
Olivia berjalan masuk ke dalam rumah bersama Azka yang memayungi tubuh mereka berdua dari hujan. Baru sampai di depan pintu Andriana melemparkan tas dan koper keluar rumah.
Andriana berjalan santai di depan rumah dan menatap Olivia. "Pergi!" perintah Andriana dingin dan menendang tas Olivia.
Olivia menatap Andriana dengan kesal. "Apa maksud mama? mengapa mama mengusirku?"
"Jangan banyak tanya sekarang kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Sekarang rumah ini milik saya!" Andriana beralih menatap Azka yang masih memayungi Olivia, Andriana segera menarik lengan Azka agar segera masuk ke rumah. "Mengapa kamu berdiri di sana, kemari."
"Sampai kapan mama akan menyalahkanku?" tanya Olivia menatap lirih kearah sang mama. "Aku tidak membunuhnya, alih alih menyalahkanku mengapa mama ingin berpisah dengan papa? apa demi pria tua itu?" Olivia menatap penuh tanya kepada Andriana.
Flashback
Olivia mencuci beberapa selada dengan Samudra, Olivia mengedsrkan pandangannya ke jalan, matanya menyipit melihat seseorang yang berada di sebrang jalan.
"Mama?" batin Olivia melihat wanita itu adalah sang mama keluar dari sebuah club dengan pria tua.
Samudra menatap wajah Olivia dari samping, Olivia yang merasa dirinya di tatap pun menatap kembali ke arah orang yang berada di sampingnya.
"Ngapain lo ngelihat gue? Naksir?!" tanya Olivia memicingkan matanya lalu memelototinya.
Samudra segera mengalihkan pandangannya, lalu terkekeh melihat responmu. "Terima kasih," ucap Samudra.
Olivia mengangkat alisnya satu bingung karena tiba tiba Samudra bilang terima kasih kepadanya, lalu dia mengangguk. "sama sama," balasku singkat lalu melanjutkan mencuci daun selada.
Beberapa detik keheningan melanda, tidak ada percakapan di antara mereka berdua. "Siapa nama lo?" tanya Samudra membuka suara memecah keheningan di antara mereka.
Olivia terkejut lalu menatap pria di sampingnya. "N-nama gue?" tanya Olivia kembali sedikit gugup dan menunjuk kearah dirinya sendiri, Samudra mengangguk sebagai jawabannya. "Oh, Olivia," ucapku singkat.
Samudra mengangguk tapi beberapa detik kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Olivia. "Samudra," ujar pria itu memperkenalkan dirinya.
Flashback End
Plak
Andriana marah lalu menampar pipi Olivia. "Jangan kurang ajar kamu Olivia! Aku lebih tua darimu, jangan memfitnah! mama!" Dirinya mendekat kearah Olivia secara perlahan. Dia mulai mencondongkan tubuhnya kedepan kearah Olivia, dan mulai berbisik di telinganya. "bukannya kamu anak haram dari perempuan penggila s**s dengan suamiku."
__ADS_1
Mata Olivia tiba tiba terbuka dengan lebar, nafasnya mulai memburu, serta jantungnya berdesir dengan cepat, tangannya tiba tiba terkepal kuat.
Melihat reaksi tubuh Olivia Andriana tersenyum dengan puas apa yang baru saja dia katakan, kemudian dia mulai berbisik lagi. "Ingat posisimu jangan lupa kamu adalah budak s**s dulu untuk suamiku, namun karena dia tahu kamu adalah anak dari kekasih s**snya dulu dia tidak menjadikanmu j***ng seperti ibumu dan memilih merawatmu."
Tubuh Olivia terdiam kaku, tubuhnya perlahan sedikit mundur menjauh dari Andriana. Melihat itu Andriana juga menjauhkan tubuhnya dari Olivia dan merangkul pundak Azka untuk segera masuk kedalam rumah.
Tanpa sadar air mata Olivia turun, dengan cepat Olivia menyeka air matanya dan berjalan pergi meninggalkan rumahnya. Olivia menangis tersedu-sedu di gang yang gelap, duduk sambil memeluk lutut dengan pipi yang membengkak akibat tamparan ibu tirimu.
Tiba-tiba sebuah tepukan lembut terasa di kepala Olivia dan sebuah payung yang menutupi dirinya dari hujan. Olivia mendongak dan melihat orang tersebut yang memiliki tubuh tinggi dengan rambut pirang dan matanya berwarna hitam pekat dengan sebatang rokok terselip di antara bibirnya.
"Kenapa menangis?" Samudra berbicara dengan suara lembut dan penuh perhatian dengan sentuhannya yang menghangatkan dan menyejukkan hati Olivia.
Olivia tidak bisa berkata apa dan tetap terdiam saat melihat Samudra, air mata masih mengalir di pipinya. Samudra memberikan saputangan untuk menghapus air matamu.
"Mama tirimu nakal sekali! bagaimana dia bisa mengusirmu setelah pemakaman papamu." Samudra berjongkok di tanah agar menyamai tubuh Olivia dan memberi isyarat agar Olivia mendekat.
