
Alkaisha Naditya, Tidak banyak yang mengenalnya karena dia sulit bergaul dan hanya memiliki beberapa teman. Kepribadiannya cukup menyenangkan dan positif. Perempuan yang dipandang secara biasa tetapi luar biasa di mata salah satu orang.
"Alka, boleh aku lihat jawaban pr mu semalam?" Hira, salah seorang teman Alka di sekolah. Bersikap imut ketika sedang membutuhkan. Tentu saja Alka yang jadi korban.
"Boleh." Alka tidak berpikir panjang. Dia memberikan buku tulisnya pada Hira. Membuat temannya itu kegirangan. "Terima kasih Alka," ucapnya dan segera menyalin jawaban pr yang Alka kerjakan.
"Kamu selalu baik padanya," seseorang berkata. Membuat Hira mendongak tidak suka. "Bilang saja kalau kamu juga mau kan?" Cibirnya.
"Aku tidak sepertimu yang sukanya menyalin jawaban teman. Meski tidak sepintar Albert setidaknya aku berusaha sendiri untuk mengerjakan."
"Alasan. Cari jawaban di internet saja bangga!"
"Untung kamu cewek loh, Hir."
Alka yang melihat kedua temannya ini sedang beradu mulut pun mencoba memisah sebelum pertengkaran mereka sudah tidak bisa di toleransi.
"Ini masih pagi, teman."
"Tama sukanya mancing-mancing emosi Alka, kamu kok betah sih ditempeli dia terus?" Hira mengadu. Sikap Diratama padanya dan juga Alka sangat berbeda. Diratama selalu membuatnya emosi sementara bersikap polos nan baik hati hanya pada Alka. Tidak adil bukan?
"Minggir! Aku duduk disini. Kamu menjauh sana!" Tama mencoba menyingkirkan Hira teman sebangku Alka.
"Apaan sih Tam! Kamu kan sebangku sama Khandra!"
"Aku tukeran. Khandra maunya sama kamu dan aku maunya sama Alka."
"Tapi aku gak mau!"
"Khandra, bisa kamu seret dia?"
Khandra yang namanya mendadak dipanggil hanya bisa tersenyum tak tahu harus berbuat apa.
"Tama, Hira gak mau dan aku juga gak mau sama kamu."
Jawaban Alka membuat Hira tertawa. Menertawai kengenesan Diratama yang ditolak Alkaisha.
"Syukurin!" Hira meledek. Menjulurkan lidahnya dan langsung dapat jitakan dari Tama.
Percakapan mereka pun terpotong ketika seorang guru datang ke kelas. Tama dengan langkah lesu menuju bangkunya yang berada di belakang bersama Khandra. Berjarak selisih 3 bangku dari Alka.
Memandangi Alka dari jauh. Mengawasi setiap detik yang Alka lakukan hingga lengannya disenggol Khandra.
"Kamu sama Alka sebenarnya saling suka kan?" Tanya Khandra.
"Suka." Tama menjawab tanpa keraguan.
__ADS_1
"Sebagai teman," tambah Tama disertai cengiran.
Khandra menggeleng tak percaya. Tama selalu mengelak jika dia memiliki perasaan yang spesial untuk Alka. Padahal sikapnya sudah sangat jelas dapat diterka.
...****...
"Tama, kamu duduk di sebelah sana saja ya. Disini miliknya Hira."
Hira tertawa. Tama yang semulanya ingin duduk di sebelah Alka jadi sirna. Lagi-lagi dia harus ditolak.
"Ngenes banget sih! Mau di sebelah Alka saja gak dapat-dapat," Hira mengejek.
"Ketusuk garpu, sakit loh Hir." Tama mengancam. Mengangkat garpu dengan ekspresi dingin.
"Uhh, takut." Hira semakin meledek. Ancaman Tama tak mempan padanya.
Setelah itu mereka makan dengan tenang. Hingga sekelompok anak basket datang. Pandangan Hira teralihkan. Menyenggol Alka yang masih sibuk menyeruput mi ke dalam mulutnya.
"Nah itu tuh, Al. Yang pernah aku ceritain ke kamu."
"Yang mana?" Alka bertanya.
"Itu yang tinggi. Yang pakai dalaman kaos hitam."
Alka melihat. Beberapa dari mereka memang memakai seragam asal-asalan. Tidak terkancing dengan benar. Dan hanya satu orang yang terlihat memakai dalaman kaos berwarna hitam.
"Bisa diam sebentar gak? Kamu selalu ikut pembicaraan orang." Hira menyahut kesal.
"Lihat tuh, Khandra saja tidak banyak tingkah. Pendiam dan tidak ikut campur."
