Bunda Untuk Anissa

Bunda Untuk Anissa
Hati Zara


__ADS_3

Zara hanya diam mematung melihat Adam yang baru saja masuk kedalam rumah kedua orang tuanya, bahkan ia menjatuhkan pisau yang ia gunakan untuk mengupas apel yang diinginkan Anissa, setelah makan siang bersama Della tadi ia dan Anissa langsung pulang ke rumah keluarga Adam. Tak berbeda dengan Zara, Ardina juga mematung melihat sudut bibir Adam yang terluka beserta kondisinya yang sangat acak-acakan karena bukan Adam sama sekali yang sangat perfeksionis.


"Jangan dilihat begitu". Kata Adam berjalan mendekat ketawa dua wanita yang melihatnya seperti melihat hantu. Lalu ia duduk di kursi bar yang ada di dapur.


Zara berjalan mendekat lalu ia duduk disamping Adam,"Kenapa bisa begini". Ia meringis melihat luka lebam disudut bibir Adam.


"Dam,dam kamu ini sudah tua. Bukan bocah lagi kenapa bisa lebam begini". Kata Ardina sembari membawa air hangat di baskom."Za, kamu kompres dulu air anget. Ibu ambilkan antiseptik dulu".


Zara mengangguki arahan dari Ardina, dengan cekatan ia memeras handuk lalu mengompres lebam di sudut bibir Adam.


"Apakah sakit?".


"Sedikit, rasanya ngilu dan perih". Kata Adam saat Zara mengompres pelan lukanya.


"Kamu berantem sama preman?". Tanya Zara kesal, lalu sedikit menekan luka Adam membuatnya meringis.


"Sakit Za". Ucap Adam memelas.


"Ayaaaaah!!!". Pekik riang Anissa,"Ayah sudah pulang? Ayah kenapa?".


"Ayah jatuh kepeleset sayang, Anissa mau apa?". Jawab asalan Zara.


"Apel".


"Oh iya duduk disini dulu tante ambilkan".


Zara berjalan memutar meja bar mengambilkan apel yang sebelumnya sudah ia kupas dan potong-potong untuk Anissa.


"Anissa ini apelnya dimakan saja di ruang keluarga sambil nonton kartun kan".


"Iya". Anissa membawa sepiring kecil apel tadi, menuju ruang keluarga.


Tak lama Ardina datang membawa kotak obat,"Ini di sterilkan dulu biar nggak infeksi".


"Sakit?". Zara bertanya saat Adam mengernyit menahan perih di sudut bibirnya.


"Sedikit tapi lihat kamu sakitnya ilang".


Zara blushing  mendengar  gombalan Adam,"Gombal". Zara **** senyum.

__ADS_1


"Ih pipinya merah gitu".


Zara menutup kedua pipinya karena perlakuan Adam, "Adam jangan menggoda Zara!". Peringat Ardina pada putra nya."Mulai keluar jahilnya".


"Ibu mah gak asik". Adam terkekeh geli.


"Kenapa bibir kamu bisa begitu?". Ardina memicing,"Kamu nggak lagi berantem kan sama preman pasar?".


"Tadi ada Mario".


Pernyataan Adam membuat Zara menghentikan kegiatannya merapikan obat-obatan kedalam kotak semula. Ia mengernyit berpikir siapakah Mario yang dimaksud Adam? Apakah ia Mario yang sama, yang dulu adalah mantan kekasih Della semasa SMA?. Pertanyaan itu terus berputar dikepalanya.


"Jangan buat kepala cantikmu itu pusing Zara". Adam terkekeh geli melihat ekspresi Zara yang serius berpikir.


"Ha?". Zara bengong mendengar suara Adam,"Nggak kok". Dia menggelengkan kepalanya.


Adam mulai bercerita dari awal hingga akhir membuat Zara dan Ardina hanya bengong sekaligus geram mendengar cerita Adam. Tak ada satupun yang terlewat karena hal ini masih saja ada sangkut pautnya dengan Anissa. Dia tak ingin dikemudian hari Anissa dalam keadaan bahaya karena kelalaiannya bagaimanapun keluarga harus tau semua.


Zara terus memilih jemarinya saat Adam membagikan ceritanya, ia kebingungan bagaimana menyampaikan bahwa dia juga sudah bertemu dengan Della. Zara kebingungan antara menyampaikan atau tidak, karena hal yang sangat penting. Karena bagaimanapun Della adalah ibu kandung dan wanita yang melahirkan Anissa terlepas bagaimana ia dulu memperlakukan Anissa.


"Za, kamu baik-baik saja?". Tanya Ardina karena sedap tadi ia melihat calon menantunya itu gelisah tanpa sebab.


"Bohong". Jawab Adam "Kalau baik-baik saja kenapa kamu memainkan jarimu?". Ya Adam ingat bagaimana Zara dalam keadaan gelisah atau sedang menyembunyikan sesuatu,  ia akan terus memainkan jari jemarinya  hingga merah karena kulitnya yang terlalu putih.


