Bukan Tokoh Utama

Bukan Tokoh Utama
0-8 : Di kejar


__ADS_3

...Happy Reading...


...══════•❁❀❁•══════...


.......


.......


.......


Bel pelajaran jam ke tiga sudah berbunyi, Olivia, Widia, Zavian, Arsen, dan Vino duduk di pinggir lapangan. Terlihat keringat membasahi tubuh mereka berlima. Seorang gadis berlari ke arah mereka membawakan tiga botol minuman. Naura memberikan botol pertama itu kepada Vino.


"Makasih Naura, kaulah penyelamat kami dari kehausan," ucap Vino menerima botol minum itu.


Naura memukul pundak Vino. "Nggak usah lebay jadi cowok!"


Vino langsung menatap tajam ke arah Naura. Sedangkan Naura tidak memperdulikannya, dan bergantian memberikan botol minuman itu kepada Arsen.


"Thanks," ucap Arsen menerima botol Air, Naura tersenyum kemudian berganti kepada Zavian.


Zavian tersenyum, kemudian segera mengambil botol itu. "Makasih."


Naura menatap ke arah dua wanita yang duduk tidak jauh dari tempat Zavian dan teman temannya duduk. "Sorry gue, nggak tau kalau ada kalian berdua yang di hukum. Apa mau gue beliin minuman lagi?" tanyanya.


Olivia menggeleng cepat. "Nggak usah kita berdua bisa pergi ke kantin kok," balas Olivia. "ayo ke kantin, traktir gue minum." Olivia segera menarik tangan Widia meninggalkan lapangan, dan Widia hanya pasrah mengikuti Olivia.


"Lo lihat tadi kan?" tanya Vino membulatkan matanya. "Mereka baikan, apa dunia ini akan segera runtuh?"


Arsen dengan cepat memukul mulut Vino dengan tangannya. "Punya mulut di jaga, bicara yang baik baik. Ingat ucapan itu adalah doa!" peringat Arsen.


Vino kemudian mengangguk dan segera memukul mulutnya tiga kali. Naura terkekeh melihat tingkah Vino yang seperti anak kecil di marahi sang mama.


"Cabut, gue laper," ucap Zavian berjalan meninggalkan lapangan.


"Tunggu gue Ian," panggil Vino, segera berlari mengekori Zavian di susul dengan Arsen dan Naura.


...•••...


Olivia dan Widia sekarang sudah duduk di kantin. Olivia memesan bakso Pak Dadang lagi karena bakso yang dia pesan tadi pagi sudah di buang olehnya.


"Kelihatannya lezat ini." Olivia menatap ngiler ke arah bakso yang berada di depannya dan segera menyantapnya.


Widia menatap jengah ke arah Olivia yang tidak bosan memakan bakso buatan Pak Dadang. "Lo nggak takut muka lo bengkak?" tanyanya memajukan wajahnya menatap Olivia.


Olivia yang sedang menyeruput mie, lalu bergeleng. Widia menjauhkan wajahnya lalu melipat kedua tangannya, dan dia mulai memejamkan matanya.


Olivia melirik ke arah Widia. "Lo nggak laper?" tanya Olivia.


"Nggak, gue nggak serakus lo," balas Widia.


Olivia berdecak, kemudian kembali menyantap makanannya. Zavian, Arsen, dan Vino memasuki kantin dia juga memesan bakso milik Pak Dadang.


"Pak, empat ya seperti biasanya," teriak Vino.


"Oke mas Vino, seng ganteng dewe (Oke mas Vino, yang ganteng sendiri)," balas Pak Dadang membentuk jari 'OK'.


Mereka duduk di bangku yang tidak jauh dari Olivia dan Widia. Mata Vino terus melirik ke arah meja yang berada di sebrang mejanya, membuat Naura kepo dengan arah pandangan mata milik Vino. "Vino sayang, lagi lihatin siapa tuh?"


Vino menunjukkan arah pandangannya dengan dagunya, kemudian ia tersenyum. "Itu ada bidadari," jawabnya.


Sontak membuat Arsen, Zavian, dan Naura menoleh mengikuti arah tunjukan dari Vino. Naura mendekatkan wajahnya pada Vino. "Gue rasa kata pepatah benar deh, kalau benci bisa jadi cinta," ujar Naura dengan pelan agar hanya mereka berempat yang mendengarnya.


