Bunda Untuk Anissa

Bunda Untuk Anissa
Rahasia Zara


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Zara gelisah, mengingat perkataan Della. Ia tak berani menceritakan perihal ia bertemu dengan Della tempo hari.


"Tante!". Panggil Anissa yang kini setiap hari minggu akan berada dirumahnya bersama Adam.


Zara kembali sadar dari pemikirannya,"Ya Anissa butuh sesuatu?".


Anissa menggeleng, mengerucutkan bibirnya."Jangan Sedih, nanti Anissa ikut sedih". Memeluk Zara


"Tante tidak sedih sayang, hanya ada beberapa hal yang tante pikirkan". Jelas Zara dengan mengelus lembut surai panjang Anissa.


"Anissa ingin secepatnya memanggil tante Zara dengan Bunda".


Zara melepaskan pelukan Anissa, menatap lekat mata Anissa."Kamu boleh panggil tante dengan sebutan bunda".


Anissa menggeleng


"Anissa sudah janji sama Ayah,memanggil tante dengan bunda nanti saat Ayah dan Tente Zara sudah menikah". Jelas rinci Anissa


Zara gemas mendengarkan penuturan Anissa, ia mencium gemas seluruh permukaan wajah Anissa. Hingga siempunya terkekeh menahan geli.


***


Alfath dan Adam duduk berdampingan diarea taman belakang rumah keluarga Haydar dipisahkan oleh meja bulat ditengah mereka dengan secangkir kopi milik masing-masing.


"Nggak menyangka, kamu bakal jadi suaminya Zara". Alfath sedikit melirik kearah Adam.


Adam tersenyum,"Mengetahui dia kembali, setelah sekian lama aku benar bahagia bang".


"Kamu mencintai dia?".


Adam menengok kearah Adam,"Ya aku melihat dia sosok yang berbeda dengan dulu, dia Zara yang keibuan dan penuh kasih sayang".


"Kamu tau satu hal rahasia terbesar Zara". Alfath mengangkat kedua alisnya naik turun.


Adam mengernyit karena ia sudah terbiasa dengan sifat Alfath yang seperti itu maka akan ada hal gila ataupun ide buruk.


Alfath memajukan wajahmu mendekat ke Adam,"Sebenarnya ia sudah suka sama kamu sejak dulu".


Adam yang sedang minum kopi tersedak mendengar penuturan Alfath kakak kandung Zara. Ia melengak ke kanan menghadapi ke Alfath mengernyit meminta penjelasan.

__ADS_1


"Nggak percaya kan?".


Adam menggeleng


"Dia ke Perancis bukan karena melanjutkan pendidikan yang utama dia pergi kesana karena kabur". Alfath terkekeh mengingat bagaimana lucunya Zara saat menangis di airport karena melihat prewedding Adam dan Della.


"Sejak kapan?".


"Entahlah mungkin semenjak kalian masih sekolah aku pun tak tau pasti". Alfath mengendikan bahu.


Adam bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah yang dikatakan Alfath memang benar atau hanya bualannya saja.


"Dan hingga sekarang dia masih mencintai kamu Dam". Alfath menyeruput kopinya,"Mungkin jika kamu masih bersama dengan Della ia pasti akan kabur lagi. Kamu tau kan sifat Zara?".


Adam masih diam tercekat dalam pemikirannya sendiri, Alfath bangkit dari duduknya lalu ia menepuk pelan pundak Adam.


"Jaga Adikku". Pesannya lalu ia masuk kedalam rumah.


***


"Om Alfath!". Pekik Anissa saat Alfath mendekat kearah dirinya yang duduk bersama Zara.


Alfath dengan sigap langsung mengangkat Anissa dalam gendongannya,menciumi pipi gembul Anissa."Jalan-jalan ke taman yuk". ajaknya.


"Ok siap tuan putri".


"Jangan banyak-banyak makan es krimnya". Peringat Zara.


Anissa memelas memandang Alfath,"Posesif banget ya". Ledeknya pada Zara,"Liat calon bunda kamu, cerewet banget ya". Anissa tertawa terbahak mendengar ledek Alfath untuk Zara.


Zara hanya menggeleng, bisa-bisa Anissa akan ketularan virus usilnya Alfath jika mereka terus bersama.


"Za!".


Panggil Adam saat dia merapikan alat-alat menggambar yang ia gunakanĀ  tadi bersama Anissa."Ya".


Adam duduk di sofa samping Zara,"Maaf". Cicit Adam


"Tentang?".

__ADS_1


"Maaf selama ini aku tidak mengetahui perasaanmu".


Deg!


Zara mengerjapkan mata, lidahnya kelu. Dia sudah kesal pada Alfath, pasti Adam mengetahui hal tentang ia menyukai Adam dari abangnya yang super jahil itu.


"Bukankah itu masa lalu". Zara menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya,"Ini buktinya, ibu sudah menyematkan disini".


Adam tersenyum."Zara". Panggilnya lagi membuat Zara kembali menengok kearahnya,"je t'aime". (aku mencintaimu).


Pipi Zara bersemu memerah mendengarkan pengakuan Adam,"Moi Aussi"(Aku juga). Kini Zara merasa malu dengan apa yang ia baru katakan.


Kebahagiaan Zara tak berselang lama saat ia mengingat perkataan Della tempo hari. Seakan perkataan yang diucapkan Della adalah sebuah pernyataan yang sesungguhnya.


"Kenapa,murung begitu?".


"Oh tidak hanya saja, ada beberapa hal yang aku pikirkan". Zara melanjutkan kegiatan.


"Jangan memanjakan Anissa, akku takut kamu kelelahan karena bermain dengan dia". Kata Adam sembari membantu Zara merapikan meja, yang penuh dengan alat tulis.


"Tidak, aku tidak lelah. Anissa anak yang sangat menyenangkan dia tidak nakal. Jangan khawatir". Kilah Zara.


"Terima Kasih".


Zara mengernyit tak mengerti dengan perkataan Adam.


"Terima kasih, sudah mau menjadi sosok ibu bagi Anissa. Dia banyak berubah setelah mengenalmu, sebelumnya Anissa hanyalah anak berusia lima tahun yang kesepian dia sudah lama merindukan kehadiran ibunya". Adam tersenyum kecut mengingat putrinya yang dulu selalu berbicara menanyakan dimana keberadaan ibunya.


"Jangan berterima kasih seperti itu, aku sudah menganggap dia seperti putri kandungku sendiri. Mas"


"Mas?"


Zara tersipu malu saat mendengar Adam, menirukan dirinya memanggilnya dengan sebutan mas.Zara **** senyum,"Bukankah lebih baik begitu, kupikir tidak sopan memanggil hanya dengan nama".Zara menautkan kedua tangannya.


"Baru sadar? heh". Sindir Adam, membuat Zara tertawa geli. "Baiklah jika menururtmu begitu,aku suka".


Udah nepatin janji untuk double up kan


Jangan lupa Like dan Komen

__ADS_1


Selamat membaca


dalshabe


__ADS_2