Bukan Saingan Pelakor

Bukan Saingan Pelakor
Episode 8/ Mencari Wanita di Pesta Dansa Bertopeng.


__ADS_3

Episode 8/ Mencari Wanita di Pesta Dansa Bertopeng.


Keesokan harinya kediaman Baskoro sudah seperti kapal pecah, pesta baru berakhir ketika pukul 3 dini hari, dan semua pekerja di kediaman Baskoro juga sudah tertidur jauh sebelum pukul itu, semua yang ada di rumah keluarga Baskoro memang tidak pernah mengadakan pesta lebih dari pukul 12 malam, dan semuanya sudah harus kembali ke kamar pada pukul 10 malam, jika di hari biasa.


Tapi lihatlah sekarang, semuanya sungguh berantakan. Ketika Tuan Adit Baskoro turun dan melihat kondisi rumahnya, dirinya hanya bisa menghela nafas panjang, mau bagaimana lagi, ini acara bukan rencanya melainkan rencana keluarga besarnya.


‘’Maaf, Tuan. Kami belum sempat membersihkan ruangan ini kemarin,’’ ucap Mbok Inah sebagai perwakilan, terlebih Mbok Inah yang paling lama bekerja bersama Tuan Adit Baskoro.


Nasib baik semua pekerja di rumah itu tidak ada yang dibedakan, baik dari kamar tidur, semua fasilitas yang akan didapatkan, maupun gaji, mereka sama-sama mendapatkan dengan tunjangan yang mendukung, tidak ada unsur paksaan di rumah itu, semuanya bekerja dengan hati gembira.


‘’Tidak apa, sekarang tolong di bersihkan semuanya yah. Saya harus pergi ke kantor dan dimana David?’’ tanya Tuan Adit Baskoro, rasanya ia belum melihat pucuk hidung putranya semenjak kemarin.


‘’Den David menginap di apartemen Den Toni, Tuan. Mungkin Den David sudah menemukan calon pendamping hidupnya kemarin malam,’’ jawab Mbok Inah.


‘’Maksud Mbok? David ada di acara pesta dansa itu malam kemarin? Apakah dia mabuk-mabukan kemarin malam Mbok?’’ pertanyaan yang begitu banyak terlontar dari mulut Tuan Adit Baskoro.


‘’Den David memang menghadiri acara pesta dansa itu malam kemarin, Tuan. Dan itupun atas ajakan Den Toni, awalnya Den David tidak mau, namun karena bujukan Den Toni akhirnya ia datang juga. Dan Tuan tenang saja, karena malam kemarin Den David sama sekali tidak melirik ke alkohol dan ia juga tidak melakukan dansa dengan gadis manapun malam kemarin, begitulah laporan yang di ucapkan oleh Den Toni pagi ini,’’ penjelasan Mbok Inah, yang sesuai dengan jabaran yang telah dikatakan oleh Toni pagi ini.


‘’Huh, syukurlah jika begitu. Baiklah, Mbok. Oh yah, setelah semua pekerjaan ini selesai tidau perlu memasak apapun untuk makan malam nanti, saya akan mengajak semuanya ke restoran yang kebetulan Pak Pandi tengah mengadakan syukuran,’’ ucap Tuan Adit Baskoro yang membuat semua pekerja riang gembira.


Mereka melepas kepergian Tuan Adit Baskoro dengan wajah gembira, mereka semua sangat bersyukur karena dapat bekerja bersama dengan orang kaya yang baik hati.


‘’Mbok, apa iya Den David sudah menemukan dambaan hatinya?’’ tanya salah seorang pekerja pria yang lebih muda 5 tahun dibandingkan Mbok Inah.


‘’Kata Den Toni memang begitu adanya, kita doakan saja yang terbaik untuk Den David,’’ ucap Mbok Inah yang di sahut dengan ucapan amin dari semua pekerja di keluarga Baskoro.


Mereka semua kembali bekerja dan akan menanti malam tiba, karena memang jika Tuan Adit Baskoro diundang ke suatu acara oleh kolega bisnisnya, pasti semua pekerja di rumahnya akan diboyong ikut.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, di apartment Toni, tumben-tumbennya David sudah terbangun, bahkan mengalahkan bangunnya Toni. Dia sudah terlihat duduk di teras rumah dengan secangkir kopi di tangannya, menikmati suasana pagi.


