Bukan Saingan Pelakor

Bukan Saingan Pelakor
Episode 9/ Pulang dengan Tangan Kosong.


__ADS_3

Episode 9/ Pulang dengan Tangan Kosong.


Karena lelah menunggu kedatangan David, ia merasa heran tidak biasanya ponsel temannya ini begitu sulit untuk di hubungi, namun kenapa hari ini mendadak tidak aktif, dan sekali aktif pun itu tadi pagi, semenjak mereka berpisah, berarti ponsel David sudah tidak aktif. Ia merasa heran dan segera menghubungi Tuan Adit Baskoro, namun siapa sangka orang yang akan ia telpon, justru telah meneleponnya terlebih dahulu.


[Halo, Ton. Apakah David masih berada di apartement kamu?] Tuan Adit Baskoro.


‘’Tidak, Om. Apa David masih belum pulang semenjak pagi tadi?’’ tanya Toni yang semakin penasaran kemana temannya ini, sekali menghilang malah membuat keributan besar.


[Benarkah? David belum ada kembali, apa kamu tidak tahu kemana David, Ton? Kamu kan teman dekatnya dan tempat curhat baginya. Apakah David tidak menceritakan apapun?] Tuan Adit Baskoro.


‘’Tidak ada, Om. Toni pun merasa heran, tumben sekali David tidak menghubungi, padahal biasanya akan ada saja yang akan ia bicarakan, tidak pernah satu hari pun terlewat olehnya. Namun hari ini justru berbeda, sejak tadi pagi ponsel David tidak aktif. Apakah David tidak menitipkan pesan kepada Mbok Inah?’’ tanya Toni.


Memang, David sangat dekat dengan Mbok Inah, secara tidak langsung kedekatan itu terjadi karena Mbok Inah yang telah merawat David hingga besar, kasih sayang yang diberikan Mbok Inah membuat David memiliki sosok ibu.


[Belum tahu, nanti Om coba tanyakan kepada Mbok Inah. Sekarang Om masih ada di kantor, baiklah jika begitu Om tutup dulu.


[Nanti jika ada kabar dari David, kamu tolong kabari Om yah.] Tuan Adit Baskoro.


‘’Baik, Om. Jika begitu Toni akan berusaha mencari kemana David,’’


Sambungan telepon terputus, Toni sedikit cemas kepada sahabatnya ini. Ia hanya takut jika David yang setidaknya sudah mau berubah ke jalan yang baik, kembali tersesat. Toni malah sempat berpikir apakah David kembali pergi ke club?


Tidak menunggu waktu lama, ia akan memutuskan untuk mencari David di beberapa lokasi club malam yang menjadi langganan nya. Namun ketika hendak keluar dari kamar apartement, satu kamar sebelah terbuka dan melihat Khadijah yang telah rapi dengan koper di tangannya.


‘’Khadijah, apa kamu berencana pulang hari ini?’’ tanya Toni.


‘’Iya, Mas. Besok Khadijah masih ada kuliah yang tidak bisa di tinggalkan,’’ jawab Khadijah.


Tidak mungkin Toni membiarkan Khadijah berangkat seorang diri ke terminal, terlebih ini sudah mulai larut, sekalipun masih menunjukkan pukul setengah delapan, Toni pasti akan sangat khawatir. Akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan Khadijah ke terminal sebelum mencari David.


‘’Apakah Khadijah tidak merepotkan Mas Toni?’’ tanya Khadijah yang mengerti jika Toni dalam keadaan terdesak, dan tidak mungkin ia akan merepotkan Toni mala mini.


‘’Hahaha, santai saja. Ya sudah mari,’’ ajak Toni, ia membawa koper Khadijah dan memasukkan ke dalam mobilnya.


‘’Khadijah, nanti sampaikan salam kepada Abak dan Amak yah, dan maaf Mas tidak bisa mengantarkan kamu pulang,’’ ucap Toni dengan menyesal.


