
Basket sudah seperti jiwanya. Pagi-pagi sekali dia berangkat lebih dulu ke sekolah untuk bermain basket sendirian. Melepas stress dan menjernihkan pikirannya. Sementara Calvin masih meringkuk di dalam selimutnya yang hangat.
Rafan belum pulang sama sekali ke rumah, tapi di bagasi mobilnya sudah ia siapkan tas dan seragam. Ia sengaja menyiapkan itu karena awalnya ia pikir akan menginap di rumah tante Diana. Namun, ia mengurungkan niat itu.
Ia tidak tahu sudah jam berapa. Tapi langit semakin cerah dan beberapa murid juga sudah tiba di sekolah. Rafan mendengar suara berisik dari belakang. Thalita dan juga teman-teman nya dari kelas IPS. Rafan juga mengenal beberapa gadis dari kelas bahasa yang ikut melihatnya.
Tidak nyaman. Rafan menghentikan permainan basketnya.
"Rafan, aku beli air minum untuk kamu loh!" Thalita berseru. Berharap Rafan minum air yang sengaja ia beli hanya untuk lelaki itu.
"Rafan, minum air yang aku belikan saja!" Gita dari kelas bahasa ikut berseru memanggil Rafan.
"Hei, Gita. Gak usah sok kenal deh sama Rafan. Mending kamu pergi ke kelasmu sana!" Thalita mengusir.
"Harusnya kamu yang pergi! Wajah menor kayak kamu itu merusak pemandangan!"
"Apa katamu!?"
Rafan melangkah pergi. Menyadari lelaki itu berjalan menjauh, Gita dan Thalita berlari mengejar. Tetapi Shofi dan gengnya dari kelas IPA lebih dulu ada di depan Rafan.
"Kamu pasti capek. Aku lihat kamu basket sejak pagi tadi." Shofi menyodorkan botol minuman ke Rafan. "Minumlah"
Gita dan Thalita di belakang merasa geram. Shofi itu terkenal cantik. Kecantikan nya bahkan sampai menyebar hingga ke kelas bahasa. Disisi itu dia memiliki banyak teman baik laki-laki maupun perempuan. Dan banyak yang pernah menjalin hubungan dengan perempuan itu meski tidak bertahan lama.
Saat ini Shofi tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Ia menutup hatinya dan memilih mendekati Rafan. Tentu banyak yang melihat iri kepada Rafan. Perempuan secantik Shofi hanya memusatkan perhatian untuk Rafan seorang.
"Minggir." Kata-kata dingin itu mengejutkan Shofi.
"Rafan?"
"Kamu menghalangi."
Shofi dan teman-temannya pun memberi jalan bagi Rafan untuk lewat. Ini bukan pertama kali. Dia sudah ditolak sejak Rafan pertama kali ada di sekolah. Tetapi Shofi belum menyerah. Dia masih gigih mengejarnya. Rafan adalah sosok lelaki yang sangat ia inginkan. Dan ia harus mendapatkan Rafandra Paraduta bagaimanapun caranya.
__ADS_1
"Pfft.."
Shofi melirik. Gita dan Thalita menahan tawa. Cewek dari kelas IPS dan Bahasa itu tersenyum meledek.
"Ternyata masih tertolak. Seperti nya selera Rafan bukan perempuan seperti Shofi."
"Iyalah. Rafan mana mau sama perempuan buaya yang punya lelaki dimana-mana." Gita menyahuti perkataan Thalita.
Shofi emosi. Mereka masih menertawakannya. Kemudian ia melengkungkan bibirnya. Bersendekap dada. "Harusnya kalian sadar diri tentang ini. Jika aku saja tertolak, bagaimana dengan kalian yang hanya seperti kulit kentang?"
Mendengar itu, tidak ada lagi suara tawa. Shofi membuat mereka diam. Perempuan itu menyeringai lalu berbalik pergi bersama gengnya. Meninggalkan Thalita dan Gita yang memandanginya kesal.
...*****...
"Nanti sore main yuk." Tama mencoba mengajak Alka yang sedang berkonsentrasi menggambar diatas kertas kanvasnya.
Perempuan itu berhenti menggambar lalu menoleh ke arah Tama. "Kemana?" Tanya Alka.
"Nanti ku kasih tau. Mau gak?"
"Boleh."
Alka kembali fokus. Tama memperhatikan. Entah apa yang Alka gambar, Tama hanya tertarik melihat Alka seorang.
"Kerjakan tugasmu," kata Alka. Meski dia tidak melirik pada Tama, perempuan itu tahu lelaki di sebelahnya ini menaruh perhatian padanya dibandingkan objek di depan mereka untuk di lukis.