Benar dahulu Vino selalu membenci Olivia karena dirinya selalu menempel pada temannya itu seperti benalu. Tapi semenjak Olivia tidak menempel pada Zavian, Vino merasa tertarik dengan Olivia.


"Uhuk." Zavian tiba tiba tersedak kuah bakso. Naura yang melihatnya segera menyodorkan air kepada Zavian.


Zavian segera meneguk air itu. "Makasih," ucapnya meletakkan kembali gelas itu ke meja.


"Naura," panggil Vino pelan, pemilik nama tersebut segera menoleh ke arah Vino. "Lo suka ya sama Zavian?"


Naura membelalakan matanya, kemudian menatap tajam Vino. "Ih, ga usah sok tahu deh jadi bocil. Gue anggap Zavian itu teman sama seperti kalian, gak lebih," balasnya.


"Tapi gue nggak yakin?" sangkal Vino.


"Lo kan yang nggak yakin bukan gue?"


"Pokoknya intinya nggak ada persahabatan yang murni antara pria dan wanita."


"Emang lo di ajarin siapa? ngawur banget kalau ngomong." Naura menatap sinis ke arah Vino.


"It—"


Arsen segera membekap mulut Vino yang hendak berbicara dengan tangannya. "Udah lo diem aja kutil badak! cowok itu harus mengalah dengan perempuan."


Vino menepis tangan Arsen dari mulutnya. "Tangan lo bau anjir, jangan sentuh mulut gue yang seksi ini dengan tangan lo lagi!"


"Anjir, mulut lo sekate kate bilang tangan gue bau!" protes Arsen. "yang ada tangan gue bau karena terkena jigong lo!"


Naura, Zavian, dan Arsen terkekeh, sedangkan Vino? jangan di tanya lagi alis miliknya menurun dan dimiringkan ke dalam, wajahnya mulai berkerutan yang berarti dirinya sedang menahan amarah.


"Shut, be quiet!" Olivia menoleh kearah meja di belakangnya, tangannya beradi di bibirnya. Sontak itu membuat Zavian, Arsen dan Naura berhenti tertawa. "Ini hutan, bukan kantin!"

__ADS_1


"Kebalik bodoh!" ucap Widia menepuk pelan kepala Olivia.


"Oh," balasnya singkat dan acuh.


"Gue mau ke kelas," ucap Widia berdiri dari duduknya.


Olivia yang melihat itu segera memegang rok milik Widia, agar dia tidak pergi. "Tunggu sebentar Wid," panggil Olivia, dia segera meneguk es teh itu sampai habis, lalu beranjak dari duduknya.


Widia menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Olivia dengan tatapan wajah malas. "Sekarang apa lagi?"


"Itu—" Olivia mengantung ucapan.


"Itu apa?"


Olivia tersenyum. "Bayarin baksonya, dan terima kasih," ucap Olivia segera lari meninggalkan Widia yang terdiam.


Widia menoleh ke arah Olivia yang sudah berlari pergi dari kantin. "OLIVIA!!!" teriak Widia. Olivia yang mendengar teriakan itu segera mempercepat larinya sebelum Widia menyusul dirinya.


Pak Dadang menghampiri Widia yang masih terdiam di sana. "Neng Widia kan yang bayar ini semua? totalnya dua puluh lima ribu neng sama yang tadi pagi," ujarnya.


"Oh, iya," balas Widia mengambil uang dua puluh ribu dan lima ribu dari saku roknya, lalu memberikannya kepada Pak Dadang. "Ini pak."


"Terima kasih neng." Pak Dadang menerima uang itu, kemudian dia beralih membersihkan meja yang di duduki Widia dan Olivia tadi.


"Olivia, berhenti di sana!" teriak Widia, yang kemudian segera berlari mengejar Olivia yang sudah jauh dari hadapannya.


Zavian, Arsen, Vino dan Naura menatap terkejut dengan kedua wanita tadi. Sebab Widia dulu selalu membully Olivia tanpa ampun, namun sekarang mereka menjadi seperti tom and jerry.


