
Ketika rasa cintaku mungkin tak terlihat oleh mu, mungkin menjadi teman bertukar cerita bukan ide yang buruk.
Azara Putri Haydar
Pagi yang cerah menyambut seorang wanita yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari mobil Audi hitam, melangkahkan kaki menuju gedung sekolah bertuliskan Yayasan Haydar.
Yayasan pendidikan dari TK hingga SD, yayasan itu juga sering mengadakan amal untuk disumbangkan ke panti-panti asuhan maupun korban-korban bencana alam. Sebelum menjauh seorang laki-laki yang juga turun dari mobil Audi itu turun mengejarnya.
Memgulurkan ponsel. "Zara!!! Ponsel kamu ketinggalan". Nafasnya masih terengah-engah karena berlari. "Nanti kamu baliknya naik taksi aja, abang nggak bisa jemput".
Menerima ponselnya Zara menjawab abangnya "Makasih bang, abang nggak usah khawatir aku udah gede". Dengan cengiran ia menanggapi abangnya.
Mengusap pucuk kepala Zara yang ditutupi hijab dengan sayang " Yaudah, masuk sana abang mau berangkat ke kantor, Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam, bang Al". Jawab Zara pada abang kandungnya Alfath Putra Haydar.
Berjalan menyusuri koridor menuju ruangan pembina Yayasan Haydar, kegiatan setiap hari Zara adalah sebagai wakil sekretaris di Yayasan milik keluarganya.
Beruntung sekali Zara menyukai anak-anak jadi setiap hari dia bisa berkomunikasi dengan mereka.
Sudah dua bulan ini Zara menjadi wakil sekretaris di Yayasan sekembalinya ia dari negara Perancis, Zara juga memiliki butik yang menjual baju muslim hasil desainnya sendiri.
Banyak sekali hasil karyanya yang sudah dipakai oleh artis-artis negeri ini. Dia berkunjung ke butiknya setelah pekerjaan di Yayasan selesai.
Mengetuk pintu ruang Kepala Yayasan "Assalamualaikum". Terdengar jawaban dari dalam ruangan, Zara memutar knop pintu dan masuk ke dalam ruangan "Bu Sari ini data-data donatur tetap untuk acara amal minggu depan". Menyerahkan berkas-berkas kepada Bu Sari.
"Kerja bagus Zara, kalau begitu silahkan lanjutkan lagi pekerjaanmu". Memeriksa berkas-berkas yang di berikan Zara.
Zara berjalan menuju ke ruangannya kembali, terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Ternyata abang kesayangannya mengirim pesan.
Bang Alfaaaaath
Assalamualaikum, zara ada yang mau kenalan nih
10.30
Zaraaa
Wa'alaikusalam, ihh abang nyebelin deh. Zara nggak mau, dijodoh-jodohkan
Read
Bang Alfaaaaaath
Masih suka sama yang dulu?
Percuma dong pelarianmu 😅 😂 🤣
10.59
__ADS_1
Zaraaaa
Udah ah bang, sana kerja jangan chatingan mulu 😋😋 Bye bye
Dasar Nyebelin
Read
Zara sudah biasa akan perlakuan kakaknya yang masih saja menjomblo itu, sejak dua bulan kembali dari Perancis tak gencar bang Alfath sering mengenalkan Zara dengan teman-temannya maupun rekan bisnisnya yang masih melajang. Bahkan Zara dibuatnya sangat kesal akan perilaku kakaknya itu.
Tapi mengingat pesan yang dikirimkan kakaknya tadi Zara menjadi badmood, benar ternyata pelariannya selama ini sudah gagal.
Cintanya masih pada orang yang sama, astaga mikir apa kamu Zara jangan memikirkan lelaki beristri.
Zara menggelengkan kepalanya, memukul ringan kepalanya menyadarkan pikirannya apa yang sudah ia pikirkan.
Istigfar Zara Istigfar, runtuknya dalam hati.
Zara melangkahkan kakinya keluar ruangan ia butuh sedikit udara bersih untuk menjernihkan pikirannya.
Merasa bosan dia berjalan-jalan mengelilingi kelas-kelas anak TK, dia sangat menyukai anak-anak karena menurutnya anak kecil itu sangat polos dan tidak bisa berbohong.
Mereka mengatakan apapun yanga ada didalam hatinya, meskipun Terkadang menyakiti hati si pendengar.
Bel pulang sekolah berbunyi, anak-anak kecil bersiap untuk pulang. Setelah berdoa mereka bersalaman dengan guru pendidik, mereka asyik berlarian di sepanjang lorong dengan canda dan tawa menjadikan hiburan tersendiri untuk Zara.
"Maafkan aku tante, Anissa nggak sengaja menabrak tante". dengan suara cadelnya, ia meminta maaf pada Zara sembari mengulurkan tangan mungilnya.
Zara menggenggam tangan kecilnya dan meninggikan badannya sejajar dengan Anissa "Jadi nama kamu Anissa?". tanya Zara membuatnya menganggukan kepala. "Nama tante Azara, bisa dipanggil tante Zara".
Lama Zara menatap Anissa yang dia pikir mirip seperti orang yang dikenalnya, dari mata,hidung, alis semuanya persis dengan orang yang mengisi relung hatinya.
