Bukan Saingan Pelakor

Bukan Saingan Pelakor
Episode 5/ Toni Nakal, Emak Jewer.


__ADS_3

Episode 5/ Toni Nakal, Emak Jewer.


Sudah dua minggu lamanya David berada di perkampungan, dan Toni juga sudah kembali, dirinya berniat mengajak temannya ini untuk kembali pulang, hanya saja ketika diajak David malah memiliki seribu alasan untuk tetap berada di daerah terpencil, daerah yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, suasana damai yang membuat semuanya terasa tenang.


‘’Sorry, Ton. Gua masih betah di kampung lo, jika mau pulang pulang aja. Dan lo sendiri tahu kan jika hubungan gue sama bokap gue masih belum membaik,’’ tolak David ketika mereka tengah mengobrol di jalanan setapak, menyelusuri betapa indahnya suasana sore hari.


Aneh, memang aneh. Padahal sebelumnya David sendiri yang mengatakan jika dirinya tidak bisa tinggal di daerah kumuh, dan lihat sekarang, betapa betahnya anak konglomerat ini, terlebih dirinya juga sudah mulai menyukai makanan-makanan kampung yang ia sebut sebagai makanan kambing.


‘’Ya sudahlah, toh gue nggak bisa maksa. Tapi aneh juga sih, anak konglomerat seperti lo ini, mendadak insyaf, hahah!’’ ejek Toni.


David yang kesall hanya bisa memasang wajah juteknya, dia masih tidak menyangka jika hal yang ia benci merupakan hal yang paling ia cintai sekarang, tidak ingin pergi dari kampung yang telah memberikan pelajaran berharga, terlebih dengan adanya Khadijah.


Mereka terus menelusuri jalan setapak, David jadi penasaran dengan kisah Toni di kampung ini, maklum dirinya sering merasa heran dengan anak-anak kampung yang riang gembira bermain di persawahan, kebun, jalanan, lapangan, tidak ada satu titik tempat pun yang terlewati untuk bermain.


‘’Ton, gue jadi penasaran sama masa kecil lo,’’ ujar David yang kembali merasa heran dengan kumpulan anak-anak di persawahan berlumpur, mereka terlihat riang gembira ketika berada di tempat berlumpur itu.


‘’Lo mau tahu, gimana serunya masa kecil gue?’’ tanya Toni yang tahu jika sedari tadi temannya ini terus menatap kepada kumpulan anak-anak di dalam sawah berlumpur.


‘’Hmm, gue sangat penasaran. Apa kisah masa kecil lo itu seperti mereka?’’ gumam David yang ikut tersenyum ketika anak-anak di ujung sana saling melempar lumpur dengan riang gembira.


Toni menarik tangan David untuk mendekat kepada kumpulan anak-anak kampung yang tertawa ria, dirinya lantas saja membuka pakaian rapi yang membungkus tubuhnya, hanya meninggalkan celana panjang, David merasa heran ketika Toni berlari bagaikan anak kecil ke dalam sawah berlumpur.


‘’David, ayo!’’ teriak Toni ketika melihat temannya hanya diam di atas.

__ADS_1


David menggeleng, kejadian ketika mereka pertama kali datang kesini, sangat memalukan, satu kampung tahu tentang kejadian itu, kejadian dimana David tercebur ke genangan lumpur. Dan sekarang malah Toni yang memaksanya masuk ke dalam sawah, Toni tidak akan menyerah dan tidak akan kehabisan akal untuk mengajak David agar bisa merasakan betapa indahnya masa kecil seorang ceo yang tengah naik daun.


‘’Vid, ayo!’’ ajak Toni untuk kesekian kalinya.


Ketika David menggeleng, Toni berbisik pada semua anak-anak kampung, David sangat mencurigai tindakan yang dilakukan oleh temannya, terlebih ketika mereka semua menatap David dengan aneh, mereka sakan tengah merencanakan sesuatu.


‘’SERBU!’’ teriak anak-anak kampung yang berlarian keluar dan mengejar David yang menghindar dari jepretan lumpur yang bisa-bisa mengenai tubuhnya yang sudah bersih.


David terus menghindar, dirinya berusaha berlari sejauh mungkin, anak-anak kampung masih mengejar David, mereka juga dengan sengaja melempar bola-bola lumpur kepada David yang berusaha menghindar, sayangnya bagaimanapun ia berusaha menghindar, anak-anak kampung itu jauh lebih hebat dari dugaannya.


