Bunda Untuk Anissa

Bunda Untuk Anissa
Dia Kembali [1]


__ADS_3

Salahkah aku jika ingin memeluk dan bertemu putri ku.


Della Amila


Waktu berjalan dengan cepat kini aku dan Anissa semakin akrab, hari ini aku berjanji mengajaknya pergi ke butikku. Aku senang karena dia juga mempunyai hobi yang sama denganku yaitu menggambar.


Menunggunya pulang sekolah sudah menjadi rutinitasku, senang rasanya bila berinteraksi dengan gadis mungil yang selalu ceria itu.


Mengajak nya berjalan-jalan sebentar ke acara bazar bukan ide yang buruk menurutnya, aku akan mengirimkan pesan pada Adam meminta izin untuk mengajak Anissa.


Zaraa


Assalamualaikum, adam aku mau minta izin mengajak Anissa untuk pergi ke bazar.


10.20 Read


Anissa Daddy


Waalaikumsalam


Baiklah,kemana kalian akan pergi?aku akan menyusul sepulang dari kantor.


10.21read


Zaraa


Ke acara bazar tahunan, baiklah aku akan memberi kabar lagi nanti


Terima kasih atas izinnya untuk mengajak Anissa😊


Anissa Daddy


Sama-sama aku titip Anissa


See you 😉


Pipiku bersemu memerah melihat balasan chating dari Adam, apa aku sudah gila pikirku mengapa aku jadi seperti ABG labil.


Jangan terlalu berharap Zara hatimu akan sakit, meskipun Adam pria single, sampai saat ini pun ia tak membahas pasangan. Padahal Zara orang yang mendaftar pertama kali untuk menjadi istri Adam.


Siapapun tolong segera sadarkan Zara pikirannya  sudah kemana-mana.


***


Waktu terus berlalu kini Anissa dengan Zara sudah berada di butik milik Zara, mereka nerdua larut dalam kegiatan masing-masing hingga suara adzan magrib terdengar.


"Anissa sayang ayo kita sholat dulu"


Anissa mendongak"Sebentar tante Anissa beres-beres dulu". Sembari merapikan alat tulisnya yang berserakan.


Zara yang melihat Anissa merasa gemas sendiri, Anissa yang masih sekolah TK bisa semandiri ini pikirnya.


"Baiklah sayang, setelah itu kita makan malam ya".


Tangannya mengandeng tangan mungil Anissa menuju mushola di mall GI, sudah terbiasa Zara membantu Anissa


mengenakan perlengkapan sholatnya dia sangat menikmati kegiatan-kegiatan yang hampir ia lakukan satu bulan ini terus bersama Anissa.


Kini mereka berdua duduk bersandingan disebuah restoran, Zara s mengajak Anissa makan malam terlebih dulu sebelum  pergi ke bazar.


"Anissa tadi doa apa ? Boleh tante tau?"


"Rahasia"


Lirik Zara ke Anissa "Benarkah ?" Zara kembali menikmati makanannya "Baiklah jika itu Rahasia".


"Tante!"

__ADS_1


Zara menoleh "Ya sayang, kamu butuh sesuatu?"


"Anissa sedih" mata Anissa mulai berkaca-kaca


Kini Zara memegang dua bahu Anissa menelisik apa yang sudah terjadi dengan malaikat kecilnya.


"Kamu kenapa sedih, bilang sama tante. Apa Anissa minta mainan?".


Anissa menggeleng, kini dia memeluk erat Zara. Berbisik "Seandainya bunda Anissa adalah tante Zara, pasti Anissa akan bahagia sekali".


Zara yang mendengar pernyataan Anissa merasa ingin menangis, dia tau Anissa selama ini merindukan sosok ibu di hari-harinya.


"Anissa sayang dihabiskan makanannya setelah itu kita berangkat ke acara bazar,oke". Zara mengalihkan pembicaraan agar Anissa moodnya kembali baik.


