
Episode 6/ Ketika David Mencari Patahan Tulang Rusuknya.
David melamun seorang diri di teras rumah sederhana itu, dirinya kembali teringat dengan kedua orang tuanya, entahlah rasa rindu melanda ketika melihat kebersamaan yang terjadi di keluarga Khadijah, dirinya merasa iri dengan semua yang terjadi.
‘Ternyata memang benar, kekayaan tidak menjamin yang namanya kebahagiaan. Dan sekarang aku mengerti, jika kebahagian akan didapatkan jika hati itu ikhlas, sekalipun berada di posisi paling rendah sekalipun, namun … yang namanya kekayaan tidak menjamin,’ batin David.
Toni yang terbangun melihat David malah melamun di luar sana, jiwa penasarannya seketika muncul, dirinya mendekat dan menepuk Pundak David.
‘’Lo kenapa, Vid?’’ tanya Toni yang duduk di sebelahnya.
‘’Entahlah, Ton. Gue sendiri tidak tahu dengan perasaan apa yang telah terjadi,’’ gumam David.
‘’Apa lo ingin kembali ke kota besok?’’ tanya Toni, dirinya juga merasa David sudah terlalu lama berada disini, dirinya pasti merindukan rumahnya.
‘’Kembali ke kota?’’ David malah menerawang ke langit.
Apa memang ini yang harus ia lakukan, dirinya malah merasa hampa. Akhirnya esok paginya, mereka telah bersiap kembali ke kota, David pamit kepada Emak dan Abak yang telah mau menampung ketika berada disini.
‘’Jangan berbicara seperti itu, Nak David. Kapanpun kamu kembali, pasti pintu sederhana ini akan menyambut kedatangan Nak David, dan yang paling terpenting Nak David selamat sampai tujuan. Jika ada waktu senggang berkunjunglah kembali,’’ pinta Emak yang sudah menganggap David selayaknya anak kandungnya.
‘’Iya, Emak. David pasti akan mampir kembali,’’ ucap David yang menoleh kepada Khadijah yang kebetulan tidak ada perkuliahan.
‘’Khadijah, aku pamit dulu. Terima kasih atas semua bantuanmu selama aku berada disini, dan terima kasih juga untuk masakan kamu. Oh yah, nanti jika ada waktu senggang aku pasti akan kembali berkunjung,’’ salam perpisahan yang diberikan oleh David.
‘’Baik, Mas David. Aku akan selalu menunggu kedatanganmu kembali dan berhati-hatilah di perjalanan,’’ ucap Khadijah melambaikan tangannya sebagai bukti perpisahan mereka.
David dan Toni sudah bergerak kembali ke perkotaan, di sepanjang perjalanan, Toni memperhatikan jika David terus murung, entah apa yang terjadi. Dirinya juga tidak ingin bertanya, karena mereka berdua sudah berteman begitu lama, Toni tahu jika waktu yang tepat pasti David sendiri yang akan mengatakan tentang semua masalah yang terjadi.
Sesampainya di depan gerbang rumah David yang bak istana, Toni langsung pamit karena dirinya masih memiliki urusan kantor. David melambaikan tangan dan melangkah masuk ke dalam, yang disambut suka cita oleh Mbok Inah, sudah sangat lama David menghilang dan akhirnya kembali.
‘’Ya ampun, Den. Den David kemana saja? Mbok Inah sampai sedih ketika mendengar Den David yang tidak kembali,’’ ucap Mbok Inah memeluk erat tubuh kekar David yang lebih tinggi darinya.
‘’Maaf, Mbok. Apakah Papa tidak ada di rumah?’’ tanya David ketika mereka melangkah masuk, dan terlihat suasana begitu sepi.
‘’Tuan sedang ada rapat katanya di kantor, dan malam ini juga ada jamuan makan malam. Nasib baik Den David telah kembali, karena jamuan makan malam ini akan terjadi disini, bersama dengan kolega bisnis Tuan Adit Baskoro dan keluarga besar,’’ ucap Mbok Inah yang izin pamit ke dapur, dirinya akan menyiapkan hidangan makan malam untuk para tamu.
David melangkah menuju kamarnya dengan rasa penasaran, tumben sekali ada jamuan besar-besaran yang akan terjadi. Dirinya sedikit curiga dengan jamuan makan malam nantinya, karena tidak ada kerjaan, dirinya berniat untuk mengunjungi perusahaan Toni.