Arsen menatap ke arah Naura yang masih memperhatikan Widia dan Olivia. "Ra mending lo balik ke kelas sekarang, sebelum guru jam pelajaran ke empat datang," ucapnya.


Naura menoleh menatap Arsen. "Oh, iya bayarin dulu ya," ucap Naura beranjak dari duduknya. "bye semua."


Naura melambaikan tangannya, kemudian pergi meninggalkan kantin. Zavian, Arsen, dan Vino hanya diam menatap kepergian Naura, kemudian melanjutkan menyantap bakso itu.


•••


"Pada waktu negara kita menganut sistem demokrasi parlementer, dalam pelaksanaan demokrasi liberal terjadi pada tahun 1950 sampai 1959. Terdapat tujuh buah kabinet yang memegang pemerintahan, sehingga rata-rata setiap terjadi pergantian kabinet. Oleh karena tiap-tiap kabinet tidak berumur panjang," ujar Pak Eko menerangkan materi pelajaran sejarah mengenai sistem demokrasi liberal.


Olivia menghela nafas kasar menatap ke arah luar jendela, dirinya menajamkan matanya untuk menelisik seorang gadis yang baru saja melewati kelasnya dengan membawa tas.


"Yang dibelakang?!" panggil Pak Eko sambil menunjuk ke arahnya Olivia. Sontak membuat seluruh siswa menghadap ke arah Olivia. Tapi, Olivia tidak mendengar panggilan itu, dirinya masih sibuk melihat langkah wanita itu. "Olivia apa kamu tidak mendengar bapak?!!"


"OLIVIA!!" panggil lagi Pak Eko dengan suara lantang.


Olivia terkejut dan langsung menoleh ke arah Pak Eko yang sudah menatapnya tajam. "P-pak Eko, ada apa ya?" tanya Olivia dengan gugup.


"Coba kamu terangkan kembali tentang demokrasi liberal yang sudah bapak jelaskan tadi!" perintah Pak Eko.


"Bapak tidak mau tau alasan kamu Olivia," ujar Pak Eko. "Sekarang maju ke depan dan terangkan dengan jelas!"


"Pak, tapi saya beneran pengen pipis," ucap Olivia berlari keluar kelas.


"OLIVIA!! BAPAK TIDAK AKAN MENGIJINKAN KAMU MEMASUKI KELAS BAPAK, KALAU KAMU TIDAK SEGERA KEMBALI!!!" teriak Pak Eko dari dalam kelas, Olivia menghiraukan teriakan Pak Eko, dia segera menuruni tangga mengikuti arah wanita yang menjadi pusat perhatian sejak tadi.


Olivia membuntuti wanita itu hingga ke tempat parkir sekolah. Wanita itu segera menaiki motor Kawasaki Ninja 250 SE MDP berwarna hitam miliknya, lalu memakai helm full face berwarna hitam, dan menyalakan mesin motornya.


Olivia yang melihat wanita itu menyalakan mesin motornya, segera berlari lalu menaiki motor itu, dirinya membonceng di jok belakang.


Wanita itu membuka kaca helmnya dan menoleh ke belakang. "Ngapain lo ngikutin gue?!"


"Emangnya salah ya gue ngikutin temen sendiri?" tanya Olivia.


"Gila lo, turun cepat! gue bukan temen lo!" perintah wanita itu.


Olivia menggeleng pelan, lalu memeluk pinggang wanita itu. "Gue nggak mau, gue mau ikut."


"Dasar sinting! Lepas!" ucap orang itu menepis tangan Olivia. "Gue nggak lagi pengen berkunjung di rumah barbie, mending lo turun!"


"Nah kebetulan juga gue lagi nggak pengen ke rumah barbie," balas Olivia.


"Buruan turun Olivia!" perintah wanita itu dengan nada tegas. "Gue ada urusan penting, jadi gue harus pergi!"


"Kalau begitu ajak gue, gue bosen sama pelajaran sejarah," balas Olivia.


"Gue udah peringatin lo, jadi untuk ke depannya kalau ada masalah gue nggak bertanggung jawab," ujar wanita itu memperingatkan Olivia.


"Iya Widia, buruan jalanin motornya sebelum ketahuan sama Bu Tika," balas Olivia. Ya, wanita yang mencuri perhatiannya adalah Widia yang diam diam pergi membawa tasnya.


