
"satria"
"satria"
"satria"
teriakan nama satria terus menggema di sebuah lapangan basket, kini satria dan teman-temannya tengah bertanding dengan mahasiswa dari kampus xxxx. aku yang baru saja datang mencari tempat duduk yang masih kosong.
Sebenarnya aku tidak begitu hobby menonton pertandingan basket, tapi karena satria yang memaksaku buat nonton pertandingannya dengan alasan supaya tambah semangat, dengan terpaksa aku menyetujui permintaannya.
satria nampak tersenyum padaku saat dia melihatku, akupun tersenyum balik padanya.
"hay". Sapa seorang gadis di samping tempat dudukku, yang tak lain najwa mahasiswa baru tersebut.
"hay". Sapaku balik
"tumben sendirian, dimana teman yang biasa bersamamu?". Tanyanya
"naumi? Dia pulang duluan tadi, lagi ada perlu". Jawabku
Naumi memang pulang terlebih dulu karena ada urusan penting katanya.
"satria ganteng banget ya". Ucapnya sambil memandangi sosok yang kini terlihat semakin cool dengan keringat yang mengalir di dahinya.
Aku menganggukkan kepalaku setuju "ya begitulah, makanya banyak yang suka padanya".
"sedari dulu aku juga suka padanya, tapi dia seperti tak pernah melihatku". Ucapnya masih dengan melihat ke arah satria.
Mendengar itu aku mengalihkan pandanganku yang tadinya melihat satria kini menatap ke arahnya.
"bukannya kamu baru pindah dari singapura?". Tanyaku heran
Dia nampak melihat ke arahku "aku dulu satu SMA dengannya" ucapnya lalu kembali melihat ke arah satria.
aku hampir tak percaya dengan ucapan najwa, apa benar satria tak tertarik dengan gadis yang ada di sampingku ini? benar-benar tidak normal itu satria. Sebab selain sangat cantik, najwa gadis yang pintar dan juga ramah, dan sepertinya bibit bebet dan bobotnya sama dengan keluarga satria.
__ADS_1
"setiap hari aku berusaha mendekatinya, tapi..." dia menyeka omongannya.
"tapi, dia lebih tertarik pada kakak kelas kami yang saat itu tengah menjabat sebagai ketua osis, meski 2 tahun lebih tua dari kami namun hal tersebut tak di permasalahkan keduanya"
"hingga hubungan mereka kandas 2 tahun pasca kelulusan kakak kelas kami itu, yang kala itu pindah ke LA karena mendapat beasiswa di sana".
Aku mendengarkan cerita-demi cerita yang di ucapkan najwa dengan seksama.
najwa melihat kearahku sambil mata sedikit berkacah-kacah, sepertinya gadis ini masih sangat mencintai satria.
"setelah kepergiannya, satria nampak frustasi, dan saat itu aku mendapat kesempatan untuk mendekatinya. Meski dia cuma menganggapku sebagai teman biasa, bagiku itu sudah lebih dari cukup."
"terus?". Tanyaku semakin penasaran dengan kisah cinta pria yang kini berstatus suamiku itu.
"orang tuaku pindah ke singapura. Dan kini aku kembali untuk memperjuangkannya kembali, namun itu sepertinya akan sulit sekali". Dia menjeda ucapannya sambil menundukkan wajahnya.
"kenapa?". Tanyaku
"Sebab kak angel juga sudah kembali, dan aku yakin satria masih sangat mencintainya".
"dari mana kamu tahu jika satria masih mencintai kak angel?". Tanyaku menyelidik dengan perasaan yang tidak karuan.
"sebab semalam aku melihat mereka pergi nonton bersama". Jawab najwa
"bisa saja kan mereka tidak sengaja bertemu disana". Ucapku karena saat itu aku juga bersama satria, tapi entah mengapa najwa tak melihatku.
"aku melihat mereka berpelukan, satria bukan tipe orang yang suka berpelukan dengan sembarang orang". Ucap najwa yang semakin membuatku meradang.
Jadi selama ini? Aku menatap ke arah satria yang secara bersamaan dia juga tengah mematap ke arahku dengan senyuman manisnya.
jadi yang aku lihat malam itu memang benar adanya, itu kak angel dan satria.
"aku duluan naj, ini udah sore". Ucapku sambil melihat benda kecil yang melingkar di pergelangan tanganku.
"tapi pertandingan belom selesai lo". Ucapnya
__ADS_1
Aku hanya tersenyum getir sambil bangkit dari tempat dudukku dan memilih pulang tanpa menunggu berakhirnya pertandingan.
Aku gak tahu cara mendefinisikan perasaanku saat ini, dan lagi kenapa satria menyembunyikan ini dariku. Pantas saja saat di bioskop satria nampak tak bergeming ketika kak angel memeluk dirinya.
Jujur saja aku merasa insecure jika di bandingkan dengan kedua wanita tersebut, karena aku berasa upik abu yang tak sebanding dengan mereka
Ada rasa sesak yang kini aku rasakan, kenapa satria menjebakku di situasi yang sama sekali aku tak pernah bayangkan sebelumnya. Kalau memang benar dia masih mencintai kak angel, kenapa dia menikahiku? Ini lebih sadis dari apa yang dulu mas haris lakukan padaku.
*
*
aku berdiri di balkon kamarku, menikmati hembusan angin malam hari ini. Sementara satria yang setengah jam lalu baru pulang, kini dia tengah membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggangku, tanpa menoleh aku melepas tangan tersebut secara perlahan karena aku tahu pelakunya adalah satria. aku melangkahkan kaki sedikit menjauh darinya.
"kenapa tidak jujur padaku?". Tanyaku tanpa melihat ke arahnya.
"jujur tentang?".
Aku menghela nafas "kak angel"
Dia nampak diam, kemudian berjalan kearahku lalu kembali memelukku "itu hanya masa lalu, dan masa depanku adalah kamu".
"kenapa kak angel memelukmu di area parkir tadi malam?". Tanyaku sambil membalikkan tubuhku dan menatapnya.
"kamu cemburu?".
Aku melipat tanganku sambil mengerucutkan bibirku, bukannya menjawab dia jusru menggodaku.
"semalam angel reflek karena ada kecoa di dekat kakinya". Ucap satria sambil tersenyum seolah tengah meledekku.
Aku mendongakkan wajahku "serius?".
Satria menganggukkan kepalanya, dan kini giliran aku yang memeluknya dan menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya.
__ADS_1