Sebelum pergi kebetulan disana dirinya bertemu kembali dengan papanya yang baru kembali, suasana canggung malah terjadi, anak dan bapak ini memang sedang tidak akur. Mereka berdua hanya gengsi untuk mengungkapkan rasa rindu, padahal sudah sangat lama tidak bertemu.
David melangkah berlalu begitu saja, dirinya hendak keluar rumah tanpa menyapa Tuan Adit Baskoro, hanya saja langkah David langsung di cegah oleh papanya, dirinya mengajak David untuk duduk di ruang tamu, dengan sangat malas David setuju, dirinya yakin akan kembali mendapatkan omelan akan kepergian tanpa sebab.
‘’Mbok,’’ panggil Tuan Adit Baskoro.
__ADS_1
David masih menunduk, hingga datang Mbok Inah. Tuan Adit Baskoro meminta agar dibuatkan minuman untuk mereka berdua, Mbok Inah mengangguk dan kembali ke dapur.
‘’David,’’ panggil Tuan Adit Baskoro.
‘’Iya, David tahu jika David salah karena tidak mengatakan kemana David tiga minggu ini!’’ kata David, dirinya sedang malas berdebat dengan papanya sekarang.
‘’Papa tidak mempermasalahkan mau kamu berada dimana selama tiga minggu ini, hanya saja ada hal penting lainnya yang ingin Papa bicarakan dengan kamu, dan ini menyangkut masa depan kamu, David!’’ ujar Tuan Adit Baskoro.
David memikirkan apa yang dimaksud papanya dengan MASA DEPAN, jangan katakan jika dirinya akan dipecat sungguhan dan semua hak waris yang seharusnya jatuh ke tangannya akan hilang begitu saja. Namun sayangnya ketika David ingin menanyakan lebih jelas apa maksud dari sang Papa, sudah ada tamu yang tak di undang menghampiri mereka.
Keluarga nenek pertama yang datang berkunjung, mereka menyambut kepulangan David dengan suka cita, dirinya seakan aneh dengan perlakuan keluarga besarnya sendiri, seakan ada udang dibalik batu.
‘’Bagaimana, Baskoro? Apakah semuanya sudah kamu katakan kepada David tentang perjamuan penting malam ini?’’ tanya salah seorang keluarga besar mereka.
David jadi teringat dengan ucapan Mbok Inah yang pernah menyinggung tentang jamuan makan malam yang akan terjadi di kediamannya, jangan bilang jika nanti malam akan ada acara lamaran seperti satu tahun yang lalu.
Memang semua orang berlomba-lomba untuk bisa menjadi istri dari seorang David yang merupakan ahli waris satu-satunya, sayangnya David menolak dijodohkan dengan siapapun, baginya semua wanita layaknya mainan, yang bisa ia buang begitu saja ketika sudah tidak mengasyikkan lagi. Oleh sebab itulah dirinya lebih banyak menghabiskan hari di klub malam, bertemu dengan wanita cantik hingga larut malam.
David sendiri juga tidak tertarik membina rumah tangga, dirinya berpikir kekayaannya sudah cukup membeli yang namanya kebahagian, semua wanita cantik datang mendekat tanpa perlu ia cari.
‘’Sebentar, maksudnya apa ini, Oma? Apa yang telah terjadi? Dan perjamuan makan malam apa?’’ tanya David, dirinya memang selalu berada di situasi rumit ketika berhadapan dengan keluarga besarnya.
‘’Bagaimana kamu ini Baskoro! Kenapa kamu belum mengatakan kepada David jika mala mini ada jamuan makan malam dengan kolega bisnis kamu sekaligus ajang pencarian calon istri untuk David dari salah satu kolega bisnis kamu!’’ geramnya kepada Baskoro.
David menatap kepergian Papanya, dia sudah yakin jika malam ini akan menjadi malam yang sangat menyebalkan untuk David, dirinya memang tidak tertarik dengan pernikahan, namun itu semua sebelum bertemu dengan Khadijah, seorang gadis desa yang berhasil memporak-porandakan hatinya dan berhasil membuat David jatuh cinta.