Tama pun meraih pensilnya dan mulai menggambar. Lelaki itu terlihat tekun. Hira yang penasaran mencoba mendekat. Melihat hasil gambaran Tama yang sedang mode serius. "Bucin." Komentar Hira setelah melihat gambaran Tama.
"Urusi gambarmu sendiri deh, Hir. Suka banget komentarin orang."
Hira tertawa sambil menggelengkan kepala. Tidak habis pikir. Tingkat kebucinan Tama sudah tidak tertolong. Namun lelaki itu masih saja belum jujur dengan perasaannya sendiri.
"Tam, objeknya kan bunga di vas itu," kata Alka setelah mengintip hasil gambaran Tama.
__ADS_1
"Sulit. Lebih mudah gambar kamu yang dekat," jawab Tama disertai bumbu gombalannya.
"Bucin." Hira sekali lagi memberi komentar.
Tama mengayunkan tangannya. Bermaksud mengusir. Hira masih cekikikan dan ia kembali pada tempat duduknya.
Ketergantungan Tama pada Alka memang tidak bisa diukur. Meski begitu, Alka masih bersikap biasa. Seolah sikap Tama sangat wajar karena Tama adalah teman Alka sedari kecil. Perempuan itu tidak berpikir yang macam-macam.
Tama masih terlalu takut. Dia memang jujur bahwa dia menyukai Alkaisha, tetapi dia belum menyatakan perasaan sebenarnya pada Alkaisha secara langsung. Alkaisha bukan perempuan yang mudah untuk mengerti maksud perhatian Tama padanya. Di mata Alka, Tama seperti saudara. Bagian dari keluarga juga teman yang sangat berharga. Tidak ada yang lebih dari itu.
Di kelas, Hira merenung. Ia melirik Alkaisha yang sedang menulis catatan.
"Kenapa kamu gak pacaran sama Tama? Sudah sangat jelas si Tama itu suka sama kamu. Dia gak pernah menyatakan cintanya padamu secara langsung? Atau nembak kamu buat jadi pacar dia?" Rentetan pertanyaan Hira yang didorong rasa penasaran itu keluar. Hira sedikit memelankan suaranya. Guru sedang menerangkan di depan. Menulis materi pada papan tulis, tetapi Hira tidak tahan. Ia ingin Alka menceritakan semuanya. Hubungan Tama dan Alka sungguh membuat Hira gemas.
"Tama sudah sedari dulu bersikap begitu. Kita seperti keluarga." Jawab Alka yang dirasa tidak memuaskan untuk Hira.
"Tapi dia menganggapmu lebih dari kata keluarga. Dia ingin lebih- ah sudahlah. Inilah mengapa kalian berdua tidak pernah punya pacar." Hira lelah. Dia tidak mau lagi bertanya. Jawaban yang Alka berikan tidak pernah jauh dari kata keluarga maupun teman. Ia rasa percuma bertanya dengan Alka yang kurang peka dalam hal romantika. Sulit untuk membuat Alka sadar. Perempuan itu tidak merasa spesial sedikitpun dengan perilaku Tama yang mengistimewakannya.
Jam sekolah berakhir. Tama dan Alka pualng bersama. Ketika ingin berjalan di parkiran, mereka tak sengaja bertemu Rafan dan teman-temannya dari anak kelas IPA 1-A dan IPA 1-B. Calvin dan Reno adalah teman Rafan yang satu kelas dengannya, sementara Heindra dan Marcel berada di kelas IPA 1-B yang akrab dengan Rafan setelah ikut eskul basket.
"Barengan mulu, tapi bukan pacar." Heindra menyindir. Berjalan melewati mereka. Mata Alka mengarah pada Rafan yang tak sedikitpun bersuara. Ia merasa aneh.
"Aku jadi ragu Rafan itu sepupu kamu." Alka berkata ketika mereka tiba di parkiran.
"Kenapa?"
"Soalnya kamu gak pernah menyapa Rafan, kalian terlihat tidak dekat."
"Memang," sahut Tama singkat. Dia menyerahkan helm pada Alka.
"Kalian bertengkar?"
"Kami tidak dekat," hanya itu yang bisa Tama ucapkan sebagai jawaban. Alka tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka. Tama juga tidak pernah menceritakan tentang Rafan sedikitpun. Namun, Alka merasa ini bukan pertama kali ia bertemu Rafan.
__ADS_1
"Gak usah dipikirin." Tama membuyarkan lamunan Alka.
"Yang boleh kamu pikirin cuma aku, bukan Rafan," lanjutnya disertai senyuman.