
Perlahan tapi pasti kita berada dijalan menuju takdir yang sama.
Adam Ghifary Darmawan
Sudah tiga hari semenjak pertemuannya dengan Zara Anissa sakit demam,dia rewel terus menangis dan tidak mau makan.
Seluruh orang dirumah besar keluarga Darmawan bingung kelabakan dengan sakitnya sang malaikat kecil .
Dari kakek,nenek,dan ayahnya sendiri kualahan dengan rewelnya Anissa. Yang baru kali ini Adam hadapi dengan kesulitan karena semenjak kecil rewelnya Anissa tidak separah ini.
Adam menggendong sembari mengelus pelan punggung Anissa. "Ayo sayang makan yaa" bujuk Adam dengan sayang tetapi Anissa tetap kekeuh menggelengkan kepalanya, sungguh keras kepala sekali anaknya yang cantik ini. Keluh Adam dalam hati
"Gimana dam masih belum mau makan?".
Tanya ayah Adam, dia Hadi Darmawan sang tuan rumah sekaligus pemilik perusahaan besar Darma group yang sekarang di pimpin oleh anak semata wayangnya Adam.
"Belum yah, nanti aku bawa ke dokter lagi panasnya juga nggak mau turun dia nggak mau minum obat". Jawab Adam sembari menidurkan putri kecilnya di ranjang dengan tema princess kesukaannya.
"Dam bisa ikut ayah sebentar".
Adam yang semula menatap sendu kearah putrinya menengok kearah ayahnya, berdiri lalu berjalan mengekor ayahnya hingga di ruang keluarga.
"Ayah mau bicara sama kamu"
Adam mengiyakan Ayahnya dengan anggukan, lalu di duduk di sofa depan Ayahnya.
"Anisa semakin dewasa dia butuh figur seorang ibu dam, apa kamu nggak ada niatan buat menikah lagi?"
Adam hanya diam menyerapi kata-kata dari Ayahnya sembari melihat kearah tangannyaa yang sedang saling ia taukan.
"Ayah tau mungkin kamu masih trauma tapi kamu juga harus bisa membuka diri untuk orang lain"
"Adam tau Yah Anissa semakin dewasa dan dia semakin mengerti,yang penting Anissa bisa menerima keberadaannya terlebih dahulu. Meskipun sudah banyak wanita-wanita yang ibu kenalkan padaku tapi mereka hanya menerimaku karena aku punya segalanya mereka dengan terang-terangan menolak akan hadirnya Anissa dengan cara menatapnya merendahkan Yah. Dan aku benci itu, Anissa putri kesayanganku dia tak pantas diperlakukan sepeti itu".
"Baiklah, Ayah dan Ibu hanya bisa berdoa untuk kebaikan kalian berdua. Semoga ada orang yang bisa menerima dengan tulus keadaan kalian berdua".
Hadi berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Adam lalu menepuk bahunya"Istirahatlah, kamu pasti lelah mumpung dia tidur istirahat".
Adam melangkahkan kakinya menuju kamar Anissa, dia ingin beristirahat sembari menjaga Anissa yang sedang sakit dan saat ini tidur lelap.
***
__ADS_1
Sementara itu dirumah Keluarga Haydar.
"Dek bisa ikut bunda?". tanya seorang Ibu kepada putrinya yang sedang duduk di teras belakang rumah bersama abangnya.
Dia adalah Nuril Haydar ibunda dari Alfath dan Zara.
"Kemana bun?".
"Bunda udah lama nggak silaturahmi ke sana, ayo Za kamu cepet siap-siap".
"Udahlah dek cepetan sana siap-siap, dasar jomblo".
Zara mengerucutkan bibirnya mendengar pernyataan Alfath abangnya, bangkit dari duduknya berjalan mendekati Alfath lalu menendang tulang keringnya hingga membuat siempunya meringis kesakitan.
"Arghhh Zaraaa!!!". memegang tulang keringnya.
Zara lari menjauh, menjulurkan lidahnya "Emang enak, sukurin! salah sendiri jomblo teriak jomblo". berlari menuju kamarnya.
Nuril hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua anaknya yang seharusnya sudah menikah, malah bertingkah seperti anak-anak.
Mobil yang Zara tumpangi dengan bundanya sudah menggeleser meninggalkan area rumahnya berjalan menuju tempat yang akan didatanginya Zara pun tak tau dia akan diajak kemana oleh bundanya.