Dirinya melenggang pergi karena memang berniat akan berkunjung ke perusahaan Toni dan akan meminta saran darinya. Dia tidak memperdulikan keluarga besarnya yang terus mengatakan jika David harus menghadiri jamuan makan malam, bahkan mereka tidak kenal lelah untuk mengejar David yang sudah masuk ke dalam mobil yang sudah tidak disita oleh papanya.
‘’Sudahlah, Oma. Jangan paksa David untuk melakukan hal yang tidak David sukai, dan terlebih Papa sendiri tidak mempermasalahkan jika David tidak menikah, lantas kenapa malah kalian yang terus berniat memaksa agar David cepat menikah?’’ tanya David yang kesal karena mobilnya dihadang oleh tiga orang anggota kelompoknya.
‘’Ayolah, David. Usia kamu ini sudah sangat matang untuk memiliki pasangan hidup, kamu ini tampan dan kaya raya, sudah pasti semua gadis-gadis cantik akan mendekat tanpa kamu minta sekalipun. Sekarang katakan kriteria gadis yang ingin kamu nikahi. Biar kami bisa mencarikan nya untuk kamu,’’ ucap ketiga anggota keluarga besarnya yang masih terus memaksa.
David menghela nafas kasar, dirinya paling benci dengan hal yang dipaksa, dirinya mengambil sebuah lembaran kertas dan menulis sesuatu di kertas itu.
‘’Oma mau tahu kriteria idaman yang akan David peristri?’’ tanya David yang langsung mendapatkan anggukan.
David menyerahkan lembaran kertas itu, dirinya langsung menancapkan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah mewahnya. Dan betapa kagetnya ketika ketiga anggota keluarga besarnya membaca hal yang telah ditulis oleh David.
[KHADIJAH!]
Satu tulisan yang berhasil membuat jiwa penasaran dan murka mereka bermunculan, siapa gadis yang bernama Khadijah ini. Dari namanya saja jelas bukan dari kalangan elite seperti mereka, ini semua tidak bisa dibiarkan. David tidak boleh menikahi gadis yang tidak jelas asal usulnya, terlebih seorang wanita dari kelas bawah, tidak ada ceritanya jika orang kaya akan menikahi gadis miskin.
Mereka bertiga akan melaporkan semua kejadian ini ke nenek pertama, sementara David sudah dalam perjalanan menuju ke perusahaan Toni, di sepanjang perjalanan, entah kenapa hatinya terus memikirkan Khadijah.
__ADS_1
‘’Kenapa juga aku harus menuliskan nama itu di kertas?’’ pikir David.
Dirinya melajukan mobilnya bergerak memasuki area parkiran khusus di perusahaan Toni, ketika hendak bertemu dengan Toni, orang kantor mengatakan jika Toni masih ada rapat, dan David diminta untuk menunggu di ruangan tunggu saja.
Memang semua orang kantor tidak mengenali David, karena ini pertama kalinya ia berkunjung ke perusahaan cabang terbesar Toni. Toni memang gambaran pria sukses, dirinya sangat tekun dan ulet hingga akhirnya kerja kerasnya membuahkan hasil, sementara David yang dari kecil sudah dimanjakan oleh Kekayaaan, membuatnya terlena.
Dua orang yang berbeda dari cerita latar belakang kehidupan dan kepribadian, namun masih berteman baik hingga saat ini. David memilih untuk menunggu di ruang tunggu, dirinya memang akan selalu bercerita tentang semua hal yang terjadi kepada Toni yang sekaligus menjadi tempat terbaiknya untuk curhat.
Satu jam dirinya menunggu kedatangan Toni, hingga orang yang ditunggu akhirnya muncul. Toni yang baru saja selesai dengan rapatnya meminta agar David ikut ke ruang pribadinya, mereka menaiki lift tanpa berkata apapun, dan Toni tidak akan memaksa temannya untuk mengatakan hal apa yang membuatnya jauh-jauh datang ke perusahaannya.
‘’Sepertinya kamu sudah sangat sukses, Ton,’’ puji David yang kagum dengan interior mewah yang menyelimuti ruangan pribadi Toni.
‘’Hahah, kamu bisa saja. Oh yah, silahkan duduk. Saya akan meminta mereka menyiapkan menu makan siang untuk kita,’’ ucap Toni yang melangkah ke meja kerjanya, dirinya sangat sibuk setiap hari, sebagai pengusaha sukses, dirinya tidak akan mengecewakan pelanggan.