Widia segera menutup helm full facenya dan segera melajukan motornya meninggalkan sekolahannya. Hari ini gerbang sekolah terbuka lebar dan tidak ada yang menjaga di pos satpam, karena mereka sibuk membantu menyiapkan kursi kursi untuk rapat di Aula.


...•••...


Widia memberhentikan motornya di sebuah rumah yang seperti markas - markas, yang ia lihat di film televisi ataupun yang ia baca di *******. Widia melepaskan helm full facenya. "Lo nggak turun?"


Olivia sedikit menggeleng. "Lo kenapa bawa gue kesini? Lo mau jual gue? Gue nggak bakal laku!" tanya Olivia dengan wajah panik.


"Gue udah beri lo peringatan dari awal," balas Widia menatap tajam ke arah Olivia yang masih berdiam di atas motornya. "JADI BURUAN TURUN!!". Olivia tersentak kaget dan segera turun dari motor Widia, lalu disusul Widia. "Lo bisa bawa motor?"


Olivia menggeleng pelan, perasaannya sedang campur aduk sekarang karena dia tidak tahu bahaya apa yang akan dia hadapi.


"Terus nanti lo kabur gimana?" tanya Widia frustasi, mengacak acak rambutnya. Olivia mengendikkan bahunya, lalu menatap sekitar mencari sebuah jalan raya, namun naasnya ia tidak menemukan tanda tanda ada jalan raya di sekitar sana.

__ADS_1


"Gue mau pulang!" rengek Olivia.


"Shut," desis Widia menaruh jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan Olivia untuk tetap diam. "Dimana semangat lo saat lo mau ikut kesini, pecundang!"


"Lo—"


"Jangan belagu mending lo diem sekarang, gue mau melaksanakan tugas," ujar Widia memotong ucapan Olivia, dia segera memakai masker hitam.


Olivia menepuk pundak Widia, lalu mengadahkan tangannya meminta masker. "Masker gue di mana?"


"Gue nggak punya lagi, gue cuma bawa satu," balas Widia mengamati gerak gerik keadaan sekitar.


"Terus gue—"


Brak!


"Lari!" teriak Widia menarik tangan Olivia. Olivia membelalakan matanya lalu ikut berlari menyamai langkah Widia.


"Widia apa ini semua? apa kita buronan?" tanya Olivia terus berlari tanpa melihat ke belakang, mungkin bisa di kira gila jika Olivia menoleh ke belakang, karena sama saja dia menyerahkan diri ke orang orang tersebut yang bisa melihat jelas wajahnya tanpa masker.


"Lo pencar ke sana nanti kita akan bertemu di pertigaan," ujar Widia menunjuk kearah kanan, tanpa pikir panjang Olivia mengangguk dan langsung berbelok ke arah kanan sedangkan Widia lurus.


"Woi berhenti!" teriak pria itu, pria berbadan besar dan kekar seperti seorang rentenir.


"Kalian berdua ke sana, sisanya ikut gue ke sana," tunjuk orang itu ke arah kanan.


"Ya Allah bantu aku untuk hidup sekali lagi jangan biarkan aku mati," batin Olivia terus berlari sesekali dia menengok ke arah belakang memastikan orang itu mengejarnya atau tidak.


"Woi berhenti!" teriak Orang itu, Olivia dengan cepat mengalihkan mukanya saat mendengar teriakan pria itu dan segera mempercepat larinya.


Olivia berhenti dia menatap jalan di depannya. "Gue harus kemana?" tanyanya panik. "Aaaa." Pekiknya. Olivia melihat tangan seseorang yang bersimpah darah memegang kakinya.


"t-tolong gue..." ucap pria itu dengan lirih. Olivia menoleh ke arah pria itu, pria itu berdiri lalu menarik tangan Olivia dan membekap mulutnya.


"Kemana mereka?" tanya salah satu orang itu dengan terengah engah memperhatikan sekitar.


Olivia bernafas dengan cepat melihat ketiga orang itu berada di sampingnya.


"Tetap diam, jangan bernafas sekalipun!" bisik orang itu, masih membekap mulut Olivia. "Karena setiap nafas yang lo keluarkan, akan menentukan nasib kita sekarang."


