
Episode 12/ Cleo, Sang Dokter Tampan.
Di sepanjang perjalanan, Cleo terlihat sangat ramah kepada Amak dan Abak, jelas hal itu akan menjadi poin tambahan untuk menjadi menantu mereka, David sendiri belum bisa untuk sedekat itu, mungkin faktor dirinya masih menjadi orang asing, namun kedekatan dan keakraban itulah yang membuat hatinya menjadi mendidih.
Hingga di depan pintu, Cleo masih memberikan sentilan lucu yang berhasil membuat Amak dan Abak tertawa ngakak, hal itu membuat David seakan menjadi nyamuk saja. Ingin pergi, namun tidak mungkin membiarkan Cleo dan Khadijah berdekatan, terlebih ucapan Cleo yang mengatakan jika ada hal penting yang ingin dikatakan olehnya, kelas membuat jiwa penasaran David memuncak, jangan katakan jika Cleo akan melamar Khadijah dan mereka akan hidup bahagia dan David hidup menderita.
Entahlah, kenapa mendadak pemikiran itu yang justru datang, setidaknya David tidak akan memberikan celah untuk Cleo dan Khadijah berduaan.
"Khadijah," panggil Amak.
Satu kali panggilan Khadijah datang menghampiri mereka, terlihat jika Khadijah sudah memakai niqab panjangnya.
Khadijah yang mendapatkan tamu penting, menjadi girang bukan main, kedatangan Cleo ke rumahnya jelas membuat Khadijah sangat senang, namun tidak begitu dengan David, dirinya malah memberikan wajah tidak suka akan kehadiran Cleo.
Namun apa boleh buat, ini bukan rumahannya, toh David juga hidup menopang disini. Dirinya hanya bisa kesal di dalam hati tanpa bisa berbuat apa, yah seakan dirinya bagaikan nyamuk di antara kehangatan orang rumah menyambut kedatangan Cleo.
"Assalamualaikum, Khadijah," sapa Cleo dengan senyuman ramah, jelas senyuman itu membuat David hanya bisa berteriak di dalam batinnya.
"Waalaikum salam, Cleo. Kamu kok tumben baru datang udah main kesini?" sahut Khadijah dengan ramah.
'Khadijah, apaan sih! Kenapa dia malah bersikap sangat ramah kepada pria ini!" kesal David dalam hatinya.
"Oh yah, karena kebetulan Amak mengajak mampir dan ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu setelah ini," tatapan mata Cleo begitu lekat dalam menatap manik indah mata Khadijah.
Amak dan Abak yang kebetulan sudah terlebih masuk untuk membersihkan diri sebelum mereka semua makan malam bersama. David semakin curiga dengan hal apa yang akan dikatakan oleh Cleo kepada Khadijah, tidak mungkin jika malam ini akan menjadi saksi bisu acara lamaran Cleo, tidak, itu tidak bisa untuk dibiarkan terjadi.
__ADS_1
Tatapan mata Cleo masih belum lepas untuk menatap Khadijah, yah gadis berniqab yang tengah menyiapkan makanan di atas meja, terselip sebuah senyuman di wajah tampan Cleo.
David semakin geram saja, namun itu semua terhenti seketika ketika David kembali mendapatkan panggilan, dering ponsel yang sudah dipastikan atas nama Toni.
'Kenapa Toni selalu menelepon di saat yang tidak baik ini sih!' kesal David, dirinya melangkah keluar rumah sederhana itu, terlebih dia masih belum yakin bisa menceritakan semua hal tentang identitas aslinya kepada keluarga Khadijah.
Dirasa sudah aman, David segera mengangkat panggilan telepon itu, dan benar saja Toni sudah bagaikan seorang ibu yang tengah memarahi anaknya.
[vid, Lo dimana sih! Kesal gue loh, sekarang katakan Lo ada dimana!] Toni.
Nada bicara Toni seakan ingin menerkam David habis-habisan, tidak bisa dipungkiri jika orang pertama yang akan menolong Ketika David kesusahan memang Toni.
Namun dalam kondisi seperti ini, David seakan masih enggan untuk jujur mengatakan tentang keberadaannya, entah kenapa David seakan berubah menjadi pribadi yang lebih tertutup.
