
...Happy Reading...
...══════•❁❀❁•══════...
.......
.......
.......
Mereka bertujuh sampai di toko bunga Little Garden. Arsen dan Vino membantu memapah pria itu masuk kedalam toko. Airin yang mendengar kedatangan pelanggan langsung menoleh kearah pintu. Matanya terkejut melihat orang itu dan segera berlari menghampirinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Airin membantu menarik satu bangku untuk pria itu, dia segera berlari ke dalam rumah mengambil p3k. Dia mulai mengobati pria itu, tangan Airin bergetar kuat saat ingin mengobati.
Olivia yang melihatnya menghentikan tangan Airin. "Bagaimana kalau kita bawa dia ke rumah sakit?" tanyanya.
Airin menggeleng cepat. "Tidak usah itu akan mempersulit dirinya."
Airin menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai mengobati luka itu dan menjahitnya secara perlahan layaknya seorang dokter yang sudah ahli. Lalu menutup luka itu menggunakan handsaplas berwarna putih.
Airin bernafas lega lalu menyeka keringatnya yang membasahi wajahnya. Kemudian ia beralih menatap kearah Olivia, Zavian, Arsen, Vino, Naura dan juga Widia. "Ah, maaf aku tidak menyambut kalian karena terlalu khawatir," ucap Airin sedikit gugup. "silahkan duduk, aku akan menyiapkan beberapa hidangan untuk kalian."
Airin segera membereskan perlengkapan medis miliknya lalu segera berjalan ke belakang. Olivia yang melihat Airin kemudian mengikutinya.
"Biar gue bantu," ucap Olivia lembut lalu mengambil alih pekerjaan Airin. Tubuh Airin terperosok ke lantai nafasnya semakin memburu. Olivia yang melihat itu lalu berjongkok menyamai tubuh Airin lalu memeluknya, tangannya mengusap lembut punggung Airin. "Apa lo baik baik saja?" tanyaku.
Airin mengangguk lemah, lalu mengangkat kepalanya menatap Olivia. "Aku baik baik saja," balas Airin tersenyum hangat kearahmu.
"Tehnya sudah siap, biar gue bawa ke depan," ujar Olivia membawa nampan yang berisi teh hangat lalu menyajikannya di meja.
Airin yang melihat Olivia pergi mengantar teh dirinya segera bangkit menyiapkan beberapa hidangan makanan.
25 menit berlalu...
Airin membawa keluar hidangan yang dia telah masak lalu meletakkannya di meja. "Ayo kita makan, nanti keburu dingin," ajaknya.
Mereka berlima termasuk pria yang tertusuk menatap antusias untuk mencicipi makanan yang dibuat oleh Airin, mereka mengambil satu satu hidangannya dan mencicipinya.
"Enak banget, woy sumpah!" pekik Vino dengan wajah yang berbinar, menyantap lahap makanan itu.
Airin tersenyum manis. "Baguslah kalau kalian suka" ucapnya dengan nada yang senang.
"Masakan yang lo buat enak sekali," ujar Naura memuji masakan Airin lalu tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"Terima kasih," balas Airin sedikit tersipu malu.
Mereka semua menyantap makanan dengan tenang hingga sebuah nontifikasi berbunyi membuat mereka menghentikan kegiatannya. Olivia melirik ke arah handphone milik Widia yang hidup.
'Target sudah bergerak, segera lakukan pekerjaanmu'
Tulisan pesan di layar ponselnya, Widia menatap kearah Olivia lalu mematikan ponselnya. "Sorry, gue harus pergi sekarang" ucap Widia segera berdiri dan keluar dari toko bunga.
Ia segera memakai helm full facenya dan melajukan motornya meninggalkan toko bunga itu, Olivia memandang penuh tanya kearah Widia.
"Siapa orang yang memberi pesan kepadanya? dan siap targetnya?" batin Olivia yang masih terkalut pada pertanyaan pertanyaan yang timbul di pikirannya.
Airin yang melihat Olivia melamun dirinya memegang bahu Olivia. Olivia tersentak kaget, merasakan tangan Airin yang berada di bahunya, ia lalu menatap ke arah Airin.
Airin tersenyum hangat kepadamu. "Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya.
Olivia sedikit menundukkan kepala lalu menggeleng cepat. "Tidak ada," jawabnya cepat lalu mendongak menatap kembali mata Airin.