"Kenapa Za?".Tanya Ardina sekali lagi.


Zara melihat Ardina dan Adam sekilas bergantian, lalu ia menarik  nafas panjang mencoba memredakan rasa cemas dihatinya. Dengan segala resiko ia akan berbicara mengenai Della bertemu dengan Anissa hari ini.


"Mas, bagaimana jika Anissa bertemu dengan ibunya?".


Mata Adam memicing tak suka mendengar pertanyaan yang dilontarkan Zara, tatapan Adam terus menyelidik kearah Zara. Sedangkan Zara hanya bisa pasrah saat ditatap tak suka oleh Adam.


  "Kenapa kamu terus membahas itu?". Ganti Adam bertanya.


"Aku..aku". Lidah Zara kelu menjawab pertanyaan dari Adam, ia bingung harus mulai darimana akan mengatakan yang sebenarnya.


"Adam, biarkan Zara bicara jangan intimidasi dia". Tiba-tiba terdengar suara parau Hadi Darimana ayah Adam terdengar.


"Ayah". Cicit Zara

__ADS_1


Kini giliran Zara bercerita, semua ia ceritakan tak terkecuali pertama kali ia bertemu dengan Dell a setelah sekian lama. Ia juga menceritakan kedatangan Della tadi ke sekolah Anissa, semua orang merespon dengan terkejut. Tak terkecuali Adam, sedari tadi ia sudah  mengeraskan rahangnya.


Adam kecewa pada Zara, ia merasa kecewa karena mengapa Zara baru hari ini memberi tahu dirinya jika Della juga berkata bahwa akan berusaha kembali pada Adam lagi.


"Kenapa kamu izinkan Della bertemu dengan Anissa,Za?".


"Aku tidak berhak melarang Della untuk bertemu dengan Anissa".


Ardina mengelus lengan Zara,"Apa yang dikatakan Zara,benar dam. Dia tidak berhak melarang Della, siapapun tidak berhak melarang Della untuk bertemu dengan Anissa".


Adam berdiri, mengacak gemas rambutnya"Setidaknya dia adalah calon ibunya Anissa, setidaknya kamu bisa berpikir Za. Lalu sekarang apa yang harus aku katakan pada Anissa".


"Tapi aku bukan ibu kandungnya,  Della adalah ibu kandungnya. Aku hanya orang asing diantara mereka". Air mata Zara menetes.


Ardina mengelus punggung Zara, mencoba menenangkan Zara yang terlihat syok karena Adam marah padanya."Adam, apa yang Zara katakan adalah kebenaran. Bagaimanapun Darah lebih kental dari air".


"Kamu tidak bisa melampiaskan, emosimu pada Zara. Lebih baik secepatnya kamu bertemu Della, selesaikan masalah kalian baik-baik, Zara tidak bersalah. Ini masalahnya dengan Della jadi kamu dan dia  harus menyelesaikan masalah kalian". Ucap Hadi bijak.


Adam hanya memalingkan wajahnya menghadap ke tembok dengan kedua tangan ia masukkan kesaku celana, Ia menyadari betapa egoisnya dia menyalahkan Zara. Apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya adalah kebenaran, Zara tidak bersalah.


Zara menghapus kasar air matanya, ia lalu berdiri dengan tergesa. Ardina sedikit terserah dengan kegiatan Zara ia hanya melihat Zara seolah bertanya "kenapa?'.


"Ayah, Ibu aku mau pamit dulu". Zara bergantian menyalami kedua orang tua Adam,"Mas aku pamit, Assalamualaikum". Semua orang menjawab salam dari Zara, sedangkan Adam hanya diam membisu masih dengan posisi yang sama.


Zara melangkahkan kakinya pergi menuju pintu, kesal, marah, kecewa menjadi satu. Mengapa Adam tidak sedikitpun mau mendengar penjelasan dari dia, mengapa Adam tidak mempercayai dirinya. Susah payah Zara menahan agar air matanya tidak kelua,r namun air mata itu selalu dengan lolos terus mengalir di pipi.


"Adam kejar Zara! Ibu nggak mau tau". Ardina mulai kesal, pada Adam.


"Kejar dia atau pernikahan kalian mungkin akan batal hanya karena masalah sepele ini Dam, kamu tau kan sifat Alfath?".


Adam sadar dari pemikiran, ia sedikit berlari mengejar Zara. Namun hasilnya nol Zara sudah tidak terlihat disekitar rumahnya. Ia takut kehilangan Zara, ia takut Zara menjauhi dia karena pemikiran egoisnya. Adam kembali berlari tergesa kedalam rumah ia segera mengambil kunci mobilnya, ia yakin Zara pergi belum terlalu jauh. 


Anissa Up nih, maaf yaa up nya lama. Tapi mungkin insyaallah minggu ini udah mulai Free.


Ikuti Terus kisahnya


Maaf jika ada typo


Jangan Lupa tinggalkan Vote dan Komen

__ADS_1


dalshabe


__ADS_2