
Diratama Widyanata memberikan helm yang sengaja ia simpan untuk Alkaisha. Ya, hampir setiap hari Tama memberi tumpangan jadi tidak ada alasan lain baginya untuk membawa helm cadangan. Apapun untuk Alkaisha.
"Pegangan yang erat." Tama berkata. Alka yang sudah terbiasa pun merapatkan pegangannya pada Tama. Merangkul Tama yang membuat lelaki itu tidak bisa mengontrol rasa senangnya.
"Cengar cengir kayak kuda," entah darimana Hira datang menendang ban motor Tama. Meledeknya yang bertingkah seperti orang kesurupan.
"Gak bikin orang kesal sehari gak bisa ya?"
"Kalau orangnya modelan kayak kamu paling seru kalau dibuat kesal."
Perkataan Hira menyulut kemarahan Tama. Lelaki itu hampir melempar helmnya jika saja Alka tidak melerai mereka -lagi.
Jemputan Hira datang. Perempuan itu berpamitan pada Alka. Melambaikan tangan dan tersenyum manis. Lalu menjulurkan lidah untuk Tama dan berlari menuju mobil jemputannya.
"Lama-lama makin gak bisa dibiarin tuh anak! Awas aja ya besok!"
"Sudah, Tam. Pulang aja yuk." Alka kembali merapatkan pelukan. Tama memasang helmnya dan mengendarai motor besarnya.
...*****...
Hanya butuh beberapa menit sampai mereka tiba di rumah Alka. Tama memarkirkan motornya di halaman. Rumah Alka tampak sepi. Itu sudah sering terjadi karena kedua orang tua Alka yang sibuk bekerja.
"Alka, kamu masih simpan baju yang pernah aku tinggalin disini kan?"
"Iya, ada di lemari."
Tama langsung menuju kamar Alka untuk menemukan baju Tama yang ada di dalam lemari Alka. Tama memang banyak meninggalkan baju di rumah Alka, alasannya adalah karena sepulang sekolah Tama sering mampir ke rumah Alka atau menemani Alka yang sendirian di rumah. Hingga pernah menginap di rumah Alka.
Tama melepas seragamnya. Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Kaos putih dan celana selutut menjadi andalannya.
Alka baru masuk ke dalam ketika Tama sudah selesai berganti baju dan menyuruh Tama keluar untuk giliran.
__ADS_1
Tidak ada pembantu. Semua dilakukan oleh Alka sendiri. Terkadang Tama juga ikut membantu mengurus rumah. Tama benar-benar terlihat seperti bagian dari keluarganya, dan keluarga Tama juga sudah menyadari bahwa putra mereka sering keluar hanya untuk ke rumah Alka.
Tama membawa kantung kresek berisi sekotak pizza dan minuman yang ia taruh di meja makan lalu memanggil Alka untuk turun.
"Kamu pesan makanan?" tanya Alka.
"Iya, mama kamu tadi nelpon, bilang kalau pulang agak malam. Aku disuruh menemanimu sampai mama kamu pulang."
Alka hanya mengangguk paham. Tama sudah mengambil sepotong pizzanya dan memasukkan ke dalam mulut. Sementara Alka sibuk dengan layar ponselnya.
Ia melihat postingan sekolahnya. Memperkenalkan kapten dari eskul basket yang baru.
"Dia kaptennya?"
Tama mendekat. Ikut melihat layar ponsel Alka. Rautnya berubah tidak suka. "Kamu tertarik sama dia?"
Alka menggeleng. "Bukan gitu, ini postingan dari sekolah kita."
Tama juga sudah tahu tetapi hari ini lelaki itu bertemu Alka dua kali dan Tama takut Alka tertarik dan menjauh dari Tama karena dia. Entahlah, pikiran Tama jadi buruk hanya karena memergoki Alka melihat lelaki selain dirinya.
"Rata-rata anak basket begitu kan? Aku dulu hampir mau ikut eskul itu tapi pasti melelahkan. Lebih bagus ikut eskul seni" Tama menyahut.
"Kamu itu aslinya salah eskul. Kamu gak bisa gambar tapi maksa ikut eskul seni lukis.
"Tidak apa, kan ada kamu yang bisa ngajarin aku."