Airin tersenyum menarik kembali tangannya dari Olivia lalu menatap ke arah Zavian, Arsen, Naura, dan Vino. "Bagaimana kalau kita barbeque malam ini?" tanya Airin.
"Setuju!" balas Vino dengan cepat dengan mengangkat tangannya.
Naura mengangguk. "Gue juga setuju."
Zavian yang di tatap oleh Vino, Arsen dan Naura. Menghembuskan nafas pasra lalu mengangguk. "Gue juga ikut," ucapnya yang membuat Vino, Naura, dan Arsen berteriak bahagia.
...•••...
Mereka bertujuh berkumpul di atap toko milik Airin. Para wanita menyiapkan bahan bahan untuk Barbeque, dan yang pria membuat perapian untuk memanggang daging.
"Ajarin gue memotong," ucap Naura meminta tolong kepada Airin. Airin mendekat kearah Naura dan mengajarinya memotong daging itu.
Sedangkan Olivia mencuci beberapa selada dengan pria asing tersebut. Pria itu menatap wajah Olivia, Olivia yang merasa dirinya di tatap pun menatap kembali ke arah pria itu.
"Ngapain lo ngelihat gue? Naksir?!" tanya Olivia memicingkan matanya lalu memelototinya.
Pria itu segera mengalihkan pandangannya. "Terima kasih," ucap pria itu.
Olivia mengangkat alisnya satu karena bingung, lalu dia mengangguk. "sama sama," balasku singkat lalu melanjutkan mencuci daun selada.
Beberapa detik keheningan melanda, tidak ada percakapan di antara mereka berdua. "Siapa nama lo?" tanya orang itu membuka suara memecah keheningan di antara mereka.
Olivia terkejut lalu menatap pria di sampingnya. "N-nama gue?" tanya Olivia kembali sedikit gugup dan menunjuk kearah dirinya sendiri, Pria itu mengangguk sebagai jawabannya. "Oh, Olivia," ucapku singkat.
__ADS_1
Pria itu mengangguk tapi beberapa detik kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Olivia. "Samudra," ujar pria itu memperkenalkan dirinya.
"Oh," responnya acuh kemudian menjabat tangan Samudra.
Airin yang melihat Olivia dan Samudra berjabat tangan, ia segera menghampiri mereka berdua. "Bagaimana, apa sudah selesai mencurinya?" tanyanya berdiri di tengah tengah Olivia dan Samudra.
"Sudah selesai," jawab Olivia tersenyum memperlihatkan selada di dalam keranjang sayur.
Airin merangkul bahu Olivia dan mengajaknya bergabung untuk membuat bumbu barbeque dengan Naura.
1 jam berlalu...
Mereka bertujuh menyantap daging panggang sesekali tertawa bersama. Olivia sedikit tersenyum senang merasakan sebuah kehangatan saat duduk dengan mereka semua.
"Bagaimana kalau kita membuat nama anggota?" tanya Vino menatap satu persatu kearah mereka.
Naura menggeleng cepat. "Itu ide buruk, gue nggak mau satu anggota sama lo" balasnya kemudian tertawa.
"Ayolah, gue serius!" ujar Vino dengan nada yang serius.
Arsen menatap Vino dengan kernyit di dahinya. "Lo mau membuat anggota apa?"
Vino terdiam sebentar mencoba memikirkan jawabannya. "Anggota geng barbeque? kita bisa berkumpul satu minggu sekali di sini untuk memanggang daging dengan chef kita," balas Vino tersenyum kemudian menunjuk kearah Airin.
Airin tersipu malu. "Aku bukan chef, kamu terlalu memujiku," ucapnya.
Vino melirik ke arah Airin yang tersipu malu. "Lo nggak usah malu, emang masakan lo the best" ujarnya memberikan dua jempolnya.
Airin tersenyum senang, mereka melanjutkan makanan mereka dan sesekali sampai larut malam. Udara yang mulai dingin kalian memutuskan untuk masuk ke dalam cafe.
"Sepertinya kita harus menginap di sini malam ini, " Arsen duduk di salah satu bangku di cafe.
Vino mengangguk setuju. "Benar, bahaya juga kalau kita pulang sekarang."
"Baiklah kalau seperti itu kalian bisa tidur di luar dan kami yang putri tidur di dalam," ujar Airin, memberikan kasur lipat kepada mereka. Mereka mengambil itu dan kemudian merapikan nya di lantai laku segera tidur.
.......
.......
.......
...══════•❁❀❁•══════...
__ADS_1