Pakaian bersih David sudah sangat kotor, dirinya tidak menyangka ketika anak-anak kampung berhasil mengepung David, mereka menarik tangan David untuk ikut bergabung dengan mereka. Toni hanya tertawa ngakak ketika melihat kondisi temannya yang sudah sangat kotor, David menatap Toni dengan sangat tajam.


Toni yang kesal di tatap seperti itu, lantas melempar bola-bola lumpur, dan tepat mengenai wajah tampan David, hilang sudah kesan anak orang kaya sekarang. Dan lagi-lagi Toni tertawa ngakak dengan wajah kesal yang ditunjukkan oleh temannya.


Mereka juga sengaja memberikan bola-bola lumpur kepada David, dirinya menyeringai penuh kemenangan dan langsung melempar tepat di wajah Toni, nasib baik tidak terkena mata. Ketika melihat wajah Toni yang penuh dengan lumpur, dirinya malah tertawa ngakak.


Anak-anak kampung itu membantu David untuk kembali menyerang Toni, mereka membuat bola-bola lumpur dan menyerahkan pada David. Tanpa pikir panjang David melempar dan masuk ke dalam sawah itu, ketika Toni berusaha untuk kabur, David dengan cepat mengejarnya dengan terus melempar bola-bola lumpur, dengan bantuan anak-anak kampung, Toni berhasil tertangkap.


Sudah lebih dari tiga puluh menit, Toni dan David bermain bersama di dalam sawah berlumpur dengan anak-anak kampung. Mereka semua keluar dan berniat membersihkan diri ke sumber air yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bermain.


‘’Gimana, Vid? Seru nggak permainanya?’’ tanya Toni ketika mereka berdua di tuntun oleh anak-anak kampung ke pancuran terdekat.


‘’Gila lo, Ton. Lo nggak lihat betapa kotornya gue? Padahal gue ini sudah mandi, dan lo malah bikin gue kotor untuk kesekian kalinya hari ini, benar-benar teman laknat lo!’’ ujarnya.

__ADS_1


‘’Hahaha, yang penting lo tahu gimana masa lalu gue,’’ ucap Toni tanpa merasa bersalah sedikitpun.


David merasa iri dengan kisah kecil Toni, dirinya tidak pernah sebebas ini ketika masih kecil, semuanya harus dijamin kebersihannya, jika ada yang kotor sedikit saja, langsung diganti baru, memang kehidupan orang kaya tidak selamanya indah.


David sangat menyesal kenapa dirinya tidak dilahirkan di tempat yang sangat menyenangkan ini, padahal betapa bahagia kehidupan tanpa uang. Mereka semua telah melangkah cukup jauh, hingga mereka mulai menemukan pancuran dengan curah air tinggi, semua anak-anak itu berlarian, mereka bermain air dengan riang gembira.


David yang menatapnya ikut merasakan kebagaian yang terjadi, tidak ada jiwa yang tertekan dari raut wajah itu, mereka semua sangat senang, hidup dengan penuh kebahagian dan kebebasan.


‘’Masa kecil lo sungguh menyenangkan, Ton. Gue jadi iri sama masa kecil lo,’’ ucap jujur David yang ikut senang ketika melihat semua anak-anak kampung tertawa ria di bawah pancuran,


‘’Hmm, lo memang benar. Masa kecil gue memang menyenangkan, dan lo mau tahu hal lain apa yang tidak kalah seru dari bermain di lumpur?’’ tanya Toni ketika melihat tiga orang yang Ia kenal mendekat.


‘’Hmm, apa?’’ tanya David merasa heran.


Toni menunjuk ke suatu titik, terlihat tiga orang yang juga ia kenal tengah melangkah ke arah mereka. Focus David tertuju pada Khadijah, kecantikan yang belum pernah ia lihat seutuhnya, entah seperti apa wajah dibalik niqab itu.


Focus David terhenti ketika mendengar teriakan yang sangat lantang dari ujung sana, yah suara emak yang menggema, ketika dilihat Toni, dia malah ketakutan dengan mengeluarkan keringat dingin.


‘’Lo kenapa, Ton?’’ tanya David heran.


Amak, Abak, dan Khadijah sudah hampir dekat, dan ketika itulah Amak menjewer kuping Toni.


‘’awhg, sakit Mak. Maafin Toni, Toni janji ini yang terakhir kalinya,’’ pinta Toni.

__ADS_1


David tidak menyangka jika Toni akan dijewer kupingnya, dia menatap pada Khadijah yang justru sedang berusaha menahan tawa ketika melihat Toni masih dijewer oleh Amak.


__ADS_2