
Rafandra Paraduta, lelaki tinggi yang selisih sedikit dengan tinggi Diratama. Berkulit putih, hidung mancung, merupakan siswa pindahan yang datang dari Australia. Sepupu dari kerabat ayahnya. Diratama tahu akan kehadiran Rafandra di sekolah. Namun, terjadi perseteruan diantara mereka di masa lalu yang belum terselesaikan. Itulah mengapa hubungan keduanya belum membaik hingga sekarang.
Tama lega karena Alka tidak memedulikan kehadiran Rafan yang heboh di sekolah. Itu karena wajahnya terlihat seperti wajah campuran meski kedua orang tuanya adalah orang lokal. Rafan juga pintar dalam mata pelajaran, dia memiliki segudang prestasi sejak kecil. Pintar bermain musik serta olahraga, tentu banyak yang meliriknya. Dan itu membuat Tama cemas.
Alkaisha bukan gadis yang mudah terpesona. Dia juga selalu bersikap tak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan lebih menyendiri ditemani buku novel seolah dia masuk ke dalam cerita.
Selama Rafan bersekolah, selama itu juga Tama tak melepas pandangannya ke Alka. Dia takut jika lengah sedikit saja, Alka akan menyadari kehadiran Rafan dan saat itu Rafan benar-benar menjadi musuh Tama.
Tetapi hal itu tentu tidak berlangsung lama. Karena cepat atau lambat Alka juga pasti menyadari kehadiran Rafan. Dia pasti bertemu Rafan. Dan semuanya terjadi hari ini.
Tama tidak tahu harus bereaksi seperti apa dikala foto Rafan ditunjukkan kepadanya oleh Alka. Tama memang jarang membicarakan kerabat keluarganya terutama Rafan, karena Tama masih memiliki kebencian pada sepupunya itu.
Belum sempat Tama menjawab, suara mobil terdengar di halaman depan. Mamanya Alka sudah pulang lebih dulu daripada sang Papa. Kesibukannya sebagai penyiar televisi terkadang menyita waktunya dengan putri satu-satunya.
"Tama masih disini? Maaf ya, Tante ngerepotin kamu. Buat jagain si Alka." Eve melepas jaketnya.
"Tidak apa kok, Tan. Ini kan memang tugasnya Tama." Selalu itu jawaban yang Tama berikan. Eve mengulas senyum. Mengusap puncak kepalanya. "Papa sama Mama kamu sudah tau kan kalau kamu disini?"
"Sudah, Tama sudah bilang kok ke mereka."
"Syukurlah."
Eve beralih pada Alka. Memberi pelukan. "Tama makan dulu ya, Tante mau buatin makan malam buat kamu sama Alka."
Tidak ada alasan bagi Tama untuk menolak. Dia mengangguk semangat. Lagipula dia masih ingin berada lebih lama di dekat Alka. Perbincangan mereka pun teralihkan dan tidak ada bahasan lagi mengenai Rafandra Paraduta.
...*****...
Keesokan harinya, Alka diantar sang papa untuk pergi ke sekolah. Hari ini Papanya ada jadwal operasi. Meski sangat padat, Papanya selalu menyempatkan untuk mengantar putrinya berangkat ke sekolah.
"Terima kasih, Pa," kata Alka begitu mereka sampai. Dion memegang lengan Alka yang hampir membuka pintu. "Cium Papa dulu."
Chup! Alka memberi ciuman di pipi dan membuat Dion tersenyum. Alka berpamitan. Melambaikan tangan lalu menutup pintu mobil dan memasuki gerbang sekolah.
Alkaisha banyak dikenal meski dia jarang bersosialisasi. Itu karena kepribadian Alkaisha yang baik, pintar, dan wajah cantiknya memukau semua orang yang melihatnya.
__ADS_1
Sayang, tidak ada yang berani mendekatinya lebih dulu karena takut tidak sebanding dengan Alkaisha. Terlebih lagi, Alkaisha dijaga oleh Diratama.
Hari itu anak klub basket sedang bermain. Banyak siswi yang melihat. Alka memandang sekilas. Matanya tak sengaja bertatapan dengan Rafandra yang telah memasukkan bola ke dalam ring.
Itu hanya sesaat. Alka kembali berjalan menuju kelas tanpa menyadari bahwa Rafan masih memusatkan perhatian padanya.
Tama masih belum datang. Tidak biasanya dia telat. Beruntung sebelum bel berbunyi dia akhirnya tiba di kelas dengan nafas ngos-ngosan.
"Tumben?" Alka bertanya. Tama tertawa sambil menggaruk tengkuknya. "Ketiduran hehe."
Hira yang mendengar, meledek seperti biasa. "Makanya, alarm kalau sudah bunyi itu segera bangun, bukannya dimatiin terus tidur lagi."
"Aku kuncir loh mulutmu, Hir."
"Memang bisa? Kamu kan gak punya kuncir rambut."
"Punya. Ada di Alka, nanti aku pinjam."
"Pfftt. Modal pinjam saja bangga."
Alka dan Khandra segera memisahkan mereka. Khandra membawa Tama untuk pergi ke bangkunya karena sebentar lagi guru mereka pasti datang. Hira masih sempat menoleh ke belakang, menjulurkan lidah untuk Tama. Jika saja Khandra tidak menahannya, Tama pasti kembali bertikai dengan Hira.
