Bukan Tokoh Utama

Bukan Tokoh Utama
1-0 : Meninggalnya Abimanyu


__ADS_3

...Happy Reading...


...══════•❁❀❁•══════...


.......


.......


.......


Pagi harinya Olivia berdiri di luar gerbang dengan tatapan yang penuh tanda tanya mengapa banyak orang terutama wartawan berdiri tepat di depan gerbang rumahnya mengangkat tinggi tinggi kamera mereka.


"Olivia!"


Pemilik nama tersentak kaget lalu menoleh ke belakang.Tangan Samudra mengenggam erat jari jemari Olivia dan meremas nya dengan lembut.


"Apa yang terjadi?"


Olivia menatap penuh tanya kearah Samudra tentang apa yang terjadi saat ini. Samudra menarik tubuh Olivia kedalam pelukannya tanpa menjawab apapun, tangannya mengelus lembut rambut Olivia.


Tidak ada percakapan di antara keduanya, yang ada hanya Olivia yang masih kebingungan dengan situasi saat ini, sampai suara sirine ambulans mengalihkan fokus mereka. Para Wartawan dalam hitungan detik berjalan kearah mobil sport putih yang berada di belakang ambulans. Andriana dan Azka berada di dalam mobil itu.


"Lebih baik kita masuk melalui pintu belakang" ucap Samudra menarik tangan Olivia dan membawanya berbalik lewat pintu belakang.


Mereka berdua berhasil masuk ke dalam rumah itu memiliki suasana yang dingin dan tampak sunyi. Hanya terisi beberapa suara tangisan sanak saudara dan para pelayan. Samudra melepaskan genggaman tangannya dari Olivia.


"Non Livi." Bi Dina sekilas memeluk Olivia, sebagai perwakilan untuk para pelayan lainnya.


Olivia terdiam kaku melihat tubuh ayahnya yang pucat terbaring di atas meja kecil lalu ditutupi kain. Andriana yang mengetahui kehadiran Olivia, ia lalu berbalik dan mencengkram lengannya.


"Apa yang kamu lakukan semalam di luar sana!!!" Teriak Andriana marah dan semakin erat memberikan tekanan pada cengkramannya.


"Ma? Apa maksud mama?" *tanya Olivia bingung menatap Andriana sang mama yang menangis histeris, tapi entah kenapa aku melihatnya hanya air mata buaya. "Mama menuduh Livi?"


"Iya, Katakan apa yang kamu lakukan semalam?!"


"Bukannya aku yang harus bertanya seperti itu kepada mama?"


Andriana terkejut dengan ucapan Olivia. "Apa?"


Olivia berjalan mendekati Andriana dengan tatapan tajam dan dingin. "Apa yang mama lakukan kepada papa?"


Andriana terkejut dan mukanya berubah menjadi marah. "Apa yang kamu maksud Olivia kamu menuduh mama?! Berani sekali kamu!!" ucap Andriana melayangkan tangannya untuk menampar Olivia namun berhenti di udara karena seseorang menahan tangannya.


Samudra berjalan lalu berdiri di depan Olivia, dirinya menghempas tangan Andrian. "Bukankah kalian sedang berduka, mengapa Anda membuat keributan seperti ini."


Andriana terdiam beberapa detik lalu berbalik menatap tubuh sang suami dan menangis. Azka yang sendari diam, tiba tiba menatap tajam ke arah Olivia.


Samudra menarik tangan Olivia untuk duduk di dekatnya. Dia merangkul bahu Olivia dan meletakkan kepalanya untuk bersandar di bahunya, walaupun gadis itu tidak menangis tapi dia tahu pasti hatinya hancur melihat kepergian sang ayah.

__ADS_1


...^°°°^...


Sore ini langit di pemakaman berubah menjadi mendung dan mulai turun rintikan hujan, membuat area pemakaman menjadi sunyi. Beberapa wartawan juga berkumpul di area pemakaman, Olivia hadir dan berdiri sedikit jauh dari tempat pemakaman sang ayah dengan Samudra di sampingnya.


