
Episode 4/ Ketika Rantang Khadijah Bertindak, David Berombak.
Sudah seminggu David di kampung, jauh dari hiruk pikuk semaknya perkotaan, kehidupan damai yang tidak pernah terbayangkan oleh David. Dirinya mulai merasakan ketentraman yang tidak pernah ia dapatkan selama berada di perkotaan, yah udara segar membuat pikirannya ikutan segar.
Pagi ini Abak dan Amak kembali mengajak David untuk ke sawah, siapa sangka David yang awalnya menolak mulai ketagihan untuk pergi ke persawahan, terlebih ketika sudah masuk waktu makan siang, hal yang paling di nantikan olehnya, datangnya Khadijah dengan membawa rantang makanan menjadi hal favorit David.
‘’Sudah terbiasa kah, Nak David?’’ tanya Amak yang datang dengan membawa sedikit cemilan.
‘’Eh, Mak. Iya, awalnya aja susah, eh ngomong-ngomong Khadijah nggak ikut Mak?’’ tanya David celingukan menanti kedatangan wanita yang telah membuatnya mampu bertahan.
‘’Oh, Khadijah. Datang kok Nak David, hanya saja tadi sedang memasak kolak ubi, nanti Nak David coba yah,’’ jawab Amak yang menghampiri Abak yang juga sudah mulai beristirahat di ujung pematang sawah.
David senyum-senyum sendiri ketika Khadijah mulai terlihat, dengan cadar cantiknya membuat David tergila-gila, sekalipun belum pernah melihat wajah di balik cadar itu. Khadijah menyapa David, hanya saja panggilannya itu di abaikan, hingga membuat Khadijah kesal.
‘’Mas, Mas David!’’ ujar Khadijah dengan sedikit keras.
‘’Eh, iya. Ada apa?’’ tanya David gelagapan.
‘’Ditanya malah ngelamun, nih Mas David makan dulu kolak ubinya, pasti belum pernah makan in ikan?’’ tebak Khadijah.
David hanya terkekeh, Khadijah meminta izin ke tempat Amak dan Abaknya untuk memberikan kolak ubi buatan sendiri. David hanya senyum-senyum sendiri ketika membayangkan hari-harinya akan sebahagia ini, bukan masalah hidup susahnya, melainkan masalah bahagia bersama Khadijah.
Dirinya teringat, bagaimana jika Khadijah tahu siapa dirinya sebenarnya, seorang anak konglomerat keluarga Baskoro. Apakah Khadijah akan menjauh dengan status mereka yang bagaikan langit dan bumi? Atau David lebih baik menyembunyikan identitas aslinya saja?
__ADS_1
Seharian David memikirkan hal yang akan ia lakukan untuk tetap dekat dengan Khadijah, bahkan rasa untuk kembali ke kota saja tidak terpikirkan olehnya, hanya Khadijah dan tentang Khadijah.
‘’Mas David kok belum tidur?’’ tanya Khadijah yang menghampirinya ketika duduk di teras rumah sederhana.
‘’Belum ngantuk, kamu sendiri kenapa masih belum tidur?’’ tanya balik David.
‘’Ini mau tidur sebenarnya, tapi ketika melihat pintunya kebuka, makanya Khadijah susul Masnya kesini. Apa ada masalah, Mas? Apa Mas dipecat oleh Mas Toni?’’ tanya Khadijah dengan polosnya.
David yang mendengarnya masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin kisah office boy itu masih berlanjut hingga saat ini, ketika semua gadis-gadis anak juragan di kampung itu tergila-gila kepada ketampanan yang ia miliki, eh malah Khadijah memanggilnya dengan sebutan office boy, padahal wajah tampannya ini mengalihkan semua pandangan para wanita, kecuali Khadijah.
Tapi bagus juga ketika Khadijah menganggap jika David hanya seorang office boy, dirinya bisa tetap berada disini, terlebih jika mengatakan akan menetap lebih lama dan mencari pekerjaan disini saja, hanya sebuah alibi untuk dekat dengan Khadijah.
‘’Menurut kamu, pekerjaan apa yang cocok untuk aku?’’ tanya David.