"Gue juga nggak tahu, dia terlihat sangat sayang kepada gue tapi ternyata semuanya adalah palsu," balas Olivia.
Samudra melingkarkan lengannya di bahu Olivia dan memeluknya dengannya. "Untuk semalam tinggallah dirumahku, aku tidak ingin melihatmu menjadi gelandang di jalan."
"Nggak ada yang salah tapi lo, seperti ngehina gue dengan kata kata itu!" ketus Olivia menatap sinis kearah Samudra.
"Sekarang ayo kita pulang, malam sudah semakin larut," ucap Samudra mengulurkan tangannya kepada Olivia. Olivia tanpa ragu meraih tangan Samudra, mereka berjalan menyusuri gang.
Kalian telah menyusuri gang selama 23 menit, dan akhirnya kalian mencapai sebuah rumah besar dan mewah. Aroma cat baru memenuhi udara saat interior rumah baru dicat. Ini jelas rumah orang kaya. Samudra mendekati pintu dan membukanya.
"Olivia sangat beruntung selalu bertemu dengan orang baik dan mereka semua terlahir kaya," batinnya menatap rumah mewah di depannya.
Samudra berjalan bersama Olivia melewati aula yang kosong, dinding putih dengan cat warna terang membuat rumah tampak lebih besar dari aslinya. Udara segar dengan aroma kayu manis dan mawar memenuhi rumah.
Langkah kaki kalian berdua bergema di lorong-lorong di setiap langkah, lantai marmer terasa dingin di bawah kaki. Yang jelas rumahnya baru saja dibangun dan tinggal menunggu ada yang pindah.
"Rumah lo bagus sekali, bagaimana bisa ko tinggal di sini sendirian?" tanya Olivia menatap wajah Samudra dari samping.
"Ternyata Samudra ini sangat tampan," batin Olivia menatap wajah Samudra yang begitu tampan seperti sebuah hipnotis bagi Olivia.
__ADS_1
"Rumah ini sebenarnya adalah rumah bibiku. Tapi dia selalu dalam perjalanan bisnis jadi dia hampir tidak pernah kembali ke rumah. Aku hanya cukup beruntung bisa meminjam rumah ini sebanyak yang aku mau," balas Samudra menatap kembali kearah Olivia yang membuatnya gelagapan dan langsung membuang muka.
Olivia berlari kearah sofa dan merebahkan dirinya di sana, sofa ini sangat besar seperti sebuah kasur bagi Olivia. Dia menggulingkan badannya di sana tanpa merasa tidak enak dengan sang pemilik rumah yang melihat kearahnya.
Samudra tersenyum tipis melihat tingkah Olivia dia melemparkan handuk ke wajah gadis itu, membuat gadis itu bangun dan menatap kesal kearah Samudra. "Rambut kamu harus kering biar tidak flu."
Setelah mengatakan itu Samudra membawa koper dan tas Olivia ke kamar atas, Olivia yang penasaran mengekori Samudra.
Samudra membawa Olivia ke kamar yang cukup besar dan luas. Mungkin jika di bilang itu hampir seluas rumahnya dulu sebelum bertransmigrasi ke tubuh Olivia.
Olivia berlari dan segera merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, Samudra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Olivia lalu dia meletakkan koper dan tas Olivia di depan lemari. Samudra mulai membuka lemari dan membongkar isi koper Olivia dan memindahkannya di lemari.
Olivia bangkit dari tidurnya lalu menatap ke punggung Samudra. "Samudra~" panggil Olivia.
Samudra yang dirinya berasa di panggil segera membalikkan badannya dan menatap ke arah Olivia. "Ada apa?"
Olivia menunduk lalu memegangi perutnya yang berbunyi seperti sebuah cacing besar yang sedang lapar. "Gue lapar," ucapnya cemberut lalu menatap wajah William.
Samudra berbalik dan menatap Olivia. "Baiklah aku akan memasak sesuatu untukmu." Setelah mengatakan itu Samudra segera berjalan pergi meninggalkan kamar Olivia. Olivia yang melihat Samudra keluar segara mengekorinya.
Samudra memasuki dapur, yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan terbaik. Ia menyalakan kompor dan mengeluarkan satu panci dan wajan.
Samudra melirik sekilas ke arah meja makan melihat Olivia yang tengah duduk menunggu di meja dapur, selanjutnya ia mulai memasak hidangan pasta yang lezat. Setelah selesai dia meletakkandi dua piring, lalu membawanya di meja makan.
"Makanannya sudah siap, silahkan dicicipi." Samudra memberikan piring itu kepada Olivia.
Olivia menerima piring itu dan langsung menyantapnya dengan gembira. "Ini enak sekali!" Dia kembali memakannya lagi setelah mengatakan hal tersebut.
Samudra memperhatikan saat Olivia memakan hidangan yang dia buat tersenyum tipis. Caranya makan dengan nikmat dan nyaman membuatnya bahagia.
.......
.......
.......
__ADS_1
...══════•❁❀❁•══════...