Bukan Tokoh Utama

Bukan Tokoh Utama
0-7 : Pembalasan Dan Hukuman


__ADS_3

...PERINGATAN!!!...


...Terdapat adegan bullying dan kekerasan yang tidak baik untuk di tiru...


.......


...Happy Reading...


...══════•❁❀❁•══════...


.......


.......


.......


Olivia pagi ini sudah berada di dalam kelas, dia menaruh tasnya di atas meja lalu segera mendudukan bokongnya di kursi. Dia menopangkan kepalanya diatas tas dengan posisi kepala menghadap ke samping melihat ke luar jendela.


Beberapa siswa siswi mulai berdatangan memasuki kelas.


"Eh, lo udah ngerjain PR biologi?"


"Anjir, hari ini ada biologi? gue kok nggak bawa bukunya."


"Mampus lo, di hukum Bu Nina lari lapangan."


"Sumpah gue lupa."


"Woi, yang udah PR Biologi gue contekin."


Seperti itulah kegiatan setiap pagi di kelas ini selalu menanyakan tentang PR, Olivia merogoh lacinya mengambil buku biologi di sana. Olivia melempar bukunya ke arah siswi itu kemudian segera berjalan keluar kelas.


Siswi itu mengambil buku Olivia, lalu membuka buku itu. "Tumben dia udah ngerjain?" tanya siswi itu. Kemudian ia menggeser buku Olivia, memperlihatkan ke temannya yang lain. Temannya mengangguk lalu segera menyalin jawaban itu ke bukunya.


Olivia berjalan menyusuri lorong kelas, dia melihat beberapa siswa yang berlalu lalang, bermain basket di lapangan dan ada juga yang sedang duduk di gazebo membahas tentang pelajaran.


Olivia berbelok ke kanan menuju arah toilet, saat di depan pintu toilet wanita dirinya tidak sengaja menabrak seseorang. "Maaf," ucap Olivia menundukkan kepalanya.


Orang itu mentap sinis ke arahnya. "Makanya kalau jalan itu di pakai matanya," sewot orang itu, berjalan ke luar. Olivia tersenyum, belum sempat orang itu pergi, Olivia menarik kerah seragamnya, lalu berganti menarik rambutnya dan kemudian dia memukulkan muka orang itu ke tembok.


"Argh," erang orang itu saat mukanya mengenai tembok.


"Gimana rasanya?" tanya Olivia tersenyum miring.


"Aish lo!" ucap orang itu menudingkan jarinya ke arah wajah Olivia. Kemudian dia terdiam merasakan sesuatu keluar dari hidungnya, orang itu menaruh jari di bawah batang hidung terlihat cairan kental yang menempel di tangannya. Ya! orang itu mimisan, orang itu mendesis menatap tajam ke arah Olivia, lalu berjalan menghampiri nya. "dasar ******!!!"


Brakk


Olivia menendang perut orang itu sampai tubuhnya membentur pintu toilet, membuat orang itu tersungkur di dalamnya.


Olivia berjalan menghampirinya yang terduduk di lantai, dirinya berjongkok menyamai tubuh orang itu. "Widia, ini tidak seberapa pembalasanku," ucap Olivia, tangannya mengelus pipi milik Widia lalu menepuknya pelan. "Gue harap lo tidak bermain main dengan gue lagi." Olivia tersenyum miring, kemudian ia berdiri meninggalkan Widia yang masih terduduk di lantai.


Olivia menghentikan langkahnya, kemudian dia membalikkan badannya kembali lagi ke arah Widia. Olivia mengulurkan tangannya di depan Widia.


Widia dengan cepat menepis tangan Olivia. "Apaan lo? lo nggak lihat muka gue udah bonyok?" tanyanya dengan ketus.


"Ck, udah nggak usah dendam sama gue," balas Olivia menarik tangan Widia.

__ADS_1


"Aaaa," teriak Widia saat tangannya di tarik Olivia. "Sakit bego!"


Olivia menatap malas Widia. "Gak usah lebay deh, yang sakit itu hidung, kaki, sama pantat lo bukan tangan!" ucap Olivia. Dia kembali menarik tangan Widia keluar toilet.


•••


Olivia dan Widia sekarang sudah berada di kantin yang sepi, karena jam pelajaran pertama baru saja di mulai. Olivia menyantap bakso yang dia pesan, sedangkan Widia hanya mengamati Olivia yang lahap memakan bakso itu.