‘’Tenang saja, Mas. Sudah mengantarkan Khadijah sampai ke terminal, itu sudah cukup,’’ sahut Khadijah yang tidak mempermasalahkan itu semua


Menghabiskan waktu setidaknya sepuluh menit ke terminal, disana Toni melepaskan kepulangan Khadijah, ia masih berdiri disana sehingga bus yang membawa Khadijah mulai menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


‘Aku masih harus mencari keberadaan David sekarang, entah kemana menghilangnya tuh bocah! Sekalinya menghilang, pasti akan menggemparkan dan merepotkan seperti ini!’ kesal Toni.


Toni kembali masuk ke dalam mobil buggati mewahnya dan akan mencari keberadaan David, di beberapa club malam yang akan selalu menjadi langanan temannya ini, ketika ada masalah pasti David akan menghabiskan harinya di tempat berdosa itu.


[Halo, tampan. Apakah kamu kesepian? Mari, aku temani.]


[Halo, ganteng. Hal apa yang membuat kamu datang kesini? Apakah kamu butuh sentuhan panas dari wanita? Aku bisa menjadi partner ranjang yang pas.]


Ketika baru masuk saja, Toni sudah disajikan dengan berbagai hal yang selama ini ia tolak, tidak pernah Toni melangkah ke tempat haram itu, kecuali karena mencari dan membawa pulang temannya yang begitu doyan kesana.


Toni mengabaikan mereka semua, wanita penggoda yang terus membujuk Toni tiada henti. Namun nasib baik iman Toni sangat kuat, belum pernah ia melakukan hal yang dilarang, bahkan untuk meneguk alcohol saja ia tidak pernah.


‘’Sedang apa lo kesini, Ton? Tumben sekali,’’ ujar seorang pria yang merupakan rekan bisninya Toni.


‘’Hmm, benar. Tumben sekali kamu mau main ke tempat ini? Apakah kamu sedang putus cinta, oleh sebab itu kamu lampiaskan kesini? Akan menjadi tempat yang nyaman jika itu kenyataannya.’’ Sahut pria lainnya.


‘’Hahah, maaf. Itu bukan tipikal saya, sejak kapan saya ke tempat ini jika tidak ada yang saya cari,’’ ujar Toni.


‘’Kamu sedang mencari David? Sudah sangat lama saya tidak melihatnya ke tempat ini,’’ ujar pria itu.


‘’Jadi, David tidak ada disini?’’ tanya Toni heran, dirinya masih bertanya-tanya tentang keberadaan David yang seakan menghilang di telan bumi.


Toni kembali ke apartemennya karena jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam, tidak mungkin ia masih berkelana tanpa arah untuk mencari keberadaan David, ketika di periksa pun David masih belum aktif, dan masih sama seperti tadi, David hanya aktif ketika pagi, dimana mereka berpisah.


Sebuah pesan masuk dari Tuan Adit Baskoro.


[Apakah David sudah kembali ke apartment kamu, Ton? Karena kata Mbok Inah, David belum kembali.]


Jelas pesan yang diberikan oleh Tuan Adit Baskoro mampu membuat dahi Toni berkerut, karena ia tidak menyangka jika David memang tengah menghilang tanpa jejak.


‘’Belum, Om. Toni juga sudah mencari ke tempat klub malam yang sering di kunjungi David, namun semuanya nihil, masih belum ada tanda-tanda David dimanapun. Ponsel David pun juga masih belum aktif,’’


[Baiklah, Ton. Setidakhnya hati Om tidak terlalu cemas, ketika kamu mengatakan jika David tidak ada di tempar haram itu,]


[Mungkin saja David tengah menyendiri,]


Toni pun membenarkan ucapan Tuan Adit Baskoro, memang akhir-akhir ini David lebih banyak diam, dirinya seakan menjadi orang yang berbeda. Toni akhirnya memutuskan untuk tidur, tidak mungkin seharian penuh akan ia habisi untuk memikirkan David.


Keesokan paginya, di keluarga Baskoro, mereka semua kedatangan tamu yang paling menyebalkan, bahkan semua pekerja di rumah itu seakan enggan menyambut tamu sombong.

__ADS_1


‘’Dimana Baskoro, Pembantu?!’’ tanya salah seorang anggota keluarga besar Baskoro.


