Bukan Tokoh Utama

Bukan Tokoh Utama
07


__ADS_3

Senja di langit terlukis. Mobil Rafandra tiba di halaman. Penampilannya berantakan. Karena perkelahian tadi, membuat seragamnya kusut. Meski begitu, Rafandra bersyukur tidak ada luka yang ia terima.


Rafandra menenteng tas nya menuju ke dalam rumah. Dia baru saja melewati sofa. Seseorang yang sedari menunggu sambil membaca koran dan kopi di meja menatap padanya. "Dari mana kamu sejak kemarin?"


Rafan menoleh. Vikrama sang ayah dari Rafandra memberi tatapan tajam. Pria itu berdiri, mendekat ke Rafan yang tak kunjung berkata. Indra penciumnya merasakan sesuatu. Bau yang familiar dan amat ia benci.


"Sudah berapa kali Papa bilang padamu, bergenti merokok! Kamu ingin meniru bundamu!?"


"Rafan gak ngerokok Pa," putra semata wayang Vikram akhirnya bersuara. Ini pasti karena perkelahian nya dengan Danu. Rafan tidak tahu jika bau rokok Danu menempel pada tubuhnya.


"Jangan alasan! Papa nyium bau rokok dari badanmu! Kamu pikir Papamu bisa dibodohi?" Vikram tak sedikitpun memberi kesempatan bagi Rafan untuk menjelaskan. Pria itu terlanjur dipenuhi amarah.


"Papa balik kesini karena masalah yang kamu buat di Australia. Dan disinipun kamu ingin buat masalah juga? Apa kamu belum jera?"


Vikram itu berwarak keras. Dia disiplin terhadap anaknya meski itu putra semata wayangnya sendiri. Rasa trauma yang ia miliki karena kematian sang istri membuatnya tidak ingin putranya mengalami hal yang sama.


Namun, cara mendidik putranya bisa dibilang terlalu berlebihan.


Dan itu harus diterima oleh Rafandra yang masih remaja.


Vikram membuka pintu hitam itu. Ruangan rahasia yang ia buat khusus di rumahnya. "Masuk!" titah Vikram.


Rafan tidak bisa membantah. Apapun yang fikatakan olehnya tidak dipedulikan oleh Vikram karena ia tak punya bukti. Ia hanya bisa pasrah. Bersiap menerima hukuman.


Rafan melepas seragam selagi Vikram menutup pintu.


"Agar kamu tak mengulanginya, kali ini adalah hitungan seratus."


...*****...


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Setelah puas bermain, Tama menemani Alka membeli buku novel yang ia inginkan.


Senang bisa menghabiskan waktu bersama Alka. Tama tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Mereka berdua duduk di salah satu meja food court. Memesan makanan dan minuman. Alka membuka lembar demi lembar buku novel yang dibelinya sambil mengemil kentang goreng.


"Apa sih yang kamu suka dari karakter fiksi begitu?" Tama bertanya. Dia dudah penasaran sedari dulu. Alka tidak pernah peduli sekitar dan lebih menyibukkan diri dengan buku-bukunya.


"Menarik. Aku juga tidak tau mengapa aku selalu terpesona dengan karakter yang tidak nyata," jawab Alka jujur.

__ADS_1


"Bukankah lebih bagus yang nyata? Aku sudah ada di hadapanmu loh, Al. Apa aku tidak seperti karakter fiksi yang kamu baca?"


Alka memandang Tama lamat-lamat. Ia menggeleng. "Enggak. Karakter yang ku baca itu kuat, abadi, dan kanibal." Alka menjepit kelingking Tama secara tiba-tiba dan membuat Tama berteriak kesakitan.


"Sakit Al," keluhnya.


"Tuh. Kelingking kejepit aja mau nangis, masih ingin jadi karakter fiksi." Alka kembali berkutat dengan bukunya.


"Ya, ini kan mendadak. Sakit karena belum siap." Tama mencari alasan.


"Gak usah mimpi lagi jadi karakter fiksi," balas Alka telak.


"Jahat bener," Tama cemberut.


Alka menghela nafas. Dia sudah mengenal sosok Tama bertahun-tahun. Sikap childish nya belum berubah. Itulah mengapa Alka khawatir bagaimana jika Alka tidak ada di sisinya? Siapa yang akan merawat dia?


"Kamu gak perlu jadi karakter fiksi. Cukup jadi dirimu. Karakter fiksi hanya bisa dibayangkan tetapi tidak bisa dirasakan, berbeda dengan karakter di dunia nyata." Alka tersenyum tipis.