"Sorry, Ton. Gue saat ini tengah menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan, gue butuh ketenangan Ton. Namun lo tenang aja, gue nggak ngelakuin hal yang aneh kok, gue cuman butuh sedikit ketenangan,"
"Ya sudah jika begitu, gue tutup dulu yah. Dan gue minta tolong sama lo, jangan bilang sama bokap dan keluarga besar gue dulu," pinta David.
Panggilan terputus begitu saja, Toni yang berada di ujung negeri sana, mendadak cemas ketika David mengatakan hal itu, dirinya seakan semakin tertutup.
Namun Toni juga tidak ingin ikut campur dalam urusan pribadi David, setidaknya temannya ini tidak melakukan hal yang di luar batas, itu sudah cukup dan mungkin saja David akan segera berubah.
Namun apa mungkin dirinya akan bisa bertahan di luar sana, tanpa sepeserpun yang di tangannya, karena yang diketahui oleh Toni, semua akses kekayaan David ditahan oleh Tuan Adit Baskoro.
"Ahk, sudahlah. Toh dia juga sudah dewasa, sudah seharusnya David menyelesaikan masalahnya sendiri," gumam Tono yang menyeruput habis kopi hitamnya, ia sedikit terganggu beberapa hari ini, semenjak kehilangan David, membuat dia menjadi cemas tingkat akut.
__ADS_1
Namun ketika David sendiri yang mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan tidak akan melakukan hal di luar batas, hati Toni sedikit lega.
"Lebih baik aku kerjakan berapa berkas yang sempat aku tunda, dan semoga lo baik-baik saja disana, Vid."
Toni segera mungkin menyingkirkan rasa cemasnya kepala David dan memulai mengerjakan tumpukan berkas yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Sementara itu, di tempat lainnya. David masih berdiri di teras rumah, pikirannya seakan buntu, apa sebaiknya ia kembali ke kota dan menceritakan semua kegundahan hatinya kepada Toni dan tentang keinginan David yang ingin menikah dengan Khadijah.
'Apa sebaiknya itu yang aku lakukan? Namun kenapa hati aku seakan bimbang saja,' batin David.
Dirinya menghela nafas kasar, dan kembali tertegun lama di teras rumah sederhana itu, hingga tangan menepuk pundaknya.
"Abak," ucap David yang sedikit kaget.
"Kamu kenapa masih ada diluar Vid? Buruan masuk gih, kita makan malam bersama di dalam. Khadijah sudah masak menu yang membuat kamu ketagihan loh," tawar Abak.
David mengangguk, namun ia meminta untuk Abak masuk terlebih dahulu karena dirinya ingin buang air kecil, yah sekalipun itu semua hanya alasan, David masih harus memikirkan tentang hidupnya, apakah dia akan tetap tinggal di desa atau kembali ke kota.
"Sudahlah, lebih baik aku sekarang masuk ke dalam. Untuk apa juga dipikirkan hal yang belum pasti, namun setidaknya untuk saat ini aku masih ada uang, dan besoknya aku akan mencari pekerjaan saja disini dan sepertinya pekerjaan itu cocok untukku," gumam David, dirinya kembali melangkah masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan sederhana.
Hanya saja melihat Cleo duduk bersebelahan dengan Khadijah, membuat cemburu kembali melandanya.
Abak kembali memanggil David dan meminta nya untuk duduk di sampingnya. Dirinya hanya manggut setuju, dengan duduk berhadapan antara Khadijah dan Cleo, membuat jiwa David seakan meronta ronta saking cemburunya, padahal tidak ada status apapun yang mengikat dirinya dengan Khadijah, namun kenapa David seakan tidak ikhlas jika ada pria lain yang dekat dengan Khadijah.
'Sepertinya aku memang harus berani, tidak bisa aku biarkan dokter ini kegatelan dengan Khadijah!' batin David yang berniat 45 untuk memiliki pekerjaan tetap, dirinya akan bangun pagi dan pergi keluar untuk mencari pekerjaan, jelas bukan David yang dikenal selama ini.
__ADS_1