‘’Sejak kapan David bangun? Apa itu benar-benar dia? Tumben sekali tukang molor bangun pagi-pagi,’’ gumam Toni melangkah mendekat.


Dilihatnya jika David tengah menatap lurus ke depan, dengan berbagai pikiran yang muncul. Entah apa, Toni juga belum bisa memastikan. Hanya saja ia pasti yakin, jika lamunan David ini pasti tertuju kepada acara pesta kemarin, kepada gadis misterius itu.


Karena ketika kepulangan mereka ke apartement pada pukul 01.00 dini hari, David menceritakan semua hal yang terjadi di taman, tempat ia bertemu pertama kali dengan wanita yang mampu membuat dia penasaran setengah mati, namun sayang ketika hendak berkenalan tiga orang keluarga besarnya datang mengacau, akhirnya David kehilangan wanita misterius itu.


‘’Vid,’’ panggil Toni yang diabaikan.


‘’David bin Baskoro!’’ teriak Toni tepat di telinga David yang tengah melamun.


‘’Hmm,’’ balas santainya.


‘’Lo kenapa pagi-pagi sudah bangun, tumben sekali tukang molor seperti lo bangun sepagi ini. Lo sedang memikirkan apa? Apa ini masih ada hubunganya dengan wanita misterius yang lo temui malam kemarin?’’ tebak Toni.

__ADS_1


‘’Hmm, lo benar Ton. Entah kenapa gue sangat penasaran dengannya,’’ gumam setuju David dengan tebakan Toni.


‘’Gue sebenarnya masih heran, Vid. Hal apa yang bikin lo sepenasaran ini sama wanita misterius itu, sementara lo sendiri tipe pria yang menganggap semua wanita layaknya mainan, dan jujur baru sekarang gue seperti berhadapan dengan David yang berbeda serratus persen,’’ ujar jujur Toni.


‘’Huh,’’ David menghela nafas kasar.


‘’Entahlah, apa ini mungkin karma untuk gue, Ton? Gue yang selama ini selalu menganggap semua wanita layaknya mainan yang setelah habis manis langsung gue buang. Dan sekarang gue seakan dilemma untuk jatuh cinta,’’ kata David dengan sangat jujur dalam berbicara kepada temannya, yang sekaligus menjadi teman curhatnya.


‘’Menurut gue itu bukan KARMA, Vid. Itu semua karena lo sudah pantas untuk jatuh cinta dan membina rumah tangga, mungkin sudah waktunya Tuan Adit Baskoro menimang cucu, cepat gih lo kasih bokap lo itu cucu, biar hubungan lo dan bokap lo itu membaik,’’ saran Toni.


Jujur Toni sangat bahagia dengan kejujuran yang tulus dari David, dirinya yakin David pasti akan berubah ke arah yang lebih baik, David hanya membutuhkan pendamping yang mampu membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik.


‘’Ya, sudah gue mau berangkat ke kantor. Lo masih mau di apartemen gue? Atau mau pulang ke rumah lo?’’ tanya Toni.


‘’Gue pulang saja, oh yah, nanti malam lo ada acara kah?’’ tanya David, dirinya ingin curhat lebih banyak tentang hal yang menjanggal di hatinya.


‘’Nanti malam sepertinya tidak ada, datang saja kesini. Oh yah, kenapa lo nggak mulai bekerja saja di salah satu cabang perusahaan yang bokap lo miliki?’’ tanya Toni ketika mereka berdua melenggang ke lokasi parkiran.


David hanya menghela nafas kasar, dia merasa belum pantas di perusahaan yang dipegang oleh ayahnya, bisa-bisa perusahaan itu malah bangkrut, karena jujur David belum pernah memegang jabatan apapun di perusahaan, akan berbeda dengan Toni yang memang terlahir menjadi pengusaha sukses, kemampuan Toni memang tidak perlu diragukan untuk menarik minat investor asing.


‘’Ya, sudah. Jika begitu kita berpisah disini,’’ ucap Toni yang masuk ke mobil bugatti berwarna abu-abu dan David juga masuk ke mobil buggatinya.


