
Getaran itu terpacu dengan cepat. Rafandra memalingkan wajah. Berdiri, berjalan menjauh. Keempat temannya mengikuti dari belakang. Sulit untuk dikatakan. Rafan tidak tahu harus memulai darimana. Pertemuan singkat itu tidak mungkin tidak membekas.
Tidak ada yang tahu isi hati Rafandra. Dia jarang membicarakan tentang hal yang ia sukai atau masalah yang ia hadapi kepada teman-teman nya. Kepercayaannya sulit utuh karena trauma di masa sekolah sebelumnya dimana dia hanya dimanfaatkan dan tidak ada yang tulus berteman dengannya.
Sifat keempat teman Rafan masih belum sepenugnya terlihat. Mereka memang suka mendekati Rafan atau menempeli Rafan dan membujuknya berbagi jawaban tugas dari para guru. Rafan tidak mempermasalahkan. Setidaknya empat teman Rafan saat ini jauh lebih baik daripada teman Rafan di masa lalu yang lebih suka morotin uang Rafan dan membuat Rafan dipandang buruk karena kesalahan yang tidak Rafan lakukan.
Rafan melihat hasil ulangan matematika minggu ini. Nilai sempurna. Ia meremat kertas itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah kamarnya. Tidak ada yang bisa ia banggakan. Bahkan ayahnya sendiri tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersamanya. Dan hanya merespon singkat saat Rafan menunjukkan nilainya. Terlihat tidak begitu peduli.
Medali dan piala di kamarnya hanya pajangan. Sebuah hiasan untuk sedikit melengkapi kamar Rafan yang sangat polos. Masalah kebersihan ia serahkan semuanya pada pelayan rumahnya. Tidak sedikitpun Rafan peduli untuk memegang medali dan piala itu ataupun merawatnya. Niatnya sih ingin ia buang, tetapi tante dan om nya sering menghubunginya ataupun berkunjung ke rumahnya dan selalu memberikan pujian baik yang membuat Rafan senang karena melihat hasil kerja keras Rafan di masa-masa sekolah.
Rafan memandangi foto sang bunda. Ia teringat sesuatu. Rafan berjalan ke arah tong sampah. Mengambil rematan kertas nilai itu lalu ia simpan di sebuah map dengan rapi bersama kertas nilai yang lain.
Ponsel Rafan berbunyi. Telepon dari Tante Diana. "Rafan, malam ini makan malam di rumah Mama ya."
"Iya Ma."
"Mama tunggu. Jangan ngebut di jalan. "
"Iya."
Panggilan berakhir. Tante Diana lah yang menyuruh Rafan untuk memanggilnya 'Mama' dan menganggapnya seperti 'Mama kedua' untuk Rafan. Kepergian sang Bunda karena sakit disaat umur Rafan menginjak lima tahun membuat ia diasuh oleh Diana. Ayah Rafan terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya sehingga mau tidak mau Rafan bersama keluarga Diana.
Namun, seiring berjalannya waktu, Rafan terpaksa ikut pindah karena pekerjaan sang Ayah diluar kota.
Dan ia bersyukur telah kembali ke tanah kelahirannya.
Begitu Rafan membuka pintu mobilnya, Diana menghampiri lalu memeluknya. Wanita itu telah menunggu di luar setelah menelpon Rafan.
"Masuk ke dalam yuk," ajak Diana. Membawa Rafan masuk ke dalam rumah. Rafan duduk di meja makan. Hari ini Diana membuat kue kering. Ia ingin Rafan mencicipinya terlebih dahulu. "Bagaimana?" Tanyanya.
"Masakannya Mama tidak pernah mengecewakan kok." Rafan tidak bohong.
"Om Erfan lagi keluar ya Ma?"
__ADS_1
"Iya, dia ada janji ketemu sama kolega. Bentar lagi mungkin pulang."
Terdengar suara motor di halaman depan. Dari suaranya saja, Rafan bisa menebak siapa yang datang. Lelaki seumuran dengan dirinya. Menatap tidak suka.
"Tama-"
"Tama lagi capek Ma," sela Tama menuju tangga.
"Ini ada Rafan loh. Sampai kapan sikap kamu begitu sama saudaramu?"
Tama menghela nafasnya. "Rafan bukan saudaraku. Tama cuma punya satu saudara dan dia sudah tenang di atas sana."
"Tama!"
