Bukan Saingan Pelakor

Bukan Saingan Pelakor
Episode 3/ David Yang Hidup Miskin Malah Mereka Yang Panas Dingin.


__ADS_3

Episode 3/ David Yang Hidup Miskin Malah Mereka Yang Panas Dingin.


Berita tentang David dan Papanya tersebar luas di keluarga besar, mereka tidak habis pikir dengan Tuan Adit Baskoro yang menyita semua barang mewah yang selama ini dipegang oleh David, ketika perjamuan makan malam di kediaman Nenek David, semuanya memuncak. Yah memang kehidupan keluarga Baskoro dengan keluarga besarnya tidak baik-baik saja, mereka sudah bagaikan dua mata pisau yang selalu berselisih paham.


Awalnya Tuan Adit Baskoro menolak untuk menghadiri acara jamuan besar yang di adakan, tapi karena hari ini adalah hari ulang tahun nenek pertama, dirinya dengan berat hati melangkahkan kakinya ke kediaman super mewah bak istana.


Ketika masuk dirinya di sambut oleh penjaga, dan di antarkan ke lokasi pesta ulang tahun nenek pertama, mereka memasuki lift, dan ketika lift itu terbuka, terlihat semua anggota keluarga besarnya sudah berkumpul.


‘’Adit Baskoro,’’ sapa nenek pertama.


Mereka melakukan sambutan hangat kepada pria konglomerat ini, yah apalagi niat mereka, ingin mengambil halus kekayaan yang dimiliki keluarga Baskoro, dibandingkan dari cucu yang lainnya, hanya Tuan Adit Baskoro memiliki kekayaan paling banyak.


‘’Selamat ulang tahun, Nek. Maaf saya tidak bisa terlalu lama, saya masih ada urusan bisnis di America besok,’’ ucap Tuan Adit Baskoro.


‘’Kamu ini masih belum berubah, setiap ada acara keluarga besar pasti ada saja alasannya untuk cepat pulang. David mana? Tumben dia tidak datang?’’ tanya nenek pertama.


‘’David kan sudah di usir, Nek. Semua barang mewahnya saja sudah disita ludes oleh sang bokap!’’ sahut seorang pria.


Nenek pertama yang mendengarnya pun syok berat, dirinya sampai menampar pipi Tuan Adit Baskoro, plakk. Cucu yang lainnya hanya saling berbisik dengan menahan tawa kecil, mereka memang menaruh kebencian pada Tuan Adit Baskoro, lebih mementingkan orang yang kelaparan di luar sana di bandingkan berbagi harta dengan mereka.


‘’Maaf, Nek. David itu putra saya, dan saya tahu apa yang saya lakukan padanya, itu sudah keputusan terbaik,’’ ucap Tuan Adit Baskoro dengan santai.


‘’Mau ditaruh dimana muka Nenek, hah! Kembalikan semua aset yang kamu sita dari David, Nenek nggak mau dia hidup susah. Ayah seperti apa kamu ini, membiarkan putranya jatuh miskin di luaran sana!’’ perintah Nenek pertama.


Tuan Adit Baskoro tidak mengucapkan sepatah kata pun, dirinya langsung melangkah dari ruangan mewah itu, sementara yang ada di dalam ruangan membantu nenek pertama yang memiliki riwayat penyakit jantung.

__ADS_1


‘David itu putraku, tidak akan aku biarkan mereka merusak semua rencana untuk membuat David insyaf dari kehidupan super foya-foya nya itu,’ batin Tuan Adit Baskoro.


Dirinya mengirimi pesan pada Toni, hanya ingin tahu bagaimana kabar David, apakah dia mampu untuk tinggal di tempat yang belum pernah ia temui, Tuan Adit Baskoro malah tertawa ketika Toni mengatakan jika David disebut sebagai office boy alias OB di perusahaan saya.


[Bagus itu, Toni. Kapan perlu suruh dia memiliki pekerjaan selama berada disana.]


Keesokan paginya, Toni membangunkan David yang tidur dengan dengkuran keras. Katanya tidak nyaman tidur di tempat seperti kamar yang mereka tempati, eh ketika pulang dari acara kemarin malam, malah dia duluan yang tertidur.


‘’Vid, ini sudah pagi. Lo masih mau tidur kayak kebo kah? Tampan-tampan tapi nge dengkur!’’ kesal Toni ketika rekannya ini masih belum bangun.


‘’Lima menit lagi, Ton. Gue masih ngantuk!’’ ujar David menarik selimut lusuh itu, dan menutupi seluruh tubuhnya.