Olivia menatap kearah Samudra lalu berlalu begitu saja. Samudra yang mengetahui itu segera mencekal lengan Olivia. "Mau kemana? aku akan mengantarmu."


Olivia menunduk sedih. "Aku ingin sendiri," ucapnya dengan pelan. Belum sampai kakinya kembali melangkah tangannya di cekal dan menariknya dengan kasar.


"Apa yang kamu lakukan dengan ayahmu Livi!" Bentak Andriana mencengkeram dengan kuat sehingga lengannya memerah. Samudra berdiri di depan Olivia dan melepaskan cengkraman Andriana dari lengan Olivia. "Kamu siapa? Dan apa hubunganmu dengan keluarga ini?!" Andriana menatap marah ke arah Samudra yang selalu ikut campur sejak tadi.


"Ma-"


"Mama mengapa menyalahkanku atas semua ini? bukannya mama dan papa bertengkar hebat sejak kemarin?" Olivia mencoba mengangkat suaranya.


Nafas Andriana memburu karena yang di katakan Olivia benar mereka memang bertengkar hebat, tatapannya penuh amarah kearah Olivia. "Apa yang kamu tahu?"


"Aku tahu semuanya ma," balas Olivia.


Flashback


Olivia turun dari mobil Azka. "Kak gue masuk duluan," ucap Olivia dan di angguki oleh Azka.


Olivia berjalan ke rumah itu lalu membuka pintu, tiba tiba Olivia menghentikan kakinya mendengarkan pertengkaran hebat antara seseorang diruang tengah.


"Aku mau kita pisah mas!" teriak Andriana.


Abimanyu menghela nafas berat lalu mengusap mukanya dengan kasar. "Bagaimana dengan perasaan Olivia Ana, dia sangat mencintai kamu?"


Abimanyu marah mendengar perkataan itu, dia mencengkeram bahu Andriana dan menggoyangkannya. "Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu Ana? Bukankah kamu mencintainya?"


"Aku tidak mencintainya! aku hanya pura pura dan kasihan dengan anak malang itu, sekarang rasa kasihanku sudah hilang." Andriana menyentak tangan Abimanyu dari bahunya dan mengeluarkan sepucuk surat. "dan juga pernikahan kita hanya sebatas hitam putih di atas kertas!"


Abimanyu berlutut di hadapan lalu menundukkan kepalanya. "Aku mohon kepadamu Ana, perhatakan rumah tangga kita sampai Olivia menikah, hanya sampai itu."


Andriana tersenyum miring lalu menyilangkan tangannya di dada. "Aku akan tua mas jika menunggunya menikah, kalau begitu kita jodohkan saja dia lalu paksa dia menikah dan kita bisa pisah."


Abimanyu menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak bisa membiarkan putriku menikah dengan orang yang tidak dia cintai."


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Andriana mencondongkan tubuhnya ke arah Abimanyu.


"Aku mohon Ana," ucap Abimanyu memohon tulus lalu bersujud di kaki Andriana.


Andriana menghela nafas kesal lalu memutar matanya malas, dia tiba tiba melihat seseorang, lalu membantu Abimanyu duduk di kursi. Andriana menghapus air mata Abimanyu laku mencondongkan tubuhnyakearahnya. "Anakmu sudah datang kita harus mulai berekting."


Abimanyu menatap sekitar dan sadar akan kehadiran Olivia dia segera mengangguk dan menarik nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya perlahan agar tetap relaks.


Andriana dan Abimanyu duduk di ruang tengah menunggu kepulangan putrinya. Andriana berdiri dari duduknya, lalu berseru. "Mas kita harus melaporkan ini ke polisi, aku takut Livia di culik Mas."


"Kamu tenang dulu kita tunggu Azka pulang," ucap Abimanyu menenangkan sang istri.