"Tante nggak apa-apa ? Aku mau pulang ayah mungkin sudah menunggu". suara cadelnya menyadarkan Zara dari pikirannya.
Menggandeng tangan gadis mungil itu "Sini, tante antar ke depan sekalian tante mau pulang". Berjalan menuju kantornya, meminta Anissa untuk menunggunya di depan kantor. "Kamu tunggu tante dulu disini ,Tante mau ambil tas diruangan".
Anissa yang mendengar Zara menganggukan kepala.
Selesai mengambil tas Zara kembali menggandeng Anissa mereka seperti pasangan ibu dan anak, menggandengnya hingga keluar dari gedung dan berjalan menuju parkiran.
Sesaat tiba-tiba Anissa melepaskan gandengan Zara dan berlari menuju lelaki yang berjalan ke arah mereka.
Anissa berteriak "Ayaaaah!!!" lelaki itu mensejajarkan tingginya dipeluknya Anissa sangat erat.
Lelaki itu bernama Adam Ayah kandung Anissa. Adam lelaki yang mati-matian ingin ia lupakan karena dia sudah menikah, ternyata bertemu lagi dengannya.
Sungguh Zara belum siap untuk bertemu lagi dengannya, karena hati Zara masih bergetar disaat ada yang menyebut namanya.Sadarlah Zara dia sudah beristri, jangan dengarkan bisikian Setan. Akal sehat Zara menyadarkan.
Zara yang melihat momen itu hanya diam berdiri mematung, tak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Diam seribu bahasa melihat momen yang begitu membahagiakan namun sedikit menimbulkan rasa perih di hatinya. Ayolah Zara mereka sudah bahagia, bahkan mereka memiliki bidadari mungil dan cantik sekarang. Semangat untuk diri Zara sendiri.
Anissa terlihat seperti membisikkan sesuatu di cuping ayahnya, membuat Adam menanyakan sesuatu Anissa menjawab dengan anggukan.
Mengangkat Anissa menggendongnya mendekati Zara, Zara yang melihat hal itu diam mematung. Setengah mati dia mencoba menormalkan detak jantungnya saat Adam perlahan mendekatinya.
Dengan tatapan menyelisik Adam melihat Zara "Kamu Azara Putri Haydar?". Lalu mengulurkan tangannya untuk bersamamu dengan Zara. "Apa kabar ?".
Zara membalas ukuran tangan Adam "Alhamdulillah, aku baik dam" melepaskan jabatan tangannya lalu melihat Anissa.
Mereka seperti duplikat, versi mini dari Adam namun dalam versi perempuan.
"Kamu udah kenalan kan sama Anissa". Zara mengangguk "Dia putriku, sangat cantikan ?"
"Ya dia memang sangat cantik seperti ibunya". Seketika itu Adam yang semulanya tersenyum tiba-tiba mengeraskan rahangnya, sebelum Zara mengetahuinya Adam buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.
"Mau kemana?". Tanya Adam mengalihkan pembicaraan, Zara yang sedap tadi masih bercelotah dengan Anissa yang masih di gendongan Adam menengok.
Menetralkan kegugupannya Zara berdehem "ehm, aku mau ke butik"
"Kamu bawa mobil?" Zara menggeleng. "Butik kamu dimana?".
"Ada di Grand Indonesia". Jawab Zara.
"Yaudah, Sekalian bareng aku aja. Lagipula arah kita sama". Ajak Adam pada Zara.
Zara mengernyit memikirkan sesuatu, tanpa disadari ternyata pertanyaan itu terlontar. "Kamu nggak kerja?". Entah apa yang merasuki Zara hingga menanyakan topik pribadi.
Adam terkekeh mendengar pertanyaan Zara. "Aku bos Zara, jadi suka-suka mau kerja atau nggak. Mumpung ada waktu,aku luangkan waktu untuk sekedar menjemput Anissa". Zara mengangguk, mendengar jawaban Adam.
"Yaudah, ayo bareng kita sekalian". Ajaknya lagi pada Zara.
"Nggak usah dam, aku nggak mau ngrepotin kamu. Aku bisa kok cari taksi". Penolakan halus dari Zara, bagaimana bisa dia satu mobil dengan Adam. Ingat Zara, Adam punya istri. Logika Zara terus mengingatkan.
"Tante bareng aja sama kita". Dengan suara khas anak kecil Anissa mengajak untuk pergi bersama mereka."Ayolah tante". Anissa dengan puppy eyes memohon pada Zara.
Siapa yang bisa menolak puppy eyes seorang gadis mungil yang seperti boneka ini pikir Zara. Mengusap pucuk kepala Anissa, Zara berbicara "Baiklah, jika nona Anissa yang meminta". Anissa berteriak gembira di gendongan Ayahnya, Zara dan Adam melihat kebahagiaan itu tertawa lepas bersama.
Dilihat dari sudut pandang orang lain mereka seperti sebuah keluarga yang bahagia, menikmati momen-momen kecil kebersamaan menciptakan kenangan indah.
Tetapi kenyataannya tidak, mereka hanya orang-orang asing yang bertemu menciptakan jalinan silaturahmi diantara mereka. Tak akan ada yang tau takdir kemana membawa orang-orang asing itu berjalan.
Jangan lupa Vote dan komen
Dalshabe
Happy reading
Maafkan kalau ada typo
__ADS_1