
Ardina berlari tergopoh-gopoh disaat mendengar Adam masuk kembali kedalam rumah dan mencari kunci mobilnya, lalu disusul oleh Anissa yang kebingungan kenapa semua orang dirumah terlihat panik.
"Ayah mau kemana?".
Adam berjalan menghampiri Anissa, lalu ia mengecup sekilas pipi gembul milik Anissa."Anissa dirumah dulu ya, ayah mau pergi sebentar".
"Tante Zara?". Anissa menengok kesana kemari mencari keberadaan Zara.
Ardina mensejajarkan tingginya dengan tinggi Anissa,"Tante Zara sudah pulang, tadi nenek Nuril telepon".
Anissa mengerucutkan bibirnya,"Kenapa tidak pamit sama Anissa". Matanya berkaca, memandang Adam dan Ardina bergantian.
"Sini sama kakek, kita beli mainan baru". Suara Hadi menginterupsi, lalu ia menggendong Anissa
Anissa menggeleng,"Nggak mau".
"Mainan dan Es krim". Bujuknya lagi
Anissa mengangguk semangat.
Adam bernafas lega melihat Anissa mau mengikuti ajakan kakenya, jika tidak ia akan ngmbek sampai besok pagi. Ia tak habis pikir pengaruh Zara dalam keseharian Anissa, hal-hal kecil yang mereka lakukan bersama membuat Anissa bahagia. Ia takut jika Alfath mengetahui betapa buruk dan egoisnya terhadap Zara maka ia tak akan segan dengan lantang tidak akan memberi restu untuk mereka berdua. Belum lahi dengan kedua orang tua Zara.
"Aku berangkat,Assalamualaikum".
Pamitnya pada kedua orang tuanya, Adam berlari menuju mobilnya. Dengan sigap ia menjalankan mobilnya, Adam hanya bisa memohon dan berdoa agar ia bisa dengan cepat menemukan Zara.
Mobil terus melaju, Adam juga terus mencoba menghubungi Zara via telepon namun hanya jawaban dari operator lah yang terdengar. Mobil Adam terus melaju pelan, hingga ia menemukan Zara duduk di halte yang ada diarea kompleks perumahan.
__ADS_1
Adam turun dari mobilnya, lalu berjalan menghampiri Zara yang kini duduk sembari tertunduk. Zara yang mengetahui keberadaan Adam, mendongak. Manik mata mereka saling bertemu, Zara hanya menatap kosong kearah Adam, hati Adam terasa teriris melihat mata Zara yang memerah. Ia menyesal keegoisannya membuat Zara menangis.
Adam mengambil posisi duduk di kanan Zara, "Kenapa nggak dijawab telepon nya?".
Zara menengok sebentar kekanan lalu kembali menatap ke depan,"Lowbat". Jawabnya singkat.
"Za aku minta maaf". Adam menghembuskan nafas berat,"Ayo aku antar pulang".
"Sifatku chidish banget kan?". Tanya Zara dengan pandangan masih kedepan.
Adam mengerutkan dahi,"Tidak, jika aku diposisimu mungkin aku akan melakukan hal yang lebih".
Zara mengangguk,"Kenapa kamu nggak percaya dengan apa yang aku katakan?". Zara menatap nanar ke Adam,"Aku juga kesulitan, aku kebingungan satu sisi kamu melarangku namun disisi lain Anissa juga butuh kasih sayang ibunya". Zara menguasap kasar air matanya, lalu tersenyum kecut."Aku hanya orang asing diantara mereka, aku hanya orang asing yang tiba-tiba datang ditengah-tengah mereka".
"Maaf Zara aku egois, dengan menyalahkan kamu". Adam memegang kedua bahu Zara,"Tatap aku Za!".
"Tatap aku Zara!".
Dengan sedikit penekanan, akhirnya Zara melihat kearah manik mata Adam.
"Dengar aku minta maaf, jangan seperti ini Za. Untuk hal tentang pengakuan Della yang ingin kembali menikah denganku, aku tidak pernah berpikir sejauh itu Za". Adam menghapus air mata Zara,"Kamu hanya Azara Putri Haydar, yang akan mendampingiku".
Zara menyingkirkan tangan Adam yang masih di bahunya, "Aku mau pulang".
"Baiklah aku antarkan". Adam berdiri.
"Aku naik taksi saja". Ucap Zara malas, yang juga berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Adam mengernyit tak mengerti, lalu Zara pergi melangkahkan kakinya. Adam menghela nafas berat Zara yang suka ngambek sudah kembali ia menggeleng dan terkekeh geli mengingat dulu betapa seringnya Zara ngambek tanpa alasan jelas padanya.
***
"Za!, naik mobil sendiri atau aku seret paksa?". Ancam Adam pada Zara.
Zara tak peduli dengan ancaman Adam, ia berjalan terus menyusuri trotoar diikuti Adam yang mangemudikan mobil dengan pelan mengikuti arah langkah Zara.
Zara berhenti bersedekap lalu menelengkan kepala."Jangan mengikuti ku terus, aku ingin sendiri". Ucapnya kesal.
Adam turun dari mobilnya,"Okey kamu mau apa?".
Zara cemberut, sebenarnya ia sudah tidak marah pada Adam namun sedikit usil padanya bukankah hal yang menyenangkan. "Aku ingin jalan-jalan dengan Anissa".
"Baiklah kemana?".
Mata Zara memicing "Kau ikut ?".
"Tentu saja". Jawab Adam yakin
Zara menggeleng cepat "Tidak,tidak just me and Anissa. Not with you".
"Kenapa?". Adam mengerutkan dahi."Aku ayahnya".
"Quality time hanya untuk para perempuan". Jawab Zara seadanya lalu ia membuka pintu penumpang dan masuk kedalam mobil meninggalkan Adam yang masih mencerna kata-kata Zara.
Sedangkan Zara terkekeh geli melihat Adam, yang berhasil ia kerjai.
__ADS_1