
PANTHERA, itu adalah nama julukan mereka. Lima lelaki kelas IPA junior yang mencuri banyak perhatian. Diketuai oleh Heindra yang membuat ide untuk nama grup mereka.
Sejujurnya masih ada dua lelaki IPA junior lain yang juga mencuri perhatian. Dia adalah Diratama dan Khandra dari kelas IPA 1-C. Memang hanya kelas IPA 1-C yang tidak mereka dekati. Entahlah, selain karena kebanyakan isi anak kelas IPA 1-C pendiam. Baik Rafandra maupun yang lain enggan untuk membuat pertemanan dari kelas sana.
Mereka berlima sedang nongkrong di warung dekat sekolah. Bermain kartu Remi.
"Aku menang!" Heindra berseru. Reno mendelik tak terima. "Ulang-ulang!"
"Sudah dua kali dan aku menang terus."
"Pasti curang. Jujur saja kartu as nya kamu selipin di saku kan? Masa dua kali permainan aku gak punya kartu as sama sekali."
"Heh fitnah! Aku menangnya adil kok. Itu kan deritamu tidak punya kartu as. Keberuntungan berpihak padaku bukan padamu."
"Gak percaya! Sini biar aku saja yang mengocok kartunya." Reno mengambil kartu Remi dari tangan Heindra dengan kasar. Ia mengocok kartunya. Marcel hanya tertawa melihat nya.
"Coba kalau Rafan ikutan main mungkin dia terus yang bakal menang, " kata Marcel melirik Rafan sibuk bermain game di ponselnya.
"Aku gak mood main kartu. Kalian berempat saja yang main."
Reno membagikn kartu. "Nongkrong di warung begini pasti pengalaman pertamamu ya?"
"Ya. Tapi ini lebih menyenangkan," kata Rafan mengalihkan pandangan pada mereka. Ia mematikan ponselnya lalu duduk mendekat ke arah empat temannya.
Disaat mereka sedang melanjutkan permainan kartu mereka, gerombolan cowok dari sekolah Adenium mendekat.
"Ternyata cuma bocah." Cowok dengan nametag Danu mengejek. Dia adalah salah satu anggota dari geng CORVUS di sekolah Adenium yang cukup di kenal di sekolah Aster.
Kedua sekolah ini memang kurang akrab karena selalu bersaing mendapat predikat sekolah terbaik di kota. Rafan dan yang lain menyadari jika Danu berasal dari sekolah Adenium. Selain karena banyak yang membicarakan karena suka mencari gara-gara di sekolah Aster, Danu juga pernah memiliki hubungan dengan salah satu siswi dari sekolah Aster.
"Kamu Rafan?" Danu menunjuk Rafan sambil mengepulkan asap rokok.
"Shofi memutuskanku karena cowok kurus seperti mu. Sangat tidak masuk akal ternyata sainganku cowok lemah," ucapnya.
Gheo, Ben, Naufal, dan Erik yang berada di belakang Danu menyeringai. Tidak bisa mereka bayangkan, yang mereka hadapi hanyalah sekumpulan bocah yang hanya mengandalkan tampang saja.
__ADS_1
"Mungkin Shofi buta. Tidak ada yang ditakutkan dari bocah-bocah ini," kata Gheo memandang remeh.
"Heh, rambut keriting. Berkacalah dulu sebelum berkata. Lihatlah dari ujung kaki hingga kepalamu. Apa ada yang bisa dibanggakan dari dirimu?" Reno membalas.
Gheo merasa geram. Reno, Heindra, dan Calvin berdiri lebih dulu. Mereka saling beradu tatap.
"Aku kesini hanya untuk menghajar bocah bernama Rafan itu. Serahkan saja Rafan, dan kalian bisa pergi tanpa luka dari sini," ucap Danu yang membuat Marcel tidak bisa menahan diri. Ia bangkit dari kursi lalu menatap Danu.
"Bilang saja kalau takut menghadapi kita berlima kan? Badan doang yang gede, nyali kecil."
Danu tertawa. Murid dari sekolah Aster benar-benar meremehkannya. "Kalian tidak pernah dengar Corvus dari Adenium? Kalau kalian tau pasti kalian akan mengalami mimpi buruk."
"Dan kamu juga tidak tau tentang Panthera kan? Kami baru membuatnya. Setelah ini kamu akan ingat Panthera seumur hidupmu." Heindra menegaskan. Mengundang tawa geng Corvus yang entah mengapa keempat teman Heindra di belakang merasa malu.