"Kita mau ke rumah keluarga Darmawan sayang bunda udah lama nggak silaturahmi kesana kamu juga kan sudah enam tahun nggak kesana".
"What, seriously !?". Zara setengah berteriak mendengar penjelasan ibunya.
"Bunda kenapa nggak bilang dari tadi sih". Decak Kesalnya
"Kenapa memangnya bukannya kamu dulu suka main kesana?"
Zara terdiam jangan sampai ibunya curiga mengapa dia tidak mau diajak kesana,cukup abang Alfath super rese itu saja yang mengetahui bahwa Zara ke Perancis karena melarikan diri karena Adam menikah.
Dia tidak mau ibunya tau bahwa Zara mencintai Adam laki-laki yang sudah beristri, mau ditaruh mana muka keluarga Haydar.
Zara tersenyum kaku "Zara kan bisa bawa sesuatu gitu lo bunda kalo mendadak begini kan Zara nggak bawa apa-apa".
"Bunda udah siapkan, kamu sih di panggil dari tadi suruh bantu bunda masak malah kejar-kejaran di taman belakang rumah sama abangmu itu". Omelnya pada Zara."Apa kalian memang berniat untuk terus hidup sama ayah bunda, kenapa kalian berdua itu juga belum menikah". Kesalnya
"Belum ada jodoh bunda untuk aku, lebih baik bunda paksa abang aja yang nikah". jawabnya enteng
Nuril menggelengkan kepalanya sudah cukup hapal dengan alasan-alasan yang dibuat kedua anaknya jika ditanya kapan menikah padahal dia juga ingin bermain dengan cucunya seperti Ardina Darmawan Sahabatnya.
__ADS_1
Tak terasa mobil yang mengantarkan Zara dan bundanya sudah memasuki pelataran rumah keluarga Darmawan yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah keluarga Haydar karena hanya melewati beberapa kompleks perumahan.
Zara mengekor di belakang bundanya membawa beberapa kotak makanan yang memang sering dibawa saat berkunjung kerumah keluarga Darmawan.
Ting tong Ting tong
Suara bel berbunyi dibukanya pintu rumah besar milik keluarga Darmawan.
"Assalamualaikum, apa kabar?". Ardina dan Nuril saling berpelukan melepas rindu.
"Alhamdulillah sehat". Melepas pelukannya "Ya Allah Zara kamu makin cantik pake jilbab". berganti memeluk Zara dan menciumi kedua pipi mulus Zara.
"Iya bu". tersenyum kaku ke arah Nuril ibu Adam.
Ardina mempersilahkan Zara dan bundanya masuk kedalam rumah. Mereka asyik berbincang kesana kemari,tapi tidak dengan Zara dia hanya menimpali sedikit pembicaraan dua ibu-ibu itu hanya jika ditanya.
Zara sibuk dengan pikirannya sendiri dia memandang kesana kemari, semua masih sama seperti dahulu seperti saat dia masih sering datang kemari.
Satu hal yang Zara penasaran dibuatnya adalah sebuah foto dirinya dan Adam, Adam di foto itu tengah memakai atribut wisudanya tengah memeluk Zara dan tertawa bahagia. Zara tersenyum mengingat momen itu.
***
Adam terbangun dari tidur singkatnya ia mendengar Anissa yang tengah menangis dalam tidurnya, beringsut dia bangun dari sofa dan berjalan menuju Anissa yang masih menangis dalam tidurnya.
Adam mendekatinya dan langsung menenangkan Anissa dia mengelus punggung Anissa dengan sayang memberikan ketenangan untuk putri semata wayangnya.
Anissa bangun dari tidurnya tapi masih menangis, dengan tangisan yang masih terisak dia memeluk Ayahnya yang terbaring disampingnya hingga ia berbicara"Aku rindu bunda Ayah". dengan isakan yang masih terdengar.
Adam hanya diam membisu sesekali dia mengusap pelan punggung Anissa, Tangisan Anissa sudah mereda tetapi demamnya belum juga turun.
Adam bangkit dari baringnya,mengusap lembut pucuk kepalanya "Anissa sayang makan ya setelah itu minum obat dari dokter, nanti apapun yang Anissa mau ayah akan coba penuhi". Bujuknya dengan lembut.
Anissa menggelengkan cepat"Aku ingin bunda ayah,apa bunda nggak sayang sama Anissa?". Dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Happy reading
Maaf kalau ada typo
Jangan lupa tinggalkan jejak
Dalshabe
__ADS_1