Anissa kembali melahap makanannya, hati Zara sesak melihat kenyataan bahwa Anissa yang selalu ceria menutupi kesedihan akan kerinduannya pada ibu kandungnya.



***


Kini mereka berdua sudah sampai di acara bazar tahunan, acara yang meriah di isi dengan penampilan artis-artis ibu kota menambah semarak acara.


Zara terus menggandeng Anissa karena memang akhir pekan jadi banyak pengunjung yang datang sekedar mengisi waktu luang bersama keluarga.


"Tante Anissa pengen itu" menunjuk kios yang menjual permen kapas.


"Boleh tapi nanti setelah sampai rumah sebelum tidur harus gosok gigi dulu janji" Zara berjanji kelingking dengan Anissa.


"Janji tante" matanya berbinar bahagia


Anissa terus bergerak gelisah dia menggaruk tubuhnya yang mulai memerah Zara yang melihat keanehan Anissa langsung melihat kenapa dengannya.


Zara panik melihat tubuh Anissa yang sudah penuh bercak kemerahan, apakah Anissa alergi padahal mereka berdua makan malam dengan menu daging sapi.


Zara yang kalut dengan pemikirannya kini berteriak panik disaat Anissa tiba-tiba melemas dan pingsan.


Banyak orang yang berkerumun membantu Zara. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi sedih bercampur panik itulah yang dirasakan Zara saat ini.


"Tolong! tolong! bantu saya, antarkan anak saya ke rumah sakit tolong". Mohon Zara pada para pengunjung lain yang membantunya.


"Ayo saya antarkan" sepasang suami istri menawarkan bantuan.


***


Adam masih berkutat dalam berkas-berkas pentingnya, ia harus segera menyelesaikan pekerjaan untuk bisa menyusul Anissa dan Zara ke acara bazar tahunan.


Hingga suara pintu diketuk oleh sekertaris Adam yaitu Nina.


"Masuk" Nina membuka pintu setengah


"Ada apa?". tanya Adam masih terus mengecek dokumen-dokumen.


"Ada tamu pak" jawab Nina Profesional.


"Saya sibuk, memang siapa dia ?"


Urung Nina menjawab pertanyaan Adam tamu itu sudah menyerobot masuk kedalam ruangannya.


Adam mendongak dilihatnya wanita itu berjalan lalu duduk di sofa, Adam melihatnya tak percaya untuk apa wanita yang sudah meninggalkan Anak dan suaminya hanya untuk mantan kekasihnya itu kembali lagi kesini.


Adam berdiri lalu berjalan mengarah ke sofa dia duduk bersebrangan dengan Della Amila mantan istrinya sekaligus ibu kandung dari Anissa.


Sepuluh menit sudah merkea hanya diam tanpa bicara, kalut dalam pemikiran masing-masing tanpa mengawali pembicaraan.


"Aku mau minta maaf mas". cicit Della


"Aku ingin kita rujuk dan aku ingin merawat putri kita bersama". Air mata Della mulai berjatuhan.

__ADS_1


"Kemana saja kamu selama ini?" tanya Adam dingin. Dia mengalihkan topik yang dibahas Della.


Menangkupkan kedua tangan Della memohon pada Adam "Mas ku mohon, maafkan aku beri aku kesempatan kedua. Aku janji akan jadi ibu yang baik untuk Annisa, aku ibunya kandungya mas. Apa mas nggak berpikir bagaimana perasaanku ?".


"Kesempatan kedua?, Perasaan? ". Adam mengulangi perkataan Della, tersenyum kecut menanggapi apa penuturan mantan istrinya itu. "Lalu apa yang kamu pikirkan, disaat aku memohon untuk tetap mempertahankan pernikahan kita ?".


Adam mengusap kasar wajahnya,menatap tajam mantan istrinya.


"KEMANA PIKIRAN KAMU DISAAT AKU BERSIMPUH DIDEPAN KAKIMU,MEMOHON UNTUK TETAP BERSAMAKU. MENJAGA ANISSA, MERAWATNYA, MENYAYANGINYA, MEMBESARKAN DIA, KEMANA DELLA!!!".