Seruan Diana keluar bersamaan dengan Tama yang menutup pintu kamar. Rafan menatap dari bawah. Ia merasa tidak enak hati. Tante Diana memang masih terbayang dengan kematian anak keduanya yang gugur dalam kandungan dan Rafan pikir mungkin itulah alasan Diana sangat menyayanginya seolah dia juga putranya.
...*****...
Makan malam itu hening sekali. Diana lebih memerhatikan Rafan daripada Tama yang merupakan anak kandungnya sendiri. Erfan, sang Papa baru tiba dan langsung ikut serta makan malam bersama.
Nafsu makan Tama menurun. Ia tidak lagi melanjutkan. Diana yang tahu putranya mau meninggalkan meja makan, mencegah. "Habiskan dulu makananmu."
"Kenyang," jawab Tama.
"Tama," Kini Erfan yang berbicara. "Duduk dan habiskan dulu makananmu."
Tama duduk kembali. Ia terpaksa.
Setelah acara makan malam, Tama sedang duduk teras belakang rumah. Membalas chat Alkaisha disertai senyuman.
Bola kertas meluncur mengenai kepala Tama. Kertas yang berisi tulisan 'Orang gila' sudah jelas dari siapa. Tama menoleh ke belakang tubuhnya. Mendelik tajam. Rafan menyeringai.
Tama meremat kertas itu. Membuang kasar ke segala tempat. Mencoba tidak peduli tetapi bola kertas itu datang lagi. Menguji emosinya yang tidak stabil. Tama berdiri dari kursinya. Kembali menoleh ke arah Rafan dengan kebencian.
__ADS_1
Sekali lagi Tama tidak peduli. Mengabaikan Rafan dan berjalan melewatinya. Namun ucapan Rafan menghentikan langkah Tama. Hanya satu kalimat mampu membuat Tama berhenti di tempat.
"Alkaisha."
Rafan berbalik melihat punggung Tama. "Apa rumor itu benar? Kalian berpacaran?"
Tama mengepalkan kuat tangannya. "Bukan urusanmu." balasnya dan melanjutkan langkah. Menjauhi Rafan.
Entah sampai kapan perseteruan diantara mereka berakhir. Tama benar-benar tidak menyukai keberadaannya.
Rafan pun beranjak pamit untuk pulang. Menolak tawaran Diana yang ingin dirinya bermalam.
Rafan tidak langsung pulang ke rumah. Ini masih jam delapan malam. Ayahnya belum pulang. Dia memilih untyk berkeliling sebentar tanpa tujuan.
Hingga tibalah Rafan di rumah Calvin. Kedua orang tuanya sedang liburan jadi Calvin sedang sendirian di rumah.
"Nginep aja, kita bisa main ps sepuasnya disini," kata Calvin menyodorkan stik game untuk Rafan. Sebelumnya dia sudah menyediakan minuman dan camilan.
Rafan melihat Calvin mengeluarkan batang rokok dari kemasan. Mengapitnya diantara dua belah bibir dan hampir menyalakannya, tetapi Rafan langsung merebut batang rokok itu. "Bahaya," ucapnya.
"Sekali doang, Raf. Ini yang terakhir."
"Gak."
"Astaga Rafan, please. Itu cuma sisa satu masa kamu ambil juga."
"Kesehatanmu lebih penting."
Harusnya Calvin bersyukur punya teman seperti Rafan yang senantiasa mengingatkan meski mereka belum genap sebulan berteman. Rafan itu tidak banyak bicara tetapi bukan berarti dia tidak peduli sekitarnya. Calvin memang agak kesal saat Rafan menyuruhnya berhenti merokok namun yang dikatakan temannya itu ada benarnya dan ini juga untuk kebaikan Calvin sendiri.
"Iya iya, enggak." Calvin mengalah.
"Raf, kamu sudah bilang orang tua kamu kan kalau kamu menginap di rumahku?" calvin bertanya setelah mereka selesai menyelesaikan satu ronde permainan. Tentu Rafan yang menang.
__ADS_1
Rafan menggeleng sebagai jawaban. "Kamu bilang dulu. Takutnya mereka khawatir." Calvin mengingatkan. Dia tahu Rafan anak tunggal dan biasanya anak tunggal itu yang paling di cemaskan sama orang tuanya. Dan yang paling dijaga dengan sangat baik. Namun Rafan tak terlihat buru-buru atau panik. Meski jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Tidak akan ada yang mencariku. Tenang saja," jawaban Rafan justru membuat Calvin merasa heran.