"Lo jauh jauh nyeret gue, cuma buat lihat lo makan?" tanya Widia kesal, menatap orang yang duduk di depannya.


Olivia melirik sebentar ke arah Widia, lalu menyantap kembali baksonya. "hm, ada untungnya juga kan lo bisa lihat wajah gue yang cantik Ini," balas Olivia dengan mulut yang penuh pentol bakso.


Widia berdecih, lalu ia mengedarkan pandangannya ke luar area kantin. Sedangkan Olivia masih sibuk menyantap bakso miliknya.


"Aaaaa," teriak Olivia dan Widia bersamaan saat seseorang tiba tiba menarik telinga mereka dari arah samping. Olivia dan Widia reflek menatap kearah orang itu.


"Enak ya makan di kantin?" tanya guru itu, guru itu melepaskan tarikan telinganya lalu berkacak pinggang.


"Eh, Bu Tika," panggil Widia, dengan muka yang cengegesan.


"Bu Tika mau bakso? bakso buatan Pak Dadang enak sekali bu," timpal Olivia tersenyum lalu menggeserkan mangkoknya ke arah Bu Tika.


Terlihat wajah Bu Tika sudah sangat geram dengan tingkah mereka berdua, dia kembali menarik telinga Olivia dan Widia. "Sekarang kalian berdua ikut ibu!" perintahnya menarik mereka berdua keluar dari kantin.


"Aduh bu, sakit," teriak Widia dan Olivia bersamaan, lalu mengikuti langkah Bu Tika keluar dari kantin.


Bu Tika membawa mereka ke tengah lapangan, lalu melepaskan tarikan nya dari telinga mereka berdua. "Lari lapangan selama sepuluh kali dan hormat di tiang bendera sampai jam pelajaran ke tiga di mulai!"


Wajah Olivia dan Widia tercenga mendengar ucapan Bu Tika. "Jangan di hukum ya bu, kita cuma makan di kantin bukan mau bolos," ucap Olivia.


"Benar bu lagi pula dia yang makan bukan gue! jadi dia aja yang di hukum," tambah Widia menunjuk ke arah Olivia.


"Tadi pagi Widia kepleset Bu di toilet, untung saja ada saya," sahut Olivia cepat, menghentikan Widia yang ingin berbicara.


Widia mentap sinis ke arah Olivia. "Bukan Bu it—"


"Aduh Widia, kenapa kamu tidak hati hati. Bagaimana kalau fasilitas sekolah rusak? Kamu ini ya kerjaannya tiap hari buat masalah terus. Ibu itu pusing tau tidak melihat catatan nama kamu di ruang BK!" sela Bu Tika dengan cepat sebelum Widia menyelesaikan ucapannya.


"Tapi Bu—"


"Nggak ada tapi tapian lagi Widia! sekarang kalian lari lapangan sekarang!" perintah Bu Tika dengan tegas. Olivia menyenggol tangan Widia lalu berlari ke lapangan.


•••


Di sisi lain Zavian, Arsen dan Vino duduk di atas roftoop sekolah seperti biasa mereka selalu bolos di jam pertama.


"Woi Zavian!" teriak Vino yang menyandarkan tubuhnya di pembatas balkon. "Lo lihat sini deh, kenampakan lo sedang di hukum."


Zavian dan Arsen memandang satu sama lain, dan langsung berjalan menghampiri Vino. Mereka menatap ke arah lapangan melihat dua orang yang sedang berlari di lapangan itu.


"Widia! lari yang benar atau saya tambah hukuman mu!" teriak Bu Tika melihat Widia yang mulai berjalan.


Widia menyeka keringatnya yang terus berceceran di wajahnya. "Bu saya udah capek," ucap Widia terengah engah.


"Kalau kalian tidak mau di hukum! patuhi aturan sekolah!" ujar Bu Tika tegas.


"Gue setu—" teriak Vino terpotong saat Arshen langsung membekap mulut Vino menggunakan tangannya.

__ADS_1


Bu Tika yang mendengar langsung melihat ke arah atas. "Siapa yang bicara tadi!"


"Lo kalau mau teriak lihat situasi bodoh!" tegur Arshen dengan nada rendah.


"Ibu bilang yang bicara tadi siapa cepat turun!" teriak Bu Tika masih melihat ke arah atas. Widia dan Olivia yang mendengar teriakan Bu Tika memelankan langkahnya dan reflek ikut melihat ke atas. Bu Tika mengalihkan pandangannya ke arah Widia dan Olivia yang berhenti berlari. "Siapa yang suruh kalian berhenti?!"