__ADS_1


Olivia menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Ma, Pa, Livi pulang," teriak Olivia dia langsung berlari menghampiri Andriana dan Abimanyu yang duduk di ruang tengah itu.


"Livi?" pekik Andriana langsung menghampiri Olivia. Andriana memeluk tubuh putrinya. "Kamu dari mana saja sayang, mama sangat khawatir dengan kamu." Andriana terisak dirinya memeluk erat tubuh putrinya.


Olivia membalas pelukan Andriana. "Mama maaf, Livi sudah membuat mama khawatir," balasnya dengan lirih.


Andriana melepaskan pelukannya, lalu menggeleng pelan. "Kamu dari mana saja sayang?" tanya Andriana, matanya beralih menatap beberapa luka memar di dagu dan sudut bibir Olivia. "Dan mengapa kamu bisa luka seperti ini?"


"Ceritanya sangat panjang ma, Livi tidak bisa menceritakannya," balas Olivia.


Andriana membelai pipi putrinya. "Tidak apa sayang, jika kamu tidak mau menceritakannya. Yang terpenting kamu sudah pulang itu sudah membuat mama senang," ucapnya kemudian menarik tubuh Olivia ke dalam pelukannya.


"Ana, biarkan Livi mandi dan istirahat dia pasti capek," ujar Abimanyu.


Andriana melepaskan pelukannya, lalu mengangguk. "Livi segera masuk ke kamar, kemudian mandi dan istirahat. Mama akan menyuruh bibi membawakan makanan untukmu."


Olivia mengangguk dan segera berjalan menaiki tangga. Andriana segera menarik tangan Azka dan menyuruhnya duduk di sofa. Olivia hanya melirik sekilas ke arah ruang tamu dan segera masuk ke dalam kamar.


Flashback End


"Baguslah kalau kamu sudah tahu," ucap Andriana menyilangkan tangannya di dada. "Aku tidak akan berpura pura lagi."


"Jadi apa benar mama membunuh papa hanya karena ingin berpisah?" tanya Olivia mendongakkan kepalanya menatap kearah Andriana.


Mata Andriana terbelalak kaget mendengar pertanyaan Olivia, Andriana meraih lagi lengan Olivia lalu mencengkeramnya. "Apa maksudmu?! Seharusnya mama yang tanya kemana kamu semalam?" Andriana mentap tajam dan menusuk kearah Olivia.


"Aku berada di toko bunga malam itu aku menginap di sana juga. Jika kamu tidak percaya coba kamu bertanya dengan Samudra dia ada di sana," balasku menunjuk ke arah Samudra.


Samudra mengangguk, dan mulai angkat bicara. "Benar, aku dan Olivia semalam ada di toko bunga kami barbeque bersama."


"Kalian berdua bersama menginap di toko bunga?" tanya Andriana tersenyum miring menatap bergantian kearah Olivia lalu Samudra. "apakah kalian melakukan hubungan terlarang?"


"Andriana! jaga bicaramu!" teriak Olivia menarik lengan Andriana.


Andriana menatap kesal kearah Olivia. "Apa semua itu benar? mengapa kamu marah sekali?" tanya Andriana dengan nada mengejek.


"Tutup mulutmu!" ucap Olivia mendorong tubuh Andriana.


Azka yang melihat itu segera menghampiri mereka berdua dan melepaskan tangan Olivia dari tangan Andriana ibunya. "Hentikan! Kita sedang berada di pemakaman. Mengapa kalian selalu bertengkar!" Azka menghentikan ucapannya lalu menatap Andriana. "Ma Azka mohon."


Andriana yang sudah kesal dia langsung pergi meninggalkan pemakaman. Azka menatap ke arah Olivia dengan sendu. "Maaf atas perbuatan mama ke lo."


Olivia terdiam beberapa detik kemudian mengangguk. "Gue nggak masalah," balasnya lalu tersenyum, dan di balas senyuman oleh Azka.


.......


.......


.......

__ADS_1


...══════•❁❀❁•══════...


__ADS_2