Bunda Untuk Anissa

Bunda Untuk Anissa
Kekhawatiran Adam


__ADS_3

"Hallo,Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam,mas".


Terdengar helaan nafas panjang Adam dari sambungan telepon,"Anissa dimana?".


"Emmm, Kita sedang makan siang". Zara menggigit kuku jarinya,"Sebentar lagi sudah selesai, dan akan pulang". Alasannya.


"Haruskah aku jemput?".


Zara memposisikan dirinya untuk duduk di bangku yang ada didekatnya,melirik ke arah dalam melihat sekilas interaksi Della dan Anissa.


"Tidak usah, aku sudah pesan taksi online. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu".


"Za,aku merasa ada yang aneh"


Zara mengerutkan dahi,"Apanya ?"


"Entahlah ini perasaanku atau apalah, karena aku sangat khawatir pada Anissa. Dan juga aku takut kehilangan dirinya".


Zara kebingungan sendiri, disatu posisi sekarang ia bersama dengan Della dan Anissa. Disatu sisi Adam mengutarakan kegelisahan hatinya.


"Mas, jika Anissa dan Della bertemu bagaimana?". Tanya Zara ragu.


Adam hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Zara, sudah beberapa detik ia terdiam hanya terdengar jelas nafas.


"Za,aku ada pekerjaan lagi. Aku tutup teleponnya Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam".


***


Adam mengurut pangkal hidungnya, kegundahan hatinya bertambah ketika Zara mempertanyakan perihal bertemu nya Anissa dengan ibu kandungnya. Adam belum siap ketika   nanti Anissa bertanya tentang Della. Dan juga ia takut Anissa akan lebih memilih untuk bersama Della, jujur Adam belum siap, Karena selama ini hari-harinya sudah dipenuhi dengan Anissa putri kecilnya.


Tok tok tok


"Masuk!".


Tak lama terbukalah pintu ruangan Adam, dan terlihat Nina sekertarisnya ingin menyampaikan sesuatu."Pak ada tamu untuk Anda".

__ADS_1


"Tidak ada yang membuat janji".


"Saya sudah menjelaskan pada beliau,tetapi katanya ada hal penting yang harus disampaikan".


"Siapa?".


Belum sempat Nina menjawab, masuklah orang yang dimaksud Nina.


"Hai Adam apa kabar?".


"Mario?".


Adam dan Mario duduk berhadapan, entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing belum ada yang ingin memulai pembicaraan diantara mereka berdua.


"Ada apa kamu datang kesini?". Adam memulai pertanyaan, sedikit ada rasa kesal dihatinya mengingat bagaimana Mario dulu.


"Jauhi Della!". Ucap Mario tegas.


Adam mengerutkan dahi,"Maksudmu?". Ia tersenyum sinis


"Jangan berpura-pura bodoh Adam, kamu memanfaatkan putrimu itu kan untuk membuat Della kembali?".


"Kamu masih mencintai Della kan?".


Adam tertawa sumbang,"Ya, dan itu dulu. Sebelum dia meninggalkan Anissa dan lebih memilih pergi bersama dengan dirimu".


Mario mengacak kasar rambutnya, sudah berkali-kali ia menghubungi Della namun tidak direspon bahkan nomor telepon dan semua media sosialnya di blokir oleh Della. Ia yakin bahwa semua perilaku Della terhadapnya masih ada campur tangan Adam, mantan suami Della. Karena betapa yakinya Della perihal ia akan kembali bersama dengan Adam.


"Sekarang apa yang kamu rencanakan?".


Adam berdiri dari duduknya, ia sudah sangat emosi sekarang bahkan waktunya terbuang percuma menanggapi omong kosong dari Mario. Disusul Mario juga berdiri, saling  menatap tajam hanya terpisahkan meja kaca diantara mereka.


"Asal kamu tau Mario, kamu adalah orang terbodoh yang pernah aku kenal. Kamu mendatangi orang yang salah". Adam mengarahkan  tangannya kearah pintu,"Anda membuang waktu berharga saya, jadi silahkan pergi!".


"Kamu benar Adam, aku disini hanya membuang waktu".


"Benar maka dari itu silahkan keluar!".


Mario berjalan mendekati pintu diikuti Adam dibelakangnya, namun saat ia mendekati pintu Mario kembali memalingkan tubuhnya kebelakang.

__ADS_1


"Satu hal lagi, aku akan tetap merebut Della darimu".


"Aku tidak peduli". Jawab Adam enteng.


"Ingat baik-baik Adam, bagaimanapun aku akan tetap menghalalkan segala cara agar Della kembali".  Ucapnya penuh penekanan.


"Kamu ternyata tidak sadar.diri ya". Adam memicingkan mata."Jika Della pergi, mungkin dia sudah muak denganmu".


Amarah Mario tersulut ia langsung mencengkeram kerah Adam,dengan mata yang penuh dengan sorotan amarah


"Kamu meremehkanku?". Mario menyeringa, ucapnya penuh penekanan.


Adam tetap tenang,"Apa harga dirimu terluka, dipermainkan Della?".


Mario semakin mengencangkan cengkeraman di kerah kemeja Adam,"Della adalah segalanya bagiku,kamu tidak akan bisa mengambilnya dariku".


"Aku tidak peduli lagi dengan kehidupan Della, bagiku dia hanya  masa lalu. Dan aku masih menghormati dirinya karena dia adalah ibu dan wanita yang melahirkan putriku".


"Cih!". Mario bersedih,"Hanya itu yang kamu banggakan ?".  Tanpa aba-aba, Mario menyerang Adam dengan memukulnya membuat Adam mengalami luka sobek disudut bibir kirinya yang berdarah.


Nina yang mendengar kegaduhan didalam ruangan kantor bosnya itu karena pintu yang sedikit renggang syok melihat Adam yang terjengkang dan menyentuh sudut bibir kirinya. 


"Astagfirullah, Pak Adam". Nina reflek ingin membantu Adam berdiri, namun Adam mengisyaratkan bahwa ia bisa berdiri sendiri.


Sedangkan Mario, puas telah memukul Adam emosinya sedikit tersalurkan. Ia melangkahkan kakinya pergi dari ruangan.


"Nin, kamu bisa cancel semua jadwal saya hari ini". Adam memberi perintah.


"Baik pak". Nina sedikit merindu melihat Adam, menahan sakit disudut bibirnya."Lukanya tidak diobati dulu?".


Adam menggeleng "Hubungi Pak Tono untuk menyiapkan mobil, saya akan pulang saja". Berjalan mengambil setelan  Armani miliknya yang tergantung di sudut ruangan.


Anissa Up


Jangan Lupa Vote dan Komen


Maaf jika ada typo


Thanks

__ADS_1


dalshabe


__ADS_2