‘’No, gue harus pergi sekarang! Lo cepat banggunnya, atau nggak gue siram lo pakai air ntar!’’ ancam Toni.


Dengan malas David membuka matanya, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, jika di rumah mewahnya, ia masih tidur molor. Melihat Toni yang sudah berpakain rapi membuat David heran dengan temannya ini.


David malas sekali jika harus bekerja, tapi benar juga kata Toni tidak mungkin dia hanya tumpeng hidup saja di rumah orang tua Toni, terlebih kehadiran Khadijah menjadi penyemangat hidup baginya.


Mereka makan di meja sederhana, yah hanya David dan Toni, kedua orang tua David pagi-pagi sekali sudah ke sawah dan Khadijah juga sudah berangkat kuliah. Ketika melihat menu yang tertera di atas meja, membuat selera makan David menghilang, menu ini bahkan lebih sederhana dari menu yang dibuat oleh Bi Inah.


‘’Kenapa? Lo nggak mau makan? Padahal ini enak loh, masakan restoran saja kalah sama masakan ini,’’ ucap Toni yang sangat lahap menyuap nasi ke mulutnya.


‘’Makanan kambing ini lo bilang enak?’’ tanya David, pertanyaan David membuat Toni tersendat, tidak habis pikir dirinya dengan David.


‘’Lo yah, Cobain dulu. Makanan kambing yang lo bilang ini, ngalahin makanan di restoran manapun yang pernah lo makan,’’ ujar Toni.

__ADS_1


‘’Nggak ah,’’ tolak David hanya menjadi penonton ketika Toni melahap dengan habis semua yang berada di piringnya.


Toni sudah selesai makan, dirinya akan berangkat kembali ke Jakarta dan mengatakan jika lebih baik menunggu Khadijah jika memang ingin ke sawah Abaknya. David hanya murut saja, toh tidak tahu juga hal apa yang akan ia lakukan.


‘’Gue pergi dulu, jika lo lapar lo bisa makan yang ada di atas meja makan, makanan kambing yang lo sebut itu buatan Khadijah!’’ ujar Toni.


Setelah mobil Toni tidak terlihat, dirinya masuk kembali dan menuju ke meja makan, dirinya penasaran dengan masakan buatan Khadijah. Tampilan sederhana ini dibilang enak oleh Toni, awalnya David memang tidak berniat untuk mencicipi menu makanan kambing yang ia sebut, tapi ketika nama Khadijah disebut, jiwa penasarannya meronta-ronta.


‘’Apa enaknya coba makanan kambing ini?’’ pikir David.


Dirinya mencoba mencicipi sayur kangkung, dan betapa kagetnya David dengan rasanya. Dirinya mengambil sepiring penuh nasi dan melahap habis semua sayur kangkung yang berada di atas meja.


Rasa baru yang di rasakan oleh David membuat dirinya tidak kunjung kenyang, padahal ini sudah piring ketiga dan David masih belum kenyang juga. Semua yang ada di atas meja ludes habis, tidak ada satupun yang tersisa.


‘’Sumpah sih ini enak banget, ternyata Khadijah pintar masak. Nggak nyangka jika makanan kambing ini memang enak,’’ puji David pada makanan yang sebelumnya ia remehkan rasanya.


Tapi siapa sangka, ada sepasang mata yang menahan tawa ketika melihat David makan dengan lahap makanan yang ia rendahkan.


‘’Gimana? Enak nggak makanan kambing itu?’’ tanyanya.


David sangat mengenal suara itu, yah suara Toni. Dirinya malu tertangkap basah, terlebih makanan yang dicap sebagai makanan kambing sudah ludes masuk ke dalam perutnya.


‘’Toni, lo kenapa pulang lagi?’’ tanya David dengan menahan malu.


‘’CUMAN MASTIIN MAKANAN KAMBING INI NGGAK LO MAKAN, EH TERNYATA UDAH LUDES HABIS. GIMANA RASANYA, VID? LEBIH ENAK DARI MAKANAN RESTORAN BINTANG LIMA KAN?’’

__ADS_1


Pertanyaan Toni memang benar adanya, tapi tidak mungkin jika David menjilat ludahnya sendiri, padahal makanan ini sudah ia hina beberapa menit yang lalu.


‘’HALAH, INI KARENA GUE LAPER AJA, MAKANYA HABIS. MASIH ENAKKAN MASAKAN RESTORAN BINTANG LIMA LAH!’’


__ADS_2