David tidak berniat untuk kembali pulang, dirinya masih ingin merenung tentang nasibnya. David memilih untuk mampir ke taman kota yang paling lengang, entahlah dia justru tidak tertarik untuk menghabiskan hari ke club malam, semenjak kepulangan dari desa, sifat David banyak berubah, mulai dari tidak menyentuh sedikitpun alkohol dan tidak tertarik dengan wanita seksi yang biasanya akan menggoda birahi kelakiannya.


‘’Kenapa seperti ada yang kurang dalam hidup ku? Aku seakan tidak memiliki semangat apapun, apa yang terjadi pada diriku oh Tuhan?’’ pikir David menerawang jauh.


Tiba-tiba bayangan Khadijah muncul, entah kenapa ketika membayangkan Khadijah, hatinya jauh lebih baik dan lebih tenang. David malah berpikir apakah dirinya kembali ke desa? Untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kosong.


‘’Apakah aku harus berkata kepada Toni untuk hal ini?’’ pikir David.


Dirinya akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa, tapi dirinya tidak mungkin untuk pulang menggunakan mobil buggatinya, sementara yang Khadijah tahu, David hanya seorang biasa, bukan dari kalangan bangsawan.


‘’Aku juga malas untuk kembali ke rumah, apa lebih baik aku jual saja mobil ini, untuk modal selama berada di desa? Setidaknya aku memiliki pegangan uang selama berada disana,’’ pikir David.


Dirinya akirnya memutuskan untuk menjual mobil buggatinya ke tempat yang tidak diketahui oleh Tuan Adit Baskoro maupun Toni, dirinya hanya belum tahu bagaimana cara menjelaskan kepada mereka berdua tentang kegundahan yang terjadi dalam batinnya.


‘’Berapa harga yang pantas untuk mobil bugatti keluaran terbaru ini?’’ tanya David ke sebuah pembeli yang tertarik kepada mobil bugatti keluaran terbaru.


[Anda mau berapa, Tuan? Saya akan membelinya, karena mobil ini keluaran terbaru, saya sudah sangat lama menginginkannya, tapi selalu keduluan oleh orang lain. Dan dengan baik hati Anda datang untuk menawarkan mobil yang begitu saya impikan.]


‘’Bagus jika begitu, kita memang saling membutuhkan sekarang. Saya katakan yang sejujurnya jika mobil ini baru saya pakai dua hari yang lalu, dan semua mesinnya sudah pasti masih terjaga. Dan kabar baiknya lagi mobil ini baru diservis kemarin,’’ ucap David.


‘’Beli saja dengan harga aslinya, bagaimana?’’ tanya David.

__ADS_1


Pembeli pun setuju, mereka berjabat tangan pertanda persetujuan. David melenggang pergi dengan rasa bahagia, Sebagian uangnya akan ia tabung dan hanya 5 juta yang akan dibawa untuk pulang ke desa, desa Khadijah yang telah berhasil menciptakan kedamaian dalam batinnya.


‘’Entah kenapa, aku merasa sangat nyaman berada disana, tidak sama seperti yang tengah aku rasakan disini. Padahal disini semuanya bisa aku dapatkan dengan mudah, justru itu yang malah membuat batin ku seakan kosong,’’ gumamnya yang kembali ke desa menggunakan bus umum.


Di sepanjang perjalanan, pikiran David selalu tertuju kepada Khadijah. Gadis yang telah berhasil masuk ke dalam hatinya, tanpa ia suruh, nama itu yang selalu dia ingat. Tapi di lain sisi, dirinya juga merasakan perang batin, mungkin Tuan Adit Baskoro selaku ayah kandungnya, tidak akan pernah mempermasalahkan status Khadijah.


David tahu jika ayahnya sangat baik, bahkan hampir setiap hari telinga nya ini berbusa dengan nasehat Tuan Adit Baskoro yang selalu mengajaknya untuk ke panti asuhan, dinas-dinas sosial dan melakukan hal-hal baik lain, hanya saja kekayaan membuat David terlena.