Dengan nada tinggi Adam berbicara kepada Della, kemarahan Adam sudah tidak bisa dibendung lagi.


"LALU KAMU NGGAK MIKIR GIMANA PERASAAN AKU ?". Menatap tajam manik mata Della.


Adam menghembuskan nafas kasar memberikan rongga dada yang sudah penuh amarah sedikit ketenangan." Kamu memilih meninggalkan kami berdua, lebih memilih pergi bersama kekasihmu itu!". Ucap Adam menahan geraman.


Adam menatap nanar Della. Bagaimana dia sangat egois meninggalkan putrinya yang masih berusia 6 bulan dan meminta cerai pada Adam, Adam sudah tak habis pikir.


"Astagfirullah hal adzim, Astagfirullah hal adzim" . Adam hanya bisa beristigfar mengelus dada menenangkan hatinya yang diliputi amarah, menghembuskan nafas kasar Adam menatap Della kembali.


"Pergilah, aku butuh waktu sendiri".


Della beranjak pergi dari duduknya,dia berdiri menatap tajam Adam. "Jika memang kamu, tidak bisa memberi kesempatan kedua. Aku tidak apa-apa, tetapi aku akan menuntut atas hak asuh Annisa". Della pergi melewati Adam yang masih mematung mendengar perkataan Della.


Didepan pintu Della kembali memalingkan wajahmu tersenyum simpul." Pengacara ku akan datang menemui, sampai jumpa mas Adam!". Dengan penekanan di setiap ucapannya  Della menghilang di balik pintu.


Adam yang masih mematung pun geram sekali, meja kaca didepannya menjadi pelampiasan amarahnya pecah tak bersisa. Membuat buku-buku jarinya mengeluarkan darah merah yang mengalir disela-sela jarinya.


Praaangg!!!


Adam berdiri dengan gusar meraih ponselnya yang ada di meja kerjanya. Menekan nomor telepon tono memintanya untuk segera ke depan  lobby kantor.


Adam membuka pintu ruangannya, membuat  Nina terlonjak begitu kaget melihat kondisi tangan atasannya ini.


Namun sebelum Nina bertanya, Adam lebih dulu berkata. "Bersihkan ruangan saya". Adam pergi melewati meja Nina.


Di Lobby, SUV Lexus terparkir dengan sigap tono membuka pintu mempersilahkan masuk, sesaat majikannya masuk dia memutari  mobil untuk segera masuk ke kursi pengemudi.


"Kemana pak?". Tanya pak tono seramah mungkin pada Adam.


"Pulang kerumah saja". Adam memejamkan mata sembari memijat pangkal hidungnya, pening yang dirasa mengingat perkataan Della.


***


Mobil yang ditumpangi Adam masih dalam perjalanan menuju kerumah, bunyi ponsel terus berdering tertera nama Zara di layar ponselnya.


Cepat dia menjawab panggilan itu, terdengar suara Zara yang menahan isakan tangisnya tak mampu lagi berkata.


Hingga suara Ayahnya yang terdengar diseberang sana terdengar.


Adam mulai panik apa yang sedang terjadi batinnya terus bertanya-tanya.


"Assalamualaikum dam"Suara parau khas pria paruh baya mulai terdengar.


"Waalaikumsalam yah, ada apa ? Kenapa Ayah yang bicara Bukankah yang menelpon tadi Zara?". tanya Adam penasaran


"Cepatlah datang ke Rumah Sakit Citra Medika, hati-hati di jalan. Assalamualaikum". Sambung diputus tiba-tiba membuat pikiran Adam kalut kemana-mana.


"RS Citra Medika". ucap Adam tegas.


Pak Tono dengan sigap melajukan mobilnya membelah malam kota Jakarta menuju RS Citra Medika.


Jangan Lupa Like,Komen dan Jadikan Favorite


Maaf kalau ada typo


Follow juga penulisnya

__ADS_1


Dalshabe


__ADS_2