Bukan Saingan Pelakor

Bukan Saingan Pelakor
Episode 2/ Aku Bukan Office Boy, Aku Anak Konglomerat Baskoro!


__ADS_3

Episode 2/ Aku Bukan Office Boy, Aku Anak Konglomerat Baskoro.


Kejadian itu sangat memalukan bagi David, satu kampung memperhatikannya, hilang sudah ketenaran David ketika tubuhnya kotor akibat jatuh ke sawah berlumpur. Temannya mengajak David untuk mandi di salah satu pancuran, bukan mandi sih tapi membersihkan tubuh dari lumpur yang menempel.


‘’Sudahlah, Vid. Anggap aja ini sebagai tanda pengenal lo disini, kan gue nggak perlu untuk memperkenalkan diri lo di kampung gue,’’ saran temannya dengan menahan tawa.


‘’Tawa aja, Ton. Nggak masalah kok, ketawa saja sampai lemas!’’ kesal David.


‘’Halah, gitu aja ngambek, umur udah tua tapi kelakuan kayak bocah!’’ timpal Toni.


Setelah selesai membersihkan diri, Toni mengajak David untuk berkeliling kampungnya, yah suasana yang bau untuk seorang David. Mumpung dirinya ada di kampung, Toni ingin mengajarkan arti kehidupan pada David yang hidupnya selalu bergelimangan harta.


Yah, salah satu mandad yang di titipkan oleh Tuan Adit Baskoro, dirinya tahu jika sang putra tidak akan pergi kemanapun kecuali ke tempat Toni, sebuah rencana sempurna untuk David. Dirinya memberikan kabar pada Tuan Adit Baskoro jika putra semata wayangnya terjatuh ke sawah dan menjadi bahan tertawaan kampungnya.


[Biarkan saja anak itu menderita di tempat itu, Ton. Biar dia tahu bagaimana roda kehidupan, pesan om hanya satu, pastikan dia tidak kembali ke Jakarta dan biarkan David berbaur dengan warga.]


Toni memang tidak akan lama di kampungnya, hanya satu hari dia memiliki jatah cuti, perusahaan Toni sedang dalam tahap tumbuh, banyak investor asing yang tertarik bekerja sama dengan perusahaannya. Karena Toni juga tidak menyukai sifat glamour dan hidup foya-foya yang dilakukan oleh David, oleh sebab itu dirinya setuju dengan permintaan Tuan Adit Baskoro.


David dan Toni terus melangkah, hingga dirinya tiba di rumah sederhana, dengan papan dan halaman masih berlapis tanah, sepatu mahal David saja sudah tidak terlihat seperti sepatu mahal sekarang. Yah, tapi mau bagaimana lagi, jika dia pulang ke Jakarta juga percuma, pasti Tuan Adit Baskoro tidak akan mengembalikan semua barang yang telah ia sita.


‘Nasib, nasib. Kenapa aku harus berada di tempat kumuh ini?’ batin David masih bergejolak untuk kembali ke Jakarta, tapi tidak bisa.


Toni mengetuk pintu sederhana itu, hingga terdengar sahutan dari dalam dan seorang wanita muda membuka pintu. Betapa kagetnya David, wanita yang telah berhasil membuatnya terpesona sekalipun wanita itu menggunakan niqab, kecantikan dari mata indah lah yang telah membuat David jatuh ke dalam sawah berlumpur sekaligus menjadi bahan candaan warga kampung.

__ADS_1


‘’Silahkan masuk, Mas. Sebentar Khadijah buatkan teh hangat dulu,’’ ujarnya kembali ke dapur.


Toni berniat mengajak David untuk masuk ke dalam, tapi ketika dilihat dirinya tengah termenung, entah apa yang ada di pikiran David, tapi Toni paham jika teman playboy nya ini mulai tertarik dengan Khadijah, dan mungkin ketertarikan David pada Khadijah bisa membuat perubahan pada pria yang suka foya-foya dan ke club ini.


‘’Vid, awas yah jika lo suka sama Khadijah! Dia itu masih kuliah, dan lo ini udah terlalu tua untuk dia yang masih gadis,’’ bisik Toni yang lantas melenggang masuk ke dalam rumah papan itu.


David yang mendengarnya pun kesal, bisa-bisanya temannya ini malah mengejek wajah tampan yang telah berhasil membuat semua wanita bertekuk lutut, dirinya lantas masuk dan duduk di kursi yang belum pernah ia duduki sebelumnya, sebuah kursi kayu. David berkali-kali mengerjapkan matanya ketika melihat seisi bagian rumah itu.