"Kamu karakter dunia nyata untukku, Tama. Aku tidak perlu lelah berimajinasi dan berharap bisa merasakanmu. Karena kamu sudah ada bersamaku tanpa aku harus membaca novel untuk menemukan karakter sepertimu."


Perkataan Alka membuat Tama terdiam. Lelaki itu tekejut. Samar-samar lerlihat rona merah di pipinya. Jantungnya berdegup kencang. Itu adalah kalimat yang panjang. Butuh beberapa saat bagi Tama untuk mencerna. Dan sekarang tubuhnya terasa tidak terkendali. Apakah ada arti spesial dibalik kata-kata itu?


"Disini." Tama memegang dada kirinya. Memandang Alkaisha. "Degupannya terlalu keras. Rasanya sesak" katanya dengan wajah yang memerah.


Alka merona. Ia tidak tahan melihat Tama yang sedang terpesona padanya. Ini pertama kali ia melihat Tama sangat menggemaskan. Alka tidak bisa diam hanya dengan melihatnya. Kedua tangan miliknya sampai pada pipi Tama. Mencubit hingga melar. "Aw! Sakit Al!"


Senyum Alka mengembang. "Lucu." komentarnya. "Kamu lucu banget Tam. Gemesin."


Entah Tama harus senang atau tidak. Nyatanya di mata Alka, Tama masih terlihat seperti anak-anak.


Alkaisha tidak pernah merespon serius terhadap perlakuan Diratama.


Karena hari sudah mulai gelap, mereka pun pulang. Tama mengantar Alka sampai depan rumah. "Bentar lagi ujian semester. Kamu harus belajar dengan benar," Alka memberi nasihat.


Tama mengangkat sebelah tangan. Membuat pose hormat di kepala. "Siap! Apapun akan kulakukan asal Alka yang memerintahkan!" ucapnya.


"Nilaimu harus naik."


"Pasti. Aku akan belajar bersamamu mulai besok."

__ADS_1


"Belajar sendiri tidak bisa?"


"Selagi ada kamu, tidak ada salahnya belajar bersama bukan?"


Alka hanya bisa mengiyakan. Tama selalu memiliki banyak alasan yang sanggup membuat Alka terdiam. Lelaki tersebut tak pernah menyerah.


"Baiklah. Sepulang sekolah, aku akan mengajarimu," kata Alka yang membuat Tama kegirangan.


Meski ini bukan pertama kali belajar bersama dengan Alka, tetap saja Tama merasa bahagia.


Bahkan ketika Diratama sudah berpamitan. Berada di jalan raya, senyum nya masih terukir indah di wajahnya yang manis dan mungil.


Jarak rumahnya dengan Alka tidak seberapa jauh. Dan hanya butuh sekitar lima belas menit bagi Tama sampai pada rumah.


Baru saja dia memarkirkan motor, kedua orang tuanya tampak tergesa-gesa menuju mobil. "Tama, darimana saja baru pulang jam segini?" tanya Diana.


"Nemenin Alka beli buku sama jalan-jalan sebentar. Papa sama Mama mau kemana?"


"Darurat. Papa sama Mama harus ke rumah Rafan."


Tama menaikkan alisnya. "Memangnya ada apa?"


"Papa nya Rafan ada di rumah."


Tama masih tidak mengerti. "Lalu kenapa?"


Diana ingin menjelaskan lebih jauh tetapi Erfan memanggilnya. Dan Diana pun masuk ke mobil dengan segera. Sebelum mobil itu berangkat, Diana masih sempat membuka jendela.


"Jika lapar, Mama sudah buatin makanan di meja. Hangatkan jika perlu." pesan Diana lalu melambai pada putranya dan mobil itu melaju kencang meninggalkan kediaman rumah.


Tama masih berdiri disana. Belum sepenuhnya memahami. Mengapa kedua orang tuanya sangat terburu-buru pergi ke rumah Rafan hanya karena ada Vikram. Bukankah sangat wajar ayah Rafan pulang ke rumah. Walau gila bekerja, beliau masih menyempatkan diri pulang untuk menengok Rafan. Lalu apa yang salah?


Mengapa kedua orang tuanya tampak cemas? Dan ketakutan?


Tama mengingat kejadian siang tadi. Firasatnya buruk. Mungkinkah ada kaitannya dengan tawuran itu?


Apa ada seseorang yang memberitahu ayah Rafan tentang hal itu?


Tama mengacak rambutnya frustasi. Semakin ia pikirkan semakin sakit kepalanya. Ia tidak tahu apapun tentang keluarga Rafan, tetapi orang tuanya selalu bercerita jika Vikram itu menakutkan kalau marah. Dan ia tidak segan-segan melayangkan pukulan pada putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Haruskah aku kesana juga?"


__ADS_2