Status tidak dianggap oleh Tuan Adit Baskoro, dirinya akan menganggap semua orang sama di matanya, baik itu miskin maupun kaya. Namun yang akan menjadi permasalahan justru dari keluarga besar Baskoro, status sosial akan sangat diteliti ke akar-akarnya. Bahkan mereka semua lah yang akan terus memaksa David untuk memiliki pasangan dari kalangan yang sama dengan mereka.


‘’Huh, akan sangat sulit nantinya. Tidak mungkin Khadijah akan diterima oleh mereka,’’ gumam David.


Waktu perjalanan menempuh 8 jam dari kota, David kembali ke tempat itu sudah dalam kondisi malam, sudah waktunya sholat isya. Entah kenapa kakinya malah melangkah tanpa beban ke tempat yang tidak pernah sama sekali ia kunjungi selama berada di kota.


Ketika mendengar lantunan merdu adzan, batin David merasa tentram dan tenang. Dirinya seakan menemukan semangat baru, dan itulah hal berharga yang di dapatkan oleh David selama berada di desa, dalam waktu tidak sampai satu bulan, David telah mengalami banyak kemajuan pesat, hal itu tidak terlepas dari bantuan Khadijah, Emak dan Abak.


‘’Nak David,’’ panggil seorang pria, suara yang sangat dikenal oleh David, suara Abak, orang tua Khadijah.


‘’Assalamualaikum Abak, Aba apa kabar?’’ tanya David dengan salim kepada Abak.


‘’Waalaikum salam, alhamdulliah sehat. Bagaimana dengan Nak David?’’ tanya Abak.


‘’Alhamdulillah sehat, Bak,’’ balas David.


Mereka berbincang sangat hangat di sepanjang perjalanan, bersama dengan warga lainnya. David merasakan aura ketenangan, dirinya selalu tersenyum mendengar semua pembicaraan warga desa, bahkan mereka tidak pernah membahas tentang uang, cerita ringan yang biasa dilakukan oleh warga desa.


Namun justru hal itu yang malah membuat David bahagia, berbaur dengan baik, berbincang apapun yang teringat di kepala tanpa beban.


‘’Nak David apakah ada keperluan kembali kesini?’’ tanya salah seorang warga yang usianya hampir seumuran dengan Abak.


‘’Tidak kok, Pak. Saya hanya sedang libur bekerja di kota selama satu bulan, daripada saya tidak berbuat apapun selama berada disana, lebih baik saya disini dan belajar bagaimana cara ke sawah yang baik,’’ ucap David.


Dirinya terpaksa berbohong kepada warga desa dan menutupi identitas aslinya yang merupakan putra konglomerat ternama, dan yang diketahui oleh warga desa hanya David seorang Ob di perusahaan.


Di sepanjang perjalanan mereka semua berbincang dengan hangat, hingga David dan Abak sudah berada di halaman rumah sederhana. Abak mengajak David untuk menuju ke sebuah lahan kosong, awalnya David merasa heran, namun ia terus ikut dengan Abak.


‘’Nak David, ini lahan kosong milik Abak,’’ ucap Abak yang menjelaskan lebih detail tentang lahan itu, David mengangguk, dirinya belum mengerti kenapa Abak mengatakan tentang lahan kosong ini.


‘’jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Abak, bagaimana jika Nak David membangun rumah saja di lahan kosong ini. Tidak baik jika Nak David akan menginap di rumah Abak dalam waktu lama, terlebih ada Khadijah, takutnya malah menimbulkan fitnah yang tidak baik. Nak David tenang saja, untuk pembangunan akan Abak bantu, kebetulan material ini memang akan digunakan untuk pembangunan di lahan kosong ini, tapi maaf jika rumahnya tidak mewah,’’ ucap Abak menjelaskan niatnya.


‘’Tidak apa, Bak, memang benar apa yang Abak katakana. Oh yah, ngomong-ngomong Khadijah apakah di rumah?’’ tanya David, entah kenapa dia malah begitu merindukan Khadijah.


‘’Tidak, Nak David. Khadijah hari ini masih di kota, dia ada keperluan disana, kemungkinan pulangnya besok siang,’’ jawab Abak.

__ADS_1


‘Khadijah sedang berada di kota sekarang? Apakah mungkin gadis yang ada di pesta dansa kemarin malam itu adalah dia?’ batin David.


__ADS_2