Bukan Saingan Pelakor

Bukan Saingan Pelakor
Episode 10/ Mak Siap Punya Mantu.


__ADS_3

Episode 10/ Mak Siap Punya Mantu.


Sementara di tempat lainnya, Khadijah sudah kembali ke kampungnya dan tengah melangkah ke rumahnya yang tidak terlalu jauh, jika di perhatikan di luar rumah, sudah terdapat sepatu asing baginya, tidak mungkin Abak maupun Amaknya memiliki sepatu yang ia tebak pasti harganya sangat mahal.


Khadijah menyimpan sendiri perasaannya, ia tidak mau berlarut-larut, mungkin saja ada tamu di dalam, pikir Khadijah. Ia segera masuk dan benar saja di meja makan sudah duduk pria yang begitu ia kenal, David, pria tampan dari kota.


‘’Mas David?’’ ujar Khadijah heran, kenapa pria itu malah bisa berada di desanya.


‘’Khadijah!’’ pekik David tidak percaya, jika pagi ini ia akan menyambut kedatangan gadis desa yang telah berhasil merombak hatinya menjadi tidak karuan, dan menuntunya untuk kembali ke desa sang gadis.


Amak menyambut kedatangan putrinya, dan mengajak Khadijah untuk ikut makan bersama. Khadijah duduk di sebelah David, ketika itu Abak dan Amak saling pandang satu sama lain, mereka Nampak senyum-senyum sendiri sembari terus menatap kepada Khadijah dan David. Hingga membuat kedua insan manusia yang menjadi pusat perhatian begitu heran, ada apakah gerangan sepasang suami istri ini malah senyum-senyum menatap mereka.


‘’Bak, jika sudah kumpul begini. Mak malah kepingin punya mantu,’’ ucap Amak kepada Abak.


Jelas ucapan itu bisa terdengar oleh David dan Khadijah, Khadijah mah ia begitu malu dengan ucapan Amak, namun berbanding terbalik dengan David, dirinya malah senang seakan mendapatkan lampu hijau untuk segera menghalalkan Khadijah.


‘’Mak!’’ pekik Khadijah denga wajah memerah bagaikan kepiting rebus.


‘’Hahaha, kali ini Abak juga setuju dengan keinginan Amak yang ingin cepat punya mantu. Sudah-sudah, mari kita lanjutkan sarapannya, nanti Nak David mau kemana?’’ tanya Abak.


Khadijah sangat merasa malu, kenapa di saat seperti ini orang tuanya malah membahas hal yang belum pantas, terlebih ada David, bisa di taruk dimana wajahnya coba. Bagaimana jika David kesal dengan penuturan asal Amak dan Abak.


‘’hmm, mungkin untuk saat ini belum ada kegiatan apapun, Bak. Yah, palingan hanya mencari tempat pekerjaan,’’ imbuh David.

__ADS_1


Khadijah melirik kepada David, kenapa pria tampan ini malah lebih memilih mencari pekerjaan di pedesaan? Padahal semua warga desa ingin sekali bekerja di kota, namun malah berbeda dengan David, dirinya malah ingin bekerja disini.


Jika Khadijah pikir, wajah tampan David ini cocok menjadi seorang model pria, pasti semua gadis-gadis akan menyukainya, apakah David tidak ingin mendapatkan uang lewat wajahnya saja? Benar-benar pria yang begitu langka.


Tidak terlalu lama, meja makan pun sudah kosong, semua menu makanan sudah ludes habis, terlebih David ia sangat merindukan masakan kampung, dirinya malah makan pagi lebih dari dua piring, hingga membuat Khadijah heran.


‘’Kamu mau kuliah sekarang, Khadijah?’’ tanya David yang tengah duduk di teras rumah sederhana.


‘’Hmm, jika begitu Khadjiah pamit dulu yah. Mas David mau cari kerja dimana?’’ tanya Khadijah yang tengah memasang sepatu.


‘’Entahlah, belum ada ide. Apa mungkin lebih baik aku ikut kamu saja?’’ tanya David, dirinya sangat ingin dekat dan mengenal Khadijah lebih dekat.


‘’Kenapa? Apa Mas David terbiasa jalan kaki jauh kah?’’ tanya Khadijah, ia jadi teringat jika David saj akan sangat menderita setiap malam ketika ia pulang dari sawah.


