bukannya itu satria?". tanya nilam saat satria melewati jalan kami begitu saja


Nilam mengejar pria itu, ku lihat dia memberikan sebuah kotak berwarna merah muda pada satria.


Aku berjalan seorang diri sepeninggal nilam tadi, aku memasuki ruang kelasku yang sudah di penuhi hiruk pikuk teman-temanku yang sudah datang lebih dulu.


Aku duduk di bangkuku lalu mengeluarkan ponsel seraya menunggu dosen pagi ini datang.


[biasakan dengan hal seperti tadi]


Aku mengkerutkan keningku melihat pesan yang di kirimkan oleh satria.


"maksudnya?"


mengetik....


[akan ada banyak hadiah yang di terima calon suamimu ini setiap harinya].


"tenang saja, nanti akan aku pesankan etalase lalu akan aku jajarkan di sana sebagai bahan daganganku".


Mengetik....


[dasar😚]


"👊 belum mukhrim"

__ADS_1


Mengetik....


[iya-iya calon istriku ❤]


pria itu 180° berbeda dengan aslinya saat interaksi lewat wathsapp, aku meletakkan ponselku ke dalam tas saat dosen pembimbing pagi ini telah memasuki kelas kami.


*


*


Setelah kelas usai aku dan naumi memutuskan untuk pergi keperpustakaan untuk mencari referensi buat tugas besok.


"mi kita duduk di sana". Aku menunjuk bangku kosong yang berada di pojok perpustakaan.


kamipun berjalan ke arah bangku tersebut, namun tiba-tiba seorang pria menyerobot dan langsung duduk di bangku tersebut.


aku meliahat ke arah bangku lain, tapi semua bangku hari ini penuh semua, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hanya ada satu dua orang saja yang pergi ke perpustakaan.


"kak apa boleh kami duduk di sini?". Tanya naumi pada pria tersebut, sedang aku pura-pura melihat-lihat buku di rak dekat bangku tersebut.


Sang pria hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah kami.


"ayo mir, kapan lagi bisa duduk bareng most wanted di kampus ini". Naumi menarik tanganku


Ya pria tadi adalah satria, pria terpopuler yang sebentar lagi akan menjadi suamiku, aku tekankan akan menjadi suamiku.


Entah mengapa kini dia hanya seorang diri, biasanya dia selalu di dampingi pasukannya kemanapun dia pergi.


Akupun akhirnya duduk tanpa melihat ke arahnya, sementara naumi terus berbisik padaku tentang pria yang ada di seberang tempat dudukku.


"ya ampun mir ganteng banget, baru kali ini aku melihatnya sedekat ini". bisik naumi


Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku melihat tingkah laku sahabatku yang tak jauh beda dengan gadis-gadis pemuja satria lainnya.


"kak boleh minta tanda tangannya?". Naumi menyodorkan sebuah buku ke arah satria.


aku menepuk keningku melihat tingkah sahabatku, aku memalingkan wajahku kala satria mengangkat wajahnya melihat ke arah kami.


"aku bukan seorang artis". Jawabnya cuek


"tapi aku nge fans banget sama kakak". ucap naumi sambil berkacah-kacah.


satria menarik buku milik naumi lalu di coretkannya tinta hitam di atasnya, setelah itu ia bangkit lalu pergi meninggalkan kami berdua.


"demi apa mir, ini bukan mimpi kan mir"


"aw" aku mencubit pipi naumi untuk menyadarkannya.


"ternyata beneran ini bukan mimpi". Ucap naumi sambil mengelus pipinya bekas cubitanku.

__ADS_1


aku hanya menggelengkan kepalaku seraya kembali membaca bukuku kembali.


__ADS_2