Bukan Nikah Paksa

Bukan Nikah Paksa
weekend di rumah mama sarah


__ADS_3

"sepertinya kalian akrab banget sama kak angel". Ucapku saat merebahkan tubuhku di kasur empuk yang ada di kamarku.


Ya dua malam belakangan ini satria pindah ke kamarku, tadinya aku yang di ajak pindah ke kamarnya. Tapi kau tidak mau, karena aku lebih suka berada di kamarku sendiri.


"itu cuma perasaan kamu aja". Ucap satria sambil membuka kemejanya.


benar kata satria mungkin itu cuma perasaanku aja, tapi saat di parkiran aku seperti melihat kak engel memeluk satria. Apa mungkin aku salah lihat.


"em, kamu kenal kak angel sejak kapan?". Tanyaku sambil menyandarkan tubuhku di sandaran tempat tidur dan menaruh bantal di pangkuanku.


Satria menaiki ranjang lalu ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran "dia kakak kelasku saat masih SMA".


"oh, tapi kenapa kak angel kenal sama mama papa?".


"sudah jangan kayak wartawan begitu, sekarang kita tidur supaya tidak kesiangan kerumah mama besok".


Aku menganggukkan kepalaku, sesuai rencanaku tempo hari weekend ini aku dan satria akan ke rumah mama untuk belajar masak.


*


*


"assalamualaikum ma, pa". Aku mencium punggung tangan mama sarah dan papa wijaya secara bergantian.


"waalaikum salam sayang, mama udah nunggu kamu dari tadi lo".


"iya, sedari tadi dia terus mondar mandir dan terus mengomel pada papa, mamamu fikir kalian tak jadi datang". Ucap papa wijaya


"itu ma mas satria susah di banguninnya". Keluhku


rencana awal yang tadinya berangkat jam 7 molor menjadi jam 9 cuma, itu semua gara-gara satria. Sudah aku bangunin tapi saat menunggu aku make up dia malah ketiduran lagi.


"mana ada, kamu kali make up nya yang terlalu lama". Ucap satria membalasku.

__ADS_1


"sudah-sudah, mama sudah siapkan bahan buat kita masak hari ini". Ucap mama sarah menengahi seraya mengajakku menuju ruang dapur.


setelah itu aku dan mama sarah berkutat di dapur, sedang satria menemani papa wijaya main catur di teras belakang.


"mama kan istri seorang pengusaha terkenal, kenapa mama masih bisa luangkan waktu buat masak? Sedangkan di sini kan banyak asisten rumah tangga". Tanyaku sambil memotong sayuran.


"itu yang perlu kamu pelajari dari mama mir, itu tanda kasih mama buat papa. Dengan memasak masakan sendiri suami akan semakin cinta sama kita, menjadi wanita karir atau sosialita sah-sah saja, tapi juga harus tahu kewajiban kita sebagai seorang istri".


"oh". Aku mengangguk-anggukkan kepalaku


"jadi sesibuk apapun kamu, luangkan waktu buat masak, metime berdua menikmati hasil masakan kamu". imbuh mama sarah


"oh ya ma, boleh mira tanya sesuatu?".


"ada apa sayang?".


"kenapa mama menyetujui satria menikah denganku? Sedangkan keluargaku tak sebanding dengan keluarga mama". Tanyaku yang membuatku penasaran sedari lama.


mama sarah nampak menghela nafas sebelum menjawab pertanyaanku.


Aku masih belum puas dengan jawaban mama, dari mana mama tahu coba kalau aku ini anak yang baik.


"tapi mama tahu dari mana kalau aku anak yang baik? Bisa saja kan aku ini nakal?".


Mama mengusap kepalaku "mama tahu semua tentang kamu".


"satria mendokumentasikan kegiatan kamu baik di kampus maupun di luar kampus, kamu anak yang rajin, tidak pernah keluar malam, dan sepertinya tidak tertarik dengan pacaran. Sebab dari video-video tentangmu mama tidak pernah melihat kamu jalan sama laki-laki".


aku ternganga mendengar cerita mama, jadi selama ini? Selama 2 tahun belakangan melang aku LDR sama mas haris sebelum akhirnya hubungan kami kandas, karena mas haris memilih menikah dengan gadis pilihan orang tuanya di LA.


"hari itu mama tanpa sengaja melihat laptop satria menyala, mama lihat-lihat eh ternyata penuh dengan video-video kamu".


"jadi pas malam dimana dia minta untuk melamarmu, tanpa fikir panjang mama langsung menyetujuinya".

__ADS_1


Aku tidak menyangka jika satria segitunya sama aku, dimana banyak gadis yang mengidolakannya justru dia seperti orang yang tengah mengidolakanku. Tapi apa yang di lihat dariku? Aku gadis yang sederhana, aku juga tidak cantik-cantik banget, harta orang tuaku bahkan tak sebanding dengannya.


"ma sudah matang belum sih? Aku udah lapar". Ucap satria tanpa malu memelukku dari belakang sambil metelakkan dagunya di pundakku.


"sebentar lagi, emangnya sulap apa tinggal cling langsung jadi". Ucapku mencoba melepaskan pelukannya.


"sudah duduk manis di sana, malu tahu". Imbuhku


"sama istri sendiri gak pa-pa kan ma, kalau sama selingkuhan baru....".


Satria langsung ngacir pergi meninggalkanku dan mama sarah, kala Aku mengambil pisau yang ada di hadapanku.


Aku dan mama tertawa terbahak-bahak melihat tingkah satria.


Setelah semua matang, aku dan mama di bantu para bibik menyajikan di meja makan.


"aku panggil mas satria dulu ma"


akupun berjalan menuju teras belakang, namun tak kudapati seseorangpun di sana. aku mencoba ke kamar yang dulu ia tempati, betapa terkejutnya diriku saat membuka pintu kamarnya.


ternyata satria tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya, aku menghampirinya. Aku menyibak selimutnya, namun satria tak mau membuka matanya.


dia menarikku ke dalam pelukannya kala aku memencet hidung mancungnya hingga dia hampir kehabisan nafas.


"kamu mau membunuh suamimu ini? Hem?". Tanyanya dan langsung ku gelengkan kepalaku.


"salah siapa susah banget di banguninnya".


"em, besok aku ada pertandingan basket, kamu dateng ya". Ucap satria sambil membelai rambutku.


"ngapain?" tanyaku karena aku tidak suka dengan olah raga basket.


"kasih semangat dong sayang, sama suamimu ini. biar nanti menang, Kan ini demi nama baik kampus kita juga".

__ADS_1


"hem"


__ADS_2