Olivia dan Widia tersentak kaget, langsung berlari lagi. Bu Tika berjalan meninggalkan lapangan, Widia yang melihat itu segera duduk di tengah lapangan meluruskan kakinya.


"Wid bangun! Wid! lo nggak takut Bu Tika lihat lo duduk, ntar hukuman lo nambah," ucap Olivia menarik tangan Widia agar bangun. Namun Widia malah menarik tangan Olivia hingga dia tersungkur.


"Anying!" pekik Olivia, dirinya sudah tidur tengkurap di lapangan.


"Hahahaha." Tawa Widia meledak melihat Olivia yang tengkurap di tengah lapangan.


"Olivia! kenapa kamu tengkurap di lapangan? ibu menyuruhmu lari!," teriak Bu Tika yang sudah berada di atas dengan ketiga murid yang berada di sana. Bu Tika menunjuk ke arah Widia. "Dan kamu Widia! ibu akan menambah hukuman mu kalau kamu tidak berlari dengan benar!"


Olivia dan Widia segera bangun membersihkan seragamnya lalu segera berlari. Bu Tika mengalihkan pandangannya menatap ke tiga siswa itu Arsen, Zavian dan juga Vino. "Kalian ikut ibu ke bawah!" ucap Bu Tika berjalan memimpin pergi dari balkon sekolah.


"Kabur ayo kabur," bisik Vino di belakang Zavian.


"Kalian jangan pernah berfikir untuk kabur, segera berjalan!" perintah Bu Tika terus berjalan tanpa menatap ke arah belakang.


"Bu Tika serem, asu!" umpat Vino berjalan di belakang Zavian. "Gue rasa dia titisan cenayang, bisa tau apa yang kita pikirkan."


"Vino, ibu bisa mendengarmu," tegur Bu Tika. "Ibu akan menambah hukuman kalian, kalau kamu tidak tutup mulut."


Vino langsung menutup mulutnya rapat rapat dan berjalan mengikuti Bu Tika. Urutan mereka berjalan adalah Bu Tika - Zavian - Vino - Arsen. Bu Tika membawa mereka turun ke lapangan.


"Kalian segera lari ikuti mereka berdua," perintah Bu Tika menunjuk ke arah lapangan. "Lari lima belas kali kemudian hormat di tiang bendera sampai jam pelajaran ke tiga!"


Ketiga laki laki itu membeo mendengar hukuman mereka yang disuruh lari sebanyak lima belas kali oleh Bu Tika.


"Bu nggak bisa di kurangi?" tanya Vino mencoba menawar hukuman mereka.


"Bisa dua puluh kali!" ujar Bu Tika. Ketiga laki laki itu kembali membeo karena Bu Tika menambahkan hukuman mereka bukan menguranginya.


"Loh Bu?! Kok hukumannya semakin di tambah sih!" protes Arsen, Bu Tika mengerutkan dahinya dan itu membuat Arsen terdiam. "Ayo, lari," ajak Arsen menyenggol tangan Zavian dan Vino.


Zavian segera ikut berlari di belakang Arsen dan juga Vino yang menyusul. Olivia dan Widia berhenti di tepi lapangan meluruskan kakinya.


"Widia! Olivia! hukuman kalian belum selesai," teriak Bu Tika kesal melihat dua anak itu duduk di pinggir lapangan.


"Iya Bu, kami tahu. Bu Tika mending jangan teriak teriak terus," ucap Widia dengan nafas terputus putus. "Kita takut nanti pita suara ibu meledak," sambungnya langsung tidur terlentang di tengah lapangan.


"Widiaa! kamu lari lagi lima kali!" teriak Bu Tika.


Widia segera bangun lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak mau Bu...nafas saya aja sudah seperti mau di ambil malaikat Izrail."


"Ibu nggak mau dengar alasan kamu! Segera berlari!" perintah Bu Tika. Mau tidak mau Widia berdiri dan berlanjut berlari. "Kamu Olivia segera berdiri di tiang bendera!"


Olivia bangkit dari duduknya dan segera berjalan ke arah tiang dan berdiri disamping tiang itu. Pandangannya menatap Widia yang berlari sempoyongan seperti orang yang mau pingsan.


.......


.......


.......

__ADS_1


...══════•❁❀❁•══════...


__ADS_2