‘’Hahaha, tenang saja. Aku juga sudah mulai terbiasa kok, tunggu sebentar!’’ pinta David, dirinya mengambil dual embar uang ratusan.


Mereka terus melangkah hingga tidak terlalu lama ada seorang teman yang memanggil Khadijah, seorang gadis berhijab yang mendekat. Wajahnya sedikit bertanya-tanya, siapa pria tampan yang ada di sebelah Khadijah, apa mungkin itu kekasihnya? Atau mungkin pria yang akan melamar Khadijah.


‘’Siapa pria tampan ini, jah? Sepertinya bukan orang kampung kita, apa mungkin dia calon suami lo, hah?’’ bisik gadis berhijab kepada Khadijah.


‘’Hush, kamu ngomong apaan sih. Tidak mungkin lah, namnya Mas David, teman Mas Toni dari kota. Sudah, kamu aneh-aneh saja Rin!’’ ujar Khadijah yang memerah pipinya bagaikan kepiting rebus, nasib bai kia menggunakan niqab, jadi tidak terlihat.


‘Kenapa aku malah girang seperti ini yah? Apa mungkin aku jatuh cinta kepada Mas David?’ pikir Khadijah, entah kenapa ia merasa sangat senang dengan ucapan temannya yang bernama Rini.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan David terus curi-curi pandang dengan Khadijah, dan hal itu diketahui oleh Rini. Ia hanya senyum-senyum sendiri dengan tingkah pria tampan yang bersama mereka, cukup jauh hingga membuat David merasa lelah, namun untung saja ada Khadijah, setidaknya ia tidak terlalu capek karena sudah memiliki penawar yang begitu ampuh.


‘’Apakah kampus kamu masih jauh, Khadijah?’’ tanya David yang seakan mau pingsan. Ia tidak menyangka jika kampus Khadijah begitu jauh, terlebih tidak ada akses mobil yang bisa masuk, sedari dari rumah sederhana Khadijah, mereka hanya melewati jalan setapak.


‘’Mas David capek?’’ tanya Khadijah cemas.


Arini hanya senyum-senyum sendiri ketika Khadijah memanggil pria tampan itu dengan panggilan Mas, Khadijah heran kenapa dengan Rini, namun entahlah, Khadijah bukan tipe wanita yang sibuk dengan mengurusi urusan orangg lain.


‘’Oh yah, coba kamu baca info di grup, Jah.’’ Titah Rini dengan wajah sumringah.


Khadijah yang heran kenapa temannya malh terlihat sangat bahagia? Biasanya jika sudah seperti ini pasti ada berita kampus mendadak, dan benar saja ternyata dosen yang mengajar tidak bisa masuk karena mendadak memiliki dinas ke luar kota, jelas hal itu membuat Rini senang, sementara Khadijah menghela nafas, ia masih merasa bersalah kepada David.


‘’Kenapa Khadijah?’’ tanya David yang heran dengan wajah di tekuk olah Khadijah.


‘’Hari ini Khadijah ternyata nggak jadi ke kampus, Mas.’’ Jawab Khadijah.


‘’Bagus dong jika begitu, lantas kenapa kamu seperti tidak suka dengan berita itu? Atau mungkin kamu sangat suka ke kampus yah?’’ tebak David, dirinya masih sibuk mengurut kakinya yang sudah begitu capek.


‘’Bukan begitu, Khadijah hanya merasa bersalah kepada Mas David. Pasti Mas David capek yah?’’ tanya Khadijah dengan cemas.


‘’Kamu khawatir saja, aku sudah senang. Kenapa kamu ini sangat menggemaskan sih,’ batin David yang seakan melayang dengan kecemasan dari Khadijah.


Terlihat sebuah mobil silver mewah mendekat, Khadijah dan Rini mengerutkan keningnya ketika mobil mewah itu berhenti tepat di hadapan mereka, terlebih turunnya seorang pria tampan dengan stelan rapi.

__ADS_1


‘’Khadijah,’’ ujarnya dengan tersenyum ramah, senyum yang membuat David merasa cemburu.


‘Siapa sih nih cowok?! Kenapa gerak-geriknya begitu mencurigakan?’ batin David yang tengah dilanda api kecemburuan.


__ADS_2