Tidak ada barang mewah, lantai pun hanya menggunakan tikar, ruangan yang sangat kecil, kamarnya saja jauh dua kali lipat lebih besar dari tempat ini. Ketika Khadijah datang, Toni segera menarik tangan David untuk segera duduk.


‘’Ini, Mas. Oh yah, Khadijah pamit dulu, mau ke sawah, mau membantu Mak sama Abak dulu. Kalo ada keperluan Mas telpon saja Khadijah,’’ ujarnya segera mengambil topi sawah dan membawa rantang makanan.


Toni yang melirik pada temannya ini, semakin yakin jika David bisa berubah dengan bantuan Khadijah, dirinya juga sudah merencanakan sesuatu untuk membuat David ini insaf dari dunia malamnya.


‘’Hmm,’’ balas David yang menikmati setiap seduhan teh hangat buatan Khadijah.


‘’Seperti gue harus kembali ke Jakarta besok pagi, gue harus ke Amerika soalnya. Dan lo sendiri bagaimana?’’ pancing Toni.


‘’Lah, mendadak banget. Katanya lo ini mau liburan ke kampung, tapi nggak masalah juga sih perusahaan lo kan lagi naik daunnya. Gue masih bingung lah, nggak mungkin gue pulang ke rumah gue, lo sendiri tahu kan!’’ ujarnya dengan lesu.


‘’Bagaimana jika lo seminggu tinggal di kampung gue aja, setelah gue kembali dari Amerika, lo bisa menginap di Apartemen baru gue, gimana?’’ saran Toni.


‘’Hmm, bolehlah. Lo juga ngapain pake pindah apartemen, jika lo masih tinggal di sana kan, gue bisa nginap disana, benar-benar teman yang nggak ada akhlak!’’

__ADS_1


Malam telah mulai datang, Toni mengabari Tuan Adit Baskoro, jika untuk satu minggu David akan tinggal di kampungnya. Tuan Adit Baskoro sangat senang dengan rencana yang telah disusun oleh Toni.


[Bagus, Ton. Kapan perlu buat dia tinggal di kampung itu selama satu bulan.]


David di ajak ke sebuah kamar super kecil, dirinya merasa tinggal di kamar pembantu, kamar Bi Inah saja jauh lebih besar dari tempat ini. Toni mengatakan jika dirinya ada acara yang harus di urus di kampung, karena David tidak mau ikut, dirinya sangat malu karena kejadian tadi siang.


Jadi David harus seorang diri di dalam kamar kecil ini, dirinya memperhatikan sekeliling, tempat kumuh di mata David, sebuah keterpaksaan untuk tinggal disini, tidak ada pilihan lain.


Terdengar ketukan pintu kamarnya, dengan malas David membukakan pintu, terlihat seorang wanita bercadar, yah Khadijah. Dirinya mencari Toni, dan David mengatakan jika Toni tengah keluar. Setelah mengetahui info itu, Khadijah izin pamit, karena dirinya juga akan pergi ke suatu tempat.


David yang penasaran dengan Khadijah, dirinya ikut dan diberikan izin, mereka melangkah bersama, menelusuri jalan setapak, yang dikelilingi persawahan.


‘Jangan sampai gue jatuh ke lubang yang sama, bisa hancur reputasi gue!’ batin David.


Mereka pun mulai bercakap-cakap, entah siapa yang memulai, tapi Khadijah sangat penasaran dengan David, dirinya mulai mempertanyakan hubungannya dengan Toni. Padahal David ingin pamer pada Khadijah, jika dirinya ini keturunan konglomerat, mana mungkin Khadijah percaya dengan ucapannya, terlebih kartu, jam mahal semuanya telah disita oleh bokapnya.


‘’Kenapa diam, Mas David? Ohh, atau jangan-jangan Mas David ini OB di perusahaan Mas Toni?’’ tebak Khadijah.


‘Wah, sudah gila nih bocah. Wajah tampan seperti ini dipanggil OB di perusahaan Toni, sudah pasti kalah jauh lah!’ batin David.


‘’Tapi Mas Toni emang baik sih, setiap pegawainya pasti di ajak kesini, oh yah Mas David, kata Mas Toni gaji OB di Kota itu besar yah? Lebih besar dari gaji guru?’’ tanya Khadijah.


David terpaksa memberikan anggukan, belum tahu saja Khadijah, jika dirinya pewaris satu-satunya kekayaan keluarga Baskoro yang tidak akan habis tujuh keturunan. Mungkin jika Khadijah tahu tengah berbicara dengan David sang pewaris tunggal bisa pingsan di tempat si Khadijahnya.

__ADS_1


__ADS_2