"Eh lihat sini!" panggil orang yang satunya lagi. Orang itu menatap beberapa tetes darah yang ada di jalan itu, lalu ia berjongkok dan mengambil darah yang tertetes di jalan itu dengan ujung jarinya. "Kejar mereka! mereka tidak jauh dari sini!"


Kedua orang itu mengangguk, lalu segera berlari ke arah kiri. Setelah merasa aman pria itu melepaskan tangannya dari mulut Olivia dan bernafas lega begitu juga dengan Olivia.


"Terima kasih," ucap Olivia dengan nafas terengah engah. Lalu menatap ke arah pria itu. Olivia langsung segera pergi, belum sempat ia pergi laki laki itu menarik tangannya.


"T-tolong gue," ucap pria itu terbata bata, pria itu meraih tangan Olivia dan menaruh pisau itu ditangannya. "atau lo akan di tuduh sebagai pelaku pembunuhan, sidik jarimu ada di pisau sekarang."


Olivia menatap bingung kearah orang itu. "G-gue harus apa?" tanyanya gugup.


"Lo tau toko bunga Little Garden? bantu bawa gue ke sana," ucap pria itu. Olivia mengangguk lalu memapah tubuh pria itu berjalan pergi dari sana.


...•••...


Olivia dan pria asing itu sekarang sudah berada di tepi jalan raya. Olivia sudah beberapa kali melambaikan tangannya ke arah mobil yang melewati mereka, namun tidak ada satupun yang berhenti.


"Argh," erang pria itu karena darahnya semakin banyak yang keluar dari luka tusukan.


"G-gue harus bagaimana?" tanya Olivia panik ingin menyentuh perut pria itu namun dia takut jika akan semakin parah.


Olivia melambaikan tangannya dengan tinggi, ia melangkah ke tengah jalan raya untuk menghentikan segerombolan anak motor yang melaju ke arahnya.


"Berhenti!" teriak Olivia melambaikan tinggi tinggi ke arahnya. Namun dengan cepat pria itu menarik Olivia, membuat Olivia jatuh di atasnya. Olivia memandangi setiap inci wajah milik pria itu, yang tidak kalah tampannya dengan kakaknya Azka.


"Aaa ini sakit," teriak orang itu, Olivia yang tersadar dari lamuannya langsung berdiri dan menjauh dari tubuh pria itu.


"Olivia!" teriak seseorang segera turun dari motornya. Orang itu dengan cepat memeluk Olivia. "Gue kira lo udah di culik!" Orang itu mulai terisak.


"L-lepasin gue!" minta Olivia karena pelukan dari orang itu membuat dirinya kehabisan nafas, orang itu segera melepaskan pelukannya. "Mereka siapa?" Olivia melirik ke arah ke tiga pria dan satu wanita yang masih duduk di atas motor. Mereka melepaskan helm full face dari kepalanya. "Zavian, Arsen, Vino, Naura. Kalian kok bisa ada di sini?"


"Ceritanya panjang, mending sekarang kita pergi dulu dari sini," ucap Widia menarik tangan Olivia. Olivia menepis tangan Widia, kemudian dia membantu pria itu berdiri.


"Bantu dia, dia juga korban," ucap Olivia, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telinga Widia. "Gue diancam sama dia, kalau gue nggak bawa dia ke toko bunga Little Garden."


"Lagian lo kenapa bisa bertemu sama orang seperti dia!!" desis Widia.


"Gue juga tidak tahu."


"Kalian berdua berhenti berbisik!" ujar Naura menghentikan perdebatan kecil antara Widia dan Olivia. "kita harus segera pergi dari sini dan juga membantu pria itu!"


Olivia dan Widia mengangguk. Widia segera berjalan ke arah motor dan menaikinya.


"Biarkan gue yang boncengan dia Vi," ucap Arsen menunjuk ke jok belakangnya. Olivia mengangguk dan membantu pria itu berjalan, lalu naik ke motor milik Arsen.


Setelah itu Olivia segera berjalan ke arah motor Widia dan segera naik. Mereka berlima segera menyalakan motornya dan melajukannya meninggalkan tempat itu.


.......


.......


.......

__ADS_1


...══════•❁❀❁•══════...


__ADS_2