Bukan Nikah Paksa

Bukan Nikah Paksa
hari H


__ADS_3

"saya terima nikah dan kawinnya namira khumaira binti bapak suhendra dengan mas kawinnya tersebut di bayar tunai"


Terdengar dengan lantang suara pria yang berasal dari ruang tengah menggema hingga terdengar sampai ke dalam kamarku.


"gimana para saksi sah?" tanya pak penghulu


"sah"


"sah"


"alhamdulillah, barokallah.... (do'a)"


aku di temani ibuku keluar dari kamar, setelah itu ibu menuntunku untuk duduk di samping pria yang kini telah sah menjadi suamiku.


Aku mencoretkan tinta hitam di atas buku kecil yang di berikan padaku setelah satria lebih dulu menandatanganinya. Setelah itu aku mencium punggung tangannya, kemudian satria gantian mencium keningku.


Kamipun sungkem bergantian kepada kedua orang tua kami "ayah serahkan putri ayah kepadamu nak, jaga dia baik-baik. Jangan pernah kamu menyakitinya, apalagi mengangkat tangan padanya".


satria menganggukkan kepalanya "iya yah satria janji akan menjaga mira dan selalu menyayanginya".


"mir kamu sekarang sudah jadi seorang istri, biasakan bangun pagi, jangan suka lelet. Kasian nanti suami kamu kalau sifat kamu masih kamu pelihara".


Aku mengerucutkan bibirku, karena ibu membuka sifat burukku tepat di depan suami dan juga kedua mertuaku.


"gak apa-apa sayang, mama juga dulu gitu kok". ucap bu sarah sambil mengelus kepalaku yang tertutup hijab


Tak banyak tamu yang datang, hanya keluarga inti saja yang menghadiri acara akad hari ini. Itu sesuai dengan kesepakatan kami, karena kami terlebih aku tak ingin rumor pernikahanku dan satria sampai di ketahui teman-teman di kampus.


Jadi kami memutuskan untuk akad saja, dan untuk resepsinya akan di laksanakan setelah kami lulus nanti.


setelah para kerabat pamit undur diri, aku memutuskan untuk ke kamar membersihkan diri, aku sudah tak tahan dengan pakaian yang membalut tubuhku begitu berat.


Aku mencoba membuka resleting di belakang punggungku yang sedikit sulit aku raih, namun tiba-tiba sebuah tangan menarik resleting tersebut.


"ka kamu". Ucapku terkejut saat aku membalik tubuhku, pasalnya aku mengira tadi itu tangan ibu


Pria itu menaikkan kedua alisnya.


"kenapa tidak ketok pintu dulu sebelum masuk?". Tanyaku


"bukankah kamar ini sekarang menjadi kamarku juga?".

__ADS_1


aku melangkahkan kaki ke belakang saat pria di hadapanku terus mendekatiku, hingga langkah kakiku terhenti karena terhalang oleh tembok di belakangku.


"ka kamu mau ngapain?".


Pria itu tak menghiraukan ucapanku dan terus mendekat ke arahku, aku memejamkan mataku kala satria mulai mendekatkan wajahnya ke arahku.


"mir sat, makan malam dulu nak, jangan terburu-buru, biar staminanya kuat". ucap ibu dari balik pintu kamarku


aku tak mengerti dengan apa maksud ucapan ibuku, tapi aku sangat berterima kasih padanya sebab panggilan ibu membuat satria menjauh dariku dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


aku duduk di tepi ranjang sembari menunggu satria keluar dari kamar mandi, selang 15 menit kemudian aku melihat pintu kamar mandi terbuka, aku menutup wajahku saat ku lihat satria hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya.


"ada apa denganmu?". Tanyanya


"kamu menodai mataku yang suci ini". Ucapku masih dengan menutup mataku


dia terdengar berdecak "ck, aku sekarang suamimu, jadi sah-sah saja kalau kamu melihatku, bahkan jika kamu mau melihat semuanya aku siap membukanya".