Tama menampilkan senyum lebarnya. Alka hanya menghela nafas. Kemudian di teringat sesuatu. "Oh ya, aku dengar kalau sepupumu yang pernah tinggal di Australia sudah kembali dua minggu lalu. Mamamu juga bilang dia satu sekolah sama kita, tapi kamu gak pernah ngasih tau tentang dia ke aku."
"Gak penting." Tama menjawab singkat. Suasana hatinya mendadak turun. Ekspresinya terlihat tidak baik.
"Kok gitu?" Alka yang masih belum menyadari keanehan pada Tama bertanya. Tama menyeruput ice coffenya. "Nanti kamu tau seperti apa dia."
__ADS_1
"Dia nakal. Jahat. Kasar. Pokoknya tidak baik dan tidak cocok untukmu, Alka," tambah Tama kembali mengambil sepotong pizza lalu beralih ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Alka terheran-heran akan sikapnya. Tidak biasanya Tama memberi gambaran buruk mengenai bagian keluarganya sendiri.
Langit mulai senja. Alka tidak tersadar tertidur di sofa. Ia memandang sekeliling. Seingatnya dia bersebelahan dengan Tama, menonton televisi bersama. Tetapi lelaki itu tak terlihat di sekelilingnya.
Alka mendengar suara gemericik air di halaman. Ia berjalan menuju luar pintu. Rupanya Tama sedang menyiram bunga-bunganya. Memyadari kehadiran Alka, Tama menoleh dan tersenyum. "Sudah bangun ternyata. Aku baru selesai bersihin rumah. Kamu mandi dulu aja biar bunganya aku siram."
"Kamu melakukan semuanya?"
"Iya, biar kamu tidak capek."
Alka merasa tidak enak pada Tama. Dia selalu seperti ini. Membiarkan Alka istirahat dan ia yang mengerjakan semuanya.
"Alka, bunga-bunganya cantik ya, " Tama tiba-tiba berkata.
"Tentu saja cantik." Alka menyahut. Yang namanya bunga pasti cantik. Meski bau mereka yang bermacam-macam tetapi bentuk mereka tetap indah untuk dilihat.
"Seperti mu." Tama bergumam. "Tapi kamu lebih cantik, " lanjutnya diiringi tawa.
Alka merasa ada sedikit rasa hangat di kedua pipinya. Ia menggeleng. "Aku mandi dulu," pamitnya mengabaikan perkataan Tama barusan. Tama masih menertawainya karena lucu melihat Alka yang salah tingkah.
Alka melihat pesan di ponselnya. Membalas chat Hira ketika ia baru selesai mandi. Ia berjalan menuju sofa sedikit terkejut karena isi chat dari Hira begitu banyak. Dan inti dari percakapan itu adalah karena Hira terkejut melihat lelaki yang menolongnya ada di postingan instagram sekolah dengan jabatan ketua basket.
'Kamu tau gak Al, Rafan itu ternyata murid baru di sekolah kita yang heboh waktu itu' kata Hira di chat.
Alka mencoba mengingat. Dua minggu lalu memang ada kehebohan di sekolah karena ada murid baru di kelas sebelah. Namun baik Alka ataupun Hira tidak terlalu peduli dan justru keasikan mengobrol di kelas tanpa mengikuti gerombolan siswa yang melihat siapa murid baru itu.
Dia adalah Rafandra Paraduta. Alka baru saja mengenal dirinya hari ini. Melihat dia dan tahu tentang namanya dari postingan instagram sekolah.
Tersadar akan sesuatu, Alka terdiam. Rafandra adalah murid baru yang dua minggu lalu bersekolah di sekolahnya. Sementara sepupu Tama juga merupakan murid baru di sekolahnya yang masuk dua minggu lalu. Mungkinkah?
Tama keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di leher. Dia baru selesai keramas. Alka menatapnya. Tama merasakan ada getaran dalam dadanya. Percaya dirinya meningkat. "Kenapa kamu mandang aku kayak gitu? Kamu terpesona dengan ketampananku ya?" goda Tama.
__ADS_1
Alka menggeleng. "Bukan itu, aku mau bertanya sama kamu." Sedikit ada rasa kecewa, namun Tama juga penasaran dengan pertanyaan Alka. Gadis itu terlihat serius. Ekspresi Tama berubah ketika Alka menunjukkan foto di ponsel. Mengangkat dan memperlihatkan pada Tama yang langsung terdiam di tempat.
"Rafandra itu sepupu kamu?"