‘’Masih ada di kamarnya, Tuan. Apakah ada hal yang perlu di sampaikan? Jika memang ada, biar saya katakan nanti ketika Tuan sudah turun ke ruang makan,’’ balas Mbok Inah dengan sopan.


‘’Hei, kamu ini hanya seorang pembantu! Apa menurut kamu pantas berbicara seperti itu pada saya, hah! Mengaca sana!’’ ujar kasar pria yang datang bersama anaknya.


‘’Sekarang panggilkan Baskoro!’’ titahnya dengan sangat angkuh.


‘’Maaf, Tuan. Saya tidak bisa melakukan itu semua, karena aturan di rumah ini tidak bisa kami langgar,’’ balas Mbok Inah.


‘’Hei! Status kamu ini hanya seorang pembantu! Apakah kamu menyuruh saya untuk pergi memanggil pemilik rumah mewah ini, hah!’’


‘’Saya ini tamu terhormat di rumah ini, dan sementara kamu ini hanya seorang pembantu! Sekarang panggilkan Baskoro!’’ ujarnya yang masih dengan nada angkuh.


Mbok Inah masih belum bergeming dari tempatnya berdiri, hingga muncul orang yang tengah ditunggunya, yah Tuan Adit Baskoro yang sudah berpakaian rapi seperti biasanya. Melihat kedatangan tamu tang tak di undang membuat mood Tuan Adit Baskoro jadi rusak.


Bukan apa-apa, hanya saja kedatangan tamu yang tak di undang ini pasti ada maunya. Tuan Adit Baskoro melangkah mendekat dan meminta Mbok Inah kembali bekerja, tidak mungkin masalah pribadi keluarga besarnya malah diketahui oleh orang lain.


‘’Dimana David?!’’ tanya pria yang seumuran dengannya.


‘’Kenapa? Apakah ada perlu dengan putra saya? Jika memang iya, katakan sekarang, biar nanti saya yang mengatakan kepadanya. Jika tidak, maka jangan halangi jalan saya, saya masih ada rapat penting pagi ini!’’ jawab Tuan Adit Baskoro dengan santai.


‘’Baskoro, sudah saatnya David itu menikah. Apa kamu tidak ingin menimang cucu dari putra kandung mu?’’ tanya pria itu.


Ia masih setia membujuk Tuan Adit Baskoro untuk mau menikahi David dengan salah satu putri dari kolega bisnisnya. Namun Tuan Adit Baskoro masih akan memberikan jawaban yang sama, ia tidak akan memaksa putranya untuk menikah, jika niat dalam hati David belum muncul.


‘’Baskoro, pikirkan kamu ini akan menua. Tidak mungkin kamu akan menikmati sisa usia senja tanpa menimang cucu, pikirkanlah nasib David. Ia memerlukan seorang pasangan yang setara dengan derajat kita,’’ pria itu yang masih terus membujuk Tuan Adit Baskoro.


‘’Yah, saya pikir ucapan kamu memang ada benarnya. Namun saya tidak akan memaksa David untuk menikah, sementara ia masih belum mampu untuk membina rumah tangga. Jika hanya ingin mengatakan itu semua, saya rasa pembicaraan kita sudah selesai. Jika tidak ada yang ingin di bicarakan saya pergi dulu,’’ ucap Tuan Adit Baskoro yang berlalu begitu saja meninggalkan dua orang yang merupakan bagian keluarga besarnya.


‘’Ugh, sial! Kenapa sangat sulit untuk membujuk pria tua bangka itu!’’ kesalnya.


Mereka keluar dari rumah mewah bak istana milik Tuan Adit Baskoro dengan tangan kosong, memang sangat sulit untuk membujuk Tuan Adit Baskoro maupun David. Mereka kembali ke mobil buggati yang terparkir di depan sana dengan kesal dan meninggalkan rumah mewah itu.


Selamat pagi semuanya, semoga dalam keadaan sehat wal afiat.


Semoga pagi yang cerah ini, kita semua diberi keberkahan.


Terima kasih untuk yang sudah mampir, tinggalkan jejak komentar, terima kasih Semuanya

__ADS_1


__ADS_2