"jangan" teriakku lalu aku membuka telapak tanganku, tapi bukan untuk melihat aurat suamiku. hanya saja aku tidak bisa melihat ke arah kamar mandi jika aku tetap menutup wajahku.


Aku menutup pintu kamar mandi lalu menguncinya ketika aku sudah berada di dalamnya, akupun dengan segera membersihkan tubuhku yang sudah tetasa begitu gerah.


Aku meraih handuk setelah selesai mandi, namun sedetik kemudian aku menepuk keningku, sebab aku lupa membawa baju ganti tadi.


Aku segera berlari untuk mengunci pintu kamarku, lalu segera aku mengganti baju.


Setelah selesai aku keluar menuju lantai bawah menyusul yang lainnya. dan benar saja seperti dugaanku, satria sudah asik mengobrol dengan ayah, ibu, bu sarah dan juga papa mertuaku di ruang makan.


Aku menarik kursi yang berada di samping satria, karena hanya kursi itu yang tersisa.


"mir ambilkan nasi nak buat nak satria". Ucap ibuku


Ah manja sekali pria di sampingku ini, ambil nasi saja aku harus meladeninya.


Aku menuruti permintaan ibuku, aku mengambilkan nasi untuknya, lalu mengambil nasi untuk piringku sendiri.


"lauknya juga dong mir"


Aku mendengkus kesal, apa seperti ini menjadi seorang istri? Atau satrianya saja yang terlalu manja.


"sudah gak apa-apa buk, biar aku sendiri yang ambil". Sahut satria

__ADS_1


Kamipun menikmati makan malam dengan hikmat, sesekali ibu dan juga bu sarah menggodaku dan juga satria yang aku sendiri tak mengerti sama sekali apa maksud mereka berdua.


"pelan-pelan saja nak satria, mira itu masih cengeng, bisa-bisa mira nangis saat itu juga".


sedang satria hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat ibuku menggodanya.


"ish ibu apa-apaan sih, mana ada aku cengeng". Protesku


"sudah-sudah jangan terus-terusan menggoda mereka". Ucap ayahku


Setelah selesai makan malam, bu sarah dan pak wijaya pamit untuk pulang. Sebenarnya ibuku sudah menawarkan agar mereka menginap di sini saja, tapi kata pak wijaya besuk pagi dia ada meeting penting.


Maklum lah namanya juga sultan, bisnisnya pastinya ada di mana-mana.


Aku satria beserta ayah dan ibuku mengantar mereka hingga ke teras depan.


"mama pulang dulu ya sayang". Bu sarah mencium kedua pipiku lalu memelukku.


"ingat sat, pakai pengaman dan pelan-pelan saja". Ku dengar bu sarah berbisik pada satria kala dia memeluk sang putra semata wayangnya setelahku.


"mira sayang ini untukmu nak, jangan lupa nanti di pakai ya". Bu sarah memberiku sebuah kotak yang lumayan besar untukku.


Kamipun kembali ke dalam rumah sepeninggal bu sarah dan juga pak wijaya, aku yang sudah mengantuk memutuskan untuk pergi ke kamarku untuk tidur.


"yah, bu satria juga mau ke kamar, soalnya sudah ngantuk banget".


Ku dengar satria berpamitan kepada ayah dan ibuku, sedang ibuku juga terus menggoda satria saat dia tengah melangkahkan kakinya di belakangku.


Aku berbaring di tempat tidurku, yang di susul oleh satria.


"apa boleh?"


Aku menatap ke arah satria "boleh apa?" tanyaku pada satria yang sama sekali aku tak mengerti apa maksudnya.


"kamu sebenarnya polos atau hanya pura-pura saja?"


"maksudnya?. Tanyaku lagi


Dia nampak menghembuskan nafas kasar "malam ini adalah malam pertama kita, jadi apa...."


dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, aku benar-benar belum siap dengan hal itu, bulu kudukku rasanya berdiri semua membayangkan hal tersebut.

__ADS_1


"jangan sekarang, aku belum siap"


Pria itu membalikkan tubuhnya membelakangiku, sepertinya dia kecewa padaku.


__ADS_2