David yang melihat kegigihan Toni menjadi insecure, dirinya merasa tidak cocok berteman dengan Toni yang sudah menjadi orang sukses secara karir, semua orang telah mengenal Toni. Ketika David hendak meninggalkan ruangan itu, Toni mencegah.
‘’Kamu mau kemana, Vid? Bukannya menu makan siang kita belum datang? Tunggulah sebentar,’’ saran Toni.
David kembali duduk, pintu diketuk dan terlihat orang kantor yang datang dengan berbagai menu makanan menggoda. Toni menghentikan pekerjaannya karena memang sudah waktunya untuk makan siang, dirinya sedikit khawatir kepada temannya, semenjak kepulangan dari desanya, David lebih banyak memenung tanpa sebab.
‘’Terima kasih, setelah ini kalian semua boleh istirahat,’’ ucap Toni dengan sangat ramah kepada orang kantornya.
‘’Baik, Pak. Terima kasih,’’ balas orang kantor Toni, dirinya melangkah keluar dan meninggalkan David dan Toni.
Toni mengajak David untuk mencicipi menu makanan khusus perusahaanya, mereka berbicara singkat hingga akhirnya David sendiri yang akan memulai pembicaraan. Toni akan mendengarkan semua ucapan David, dirinya akan menjadi pendengar yang baik dan akan memberikan saran yang baik pula untuk kebaikan David.
‘’Ton, apa menurut lo gue ini sudah pas untuk membina rumah tangga?’’ tanya David yang tengah menikmati menu makan siang.
Toni yang mendengarnya begitu kaget, dirinya malah tersendat ketika mendengar ucapan David yang mengarah kepada jenjang pernikahan, sangat sulit di percaya, jika seorang playboy tingkat akut rela datang jauh-jauh hanya untuk membicarakan pernikahan yang jelas rasanya terlalu aneh untuk dilakukan David.
‘’Tunggu, sebentar. Lo ngomong pernikahan sama gue? Lo nggak sedang kesambet kan?’’ tanya Toni, dirinya sangat bahagia ketika rekannya ini mulai fokus kepada wanita dan tidak lagi menjadikan wanita itu layaknya mainan yang bisa dirinya buang begitu saja.
‘’Lo gimana sih, temannya lagi butuh saran, lo malah nggak percayaan begitu! Gue tahu dulunya ini gue hanya menganggap wanita itu seperti barang, habis manis langsung gue buang. Tapi lo tahu nggak, barusan di rumah gue, keluarga besar gue malah ngadain acara besar-besaran dan meminta gue memilih salah seorang putri dari kolega bisnis untuk dijadikan istri, sudah jelas-jelas gue ini menolak dengan kata perjodohan, tapi mereka semua masih tetap memaksa!’’ kesal David.
‘’Lah itu bagus kali, lo kan tampan, wajah lo ini menjual. Terlebih lo juga yang akan mewarisi harta kekayaan keluarga baskoro, pasti lah semua wanita cantik dan seksi tanpa lo minta pun akan mau, dan gue jamin, rumah lo yang megah itu, akan penuh dengan lautan wanita cantik, gue bisa pastikan prediksi gue ini benar!’’ ucap Toni yang kembali melahap makanannya.
‘’Karena itu gue kesini, Ton. Gue ingin minta saran dari lo, apa yang harus gue lakukan. Lo sendiri yang tahu kisah hidup gue,’’ David berkata dengan memelas.
‘’Gampang saja, Vid. Ikuti saja acara jamuan makan malam itu, dan siapa tahukan lo memang bertemu dengan pujaan hati lo, layaknya cerita dongeng,’’ sahut Toni.
‘’Menurut lo seperti itukah? Akankah putri yang selama ini gue cari akan datang malam ini?’’ ujar David menerawang.
‘’Hmm, gue jamin. Pasti putri yang lo impikan akan datang, tergantung lo yang ingin putri dari kerajaan mana,’’ timpal Toni yang masih sibuk dengan makanannya, urusan kantor benar-benar membuatnya kelaparan.
__ADS_1
‘’GUE INGIN PUTRI LAYAKNYA CINDERELLA, APAKAH BISA GUE TEMUKAN MALAM INI? JIKA BENAR KEHIDUPAN GUE SUDAH LAYAK SEPERTI CERITA DONGENG,’’