Bukan Nikah Paksa

Bukan Nikah Paksa
pindah


__ADS_3

Hari ini setelah pulang dari kampus aku membereskan barang-barangku yang nantinya akan aku bawa menuju tempat tinggalku yang baru, aku membawa serta merta boneka-boneka kesayanganku. Tak ayal banyak koper yang sudah berjajar di dalam kamarku.


Kini kamarku nampak kosong dan hanya tersisa kasur dan juga barang-besar yang tak mungkin aku bawa.


"ya allah mir, tidak salah ini? Semua barang kamu bawa hingga tak bersisa".


Ibu nampak terkejut saat memasuki kamarku.


"tidak sekalian saja kasur kesayanganmu ini kamu bawa".


Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sambil nyengir kuda, pasalnya jika bisa akan aku bawa sekalian kasur itu.


"nak satria sudah menunggu di bawah".


tadi pagi satria pulang tanpa mengatakan apapun padaku, sepertinya dia masih marah dengan penolakanku tadi malam. Tapi ya mau gimana lagi, aku beneran belum siap.


Di kampuspun aku sama sekali tidak melihatnya.


Aku menuruni anak tangga dengan membawa dua koper di tanganku, di bantu ibu juga membawa 2 koper di tangannya. Itupun sebagian masih ada 4 yang tersisa di dalam kamar.


"biar aku bantu". Satria mencoba meraih koper yang aku bawa


"di atas masih ada 4, kalau kamu tidak keberatan kamu bisa ambil yang masih ada di dalam kamarku". Ucapku sembari berjalan keluar untuk menaruhnya di dalam mobil.


setelah sebagian koper memenuhi bagasi dan sebagian lagi memenuhi kursi bagian belakang, kamipun berpamitan dengan ayah dan juga ibuku.


"yah kami pamit pergi dulu" ucap satria sembari mencium tangan ayah.


"iya nak, jaga mira baik-baik, kalau dia bandel jewer saja telinganya". Ucap ayahku sambil menatap ke arahku


"ayah" aku mengerucutkan bibirku.


"kurangi sifat manjamu itu, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, layani suamimu dengan baik". Sekarang giliran ibu yang memcemoohku.

__ADS_1


Sepertinya hanya bu sarah yang berpihak padaku, namun sayang saat ini dia tidak ada di sini.


"ya sudah bu-yah kami pamit dulu".


Aku dan satria menaiki mobil ferrari hitam yang ada di hadapan kami, satria menghidupkan mesin mobilnya lalu melaju meninggalkan halaman rumahku dengan kecepatan sedang.


Setelah setengah jam perjalanan mobil yang kami tumpangi kini tengah memasuki halaman apartemen mewah yang ada di kota ini. tak ada obrolan sepanjang perjalanan tadi, sepertinya pria dengan kaos hitam casual itu masih marah padaku.


aku menuruni mobil dengan di sambut beberapa orang di depan lobi apartemen, yang ternyata orang-orang tersebut satria sewa untuk membawa barang-barang bawaanku.


enak juga ternyata menjadi seorang istri anak orang kaya, tak salah memang jika aku menerima satria menjadi suamiku. Bukannya matre, tapi sebagai wanita ya harus realistis.


"letakkan saja di situ nanti biar aku yang akan membereskannya" pintaku pada orang-orang tadi ketika sudah berada di unit apartemen milik satria.


"dimana kamarku?".


Satria menunjukkan kamar yang berada di dekat tangga, sementara satria langsung naik ke lantai dua meninggalkanku sendiri.


Aku menarik satu persatu koperku ke dalam kamar, aku pun membuka lemari besar yang ada di dalam kamar baruku itu. Tak kudapati satupun pakaian satria di dalamnya, aku bergegas keluar kamar lalu pergi ke lantai atas.


"aku akan tidur di kamar itu". Satria menunjuk sebuah kamar yang tak jauh dari ruang keluarga.


"tapi..."


"aku tidak akan memaksamu, aku hanya akan melakukannya ketika kamu siap". Ucapnya tanpa melihat ke arahku.


Aku tertunduk dan berjalan menuju lantai bawah, bagaimanapun memang aku yang salah. Tapi aku benar-benar belum siap, menikah muda sama sekali tidak pernah terlintas di benakku.


Aku memasukkan baju-bajuku ke dalam lemari, setelah itu aku mengganti seprei tempat tidurku dengan seprai bermotif doraemon kesukaanku, akupun menjajarkan boneka-bonekaku di sandaran tempat tidur.


Setelah selesai semua aku memutuskan untuk pergi ke dapur untuk memasak mie instan, karena hanya itu yang aku bisa.


"aku sudah pesankan makanan juga untukmu"

__ADS_1


Aku terkejut karena satria sudah ada di dapur tengah menikmati makan malamnya, aku yang sedang lapar akhirnya memilih makanan yang di belikan satria dari pada harus repot-repot memasak mie instan.


"besok kita pergi belanja sepulang dari kampus". Ucap satria


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Setelah selesai makan malam kami kembali ke kamar kami masing-masing, aku merebahkan tubuhku lalu meraih ponselku.


[good night istriku❤]


Astaga, kita kan baru saja duduk diruang makan yang sama, tapi kenapa tadi setelah makan dia tak mengucapkan itu padaku.


Aku hanya membalasnya dengan emogi 😊 padanya, lalu ku letakkan kembali ponselku ke atas nakas. ku pejamkan mataku mengistirahatkan ragaku supaya besok pagi aku bangun dengan semangat yang tinggi.


*


*


"tolong buatkan aku kopi".


Aku menggaruk tengkukku, karena aku sendiri tak tahu cara membuatnya. Dengan ragu berjalan menuju dapur, aku menghidupkan kompor lalu memasak air hingga mendidih.


Aku tidak tahu baik takaran kopi maupun gulanya, aku membuatnya hanya berdasarkan instingku saja, semoga satria suka dengan kopi bikinanku.


aku deg degan kala satria hendak menyeruput kopi buatanku, tapi sedetik kemudian aku tak melihat reaksi apapun yang di tunjukkan oleh pria di hadapanku ini.


"gimana?" tanyaku penasaran


"lumayan, tapi lain kali jangan membuat kopi dengan air panas di tambah dengan air dingin. Dan satu lagi satu setengah sendok teh kopi dan satu sendok gula itu takaran yang aku suka".


Cara satria menjelaskan padaku begitu lembut, jadi kesannya dia tidak mencelaku karena tadi memang aku menuang sedikit air panas untuk melarutkan kopi dan gulanya, kemudian aku memberinya air dingin.


Itu karena aku fikir satria akan kepanasan jika aku memberinya full air panas, sepertinya kapan-kapan aku minta di ajarin ibu soal perdapuran.

__ADS_1


"ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang, kita sarapan di jalan saja". Ajak satria


Aku hanya menganggukkan kepalaku, kamipun berjalan keluar dari apartemen menuju basement dimana tempat mobil satria berada.


__ADS_2