‘’Hmm, coba aku pikir dulu. Hmm, Mas nya mau kerja apa emangnya?’’ tanya balik Khadijah.
‘’Hmm, nanti coba Khadijah bantu pikirkan, sekarang Khadijah udah ngantuk banget, mau tidur soalnya besok ada kuliah pagi. Mas David juga istirahat gih, nggak baik terlalu banyak begadang,’’ saran dari Khadijah yang masuk ke dalam rumah sederhana itu yang ikut disusul oleh David.
‘’Eh, Khadijah. Apa aku boleh ngantar ke kampus kamu besok? Siapa tahu dapat inspirasi mau kerja apa disini, apa boleh?’’ tanya David.
Khadijah memberikan anggukan kepala, dirinya langsung masuk ke kamarnya, begitu juga dengan David, dirinya kembali ke kamarnya juga, dengan perasaan berbunga-bunga malah membuat David tidak tertidur, bayangannya akan mengantarkan Khadijah sudah berhasil membuatnya menggila.
Sementara itu di luar rumah sederhana, Toni tengah mengawasi David dan melihat sendiri tentang perubahan temannya itu. Selama satu minggu ini Ia menginap di masjid kampung sebelah, hanya untuk bisa terus memastikan David berubah atau tidak.
__ADS_1
Dirinya sangat kaget dengan perubahan yang terjadi pada David, benar-benar tidak menyangka jika seorang anak konglomerat yang menghabiskan sisa hidupnya dengan kemewahan yang berujung keterlenaan, bisa berubah menjadi sosok sederhana dalam waktu satu minggu.
Toni memperhatikan sendiri perubahan temannya itu dari kejauhan, terlebih ketika beberapa hari yang lalu dirinya melihat David tengah bekerja sebagai kuli bangunan, yang pasti kerjanya sulit tapi upah juga sulit.
Dirinya masih tidak menyangka dengan perubahan pada David, setiap hari ia kabari tentang perubahan David pada Tuan Adit Baskoro, mendengar kabar itu, orang tua mana yang tidak akan bahagia. Yah perubahan yang signifikan itu tidak terjadi jika David bertemu dengan Khadijah.
[Bagus, Toni. Tolong Om awasi David yah, Om yakin, David pasti bisa berubah. Oh iya, kata kamu ada seorang gadis di sekitar David, gadis yang telah berhasil melakukan banyak perubahan ini pada David,]
‘’Iya, Om. Namanya Khadijah,’’
[Khadijah, nama yang indah. Om ingin sekali bertemu dengan gadis yang bernama Khadijah itu, tapi sayangnya Om tidak bisa bepergian jauh,]
‘’Tenanglah, Om. Sepertinya Om memang tidak perlu datang kesini untuk bertemu dengan Khadijah, melainkan Khadijah sendiri yang akan datang ke tempat Om nantinya. Insya Allah,’’
[Maksud kamu, Toni? Apakah David menyukai gadis yang bernama Khadijah itu?]
‘’Hmm, begitulah Om. Semenjak bertemu dengan Khadijah, sikap David semakin berubah, mungkin efek ketika dia memiliki perasaan lebih pada Khadijah, tapi entahlah. Om tahu sendiri kan, David itu orangnya bagaimana, semua wanita dia sikat,’’
[Hmm, kamu benar. Tapi Om harap wanita yang bernama Khadijah ini mampu menaklukan David yang playboy itu.]
Siapa sangka pembicaraan antara Tuan Adit Baskoro dengan Toni ada yang menguping, yah siapa lagi jika bukan kerabatnya. Terlebih ketika nenek pertama mengetahui tentang keadaan David menjadi murka.
tidak mungkin keluarga mereka jatuh cinta dengan seorang gadis kampung, apalagi hingga mereka menikah, itu hanya akan memalukan nama baik keluarga Baskoro.
__ADS_1
tidak ada yang namanya seorang terlahir dengan kekayaan menikah dengan seorang yang terlahir dengan kemiskinan.
‘’Cepat temukan David, jangan sampai David menikahi gadis kampungan itu!’’