Corvus bukan geng yang bisa di remehkan. Panthera masih junior tapi nama Corvus sudah sering di dengar karena sering membuat masalah. Mereka juga pernah menantang Rhinos dari SMA Aster yang merupakan geng senior mereka.
Dan seperti yang mereka dengar, Corvus tidak memiliki anggota yang sedikit. Mereka terdiri dari belasan hingga puluhan orang entah dari kelas senior maupun junior. Membentuk satu kesatuan. Berbeda dengan Panthera yang awalnya hanya dibuat sebagai nama dari grup chat mereka berlima.
Danu membuang rokok ke tanah. Menginjak dengan sepatunya. Menarik sudut bibir. "Maju sini!"
"Tam, berhenti berhenti!" Alka menepuk punggung Tama agar cowok itu menepi. "Ada apa?" Tanya Tama membuka kaca helmnya.
Alka tampak sibuk mencari sesuatu di dalam tas. "Novel yang ku pinjam ketinggalan di laci seperti nya."
"Besok saja."
"Aku mau nyelesaiin baca buku itu hari ini. Tinggal beberapa bab lagi."
"Nanti aku beliin deh di toko buku."
"Enggak. Itu novel edisi lama. Dan jarang ditemukan di toko buku. Kita balik ke sekolah dulu ya?"
Tama mengiyakan. Dia pun memutar balik motornya menuju sekolah. "Pegangan yang erat," kata Tama dan segera Alka yang di belakang, melingkarkan tangan di pinggang Tama. Lelaki itu tersenyum kegirangan dan motor pun melaju kencang.
Suara gaduh terdengar. Hampir beberapa kilometer lagi mereka sampai di sekolah, tetapi terhalang oleh keributan. Dilihat dari seragam, mereka satu sekolah dengan Alka dan Tama, sementara yang lain berasal dari SMA Adenium.
__ADS_1
Tama mengedarkan pandangan. Sosok yang kini ikut tawuran disana mengejutkannya. "Tam, itu Rafan kan?" Alka bertanya.
Tama berdecak. Dia segera turun dari motor bersama Alka. Tidak ada yang berani melerai mereka. Para murid dari kedua sekolah yang berbeda itu berkelahi secara membabi buta.
Rafan melirik. Ada Alka dan Tama tak jauh dari mereka. "Apa yang kamu lihat bangsat!" Danu hampir melayangkan tinju namun Rafan menghindar. Mencengkeram lengan Danu lalu mengangkat tubuhnya dan membanting ke tanah.
"Aku melakukannya," sesal Rafan. Ia melihat sekeliling. Teman-temannya kewalahan. Perbandingan mereka tidak adil. Danu memanggil anggota Corvus yang lain untuk menyerang sementara mereka hanya berlima.
Rafan menatap Tama dan Alka. Mengangkat kedua tangannya membentuk angka 10.
"Sepuluh detik." ucapnya yang dipandang tak mengerti oleh Tama dan Alka.
Setelah itu Rafan memghajar anggota Corvus satu persatu secara brutal. Rafan menguasai beberapa bela diri selama bersekolah di Australia dan ia tidak menyangka akan digunakan untuk tawuran.
Rafan terlihat menakutkan di mata keempat temannya. Mereka tidak tahu Rafan jago berkelahi. Bahkan Tama, saudara sepupunya baru mengetahui nya hari ini.
"Sialan!" Anggota Corvus berusaha menumbangkannya tapi Rafan bisa menangkis serangan mereka.
Karena kekuatan yang tidak seimbang dan Danu juga terluka mereka akhirnya mundur. Geng Corvus itu melarikan diri dan memperingati Rafan bahwa mereka akan kembali.
Penjaga warung keluar dari persembunyiannya. Ia menghampiri Rafan dan keempat temannya dengan tergesa-gesa. "Nak, kalian tidak apa?"
"Kami tidak apa kok bu. Maaf sudah membuat keributan," kata Marcel.
Rafan beralih pada Tama dan Alka. Ia berjalan menghampiri mereka. "Tam" panggilnya.
Tama yang mengerti segera mengambil jarak dari Alka. Rafan ingin bicara berdua dengannya. "Jangan katakan apapun ke Papa tentang hal ini," pintanya. "Dan keluargamu juga," tambahnya.
"Tidak akan ku katakan. Tapi cepat atau lambat Paman Vikram akan tau."
"Aku akan memikirkan hal itu setelahnya."
Tama tidak bisa membantu banyak. Tetapi setidaknya dia akan mencoba merahasiakan hal ini dari orang lain. "Terima kasih," ucap Rafan lalu pergi.
"Kalau kamu berurusan dengan geng Corvus lagi, aku tidak akan membantu!"
__ADS_1