Memasuki jam istirahat, Alka bersama Hira sedang memesan makanan di kantin. Hira pergi mencari tempat duduk. Dia tidak ditemani Tama karena Tama menemani Khandra yang sedang ada kegiatan osis. Khandra itu pendiam dan juga kurang bersosialisasi seperti Alkaisha. Melihat dia sibuk dengan tugas osisnya, Tama menawarkan bantuan. Itulah mengapa dia tidak pergi ke kantin bersama Alka dan juga Hira.
"Rafandra Paraduta. Bisa-bisanya aku baru tau namanya sekarang," gumam Hira menatap ponsel. Mencari informasi tentang Rafandra.
"Wah, dia bisa jadi sainganmu nih Al. Prestasinya banyak, udah gitu semua nilainya gak ada yang dapat B apalagi CDE." Hira terkejut mengetahui informasi yang ia terima tentang Rafan. Salah seorang temannya yang kebetulan satu kelas dengan Rafan memberitahunya.
"Ganteng. Pinter. Tinggi. Kaya lagi. Duh idaman banget," kata Hira melengkungkan bibirnya. Membayangkan ia bisa dekat dengan Rafan yang memiliki ribuan follower di Instagram.
"Kamu suka dia?" Alka bertanya.
"Cuma kagum aja kok. Jarang ada cowok kayak Rafan. Aku juga sadar diri kalau suka sama dia. Tapi waktu dia nolongin aku manjat pagar, jika diingat aku jadi malu. Jujur Al, aku kaget banget lihat ada cowok seganteng Rafan tiba-tiba datang membantu. Aku pikir aku sedang berhalusinasi ternyata tidak. Dan dia satu sekolah dengan kita. Sayang banget aku baru tau dia sekarang."
Alka hanya mengangguki ucapan Hira tanpa merespon lebih jauh. Makanan di piringnya jauh lebih menggoda dan membuat Alka ingin segera menyantap.
__ADS_1
Hira yang lagi terbengong sambil menyeruput es teh langsung terkejut sampai terbatuk karena cowok yang mereka bicarakan sedang ada di sebelah meja mereka.
Rafan dan keempat temannya. Marcel, Heindra, Reno, Calvin. Mereka menatap ke meja Hira dan Alka. Keempat teman Rafan memberi respon tawa yang tertahan sementara Rafan terlihat tak peduli.
"Wow, Rafan benar-benar terkenal ya? Aku sampai iri." Heindra berkomentar. "Hei, Raf. Jadi dia cewek yang kamu tolongin waktu itu?"
"Oke juga. Kamu kelas IPA 1-C? Aku gak kenal kamu sih tapi cewek di sebelah kamu banyak yang ngomongin, karena dia lebih milih ke kelas IPA 1-C daripada kelas IPA 1-A yang rata-rata anak pintar semua. Katanya sih karena dia punya teman yang gak bisa ia tinggalin."
Hira terdiam. Alka tidak pernah bercerita tentang ini sebelumnya. Dan ia tidak tahu apapun tentang Alka yang menolak untuk masuk ke kelas IPA 1-A.
"Gak usah menyebar rumor yang gak jelas." Alka menyahut setelah ia menghabiskan makan siangnya. Ucapan Reno barusan sedikit membangkitkan emosinya. Raut Alka mendadak dingin. Ia memang tidak banyak bicara tapi tatapan intimidasi nya sangat kuat.
Reno bukan cowok yang lemah hanya karena gertakan itu. Terlebih, jarang-jarang Alka merespon perkataan dari lawan jenis selain Diratama dan juga teman sekelasnya. Gadis itu benar-benar tertutup.
"Kamu milih kelas IPA 1-C karena ada si Tama kan? Kalian berpacaran? Kayak gak bisa hidup tanpa si Tama."
"Aku dan dia teman sejak kecil. Apa masalahmu jika aku tidak memilih kelas IPA 1-A? Aku diberi pilihan dan aku berhak memilih sesuai keinginanku."
"Ngaku aja kalau kamu memang gak bisa hidup tanpa si Tama. Kamu suka kan di bucinin dia? Ngintilin kamu terus. Sampai milih eskul saja harus sama kayak yang kamu pilih."
Alka berdiri dari tempatnya. Dia menghampiri Reno yang tersenyum jahil ketika Alka mulai tersulut emosi. "Kalau kamu punya masalah sama aku bilang aja, gak usah bawa-bawa Tama!"
"Ini pertama kalinya Alka mulai berinteraksi sama cowok selain Tama." Calvin ikut dalam obrolan. Sementara Reno memandangi wajah Alka yang amat cantik dalam jarak dekat.
"Kamu cantik banget sih, Al " Reno tidak bisa tidak memuji.
"Kesempatan, Mumpung pawangnya gak ada," kata Marcel.
Namun disaat semua teman Rafan terpaku dengan Alka. Hira yang kebingungan dengan situasi. Rafan bersuara memperingati teman-teman yang satu eskul basket dengannya.
"Berhenti mengganggunya."
Sekali lagi mata Rafan bertemu dengan mata Alka. Sejauh ini Alka masih belum tahu sosok Rafan lebih dalam. Mengapa ia melihat kilasan balik yang tidak bisa Alka ingat ketika Rafan yang menatap manik dalamnya
Hal apa yang telah ia lupakan?
__ADS_1