"Aku sama Khandra beda ya. Khandra itu penakut. Gak bisa bicara banyak kalau kamu lawan bicaranya."
Alis Hira menukik. "Kok bisa?"
"Ya kan-"
"ALIEN!" teriakan Khandra mengagetkan semua orang. Dia berdiri sembari menunjuk awan. Suasana yang begitu ramai jadi mendadak hening sementara jantung Khandra terpacu amat cepat.
"Ternyata sudah pulang aliennya, hehe." Khandra tertawa garing. Duduk kembali di kursinya. Bersikap seolah tak ada apa-apa.
"Kebanyakan nonton kartun ya kayak gini nih!" Hira tidak habis pikir.
"Memalukan." Tama menutup wajahnya. Entah apa yang sudah merasuki Khandra. Dan sekarang pandangan semua orang tertuju pada meja mereka.
Alka sempat bertatapan dengan lelaki yang disebut Hira. Dia tertawa, lalu menggeleng. Disitulah Alka setuju dengan apa yang Tama katakan.
__ADS_1
Selepas di kantin, Hira balik ke kelas duluan bersama Khandra. Alka masih ingin ke perpustakaan, mengembalikan buku yang ia pinjam seminggu lalu. Ditemani Tama, membuat banyak pasang mata melihat ke arah mereka.
Diratama juga termasuk populer. Dia memiliki senyum yang manis dan kepribadiannya juga menyenangkan. Banyak orang menaruh hati padanya. Namun karena keseringan bersama Alka jadi semua mengira Diratama ada hanya untuk Alkaisha.
"Mau pinjam buku lagi?" Tanya Tama yang mengikuti Alka memilah buku di salah satu rak.
"Ada novel yang menarik perhatianku."
Tama melihat Alka yang kesusahan mengambil buku. Berjinjit karena buku itu terletak di rak yang tinggi. Tama berdiri di belakang Alka. Tidak seperti Alka yang berjinjit, Tama dengan mudah mengambil buku dari rak dan memberikannya untuk Alka.
"Kalau butuh bantuan, bilang. Aku kan ada di sebelahmu," kata Tama.
"Aku tidak mau merepotkan."
"Aku tidak keberatan kok. Selama yang buat repot itu kamu, aku tidak masalah."
Alka tidak merespon lebih jauh. Dia menuju penjaga perpustakaan dan meminta ijin untuk meminjam buku tersebut.
Tama masih setia mengikuti. Lelaki itu tidak berhenti bercerita. Mengajak Alka bicara tentang hal-hal fiktif seperti kisah di dalam novel.
Karena Alka juga suka dengan kisah fiktif, dia pun merespon apa yang Tama katakan.
Tama melihat tawa lepas dari wajah Alka. Dia tersenyum. Kecantikan Alka bertambah berkali-kali lipat disaat seperti itu. Tama berharap ia bisa melihat tawa lepas Alka seumur hidupnya.
"Nanti mau pulang bersama?" Tawar Tama.
"Boleh," jawab Alka.
"Aku main ke rumahmu juga boleh?"
"Iya boleh."
Tama adalah teman semasa kecilnya. Kedua orang tua mereka juga dekat jadi Alka tidak mungkin berkata 'tidak' ketika Tama ingin berkunjung ke rumahnya.
Saat di koridor, mereka bertemu dua orang siswa yang saling berhadapan. Lelaki disana adalah lelaki yang Hira tunjukan pada Alka. Dan dia bersama salah seorang perempuan.
Terlihat bahwa perempuan ingin memberikannya cokelat tetapi lelaki itu menolak. "Kamu pikir aku anak kecil dikasih cokelat begini?"
Lelaki itu menepis cokelat di tangan perempuan hingga terjatuh lalu pergi melewati Alka dan Tama. Sekali lagi mata Alka beradu dengan mata lelaki yang masih belum Alka ketahui namanya.
Dia bukan lelaki yang baik. Penampilan dan sikapnya terhadap perempuan terlihat kasar dan Alka tidak menyukainya.
Namun ketika mata mereka beradu ada hal yang tidak bisa Alka jelaskan. Sesuatu yabg ingin membuat Alka penasaran dengan lelaki yang sempat Hira sebutkan karena telah menyelamatkan Hira dari hukuman sekolah ketika ia terlambat.
Lelaki itulah yang membantu Hira memanjat dinding. Alka berpikir lelaki yang Hira ceritakan terlihat seperti Tama, namun ternyata tidak. Mereka berbeda.
__ADS_1
"Aku tidak suka padanya." Tama secara tiba-tiba bersuara setelah lelaki yang dimaksud sudah berjalan melewati mereka.
"Kamu juga jangan suka dia ya, Alka."